Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Selesai magang


__ADS_3

Hari ini kebetulan adalah hari terakhir Joya magang di perusahaan Boy. Ia berkumpul dengan mahasiswa magang lain untuk mendengarkan pengarahan terakhir sebelum mereka pergi.


Joya sudah menyelesaikan tugas akhir magangnya dan juga persiapan skripsinya. Data-data yang ia perlukan sudah lengkap, bahkan pengajuan judul skripsinya sudah di ACC. Kalau lancar, dalam waktu 3 bulan lagi, Joya bisa ikut ujian skripsi.


Niken yang pagi itu datang sedikit terlambat, memberi kode pada Joya untuk mendekatinya. Mereka sudah selesai ikut pengarahan dan sedang berkumpul untuk perpisahan terakhir.


Joya : "Kak, bagaimana malam pertamanya?"


Niken : "Apa sich? Gak ada yang terjadi. Kami kesiangan bangun karena aku sibuk pindahan semalam."


Joya : "Oh, kirain udah. Kan kata orang begitu, habis pernikahan lanjut malam pertama. Emangnya ngapain, kak?"


Niken : "Ya tidur aja, memangnya mau apa lagi."


Joya : "Oh gitu ya kak."


Niken hanya mengangguk, gadis yang dicintai bosnya ini memang sangat polos dan murni. Bahkan gak ngerti apa itu cupangan.


Niken : "Joya, meskipun kamu uda selesai magang, tapi tugasmu belum selesai disini. Aku sudah mengajukan ke HRD. Kamu masih ditugaskan disini sampai proyek yang kita kerjakan clear."


Joya : "Maksud kakak, proyeknya pak Calvin?"


Niken : "Iya, dan waktunya fleksibel. Kamu bisa ke kampus kalau memang ada perlu. Tapi ingat selalu koordinasi denganku."


Joya : "Baik, kak. Hanya sampai proyek ini selesai ya."


Niken : "Iya."


Joya sudah memiliki rencana jangka panjang untuk menyelesaikan kuliah dan langsung melamar pekerjaan di perusahaan yang diincarnya. Untuk saat ini hanya itu fokusnya agar Ny.Besar bisa tenang.


Niken mengirimkan pesan pada Boy yang langsung berteriak senang. Rian hanya menatapnya dengan kepo. Entah apa lagi yang akan direncanakan bos-nya itu pada Joya.


-----


Sore itu, Joya belum bisa pulang. Ia harus membantu Niken mengerjakan proposal pengajuan proyek Calvin. Mereka mengerjakannya di kantor Boy bersama Rian.


Sejujurnya Rian sudah ingin pulang membawa Niken, pasalnya mereka belum sama sekali melewati malam pertama. Ya, Rian belum menyentuh Niken sampai saat ini.


Rian berbisik pada Niken yang terus saja menggeleng. Boy yang melihat kelakuan Rian mengirim pesan chat padanya.


Boy : "Ada apa?"


Rian : "Aku perlu waktu berdua dengan istriku."


Boy : "Memangnya pekerjaanmu sudah selesai?"


Rian : "Bagian kami sudah selesai, Joya bisa menyelesaikan sisanya."

__ADS_1


Boy : "Pergilah, aku akan tetap disini bersama Joya."


Rian : "Lalu siapa yang akan mengantar Joya pulang?"


Boy : "Dia pulang sama aku."


Rian : "Apa kau yakin akan mengantarnya pulang dan tidak membawanya ke apartmentmu?"


Boy : "Kenapa pikiranmu bisa sama dengan ibuku? Aku belum separah itu."


Rian : "Untuk jaga-jaga saja, aku bisa mengirimkan pengaman nanti."


Boy : "Berhentilah jadi setan, Setan." tulis Boy sambil mengirimkan emoji jari tengah.


Rian tidak bisa menahan tawanya, tapi dengan cepat ia menyamarkannya dengan batuk-batuk.


Rian berbisik lagi pada Niken untuk membiarkan sisanya dikerjakan Joya. Ia mengancam akan mencium Niken sekarang juga kalau ia menolak pergi sekarang.


Niken : "Joya, kau selesaikan kerjakan ini ya. Kami harus pergi untuk menemui orang tua Rian."


Joya : "Iya, kak. Akan saya selesaikan malam ini juga."


Joy melambaikan tangannya pada Niken dan kembali bekerja. Ia melupakan satu fakta kalau ia masih satu ruangan dengan Boy yang sejak tadi sudah menatapnya tajam.


Tengkuk Joya terasa dingin, ia merenggangkan otot lehernya yang pegal dan menyadari sesuatu. Di dalam ruang kerja Boy hanya ada mereka berdua. Joya merasa sedang ada di dalam kandang singa yang kelaparan.


Joya melirik Boy yang tampak sibuk dengan laptopnya.


Joya berjalan mendekati meja kopi di sudut ruangan dekat kamar mandi. Sedang asyik meracik kopi sambil menunggu air panas, Joya merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.


Bayangan Boy tampak berdiri di belakang Joya. Ia bisa melihatnya dari kaca di depan mereka. Boy berdiri tepat di belakang Joya yang membeku seketika.


Boy menghembuskan nafas panasnya di belakang kepala Joya dan sekilas mencium kepalanya sebelum masuk ke kamar mandi. Joya mengipasi tubuhnya, entah kenapa AC di ruangan itu terasa panas.


Joya jadi salah tingkah setelah meletakkan kopi di meja kerja Boy. Ia ingin secepatnya selesai mengerjakan tugas yang diberikan Niken dan pulang.


Kring! Kring! Jantung Joya hampir lompat dari tempatnya saat ponselnya berdering nyaring membuyarkan kesepian di kantor Boy. Joya panik mencari dimana ponselnya, suara deringnya menghilang dan Joya menoleh menatap Boy yang sudah menatapnya. Boy menjawab panggilan itu, ponsel Joya tadi tertinggal diatas meja kerja Boy.


Boy : "Halo, bu?"


Ny. Besar : "Boy? Kenapa ponsel Joya bisa ada sama kamu? Ibu gak salah telpon kan?"


Boy : "Nggak, bu. Joya masih sama aku di kantor."


Ny. Besar : "Dikantor? Atau diapartementmu?"


Boy : "Ibu bisa tanya sendiri."

__ADS_1


Boy menyodorkan ponsel Joya padanya, Joya segera menjawab telpon dari Ny. Besar.


Joya : "Halo, Ny.Besar. Saya masih di kantor."


Ny. Besar : "Kapan kamu pulang? Sudah lewat jam makan malam. Apa kamu sudah makan?"


Joya : "Sudah, Ny. Besar. Saya sudah makan. Iya." Joya berkata sambil memegangi perutnya yang lapar. Boy melihat hal itu, ia menekan beberapa nomor dan langsung memesan makanan.


Ny. Besar : "Ya sudah. Nanti hati-hati pulangnya."


Joya : "Iya, Ny. Besar. Jam segini masih ada ojol kok."


Ny. Besar : "Kabarin kalau ada apa-apa ya?"


Joya : "Baik, Ny. Besar."


Joya menutup sambungan, senyuman lebar menghiasi bibirnya ketika mendapat telpon dari Ny. Besar. Bagi Joya, mendengar suara Ny. Besar sudah seperti penambah tenaga untuknya.


Joya kembali duduk di sofa, dan mengetik dengan cepat di laptopnya. Sedikit lagi dan pekerjaannya akan selesai. Saat itu seseorang mengetuk pintu ruang kerja Boy. Joya membukakan pintu, orang itu mengantarkan makanan untuk mereka.


Joya melirik makanan yang diletakkan di meja kerja Boy. Ia memegangi perutnya yang lapar, tadi siang ia hanya sempat makan beberapa suap bekal makanannya karena kesibukan mengerjakan proyek Calvin.


Ia pikir malam ini ia akan makan malam bersama teman-teman mahasiswa lain yang selesai magang bersamanya. Mereka merencanakan untuk makan bersama sepulang kerja. Tapi sekarang, Joy malah terjebak dengan Boy.


Boy : "Makanlah dulu."


Joya menatap Boy yang sudah makan duluan. Ada satu porsi makanan lagi di depan matanya. Perlahan ia duduk di kursi dan mulai makan. Makanan itu terasa enak sekali, entah karena Joya memang lapar atau ada Boy sedang makan di depannya.


Setelah selesai makan, Joya membereskan piring bekas mereka makan. Ia kembali mengerjakan pekerjaannya dan selesai dengan cepat. Joya mengirimkan e-mail ke Niken dan men-shutdown laptop Niken.


Boy : "Sudah selesai? Ayo pulang. Biarkan laptop itu disini."


Joya mengambil tas dan ponselnya yang tergeletak di dekat sofa. Ia mengimbangi langkah kaki Boy menuju lift dan masuk bersamanya.


Mereka turun sampai ke lobby dan mobil Boy sudah siap disana.


Boy : "Cepat masuk." Perintah Boy pada Joya yang hanya bisa menurut.


Malam itu Boy mengantar Joya pulang bersama ke rumah Ny. Besar.


-----


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2