Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Kurasa kau gila


__ADS_3

Niken melihat keadaan Joya yang masih tertidur di ranjangnya. Ia menutup wajahnya dengan tangan dan hampir menangis lagi. Entah ia merasa kasihan pada Joya atau pada dirinya sendiri.


Tapi Joya lebih beruntung karena Boy mencintainya dengan tulus. Apapun yang sudah terjadi dengan mereka malam tadi, Boy akan bertanggung jawab penuh pada Joya.


Tapi bagaimana dengan dirinya? Apa Rian mau bertanggung jawab kalau misalnya dirinya hamil? Ia belum bisa menerima kata-kata Rian yang mengatakan kalau mereka melakukannya karena Niken juga menginginkannya.


Niken memutuskan untuk mandi dan membuat semuanya akan terlihat baik-baik saja. Ia masuk ke kamar mandi, membuka semua pakaiannya dan melihat bayangannya di cermin.


Tidak ada yang salah dengan tubuhnya, semua tampak baik-baik saja. Tapi ia merasa jijik melihat tanda merah yang ditinggalkan Rian di leher dan diatas dadanya.


Bagaimanapun laki-laki tetaplah laki-laki. Mereka bisa jadi serigala yang kelaparan saat berdua saja dengan seorang gadis. Dan bodohnya Niken mempercayai kalau Rian bukan laki-laki brengsek.


Niken menggosok tubuhnya dibawah guyuran shower, ia sudah tidak menangis lagi karena semuanya tidak akan kembali dengan menangis. Setelah ia merasa sedikit lebih dingin, Niken segera keluar kamar mandi dan berpakaian.


Ia mendekati ranjang Joya dan membangunkannya. Joya menggeliat perlahan sambil memegangi kepalanya yang sedikit sakit.


Niken : "Kamu gak pa-pa?"


Joya : "Kepala saya sakit, kak. Apa yang terjadi?"


Niken : "Kamu gak sengaja minum wine semalam. Kamu bisa bangun? Mandi dulu sana."


Joya hampir turun dari ranjang saat ia menyadari hanya tinggal memakai pakaian dalam saja. Niken memberikan bathrobe pada Joya yang menunduk malu sambil merapatkan selimut menutupi tubuhnya.


Joya : "Makasi, kak. Siapa yang membawaku kesini?"


Niken : "Rian dan Tuan Boy. Maaf, aku kurang kuat menggendongmu."


Joya : "Gak pa-pa, kak."


Joya memakai bathrobe itu dan melangkah masuk ke kamar mandi. Ia memperhatikan bayangan tubuhnya dari cermin di depannya dan tidak ada yang mencurigakan.


Joya memegang pipinya yang bersemu merah, samar ingatannya tentang semalam kembali melintas di otaknya. Boy memeluk dan mencumbunya. Ia masih bisa merasakan otot dada Boy saat menyentuhnya semalam.


Apa ini mimpi? Tapi terasa begitu nyata. Ia ingin bertanya pada Niken tentang kejadian semalam, tapi ia malu dan takut Niken akan berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.


Joya mandi dengan cepat, ia segera berpakaian dan melihat Niken sudah siap.


Niken : "Ayo, kita sudah ditunggu untuk breakfast."


Joya : "Kak, jam berapa meetingnya?"


Niken : "Nanti jam 10. Kita masih punya waktu untuk mengambil berkas dan ganti baju."

__ADS_1


Joya : "Ganti baju, kak?"


Niken : "Iya, kita langsung survey setelah meeting. Ayo, cepat."


Joya mengimbangi langkah Niken keluar dari kamar mereka. Di depan lift, Boy dan Rian berdiri menunggu lift terbuka. Boy melirik Joya sekilas dan kembali sibuk dengan ponselnya.


Boy belum bisa move on dari apa yang terjadi semalam. Wajahnya kembali memerah, sampai ke telinganya juga. Joya melihat perubahan wajah Boy dan entah kenapa ia ikut malu juga.


Sementara Rian bersikap acuh pada Niken seolah tidak terjadi sesuatu diantara mereka semalam. Niken merasa hatinya sakit melihat hal itu. Bagaimanapun semalam adalah pertama kali baginya dan sikap Rian sama sekali tidak menghargai perasaannya.


Niken menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Lift sudah terbuka dan satu persatu mereka masuk ke dalam. Niken memilih berdiri di pojok lift, menunduk menatap sepatunya.


Rian yang melihat tingkah Niken, jadi geli sendiri. Gunung es ini bisa juga bertingkah malu begini. Ia semakin tertantang menaklukkannya, semalam hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itu akan jadi rahasianya sampai Niken mau menikah dengannya nanti.


Rian sangat percaya diri kalau Niken akan mau menikah dengannya. Apalagi setelah menanamkan pikiran kalau Rian sudah menidurinya.


Pintu lift terbuka, lagi-lagi ada serombongan orang yang masuk. Joya dan Niken berdiri bersebelahan, Boy berdiri di sebelah Joya sementara Rian berdiri di depan Niken. Kedua pria dewasa itu tampak melindungi propertinya agar tidak tersentuh orang lain.


-----


Sampai di restauran, mereka semua keluar dari lift. Rian menunjuk meja di dekat jendela dan Boy mengikutinya.


Rian : "Joya, tolong ambilkan sarapan untuk Tuan Boy. Tangannya sedikit terkilir semalam saat menggendongmu ke kamar."


Joya : "Tuan Boy yang gendong??!! Apa sudah diobati?"


Joya : "Iya, kak."


Joya dan Niken berjalan beriringan ke meja prasmanan dan Joya mengambilkan makanan kesukaan Boy. Ada spageti disana, Joya meraciknya agar sesuai selera Boy. Setelah siap, Joya membawanya ke meja tempat Boy sudah menunggu.


Joya menghidangkan spageti itu tanpa bicara apa-apa. Ia juga membawakan segelas air putih dan segelas orange juice. Joya masih berdiri di samping Boy, ia melirik pada Boy yang terlihat kesulitan menggulung spagetinya.


Joya : "Maaf, Tuan Boy. Saya bantu ya."


Boy meletakkan garpunya di atas piring, Joya duduk di samping Boy, dan mulai menggulung spageti di piring Boy. Ia mengambil tisu, dan menyodorkan garpu berisi spageti itu ke dekat mulut Boy.


Kalau situasinya biasa, Boy pasti malu disuapi makan di tempat umum dengan statusnya sebagai direktur utama. Tapi ini sangat berbeda, meski wajahnya tetap dingin, hatinya berbunga-bunga disuapi Joya.


Jatuh cinta membuat Boy bertingkah seperti anak kecil yang manja. Ia tidak peduli dengan sekitarnya yang memandang aneh pada dirinya dan Joya. Joya tetap menyuapi Boy makan dengan jantung berdebar kencang.


Belum lagi saat ia harus mengelap sudut bibir Boy yang belepotan saos spageti. Tangannya gemetar saat menyentuh bibir Boy. Kenapa juga pria di depannya ini tercipta dengan sangat sempurna. Joya ingin mencium Boy saat itu.


Setelah acara menyuapi Boy selesai, Joya melihat sekeliling dan menyadari kalau Rian dan Niken tidak duduk di meja yang sama dengan mereka berdua. Ia melihat Niken duduk sendirian menikmati sarapannya dan berpamitan pada Boy yang tetap tidak mau bicara apa-apa padanya.

__ADS_1


Joya mengambil sarapan untuk dirinya sendiri dan duduk di meja yang sama dengan Niken.


Joya : "Kak, saya duduk disini ya."


Niken : "Uda selesai menyuapi tuan Boy?"


Joya : "Itu... Uda, kak."


Niken tersenyum melihat wajah merona Joya, ia ingin curhat tentang kegalauan hatinya terhadap Rian. Tapi melihat wajah Joya membuat Niken melupakan sejenak kegalauannya.


Pantas saja bos besarnya itu jatuh cinta pada Joya. Selain cantik, terasa aura ketulusan dan kesederhanaan dari diri Joya. Ia bisa membuat nyaman setiap orang yang dekat dengannya.


Niken : "Cepat makan, kita harus balik ke kamar lagi habis ini."


Joya : "Iya, kak."


Sementara Rian kembali duduk semeja dengan Boy setelah Joya beranjak dari sana. Ia bisa melihat Boy tersenyum lebar.


Rian : "Masih ada semalam lagi, bos. Mau aku siapkan pengaman?"


Boy : "Aku tidak memerlukannya. Joya terlalu berharga untukku. Aku akan menunggu sampai kami sah dan dia tidak bisa lari lagi. Apa yang akan kau lakukan pada Niken?"


Rian : "Minggu depan ultahnya, aku akan melamarnya."


Boy : "Kalau dia menolak?"


Rian : "Dia tidak mungkin menolakku. Aku akan tanggung jawab padanya. Masa dia nolak?"


Boy : "Karena gak cinta? Kau kan melakukannya saat ia tidak sadar."


Rian : "Benarkah?"


Boy heran melihat Rian, ia mulai ragu apa Rian sudah meniduri Niken atau belum. Ia mengenal sifat Rian, meskipun terlihat play boy, tapi dia tidak akan sembarangan menyentuh seorang wanita.


Boy melihat Niken dan Joya meninggalkan mejanya dan berjalan menuju lift. Ia memberi tanda pada Rian agar mengikuti mereka juga.


------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2