Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Ingin selalu dekat


__ADS_3

Aliya merebahkan tubuhnya di sofa. Mereka baru kembali dari rumah Alvin dan Boy. Setelah pernikahan, Aliya mengunjungi keluarga kandungnya bersama Aldo.


Aldo melihat Aliya memejamkan matanya, ia ikut duduk di samping Aliya,


Aldo : "Sayang, kamu capek?"


Aliya : "Gak juga. Tapi emang uda malem banget sich. Aku mau mandi dulu."


Aldo : "Ya uda sana."


Aliya membuka pakaiannya sambil berjalan ke kamar, tidak sadar kalau Aldo mengikutinya setelah mematikan lampu ruang TV.


Sejak menikah dan melewati malam pertama mereka, Aldo merasa selalu ingin dekat dengan Aliya. Aldo ingin menghabiskan waktunya lebih banyak berdua saja dengan Aliya.


Aliya masih memakai pakaian dalamnya saat Aldo masuk ke dalam kamar. Ia menoleh menatap Aldo,


Aliya : "Sayang, kamu mau apa?"


Aldo : "Aku..."


Aliya : "Kau menginginkan aku?"


Aldo : "Sayang, kita mandi dulu ya."


Mereka mandi dan bersiap tidur. Aldo mendekap tubuh Aliya erat. Ia masih belum mengantuk dan sibuk berpikir.


Sekarang mereka sudah menikah dan sebentar lagi akan kembali ke LN. Melakukan kegiatan mereka sehari-hari. Lalu apalagi?


Aldo tersenyum memikirkan kemungkinan mereka akan segera punya anak. Mungkin satu atau langsung dua. Jantungnya berdebar kencang memikirkan bayi kembar.


Tapi lagi-lagi Aldo merasa itu tidak mungkin. Justru Deril yang kemungkinan punya bayi kembar karena gen kembarnya.


Apa jadinya bentuk badan Aliya kalau hamil nanti? Tubuhnya terlalu kurus untuk hamil. Tapi Aldo tidak mempermasalahkan hal itu. Seharusnya dia hanya memikirkan bagaimana membuat Aliya hamil secepatnya.


Aldo menatap Aliya yang tidur lelap. Usianya bahkan jauh untuk sampai 25 tahun. Kalau hamil sekarang, apakah tubuhnya sanggup bertahan?


Aldo harus mengajak Aliya ke dokter untuk konsultasi masalah kehamilan di usia muda. Lagipula dia belum cukup tua, masih banyak waktu untuk mereka sebelum punya bayi.

__ADS_1


Tapi Aliya bilang kalau dia sudah siap punya bayi dan bisa mengurusnya sendiri. Apa Aliya akan memukulnya kalau minta penundaan bayi?


Lucu sekali melihat bagaimana ekspresi wajah Aldo terus berubah dari senang, sedih, bengong, cemberut, merajuk, dan banyak ekspresi lainnya.


Ia terlihat seperti akan mengikuti audisi pemain sinetron besok dan harus berlatih semua ekspresi yang ada di muka bumi.


Aliya bahkan tidak terganggu sekali. Ia benar-benar lelah dan hanya bisa tidur saja untuk saat ini.


-------


Aliya menggeliat bangun, ia merasakan tubuhnya sakit. Ia meraba ke samping mencari Aldo tapi tidak menemukannya.


Suara gemericik air di kamar mandi membuat Aliya tenang, setidaknya ia tahu dimana Aldo sekarang.


Aliya memejamkan matanya, pikirannya melayang mengingat kejadian semalam. Bahkan setelah mengerahkan semua kemampuannya, Aldo masih belum tergoyahkan.


Aliya membayangkan hari-hari berikutnya menjalani hidup baru dengan Aldo setelah pernikahan mereka. Aldo pernah bilang kalau dia tidak akan berhenti sampai Aliya hamil.


Baru malam ketiga dan Aliya sudah benar-benar tumbang. Tubuhnya tidak sekuat itu untuk menahan serangan bertubi-tubi. Setidaknya seminggu tiga kali.


Tapi bagaimana cara mengatakannya pada Aldo? Apa dia akan mengerti? Bagaimana kalau Aldo tidak sabar dan malah memaksanya.


Aliya tidak sadar kalau Aldo sudah keluar dari kamar mandi dan sedang memakai pakaiannya di depan lemari. Aldo melirik Aliya yang sedang sibuk berpikir.


Aldo : "Pagi, sayang. Kamu mau sarapan apa?"


Aliya : "..."


Aldo : "Ada apa? Apa yang kau pikirkan sampai keningmu berkerut seperti itu?"


Aliya : "..."


Aldo mendekati Aliya, menyibak selimut di kaki Aliya dan menerobos masuk lewat sana. Aliya yang masih berpikir, refleks menekuk kakinya menahan geli.


Aliya : "Yang...


Aldo : "Apa sayang? Bilang dong."

__ADS_1


Aliya : "Yang, apa kau ingin punya bayi?"


Aldo : "Bukan cuma satu tapi tiga. Dan semuanya harus semanis kamu."


Aliya : "Tapi..."


Aldo : "Bisakan kita pelan-pelan saja. Kita masih muda dan masih punya banyak waktu. Tapi aku tidak tahu kalau misalnya kau sudah hamil sekarang."


Aliya : "Sayang, kenapa kau selalu bisa menebak apa yang kupikirkan?"


Aldo : "Hah?! Masa?"


Aliya : "Aku juga ingin punya bayi, tapi buatnya pelan-pelan gitu. Rutin, bukan tiap hari. Badanku gak kuat, yang."


Aldo : "Tapi enak kan?"


Aliya : "Kamu pake obat ya?"


Aldo : "Gak lah. Tanpa obat, aku juga bisa. Semua dari sini, sayang."


Aldo menunjuk kepalanya, Aliya memegang kepala Aldo dan meniupnya,


Aldo : "Kenapa ditiup? Memangnya aku kesambet?"


Aliya : "Aku mencoba mengusir pikiran mesum dari kepalamu, yang."


Aliya tertawa karena Aldo menggelitiki pinggangnya. Ia senang sekali memiliki suami pengertian seperti Aldo.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Please vote poin buat karya author ya...

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2