
Aril bangkit dari atas tubuh Cecil, baru saja ia merasakan kehangatan Cecil saat ia merasakan tidak ada perlawanan lagi dari Cecil.
Aril : "Apa kau menyukainya, sayang?"
Aril memperhatikan wajah Cecil yang pucat, matanya terpejam dan nafasnya memburu cepat. Jelas itu bukan karena ia sedang terangsang hebat.
Aril meraba kening Cecil dan menyadari wanita ini demam tinggi.
Aril : "Shit! Cecil bangun, Cecil!"
Aril menelpon asistennya dan menanyakan cara merawat seseorang yang sedang demam. Asistennya menyarankan memanggil dokter tapi hujan badai di luar sana, tidak memungkinkan siapapun mendekati apartment Aril sekarang.
Dari sekian banyak saran, akhirnya Aril ingin mencoba sesuatu yang sepertinya masuk akal. Aril mengambil air putih di atas meja sofa dan mulai memberi minum Cecil dengan cara mulut ke mulut.
Beberapa kali tegukan pada tenggorokan Cecil membuat nafasnya sedikit melambat. Aril melepaskan penutup tubuh Cecil, bukan untuk melecehkannya.
Ia berbaring di samping Cecil, memeluk tubuh Cecil yang mulai berkeringat. Aril merapatkan selimut mereka dan membelai wajah Cecil.
Aril : "Jadilah milikku, Cil."
-------
Cecil membuka matanya, ia merasa sedikit pusing dan tubuhnya basah. Tiba-tiba ia bangun dari tidurnya. Selimutnya hampir melorot memperlihatkan tubuhnya.
Tangan Cecil mengepal, ia marah sekali mengira Aril sudah melakukan sesuatu yang kurang ajar padanya. Bug! Cecil mengambil bantal dan memukul wajah Aril yang masih tidur.
Aril : "Aduch! Apa-apaan ini!!"
Aril kelimpungan bangun karena wajahnya sakit. Ia menahan tangan Cecil dan menjatuhkannya ke ranjang.
Aril : "Kau ini tidak tahu terima kasih ya."
Cecil : "Terima kasih untuk apa? Meniduriku?!!"
Aril : "Semalam kau demam, aku bahkan belum memulainya."
Cecil : "Biarkan saja aku mati, daripada kau tiduri..."
Aril : "Aku masih punya hati, Cil. Jadi milikku ya."
Cecil : "Brengsek! Lepaskan aku! ********! Jangan tarik selimutnya."
Aril : "Aku tidak akan menahannya sekarang..."
Cecil : "Jangan, Ril. Aku... aku tidak mau... Tolong jangan paksa..."
__ADS_1
Aril : "Aku tidak memaksamu, sayang. Tubuhmu menginginkan aku."
Cecil : "Kamu akan kecewa, sebaiknya jangan..."
Aril : "Apa yang bisa membuatku kecewa, sayang? Tubuhmu sempurna."
Cecil : "Aku... aku sudah gak perawan..."
Aril menghentikan gerakannya, air mata Cecil jatuh melihat reaksi Aril. Lagi-lagi begini! Hubungannya selalu kandas karena masalah keperawanan. Kesalahan dan kebodohan di masa lalunya yang sangat ia sesali sekarang.
Aril : "Apa hanya itu alasannya kamu menolakku?"
Cecil : "...hanya itu..."
Aril : "Apa kau sudah menikah? Punya pacar?"
Cecil : "Aku single. Belum pernah menikah."
Aril : "Jadi tidak ada alasan kau bisa menolakku lagi sekarang..."
Cecil : "Maksudmu?"
Aril : "Sayang, menikahlah denganku."
Cecil : "Kamu gila! Kita baru kenal..."
Cecil hanya diam tidak ingin menanggapi perkataan Aril sekarang, lagipula ini bukan saat yang tepat untuk bicara. Cecil bangun dengan cepat,
Cecil : "Aku harus ke kantor. Sudah hampir pagi."
Aril : "Aku akan mengantarmu. Aku mandi dulu ya. Tunggu disini."
Cecil menarik selimut menutupi tubuhnya, ia membuka tirai jendela kamar itu dan melihat langit malam mulai berganti pagi yang cerah.
Ingatannya melayang merangkai kejadian yang baru saja dialaminya bersama Aril. Ia memejamkan matanya, perasaannya tidak tenang. Cecil takut kalau Aril hanya menganggapnya ******* murahan.
Aril baru selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Ia melihat Cecil berdiri dekat jendela kamarnya. Tubuh Cecil terlihat samar tertutup selimut tipis. Aril menyukai pemandangan itu.
Aril : "Sayang, apa yang kau pikirkan?"
Cecil : "Aku... Setelah kita melakukannya, tolong jangan anggap aku *******. Lebih baik kita pura-pura tidak terjadi apa-apa tadi."
Aril : "Jangan bercanda denganku, Cil. Setelah apa yang kita lakukan tadi, aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Cecil : "Sulit mempercayai playboy sepertimu, aku gak mau berakhir sakit hati karena permainanmu."
__ADS_1
Aril : "Makanya kita pacaran dulu. Kau bisa melihat aku serius atau tidak sama kamu. Kau mau mandi dulu atau..."
Aril menatap Cecil yang terlihat menggoda. Cecil mengambil satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai dan masuk ke kamar mandi.
Aril benar-benar mengantar Cecil pulang untuk mandi dan ganti baju kerja. Ia duduk di sofa kamar Cecil, menunggu wanita itu mandi dan bersiap. Cecil terlihat cantik memakai pakaian kerjanya yang ketat.
Cecil : "Kau mau kopi?"
Aril : "Kau punya susu?"
Cecil mendecih mendengar pertanyaan Aril yang ambigu. Aril tertawa melihat reaksi Cecil yang mulai kesal. Menggoda Cecil akan jadi kebiasaan barunya.
Cecil : "Ini kopimu. Roti bakar, selai buah atau coklat?"
Aril : "Selai kacang?"
Lagi-lagi Cecil mendecih, Aril tersenyum menggodanya sambil menjilat bibirnya.
Cecil : "Berhentilah melakukan itu, aku bisa terlambat ke kantor."
Aril : "Apa perlu kutelpon Deril? Aku bisa katakan kalau kita masih sibuk.
Cecil : "Jangan katakan apapun. Itu sangat memalukan."
Aril : "Deril akan mengerti dan setuju, apalagi aku memang serius padamu."
Cecil : "Omong kosong...Cepat minum kopimu dan ini roti bakar selai coklat."
Aril menikmati sarapannya sementara Cecil menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Ia ingat hari ini Deril ada meeting penting.
Cecil : "Cepatlah makan, aku akan terlambat ke kantor."
Aril : "Berjanjilah satu hal dulu, baru aku antar ke kantormu, kau akan membuatkan aku sarapan setiap hari mulai sekarang."
Cecil : "What! Kau sudah gila, aku gak..."
Aril membuka ponselnya, menunjukkan nomor Deril. Cecil mendengus kesal,
Cecil : "Ok, akan kubuatkan. Sekarang antar aku cepat!"
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
__ADS_1
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------