Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 - Masih kerja


__ADS_3

Ny. Besar masuk


ke apartment Boy bersama Joya. Ia duduk di kursi meja makan, melihat Joya


mengeluarkan bahan makanan dari kulkas dengan cepat.


Joya : “Ibu mau


sup ayam?”


Ny. Besar :


“Apa saja yang masaknya cepat, Joya.”


Joya : “Baik,


bu.”


Boy yang duduk


di depan ibunya, terlihat sibuk menatap layar ponselnya. Ny. Besar menurunkan


ponsel Boy,


Ny. Besar :


“Boy, bantuin Joya sana.”


Boy : “Iya,


bu.”


Boy beranjak ke


dapur dan bukannya membantu Joya, ia malah memeluk Joya dari belakang.


Membenamkan wajahnya ke leher Joya.


Joya : “Mas,


jangan dipeluk dong. Gimana aku masaknya?”


Boy : “Aku kan


bantuin kamu, bantuin megangin biar gak jatuh.”


Joya : “Mas


duduk aja dech. Gak selesai nich masaknya kalo gini.”


Boy melepaskan


pelukannya pada Joya dan kembali duduk di depan ibunya. Ny. Besar menatapnya


dan Boy nyengir tanpa rasa bersalah.


Baru saja Ny.


Besar mau bicara, sup ayam dan beberapa lauk sudah tersedia di meja makan.


Terakhir Joya mengambil nasi dari dalam magic com dan menuangkan air putih.


Joya : “Mari makan,


bu.”


Mereka


menikmati makan malam sambil sesekali ngobrol, Joya sengaja menahan Ny. Besar


berlama-lama di apartment itu. Ia capek harus melayani Boy yang tidak


habis-habis tenaganya. Belum lagi besok dia sudah mulai kembali bekerja seperti


biasa.


Tapi Ny. Besar


memang tidak ingin berlama-lama di apartment Boy. Ia hanya ingin bertemu dan


melihat keadaan Joya saja. Segera setelah mereka selesai makan malam, Ny. Besar


pun pulang ke rumah besar.


Joya cemberut


sepeninggalan Ny. Besar, padahal ia sudah memohon untuk ikut pulang tadi. Tapi


Boy menatapnya dengan galak, Joya jadi takut melihatnya.


Boy : “Mau


sampai kapan kamu cemberut gitu?”


Joya : “Mas,


kita pulang yuk.”


Boy : “Kenapa


sich kamu minta pulang terus?”


Joya : “Aku kan


kangen sama ibu, mas.”


Boy : “Barusan


ketemu, masih kurang?”


Joya mengangguk,


ia menopang dagunya dengan kedua tangan. Boy menahan tawanya melihat Joya


ngambek. Ia pura-pura bersikap tegas agar Joya mau menurut padanya.


Boy : “Mandi


sana. Trus istirahat.”


Joya : “Mas,


besok aku dah mulai kerja lagi.”


Boy : “Trus?”


Joya : “Jangan


diserang lagi ya?”


Boy : “Kalo

__ADS_1


kamu nurut, aku pertimbangkan.”


Joya : “Kok


cuma dipertimbangkan?”


Joya beranjak


ke samping Boy, menempel pada tubuhnya. Mereka sedang duduk di sofa sambil


menonton siaran malam yang gak jelas. Boy berusaha tidak tergoda dengan


sentuhan Joya. Ia tahu kalau istrinya sudah capek, dan mau tidur saja dengan


tenang.


Boy : “Kamu


nich bandel ya. Mandi sana.”


Boy mencubit


hidung Joya,


Joya : “Iya,


mas. Mas gak mandi?”


Boy : “Emang aku


boleh ikut?”


Joya : “Mas


mandi ntar aja ya.”


Joya berjalan


cepat masuk ke kamar mandi, membuat Boy tertawa terpingkal-pingkal.


Boy : “Kapok


kan. Sapa suruh nakal.”


Boy


merenggangkan tubuhnya, ia sudah sangat puas hari ini dan ingin tidur saja.


Besok dirinya harus menghadiri meeting penting dengan clientnya.


*****


Keesokan


harinya, Joya turun dari mobil Boy dengan senyum mengembang. Ia melambaikan


tangannya pada Boy yang sudah menjalankan mobilnya lagi menuju kantornya.


Ketika berbalik, Joya melihat beberapa rekan kerjanya sudah menatapnya.


Joya : “Pagi,


Meta.”


Meta : “Pagi,


Joya. Itu pak Boy?”


Meta : “Ciee..


pengantin baru dianterin sama suaminya nich.”


Joya : “Kamu


bisa aja.”


Mereka masuk ke


dalam lift dan segera sampai ke lantai tempat ruang kerja mereka. Hari itu Joya


cukup sibuk, ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tertunda karena


cuti menikah. Joya terus bekerja sampai waktu makan siang tiba.


Resepsionis


menelpon ke ruang kerja Joya dan memberi tahu kalau ada tamu untuknya.


Penasaran, Joya pergi ke lantai bawah. Ia bertemu sopirnya Boy di kantor yang


mengantarkan makan siang untuknya.


Mia : “Dari pak


Boy ya? Makasi, pak.”


Sopir itu


membungkuk hormat pada Joya dan segera berlalu dari kantor itu. Resepsionis


yang kepo, ingin bertanya tapi Joya keburu dicari manager operasional.


*****


Setelah urusan


pekerjaannya selesai dengan manager operasional, Joya pergi ke ruang makan


untuk memakai bekal makan siang yang diberikan Boy. Ponselnya berdering, Boy


calling.


Boy : “Halo


sayang...”


Joya : “Halo,


mas. Mas, makasi bekal makan siangnya.”


Boy : “Iya,


kamu lagi makan?”


Joya : “Iya,


mas uda makan?”


Boy : “Aku


duluan makan tadi. Suka gak?”

__ADS_1


Joya : “Makanannya?


Suka kok, ini enak.”


Boy : “Bukan


makanannya tapi aku.”


Joya : “...Mas


mulai lagi dech.”


Boy : “Hahaha...


jangan cemberut, sayang.”


Joya : “Mas


lagi dimana sich? Kok berani ngomong sayang gitu.”


Boy : “Aku lagi


break meeting. Nanti kamu pulang jam biasa kan?”


Joya : “Iya,


mas. Aku pulang naik ojol aja ya. Kasian mas kalau buru-buru kesini.”


Boy : “Yakin?”


Joya : “Iya,


mas. Biasanya kan emang naik ojol.”


Boy : “Kamu gak


mau aku sediain sopir untuk kamu?”


Joya : “Nggak


ach, mas. Tadi aja dianter mas, anak-anak pada heboh.”


Boy : “Suamimu


kan ganteng, wajar kan heboh.”


Joya : “Dih,


geer. Tapi emang iya sich.”


Boy tersenyum


lebar ketika mendengar Joya mengakui kalau suaminya ganteng. Rian yang melihat


Boy tersenyum merasa lebih lega karena sejak pagi, bosnya itu gelisah menunggu


jam makan siang. Rupanya ia ingin menelpon nyonya Joya, Rian ingin tertawa


melihat kebucinan bosnya.


*****


Sore itu setelah


jam pulang kantor, ketika Joya sedang menunggu ojol untuk menjemputnya, Meta


dan Rio muncul dari dalam lobby kantor. Rio yang melihat Joya, segera beringsut


untuk mengambil mobilnya. Sementara Meta berdiri di samping Joya.


Meta : “Joya,


kamu belum dijemput?”


Joya : “Aku


pulang naik ojol.”


Meta : “Emang


Pak Boy gak jemput?”


Joya : “Aku kan


pulang ke rumah mertuaku. Jaraknya cukup jauh dari kantor mas Boy. Kalau jemput


aku, dia harus pulang lebih awal dong. Kasian.”


Meta : “Kamu


aneh ya, uda nikah sama orang kaya, masih aja mau naik ojol.”


Joya : “Hehe...


aku belum lupa dari mana asalku, Meta. Aku beruntung disunting mas Boy, tapi


aku tetap gak boleh lupa diri kan?”


Meta : “Iya,


sich. Pulang bareng yuk.”


Joya : “Aku gak


mau ach, nanti kalau mertuaku tahu, aku gak enak.”


Meta : “Kan kita


bertiga semobil.”


Joya : “Tetep


aja. Mendingan aku naik ojol. Eh, itu kayaknya ojolnya dah dateng. Bye, Meta.”


Joya


melambaikan tangan pada Meta, ia sempat melihat mobil Rio keluar dari tempat


parkir tapi tidak menunggunya. Joya segera naik ke boncengan ojol yang


membawanya pulang ke rumah Ny. Besar.


*****


Akhirnya bisa


up juga, maaf author sibuk kerja, meskipun covid tapi tetep piket kerja.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2