
Alvin dan Rara baru sampai di rumah Alvin, Joya menyambut mereka dan bertanya tentang hasil ujian skripsi Rara.
Rara : “Rara lulus, mah.”
Joya : “Ah, bagus sayang. Mama kabarin papa dulu ya.”
Alvin mengajak Rara istirahat di kamarnya, mereka sudah makan siang tadi. Rara merebahkan tubuhnya di kasur Alvin yang nyaman, ia melepaskan jas dan kemejanya, meninggalkan tank top krem masih menutupi tubuh bagian atasnya.
Alvin hanya memperhatikan kelakuan Rara, ia membiarkan Rara beristirahat dulu sementara Alvin mandi.
Rara mengangkat kepalanya ketika mendengar suara HP-nya, papa dan mama Rara menelponnya, v-call.
Papa Rara : “Rara, sayang bagaimana hasilnya?”
Rara : “Rara lulus tanpa revisi, pah, mah.” Papa dan mama Rara terlihat gembira, tapi sebentar kemudian papa Rara berteriak, mama Rara sampai menghilang dari kamera.
Papa Rara : “Kamu dimana sekarang?!”
Rara : “Rara dikamar Alvin, pah. Kenapa?” Rara menjawab jujur.
Papa Rara : “Jangan nengok ke belakang, pokoknya jangan balik badan!”
Rara : “Kenapa sich?”
Rara menengok ke belakang, memergoki Alvin yang baru selesai mandi, keluar cuma pakai handuk kecil menutupi bawah pinggangnya saja. Alvin mengambil pakaian ganti di lemarinya, menutup lemari, dan masuk lagi ke kamar mandi.
Papa Rara : “Ih, itu anak gak ada sopannya, uda tau ada kamu…” Papa Rara melihat wajah Rara merah padam.
Rara : “Biasanya Alvin gak gitu, pah. Mungkin karena tadi Rara ketiduran disini, Rara baru tidur jam 2 kemarin malem. Ngantuk banget.”
Papa Rara : “Hais… Kalian kapan nikah sich? Papa gak tenang nich dengan gaya pacaran kalian.”
Alvin : “Papa mau cepet-cepet punya cucu ya, Alvin bisa kok buatin sekarang.”
Alvin yang sudah pakai baju, ikut berbaring di samping Rara dan bicara dengan papa Rara.
Papa Rara : “Vin, jangan bercanda dech. Papa serius nich.”
Alvin tertawa, sifat isengnya menular dari papanya, ia sering mengisengi papa Rara yang masih over protektif pada putrinya. Sejak mereka bertunangan, Alvin tidak pernah takut lagi berhadapan dengan orang tua Rara.
Rara : “Kenapa bahas nikah sich? Rara masih mau kerja, pah.”
Alvin : “Kok nunda lagi? Aku kan uda kasi kerjaan ngurus gerai makanan, mau apa lagi?”
Rara : “Tapi kan itu usaha kamu, aku mau coba cari kerja sendiri.”
Alvin : “Pah, mah, permisi Alvin tutup telponnya dulu ya, Alvin mau buat cucu buat papa sama mama.”
Alvin memutuskan sambungan membuat papa dan mama Rara melongo diseberang sana. Papa Rara mencoba menghubungi Rara lagi, tapi mama Rara melarangnya.
Mama Rara : “Biarkan mereka bicara dulu, pah.”
Papa Rara : “Tapi tadi Alvin bilang mau buat cucu untuk kita…”
Mama Rara : “Papa kena iseng lagi sama Alvin, ach. Mana berani Alvin berbuat begitu sebelum menikah. Papa nich kok gak sadar kalau mantunya suka iseng.”
Papa Rara : “Allvviiinnnn…!!!!”
__ADS_1
Sementara itu kembali ke kamar Alvin, Rara menatap Alvin. Rara membelai wajah Alvin yang cemberut, tangannya merangkul leher Alvin agar mendekat.
Cup. Rara berinisiatif mencium Alvin. Alvin diam saja, membiarkan Rara memulainya, selama ini hanya Alvin yang tidak bisa menahan hasratnya, ia ingin Rara yang memulai sesekali.
Rara : “Sayang, jangan marah ya. Aku cuma mau belajar dari nol, cari kerja sendiri, aku lupa kalau kamu udah nunggu lama pernikahan kita. Aku juga uda gak sabar nunggu tanggalnya.”
Alvin : “Jangan buat aku menunggu lagi, usia kita memang masih muda, jadi aku gak masalah kalau kamu mau nunda punya bayi dulu. Tapi tolong jangan nunda jatahku.”
Rara memukul lengan Alvin yang tiba-tiba tersenyum mesum, Alvin langsung mencium bibir Rara lagi.
Rara : “Alvin ! Geli…! Stop…!”
Pintu kamar Alvin terbuka, Joya dan Boy melihat anak dan calon mantunya sedang bercanda diatas tempat tidur Alvin.
Joya : “Eehhheemmm!”
Boy : “Eehheemm! Eehheemm!”
Alvin melihat ke arah pintu, ia segera bangkit dari atas tubuh Rara dan berdiri menutupi Rara yang pakaiannya sudah berantakan. Rara duduk di pinggir tempat tidur sambil membenahi pakaiannya. Joya masuk ke kamar Alvin, menjewer telinga anaknya.
Joya : “Kamu nakal ya. Sana keluar, papa mau bicara.”
Alvin : “Mana ada Alvin nakal, Rara tuch yang mancing.”
Joya : “Memangnya kamu ikan, dipancing. Sana keluar dulu, mama nyusul sama Rara.”
Alvin melirik Rara yang masih memakai kemejanya lagi, wajahnya sudah merah padam kepergok calon mertuanya.
Boy, Joya, Alvin dan Rara duduk di ruang tengah rumah Alvin, mereka sudah terhubung dengan papa dan mama Rara via video call.
Mereka membicarakan tanggal pernikahan yang ternyata sudah di tetapkan sekitar dua minggu lagi. Acara pernikahan akan diadakan di rumah papa Rara di kota Y sekaligus resepsi, dan juga resepsi kedua di rumah Alvin di kota S.
Setiap hari, Alvin menelpon Rara, v-call, dan chat tanpa putus. Ia tidak betah lama-lama di kantor kalau tidak ada hal yang penting. Papa Alvin sampai bolak-balik perusahaan kakek dan perusahaannya sendiri untuk menjaga performa. Sementara mama Alvin sibuk menyiapkan keperluan pernikahan yang akan dibawa dibantu oleh ipar-iparnya.
H-1 pernikahan, Alvin sama sekali tidak boleh menghubungi Rara, ia stress sekali dan lebih banyak diam merajuk. Bahkan setelah mereka sampai di kota Y dan menginap di villa yang sudah mereka sewa sebelumnya, Alvin tidak
juga tenang. Dia terlalu merindukan Rara.
Hari pernikahan tiba juga, Alvin sudah bersiap-siap sejak pagi, ia terlihat tampan dengan baju pengantin pria berwarna putih. Alvin tersenyum melihat papa dan mamanya yang juga sudah siap.
Boy : “Gimana, nak? Masih grogi?”
Alvin : “Masih dikit, pah. Papa dulu juga gini ya.” Boy memegang tangan Alvin yang dingin.
Boy : “Gak juga, soalnya tante Putri nunjukin sesuatu sama papa yang bikin papa gak sabaran buat nikahin mama kamu.”
Alvin memandang orang tuanya yang malu-malu, seperti mereka yang akan menikah. Dia jadi penasaran memperlihatkan apa ya?
Salah satu kakak sepupu Alvin yang sudah menikah, Naira ikut masuk ke kamar Alvin. Beberapa bulan ini Naira yang paling akrab dengan Rara, bahkan saat siraman kemarin, Naira diundang khusus oleh Rara sebagai teman baiknya.
Naira : “Alvin, selamat ya. Wah, ganteng sekali.”
Alvin : “Mb Naira, makasih banyak ya. Gimana acara siraman Rara kemarin? Lancar?”
Naira : “Lancar banget kok, Rara juga kelihatan cantik banget. Mb ada sesuatu buat kamu, biar gak gugup lagi.”
Alvin mendekat pada Naira yang sudah membuka HP-nya. Ia melotot melihat foto di HP itu, Naira berbisik pada Alvin yang menutup hidungnya karena hampir mimisan,
__ADS_1
Naira : “Rara bilang, dia akan pakai ini nanti malam.”
Alvin : “Ada foto lain gak mb? Kirimin aku foto itu cepetan.”
Naira : “Ada, tapi Rara cuma bolehin kasih liat yang ini aja. Ini kan HP Rara. Gimana, masih gugup?”
Alvin : “Haduh, Alvin ke kamar mandi dulu, gak tahan.”
Naira tertawa melihat kelakuan adik sepupunya, sudah mau berangkat tapi yang mau nikah malah kebelet.
------
Alvin sudah sampai di rumah Rara, ia langsung disambut tradisi pernikahan dan dipersilakan duduk di depan penghulu.
Setelah menunggu 10 menit, Rara keluar dari kamarnya, seluruh tamu undangan terdiam melihat pengantin wanita yang tampak cantik dengan baju pengantin warna putih. Rara duduk di samping Alvin yang tidak berani menatapnya, takut mimisannya keluar lagi.
Penghulu meminta Alvin menjabat tangan papa Rara, setelah papa Rara mengucapkan bagiannya, dengan satu tarikan nafas, Alvin mengucapkan ijab qabul dengan lantang.
Kedua pengantin tampak lega setelah beberapa saksi berteriak sah. Barulah Alvin berani melihat ke samping karena Rara akan mencium tangannya.
Alvin melongo melihat Rara terlihat bersinar, apalagi saat Rara menunduk mencium tangan Alvin, wangi tubuh Rara membuat Alvin junior mulai memberontak.
Alvin : “Kamu cantik banget, Ra.”
Rara : “Makasih Al.”
Kini mereka sudah duduk di pelaminan, menyalami semua tamu undangan yang datang. Setelah berdiri hampir 2 jam, mereka sudah bisa duduk sambil makan malam.
Alvin : “Sayang, capek ya, nanti aku pijitin ya.”
Rara : “Yakin mau pijit aja?”
Alvin : “Kamu beneran mau pake yang di foto itu?”
Rara : “Kalo iya, kenapa?” Alvin melihat sekeliling, semua orang sedang asyik ngobrol tidak mempedulikan mereka lagi.
Alvin : “Kita ke kamar sekarang yuk.”
Rara : “Tapi Al…”
Alvin membantu Rara menyeret baju pengantinnya menuju kamar pengantin mereka, sampai di dalam kamar, Alvin mulai mencium bibir Rara yang terasa manis.
Ia sangat merindukan Rara, dan tidak sabar ingin memilikinya. Tangan Alvin mulai meraba baju pengantin Rara, mencari letak retsletingnya yang ternyata ada di belakang. Ia mencoba menariknya dan retsleting itu tersangkut.
Sementara pengantin baru sedang sibuk di kamar mereka, keluarga mereka mulai kebingungan mencari pengantin yang menghilang.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu
kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
__ADS_1
-------