Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Prasangka


__ADS_3

Eps. 21 – Prasangka


Boy bangkit


dari atas tempat tidur, mengunci pintu dengan cepat. Tapi sepertinya Joya tidak


mau melanjutkan apa yang mereka mulai tadi. Ia sudah memejamkan matanya bersiap


untuk tidur.


Boy menatap


tubuhnya sendiri dan geleng-geleng kepala lagi. Kebanyakan geleng-geleng


membuat kepalanya jadi pusing. Ia memakai pakaiannya sendiri dan pergi


meninggalkan kamar, membiarkan Joya tidur sendirian.


Bi Ijah yang


melihat Boy turun sendiri, senyum-senyum mengingat kejadian tadi. Boy juga


ikutan malu, “Bi, tolong buatin kopi ya. Dimana Rian?”


“Baik, tuan


muda. Pak Rian ada di dalam ruang kerja.”


Boy masuk ke


ruang kerja dan melihat Rian sedang menelpon seseorang di dalam sana. Sepertinya


dengan salah satu client mereka. Rian mengangguk saat melihat Boy sudah duduk


di meja kerja. Ia melanjutkan pembicaraan itu sampai selesai sebelum mendekat


lagi pada Boy.


“Tuan, meeting


hari ini sudah dihandle Nando dan Carol. Pengganti Pak Joni juga sudah datang.”


“Bagus. Hmm,


sepertinya beberapa hari ini aku akan kerja dari rumah dulu. Apa ada lagi yang


penting?”


“Besok ada


meeting dengan perwakilan MJ Corp. Pemiliknya minta bertemu langsung dengan


tuan. Apa tuan bisa bertemu sebentar?”


“Ok, aku akan


ajak Joya ke kantor besok. Kamu tahu, dia tidak mau lepas dariku. Menempel


terus.”


“Iya, tuan.


Saya akan minta Carol menyiapkan apapun yang diminta Ny.”


Tak lama, Boy


mendengar Joya memanggil-manggil dirinya. Boy segera meninggalkan laptopnya dan


keluar dari ruang kerja. “Iya, sayang. Mas disini.”


“Mas kemana


aja? Sini, peluk.”


Boy melihat


Joya hanya memakai bathrobenya, berdiri di tengah tangga dengan rambut acak-acakan


dan memeluk guling Boy. “Makan dulu ya. Eh, ganti baju dulu dech.”


Boy menggiring


Joya kembali ke kamar sebelum ada yang melihat penampilannya seperti itu. Setelah


merapikan penampilan Joya, Boy mengajaknya turun ke lantai bawah lagi. Bi Ijah


menghidangkan sup hangat untuk Joya.

__ADS_1


“Makan pelan-pelan,


sayang. Masih panas.”


Joya


menghabiskan sup-nya dengan cepat. Ia merasa lapar setelah bangun tidur tadi


dan tidak menemukan Boy disampingnya. “Mas, aku mau mangga yang acem banget.”


“Emang dah


musim mangga?”


Boy beranjak ke


halaman samping. Ada pohon mangga di sudut halaman rumah Ny. Besar. Pohon itu


tidak terlalu besar tapi sangat rajin berbuah. Boy memicingkan matanya melihat


beberapa buah mangga nongol dari balik dedaunan rimbun.


“Ada buahnya,


mas?”


“Ada. Tapi


harus manjat dulu.”


Joya menatap


Boy dengan pandangan merengek mata berkaca-kaca. “Mas yang manjat.”


“Apa?!”


Joya menunjuk-nunjuk


buah mangga yang hampir diraih Rian. Kenapa jadi Rian? Karena Boy mengaku pada


Joya kalau dia gak bisa manjat pohon. Kalau jatuh gimana? Sebuah mangga


dilemparkan Rian dan ditangkap dengan baik oleh Boy.


Joya segera


mengupasnya dan asyik memakannya di bawah pohon lengkeng tak jauh dari pohon


“Bos, gimana


aku turunnya nich?!”panggil Rian masih diatas pohon.


“Sini loncat.”


“Bisa patah,


bos. Tega banget.”


“Ntar, masih


dicariin tangga. Lagian kamu aneh, bisa manjat tapi gak bisa turunnya.”


“Udah lama


banget gak manjat pohon, bos. Manjat yang lain sering.”


Boy mendongak


melihat Rian cengar-cengir sambil menggaruk tangannya yang mulai digigiti semut


nakal. Security rumah berlari membawa tangga untuk membantu Rian turun.


“Bos, nanti


kalau Niken hamil trus ngidam mangga, bos gantian yang manjat ya.”


Boy menatap


dingin pada Rian sambil menjitak kepalanya. “Enak aja. Aku dah bilang gak bisa


manjat.”


“Mas, gendong.”rengek


Joya manja. Ia sudah menghabiskan semua mangga yang dipetik Rian hanya tersisa


batu mangga yang penuh bekas gigitan Joya.

__ADS_1


“Gigimu gak


ngilu, Joya?” Boy membayangkan rasa mangga yang kecut saja sudah membuat


giginya ngilu.


“Gak. Enak


banget.”


Boy sudah


hampir menggendong Joya, tapi Joya minta digendong di punggung. Joya


menggelayut di punggung Boy. Ia tersenyum manis karena mendapatkan apa yang ia


idamkan.


Keesokan


paginya, Boy harus berangkat ke kantor. Joya manyun sepanjang pagi karena


merindukan suaminya itu. Ia ingin ikut ke kantor Boy, tapi bangunnya kesiangan.


Saat ia bangun, Boy sudah berangkat lebih dulu. Ny. Besar yang melihat Joya


galau, memberitahunya untuk mengantar makan siang ke kantor Boy.


Dan disinilah


Joya sekarang, ia memakai dress biru berbahan lembut dan memakai sepatu sneeker


putih dan tas kecil berwarna senada. Ditangannya ada tas bekal berwarna biru.


Semua orang di


lobby menyapa Joya, dan resepsionis menekan tombol lift untuknya. “Apa perlu


saya telpon keatas, Ny.?” tanya resepsionis baru itu.


“Nggak perlu,


mbak. Saya bisa sendiri. Terima kasih.”


Lift terbuka


dan Joya masuk ke dalam sana, ia mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum


pintu lift tertutup. Resepsionis itu tersenyum senang menerima keramahan Joya.


Ketika keluar


dari lift, Joya tidak melihat siapapun di luar. Meja Carol juga kosong, bahkan


Rian tidak ada diruangannya. Joya celingukan sebentar sebelum membuka pintu


ruang kerja Boy perlahan. Matanya langsung menangkap dua sosok berbeda jenis


kelamin sedang berpelukan di kursi depan meja kerja Boy.


Srak! Tas di


tangan Joya terjatuh, keduanya menoleh melihat tapi Joya tidak bisa melihat


wajah pria yang berada dalam pelukan wanita cantik yang seksi itu. Joya hanya


melihat sekilas pakaian yang dipakai pria itu sama dengan yang dimiliki Boy dan


Joya meyakini kalau pria itu adalah suaminya.


Lagipula siapa


lagi yang berani masuk ke ruang kerja Boy dan melakukan hal seperti itu. Hati


Joya terasa sakit, ia segera berlari menuju lift dan menekan tombolnya. Ketika


lift itu lama tidak terbuka, Joya memilih turun lewat tangga.


Pedih hati Joya


mengingat apa yang ia lihat tadi. Apa Boy memang suka melakukan hal seperti itu


tanpa sepengetahuannya?


*****


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2