
Eps. 20 – Masa lalu Nando
Nanda ketawa ngakak, adiknya sudah tidak sabaran kawin padahal dirinya sendiri masih jomblo
sampai saat ini. Melihat Nando tersenyum bahagia bersama Carol, membuatnya
mulai berpikir untuk mencari pasangan hidup juga. Tapi siapa yang mau dengan
pria seperti dia. Pekerjaannya mengharuskan ia bersikap kejam dan tidak peduli
dengan sekitarnya.
Nanda lanjut memberitahu detail mengenai rencananya, sementara pasangan baru kita asyik
mendengarkan. Carol lebih santai dengan Nando sekarang. Ia bersandar pada
kakinya dan dagunya ia letakkan di bahu Nando. Setelah Nanda menyelesaikan
kata-katanya, ia menutup telponnya.
Nando menoleh pada Carol,
Carol : “Kenapa?”
Nando : “Gak, aku cuma bahagia bersamamu.”
Carol memukul lengan Nando. Ia ingin memakai bajunya dan mengatakan tidak nyaman hanya
memakai bathrobe tanpa pakaian dalam. Nando berdiri, ia membuka lemari di kamar
itu dan mengambil sebuah piyama tidur seksi.
Nando : “Pakai ini dulu.”
Carol mengangkat piyama itu tinggi di depannya. Wajahnya memerah lagi, Nando tertawa
melihat wajah Carol. Ia meminta Carol memakai itu dulu daripada cuma pake
bathrobe. Carol masuk ke kamar mandi dan memakai piyama itu.
Saat ia keluar dari kamar mandi, Carol mendengar Nando sedang bicara di telpon.
Nando : “Ini Carol, Tuan. Ini, Ny.Joya mau bicara.”
Carol menerima telpon dari Joya yang sangat khawatir padanya, Nando menekan tombol loudspeaker
di ponselnya. Carol mengatakan kalau dia baik-baik saja di rumah Nanda. Dan
bagaimana Nando memperlakukannya dengan baik. Ketika Carol ragu-ragu ingin
mengatakan tentang lamaran Nando padanya, Joya bertanya duluan pada Carol.
Joya : “Apa kalian jadian?”
Carol : “Nggak juga, Ny. Maksud saya, lebih dari itu.”
Joya : “Apa Nando melamarmu?”
Joya terpekik girang sambil tak sengaja meremas bahu Boy yang langsung mengaduh kesakitan.
Joya : “Ach, maaf, mas. Sakit sekali ya. Trus apa jawabanmu?”
Carol : “Saya... saya akan segera menikah, Ny.”
Joya : “Aahh... selamat ya. Aku turut senang.”
Carol : “Terima kasih, Ny.”
Joya : “Carol, aku sangat berterima kasih karena sudah menolongku dan suamiku. Kami berhutang
padamu. Apa yang kau inginkan untuk pernikahanmu?”
__ADS_1
Carol : “Doakan pernikahan kami bisa seperti pernikahan Ny. dan Tuan. Selalu bahagia.”
Joya : “Sudah pasti. Bagaimana kalau paket bulan madu?”
Carol : “Bulan madu!!”
Nando yang mendengar kata bulan madu jadi tertarik dan mulai menguping. Carol sibuk
mengalihkan perhatian Joya dengan menanyakan keadaannya. Apa Joya terluka atau
tidak. Dan juga keadaan Boy. Carol bahkan menanyakan keadaan Rian juga.
Biar bagaimanapun Carol dan Nando baru akan menikah dua minggu lagi. Dirinya saja
belum melewati malam pertama pernikahan, bagaimana bisa memikirkan untuk bulan
madu. Carol bergidik sendiri memikirkan apa yang akan dilakukan Nando saat
malam pertama mereka nanti.
Pembicaraan mereka berlanjut membahas tentang hukuman yang akan diterima Pak Joni dan kabar
kebangkrutannya. Dalam beberapa jam saja, Nanda bisa menghancurkan kehidupan
seseorang. Nanda sangat marah saat mengetahui Nando dipukuli dan bahkan Boy dan
Carol juga terluka.
Ia memerintahkan untuk menghancurkan keluarga Pak Joni sampai tidak tersisa
apapun. Mereka sudah sepenuhnya bangkrut. Joya sempat bertanya bagaimana Nando
dan Boy bisa ketemu.
Boy : “Nando mencopet dompetku.”jawab Boy santai
Joya & Carol : “Hah??!!”
dulu. Jiwa kepo Joya tentu saja mulai mendominasi. Ia terus meminta Boy dan
Nando cerita bagaimana kejadiannya.
Boy mengatakan waktu itu ia sedang menghadiri sebuah seminar di luar kota. Diantara
orang-orang berpengaruh di seminar itu, Nando memilih Boy sebagai korban
kejahatannya. Masalahnya Nando tidak sadar kalau saat itu Rian sedang
mengawasinya.
Rian bisa menangkap Nando dengan mudah setelah mereka sempat kejar-kejaran seperti di
film-film. Tapi bukannya membawa Nando ke polisi, Boy menyuruhnya menguntit
salah satu pejabat kantor Boy yang saat itu sedang melakukan transaksi
penggelapan uang di sebuah hotel di kota yang sama.
Berkat bantuan Nando, Boy bisa mengumpulkan bukti yang cukup untuk menuntut pejabat itu. Nando
dibebaskan Boy setelah tugas pertamanya selesai. Boy memberinya kebebasan dan
juga uang yang cukup untuknya memulai hidup baru. Tapi Nando memilih mengikuti Boy.
Boy : “Sejak kukasi uang, anak itu malah ngikutin kemana aku pergi. Lucu waktu itu. Rian
sampai marah-marah mengira Nando mau minta uang lagi.”
Nando : “Iya, pak Rian galak banget. Padahal aku cuma mau minta kerjaan.”
Joya : “Kenapa mas bisa yakin kalau Nando gak jahat? Maaf, Nando.”
__ADS_1
Nando : “Gak pa-pa, Ny. Saya memang nakal dulu, sampai kakak saya juga sudah menyerah
mengurus kenakalan saya.”
Boy : “Aku melihat sinar matanya. Orang jahat tidak akan memiliki mata jernih seperti itu.
Lagian sepertinya dia mengikutiku waktu itu karena tertarik padaku. Benarkan,
Nando?”
Carol : “Apa kau gay?”
Nando : “Enak aja. Nich aku tunjukin sama kamu, aku gay apa bukan.”
Carol : “Hiii... Nggak usah! Aku percaya.”
Joya : “Apa yang terjadi, Carol? Kenapa teriak?”
Carol gak mungkin cerita kalau Nando hampir membuka gesper sabuk dan menurunkan
retsleting celananya. Nando menyeringai mesum ke arah Carol.
Carol : “Nggak ada apa-apa, Ny.”
Joya : “Trus kamu kerja sama mas Boy sampai sekarang, Nando?”
Nando : “Gak semudah itu, Ny. prosesnya lama sampai saya benar-benar kerja di kantor seperti
sekarang ini.”
Boy : “Iya. Kalau aku masukkan begitu saja, Nando gak bisa berbaur dengan orang-orang
karena mereka tahu Nando orangku. Jadi dia ikut test masuk dan gagal di
kesempatan pertama.”
Carol : “Apa kau bodoh?”
Nando : “Aku gak bodoh. Pertanyaan HRD-nya membuatku kesal. Jadi aku balik memarahi HRD itu.”
Carol : “Trus gimana caranya bisa lolos?”
Nando : “Tuan Boy mengganti HRD itu dengan Bu Ana. Setidaknya pertanyaannya tidak membuatku
kesal. Jadi aku bisa lolos.”
Carol : “Oh, Bu Ana. Ya, dia baik kalau bicara sangat sopan. Tapi kalau kita melanggar
peraturan, kemarahannya mengerikan. Nggak ada ampun.”
Joya : “Bu Ana juga orangnya, mas Boy?”
Boy : “Ya. Dia sudah lama kerja di perusahaan. Kalo gak salah sejak tamat SMA. Dia sempat
minta cuti lama karena mau nikah waktu itu. Kasian dia.”
Joya : “Kenapa, mas?
Boy : “Baru nikah beberapa hari kalo gak salah ya, Ana dan suaminya kecelakaan. Suaminya
meninggal di tempat. Rian yang cerita karena dia yang kerumah sakit. Keluarga
suaminya nyalahin Ana dan ngusir dia. Dibilang pembawa sial.”
Joya : “Kasian banget sich.”
Carol : “Oh, gitu ceritanya.
*****
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan jejakmu). Tq.
__ADS_1