
Eps. 21 – Prasangka
Boy bangkit
dari atas tempat tidur, mengunci pintu dengan cepat. Tapi sepertinya Joya tidak
mau melanjutkan apa yang mereka mulai tadi. Ia sudah memejamkan matanya bersiap
untuk tidur.
Boy menatap
tubuhnya sendiri dan geleng-geleng kepala lagi. Kebanyakan geleng-geleng
membuat kepalanya jadi pusing. Ia memakai pakaiannya sendiri dan pergi
meninggalkan kamar, membiarkan Joya tidur sendirian.
Bi Ijah yang
melihat Boy turun sendiri, senyum-senyum mengingat kejadian tadi. Boy juga
ikutan malu, “Bi, tolong buatin kopi ya. Dimana Rian?”
“Baik, tuan
muda. Pak Rian ada di dalam ruang kerja.”
Boy masuk ke
ruang kerja dan melihat Rian sedang menelpon seseorang di dalam sana. Sepertinya
dengan salah satu client mereka. Rian mengangguk saat melihat Boy sudah duduk
di meja kerja. Ia melanjutkan pembicaraan itu sampai selesai sebelum mendekat
lagi pada Boy.
“Tuan, meeting
hari ini sudah dihandle Nando dan Carol. Pengganti Pak Joni juga sudah datang.”
“Bagus. Hmm,
sepertinya beberapa hari ini aku akan kerja dari rumah dulu. Apa ada lagi yang
penting?”
“Besok ada
meeting dengan perwakilan MJ Corp. Pemiliknya minta bertemu langsung dengan
tuan. Apa tuan bisa bertemu sebentar?”
“Ok, aku akan
ajak Joya ke kantor besok. Kamu tahu, dia tidak mau lepas dariku. Menempel
terus.”
“Iya, tuan.
Saya akan minta Carol menyiapkan apapun yang diminta Ny.”
Tak lama, Boy
mendengar Joya memanggil-manggil dirinya. Boy segera meninggalkan laptopnya dan
keluar dari ruang kerja. “Iya, sayang. Mas disini.”
“Mas kemana
aja? Sini, peluk.”
Boy melihat
Joya hanya memakai bathrobenya, berdiri di tengah tangga dengan rambut acak-acakan
dan memeluk guling Boy. “Makan dulu ya. Eh, ganti baju dulu dech.”
Boy menggiring
Joya kembali ke kamar sebelum ada yang melihat penampilannya seperti itu. Setelah
merapikan penampilan Joya, Boy mengajaknya turun ke lantai bawah lagi. Bi Ijah
menghidangkan sup hangat untuk Joya.
__ADS_1
“Makan pelan-pelan,
sayang. Masih panas.”
Joya
menghabiskan sup-nya dengan cepat. Ia merasa lapar setelah bangun tidur tadi
dan tidak menemukan Boy disampingnya. “Mas, aku mau mangga yang acem banget.”
“Emang dah
musim mangga?”
Boy beranjak ke
halaman samping. Ada pohon mangga di sudut halaman rumah Ny. Besar. Pohon itu
tidak terlalu besar tapi sangat rajin berbuah. Boy memicingkan matanya melihat
beberapa buah mangga nongol dari balik dedaunan rimbun.
“Ada buahnya,
mas?”
“Ada. Tapi
harus manjat dulu.”
Joya menatap
Boy dengan pandangan merengek mata berkaca-kaca. “Mas yang manjat.”
“Apa?!”
Joya menunjuk-nunjuk
buah mangga yang hampir diraih Rian. Kenapa jadi Rian? Karena Boy mengaku pada
Joya kalau dia gak bisa manjat pohon. Kalau jatuh gimana? Sebuah mangga
dilemparkan Rian dan ditangkap dengan baik oleh Boy.
Joya segera
mengupasnya dan asyik memakannya di bawah pohon lengkeng tak jauh dari pohon
“Bos, gimana
aku turunnya nich?!”panggil Rian masih diatas pohon.
“Sini loncat.”
“Bisa patah,
bos. Tega banget.”
“Ntar, masih
dicariin tangga. Lagian kamu aneh, bisa manjat tapi gak bisa turunnya.”
“Udah lama
banget gak manjat pohon, bos. Manjat yang lain sering.”
Boy mendongak
melihat Rian cengar-cengir sambil menggaruk tangannya yang mulai digigiti semut
nakal. Security rumah berlari membawa tangga untuk membantu Rian turun.
“Bos, nanti
kalau Niken hamil trus ngidam mangga, bos gantian yang manjat ya.”
Boy menatap
dingin pada Rian sambil menjitak kepalanya. “Enak aja. Aku dah bilang gak bisa
manjat.”
“Mas, gendong.”rengek
Joya manja. Ia sudah menghabiskan semua mangga yang dipetik Rian hanya tersisa
batu mangga yang penuh bekas gigitan Joya.
__ADS_1
“Gigimu gak
ngilu, Joya?” Boy membayangkan rasa mangga yang kecut saja sudah membuat
giginya ngilu.
“Gak. Enak
banget.”
Boy sudah
hampir menggendong Joya, tapi Joya minta digendong di punggung. Joya
menggelayut di punggung Boy. Ia tersenyum manis karena mendapatkan apa yang ia
idamkan.
Keesokan
paginya, Boy harus berangkat ke kantor. Joya manyun sepanjang pagi karena
merindukan suaminya itu. Ia ingin ikut ke kantor Boy, tapi bangunnya kesiangan.
Saat ia bangun, Boy sudah berangkat lebih dulu. Ny. Besar yang melihat Joya
galau, memberitahunya untuk mengantar makan siang ke kantor Boy.
Dan disinilah
Joya sekarang, ia memakai dress biru berbahan lembut dan memakai sepatu sneeker
putih dan tas kecil berwarna senada. Ditangannya ada tas bekal berwarna biru.
Semua orang di
lobby menyapa Joya, dan resepsionis menekan tombol lift untuknya. “Apa perlu
saya telpon keatas, Ny.?” tanya resepsionis baru itu.
“Nggak perlu,
mbak. Saya bisa sendiri. Terima kasih.”
Lift terbuka
dan Joya masuk ke dalam sana, ia mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum
pintu lift tertutup. Resepsionis itu tersenyum senang menerima keramahan Joya.
Ketika keluar
dari lift, Joya tidak melihat siapapun di luar. Meja Carol juga kosong, bahkan
Rian tidak ada diruangannya. Joya celingukan sebentar sebelum membuka pintu
ruang kerja Boy perlahan. Matanya langsung menangkap dua sosok berbeda jenis
kelamin sedang berpelukan di kursi depan meja kerja Boy.
Srak! Tas di
tangan Joya terjatuh, keduanya menoleh melihat tapi Joya tidak bisa melihat
wajah pria yang berada dalam pelukan wanita cantik yang seksi itu. Joya hanya
melihat sekilas pakaian yang dipakai pria itu sama dengan yang dimiliki Boy dan
Joya meyakini kalau pria itu adalah suaminya.
Lagipula siapa
lagi yang berani masuk ke ruang kerja Boy dan melakukan hal seperti itu. Hati
Joya terasa sakit, ia segera berlari menuju lift dan menekan tombolnya. Ketika
lift itu lama tidak terbuka, Joya memilih turun lewat tangga.
Pedih hati Joya
mengingat apa yang ia lihat tadi. Apa Boy memang suka melakukan hal seperti itu
tanpa sepengetahuannya?
*****
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.