
Ny. Besar masuk
ke apartment Boy bersama Joya. Ia duduk di kursi meja makan, melihat Joya
mengeluarkan bahan makanan dari kulkas dengan cepat.
Joya : “Ibu mau
sup ayam?”
Ny. Besar :
“Apa saja yang masaknya cepat, Joya.”
Joya : “Baik,
bu.”
Boy yang duduk
di depan ibunya, terlihat sibuk menatap layar ponselnya. Ny. Besar menurunkan
ponsel Boy,
Ny. Besar :
“Boy, bantuin Joya sana.”
Boy : “Iya,
bu.”
Boy beranjak ke
dapur dan bukannya membantu Joya, ia malah memeluk Joya dari belakang.
Membenamkan wajahnya ke leher Joya.
Joya : “Mas,
jangan dipeluk dong. Gimana aku masaknya?”
Boy : “Aku kan
bantuin kamu, bantuin megangin biar gak jatuh.”
Joya : “Mas
duduk aja dech. Gak selesai nich masaknya kalo gini.”
Boy melepaskan
pelukannya pada Joya dan kembali duduk di depan ibunya. Ny. Besar menatapnya
dan Boy nyengir tanpa rasa bersalah.
Baru saja Ny.
Besar mau bicara, sup ayam dan beberapa lauk sudah tersedia di meja makan.
Terakhir Joya mengambil nasi dari dalam magic com dan menuangkan air putih.
Joya : “Mari makan,
bu.”
Mereka
menikmati makan malam sambil sesekali ngobrol, Joya sengaja menahan Ny. Besar
berlama-lama di apartment itu. Ia capek harus melayani Boy yang tidak
habis-habis tenaganya. Belum lagi besok dia sudah mulai kembali bekerja seperti
biasa.
Tapi Ny. Besar
memang tidak ingin berlama-lama di apartment Boy. Ia hanya ingin bertemu dan
melihat keadaan Joya saja. Segera setelah mereka selesai makan malam, Ny. Besar
pun pulang ke rumah besar.
Joya cemberut
sepeninggalan Ny. Besar, padahal ia sudah memohon untuk ikut pulang tadi. Tapi
Boy menatapnya dengan galak, Joya jadi takut melihatnya.
Boy : “Mau
sampai kapan kamu cemberut gitu?”
Joya : “Mas,
kita pulang yuk.”
Boy : “Kenapa
sich kamu minta pulang terus?”
Joya : “Aku kan
kangen sama ibu, mas.”
Boy : “Barusan
ketemu, masih kurang?”
Joya mengangguk,
ia menopang dagunya dengan kedua tangan. Boy menahan tawanya melihat Joya
ngambek. Ia pura-pura bersikap tegas agar Joya mau menurut padanya.
Boy : “Mandi
sana. Trus istirahat.”
Joya : “Mas,
besok aku dah mulai kerja lagi.”
Boy : “Trus?”
Joya : “Jangan
diserang lagi ya?”
Boy : “Kalo
__ADS_1
kamu nurut, aku pertimbangkan.”
Joya : “Kok
cuma dipertimbangkan?”
Joya beranjak
ke samping Boy, menempel pada tubuhnya. Mereka sedang duduk di sofa sambil
menonton siaran malam yang gak jelas. Boy berusaha tidak tergoda dengan
sentuhan Joya. Ia tahu kalau istrinya sudah capek, dan mau tidur saja dengan
tenang.
Boy : “Kamu
nich bandel ya. Mandi sana.”
Boy mencubit
hidung Joya,
Joya : “Iya,
mas. Mas gak mandi?”
Boy : “Emang aku
boleh ikut?”
Joya : “Mas
mandi ntar aja ya.”
Joya berjalan
cepat masuk ke kamar mandi, membuat Boy tertawa terpingkal-pingkal.
Boy : “Kapok
kan. Sapa suruh nakal.”
Boy
merenggangkan tubuhnya, ia sudah sangat puas hari ini dan ingin tidur saja.
Besok dirinya harus menghadiri meeting penting dengan clientnya.
*****
Keesokan
harinya, Joya turun dari mobil Boy dengan senyum mengembang. Ia melambaikan
tangannya pada Boy yang sudah menjalankan mobilnya lagi menuju kantornya.
Ketika berbalik, Joya melihat beberapa rekan kerjanya sudah menatapnya.
Joya : “Pagi,
Meta.”
Meta : “Pagi,
Joya. Itu pak Boy?”
Meta : “Ciee..
pengantin baru dianterin sama suaminya nich.”
Joya : “Kamu
bisa aja.”
Mereka masuk ke
dalam lift dan segera sampai ke lantai tempat ruang kerja mereka. Hari itu Joya
cukup sibuk, ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tertunda karena
cuti menikah. Joya terus bekerja sampai waktu makan siang tiba.
Resepsionis
menelpon ke ruang kerja Joya dan memberi tahu kalau ada tamu untuknya.
Penasaran, Joya pergi ke lantai bawah. Ia bertemu sopirnya Boy di kantor yang
mengantarkan makan siang untuknya.
Mia : “Dari pak
Boy ya? Makasi, pak.”
Sopir itu
membungkuk hormat pada Joya dan segera berlalu dari kantor itu. Resepsionis
yang kepo, ingin bertanya tapi Joya keburu dicari manager operasional.
*****
Setelah urusan
pekerjaannya selesai dengan manager operasional, Joya pergi ke ruang makan
untuk memakai bekal makan siang yang diberikan Boy. Ponselnya berdering, Boy
calling.
Boy : “Halo
sayang...”
Joya : “Halo,
mas. Mas, makasi bekal makan siangnya.”
Boy : “Iya,
kamu lagi makan?”
Joya : “Iya,
mas uda makan?”
Boy : “Aku
duluan makan tadi. Suka gak?”
__ADS_1
Joya : “Makanannya?
Suka kok, ini enak.”
Boy : “Bukan
makanannya tapi aku.”
Joya : “...Mas
mulai lagi dech.”
Boy : “Hahaha...
jangan cemberut, sayang.”
Joya : “Mas
lagi dimana sich? Kok berani ngomong sayang gitu.”
Boy : “Aku lagi
break meeting. Nanti kamu pulang jam biasa kan?”
Joya : “Iya,
mas. Aku pulang naik ojol aja ya. Kasian mas kalau buru-buru kesini.”
Boy : “Yakin?”
Joya : “Iya,
mas. Biasanya kan emang naik ojol.”
Boy : “Kamu gak
mau aku sediain sopir untuk kamu?”
Joya : “Nggak
ach, mas. Tadi aja dianter mas, anak-anak pada heboh.”
Boy : “Suamimu
kan ganteng, wajar kan heboh.”
Joya : “Dih,
geer. Tapi emang iya sich.”
Boy tersenyum
lebar ketika mendengar Joya mengakui kalau suaminya ganteng. Rian yang melihat
Boy tersenyum merasa lebih lega karena sejak pagi, bosnya itu gelisah menunggu
jam makan siang. Rupanya ia ingin menelpon nyonya Joya, Rian ingin tertawa
melihat kebucinan bosnya.
*****
Sore itu setelah
jam pulang kantor, ketika Joya sedang menunggu ojol untuk menjemputnya, Meta
dan Rio muncul dari dalam lobby kantor. Rio yang melihat Joya, segera beringsut
untuk mengambil mobilnya. Sementara Meta berdiri di samping Joya.
Meta : “Joya,
kamu belum dijemput?”
Joya : “Aku
pulang naik ojol.”
Meta : “Emang
Pak Boy gak jemput?”
Joya : “Aku kan
pulang ke rumah mertuaku. Jaraknya cukup jauh dari kantor mas Boy. Kalau jemput
aku, dia harus pulang lebih awal dong. Kasian.”
Meta : “Kamu
aneh ya, uda nikah sama orang kaya, masih aja mau naik ojol.”
Joya : “Hehe...
aku belum lupa dari mana asalku, Meta. Aku beruntung disunting mas Boy, tapi
aku tetap gak boleh lupa diri kan?”
Meta : “Iya,
sich. Pulang bareng yuk.”
Joya : “Aku gak
mau ach, nanti kalau mertuaku tahu, aku gak enak.”
Meta : “Kan kita
bertiga semobil.”
Joya : “Tetep
aja. Mendingan aku naik ojol. Eh, itu kayaknya ojolnya dah dateng. Bye, Meta.”
Joya
melambaikan tangan pada Meta, ia sempat melihat mobil Rio keluar dari tempat
parkir tapi tidak menunggunya. Joya segera naik ke boncengan ojol yang
membawanya pulang ke rumah Ny. Besar.
*****
Akhirnya bisa
up juga, maaf author sibuk kerja, meskipun covid tapi tetep piket kerja.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.