
Sudah hampir 3 bulan berlalu sejak Rian dan Niken menikah, tapi mereka belum juga melalui malam pertama sebagai suami istri. Niken masih menghindar dari Rian dalam hal memberikan hak-nya sebagai suami.
Rian mengerti betul kalau ia menikahi Niken dengan sedikit akal bulus, jadi Niken belum benar-benar mencintainya. Tapi 3 bulan adalah waktu yang tidak sebentar dan bagi seorang pria yang sudah menikah, menahan hasrat selama itu cukup membuatnya tersiksa.
Suatu hari, mereka baru pulang dari bekerja. Niken merasa sangat lelah dan hanya ingin berbaring setelah mandi. Mereka bahkan belum makan malam, Rian yang melihat Niken tampak lesu, menyarankan untuk membeli makanan dari luar.
Rian : "Kamu mau pesan apa?"
Niken : "Aku mau makan sate. Ada gak?"
Rian : "Ada langgananku. Itu aja?"
Niken : "Iya."
Rian melihat Niken merebahkan tubuhnya ke sofa. Ia ikut duduk di sampingnya dan Niken merebahkan kepalanya ke bahu Rian. Rian duduk tenang membiarkan Niken bersandar di bahunya.
Niken : "Aku capek banget. Tadi full meeting, sendirian bolak-balik. Hadeh... Badanku pegel semua."
Rian : "Mau mandi dulu? Nanti aku pijitin."
Niken : "Berendam kayaknya enak nich."
Rian : "Aku siapin airnya dulu ya. Tunggu sini."
Rian beranjak dari sisi Niken setelah istrinya itu bersandar ke sofa. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membuka air hangat di bath up. Perlahan air hangat mulai memenuhi bath up itu.
Rian juga menyiapkan handuk dan bathrobe di atas meja, dan lilin aromatherapy. Setelah menuangkan aromatherapy cair dan sedikit sabun ke dalam bath up, Rian keluar dari kamar mandi.
Dilihatnya Niken tertidur di sofa. Rian menoleh saat pintu depan diketuk seseorang. Itu orang yang membawakan pesanan sate ayam Rian. Setelah meletakkan sate diatas meja makan, Rian kembali mendekati Niken.
Rian mengusap kening Niken yang mengkerut, ia memikirkan sesuatu,
Rian : "Niken, bangun. Ayo kita mandi."
Niken : "Hmm..."
Rian : "Aku gendong ke kamar mandi ya."
Niken menegakkan badannya dan Rian langsung menggendong Niken masuk ke kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi, Rian mulai melepaskan kancing kemeja yang dipakai Niken.
Rian menahan nafasnya sejenak saat kemeja itu sudah terlepas memperlihatkan sesuatu yang menarik di dalamnya.
Niken masih memejamkan matanya, ia merasakan kemejanya terlepas dari tubuhnya. Rian mulai menurunkan rok yang dipakai Niken dan juga melepas pakaian dalam Niken.
Perlahan Rian membaringkan Niken di bathup yang sudah penuh berisi air hangat. Niken membuka matanya, ia menatap Rian yang tersenyum menatapnya.
Rian : "Kamu capek banget ya. Aku pijat ya."
Niken : "Ka...kamu?? Bajuku??"
Niken membelalakkan matanya menyadari kalau ia membiarkan Rian melucutinya saat ia setengah tertidur.
Rian yang masih memakai pakaian kerjanya, membuka kemejanya dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor. Niken sudah meringkuk di sudut bath up, memalingkan wajahnya dari Rian.
Tangan Rian mulai memijat bahu dan punggung Niken. Pijatan lembut membuat Niken kembali memejamkan matanya.
Niken : "Hmm..."
Rian : "Bahumu kaku sekali. Apa kepalamu sakit?"
Pijatan Rian pindah ke kening dan pelipis Niken, memijat dengan lembut
Niken : "Tekan lebih keras."
Rian : "Ok."
Acara pijat-pijatan berakhir 10 menit kemudian, Niken masih duduk di dalam bath up. Ia melirik Rian yang masih duduk di samping bath up. Suaminya itu sama sekali tidak mengambil kesempatan saat ia tidak sadar.
__ADS_1
Niken : "Kamu gak mandi?"
Rian : "Boleh gabung?"
Melihat Niken mengangguk, Rian membuka sisa pakaiannya dan masuk ke bath up itu. Ia duduk di belakang Niken yang wajahnya sudah merona.
Rian : "Huuuh... Rileks sekali. Mau kupijat lagi?"
Niken menggeleng, kondisi tubuhnya sudah membaik.
Niken : "Makanannya uda datang blum?"
Rian : "Uda di meja."
Niken : "Kamu uda makan?"
Rian : "Blum, nunggu kamu sich."
Rian menarik pelan bahu Niken agar bersandar di dadanya. Niken bisa merasakan debaran jantung Rian menghentakkan dadanya.
Rian : "Niken?"
Niken : "Hmm?"
Rian : "Sampai kapan aku harus menunggumu?"
Niken : "Sampai aku siap?"
Rian : "Dan kapan tepatnya kau siap?"
Niken : "...Mungkin sekarang..."
Rian : "Beneran?"
Rian terlihat antusias tapi sedetik kemudian ia kembali tenang.
Rian bangun dari bath up dan masuk ke dalam shower. Ia menyiram tubuhnya yang membara dengan air dingin.
Setelah selesai, Rian keluar dari kamar mandi memakai bathrobe. Ia juga membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Niken melihat semuanya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Ia menepuk wajahnya dengan kedua tangannya.
Ia membuka penyumbat bath up dan membilas tubuhnya di bawah shower. Setelah itu ia keluar menyusul Rian.
Rian yang duluan duduk di meja makan, menyiapkan nasi dan sate untuk mereka. Niken duduk di depan Rian masih memakai bathrobe. Ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air.
Rian : "Ayo makan. Habis ni kamu istirahat ya."
Niken : "Iya..."
Mereka makan malam dalam diam, tidak seperti malam sebelumnya yang banyak cerita dan interaksi.
Malam ini keduanya terlihat sangat canggung. Saling menatap satu sama lain dan menunduk. Situasi yang biasa terjadi saat pengantin baru ditinggal berduaan di dalam kamar.
Setelah selesai makan, keduanya masuk ke dalam kamar. Rian mematikan lampu kamar, ia berbaring dibawah selimut, dan membuka bathrobe-nya.
Sungguh, dia hanya ingin tidur saja dan malas memakai pakaian tidurnya. Yang tidak di sangka Rian, Niken melakukan hal yang sama. Keduanya berbaring menghadap ke atas menatap plafond kamar.
Niken : "Rian..."
Rian : "Ya?"
Niken : "Itu aku boleh nanya?"
Rian : "Nanya apa?"
Niken : "Waktu pertama kita tidur, apa aku melakukannya dengan baik?"
__ADS_1
Rian : "Melakukan apa?"
Niken : "Masa kamu gak tahu, itu... bercinta..."
Rian : "Darimana kau dapat istilah itu? Aku gak tahu..."
Niken : "Harusnya kan kamu tahu gimana teknik bercinta yang baik."
Rian : "Aku gak tahu, aku gak pernah melakukannya."
Niken : "Tapi kita kan sudah pernah melakukannya... Iya kan?"
Entah kenapa Niken jadi ragu, sebelumnya ia yakin kalau Rian belum menyentuhnya tapi setelah menikah ia yakin kalau mereka memang sudah pernah melakukannya.
Rian : "Kita belum pernah melakukannya. Kamu masih utuh seperti sebelumnya."
Niken bangun dari tidurnya, ia sampai harus menahan selimutnya agar tidak jatuh.
Niken : "Kita belum pernah? Kau yakin?"
Rian : "Tidak ada yang terjadi, Niken."
Rian yang melihat punggung Niken, tergoda untuk mengusap punggung itu. Niken menoleh menatap Rian, Rian ikut duduk disamping Niken, menyandarkan dagunya di bahu Niken.
Rian : "Kamu gak percaya? Mau aku buktikan?"
Niken : "Tapi..."
Rian tidak membiarkan Niken bicara lagi. Ia menunjukkan rasa cintanya pada Niken yang mulai menerima perasaan tulus Rian.
------
Niken memalingkan wajahnya, ia merasa malu ditatap Rian setelah melewati malam yang indah.
Rian : "Sayang, malu ya."
Niken : "He eh. Jangan melihatku gitu."
Rian : "Aku gak bisa. Kamu terlalu manis."
Niken : "Gombal."
Rian : "Kita resepsi yuk."
Niken : "Resepsi?"
Rian : "Iya. Kita undang teman kantor juga. Kita umumkan pernikahan kita secara resmi."
Niken : "Bukannya nikah sah aja uda cukup?"
Rian : "Aku gak mau ada rumor dikantor kalau kau hamil nanti."
Niken : "Terserah kamu aja."
Mereka tersenyum satu sama lain dan kembali menghabiskan malam yang hangat.
-----
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak...
-------
__ADS_1