Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Rencana Mbak Putri


__ADS_3

Setelah pelayan


pergi dari meja mereka, Joya memegang tangan Niken,


Joya : “Coba


cerita pelan-pelan, kak.”


Niken : “Joya,


pagi ini Rian nanya sama aku apa aku ini tahu apa statusku?”


Joya : “Status?


Maksudnya?”


Niken : “Aku


juga tanya hal yang sama. Dia bilang statusku ini istrinya. Mungkin aku juga


yang salah.”


Joya mengkerutkan


keningnya, bukan sifat Niken untuk mengakui kesalahannya secepat ini.


Niken : “Dia


bertingkah aneh pagi ini, dia sudah mandi dan ingin mandi lagi waktu aku mau


mandi. Trus aku didorong ke dinding kamar mandi dan dia hampir menciumku. Aku refleks


menghindar.”


Joya : “Kenapa


kakak menghindar? Bukannya bagus ya kalau kak Rian mau nyium kakak.”


Niken : “Aku


gak keberatan, tapi aku habis masak, masih bau masakan. Rambutku, bajuku. Aku


aja gak nyaman dengan baunya. Aku takut Rian jadi ilfeel sama aku.”


Joya : “Iya,


sih kak.”


Niken : “Rian


malah langsung pergi dan minta aku yang bawa mobilnya. Aku bingung, Joya. Kamu


pernah ngalamin hal yang sama gak?”


Joya : “Terus


terang gak pernah, sih kak. Sejak nikah sama mas Boy, aku jarang banget punya


kesempatan masak. Sekalinya masak, aku langsung mandi dan ganti baju. Jadi mungkin


mas Boy gak pernah nyium bau masakan dari badanku.”


Niken menatap


Joy, dia lupa kalau wanita di depannya ini nikah dengan orang kaya. Niken


menarik nafas panjang,


Joya : “Tapi,


kak. Aku boleh nanya gak?”


Niken : “Apa?”


Joya : “Selama


kalian nikah, sudah berapa kali berhubungan?”


Niken menatap


tak percaya pada wanita dihadapannya yang ia kenal sebagai wanita polos,


setelah menikah jadi lebih berani bicara hal-hal seperti itu.


Joya : “Aku gak


maksud kepo, kak. Tapi jawaban kakak ini bisa jadi petunjuk untuk pertanyaanku


selanjutnya.”


Niken : “Aku


gak inget, Joya. Mungkin bulan lalu...”


Joya : “Apa


selama ini kakak mengurus rumah sendiri? Masak sendiri?”


Niken : “Iya.


Bukannya itu tugas seorang istri? Menjaga kebersihan rumah dan memasak.”


Pelayan datang


membawa pesanan mereka. Joya menghirup wangi soto ayam yang membuat perutnya


mulai keroncongan.


Joya : “Aduh,


salfok sama soto ayamnya. Aku laper, kak.”


Niken : “Kita


ngobrol sambil makan ya. Aku benar kan?”


Joya : “Kak,


aku gak maksud menggurui kakak. Pertanyaan kak Rian ada benarnya juga.”


Niken : “Maksudmu?”

__ADS_1


Niken masih menunggu lalapannya dingin karena baru selesai di goreng, sedangkan


Joya sedang menuangkan sedikit sambal ke dalam sotonya.


Joya : “Tugas


istri bukan hanya mengurus rumah dan masak tapi juga melayani suami, kak.”


Niken : “Aku


juga melakukannya, menyiapkan pakaiannya, mencuci bajunya. Menemaninya makan


juga.”


Joya : “Kalau


memang yang kak Rian perlukan hanya itu, ngapain dia menikahi kakak, kak Rian


kan bisa mencari asisten rumah tangga.”


Deg! Niken


berhenti merobek-robek dada ayam di depannya. Ia bahkan tidak merasakan panas


lagi di tangannya ketika mendengar kata-kata Joya.


Joya : “Kakak


tahu, sejak aku menikah dengan mas Boy, aku hanya diminta fokus melayani


suamiku saja. Ibu mertuaku yang mengatakannya. Aku masih boleh memasak, tapi


hanya untuk dia. Ya, meskipun aku bandel kadang-kadang keasyikan mengobrol


dengan ibu mertuaku sampai melupakan mas Boy.”


Niken : “Aku


kira Rian tidak mempermasalahkan itu.”


Joya : “Mungkin


kak Rian kasian melihat kakak terlalu capek. Pulang kerja, masih harus


menyiapkan makan malam, membersihkan rumah. Kalau memang bisa, sebaiknya kakak


mencari asisten rumah tangga yang bisa membantu kakak membersihkan rumah dan


mengurus pakaian kotor. Jadi kakak punya waktu untuk melayani kak Rian.”


Wajah Niken


merona mendengar kata-kata Joya.


Niken : “Kamu


ini habis nikah, kok kata-katamu makin berani ya.”


Joya : “Maaf,


kak. Aku gak maksud...”


Niken : “Bukan


melayani suami.”


Joya : “Coba


dech kakak sekali-sekali genit dikit sama kak Rian.”


Niken : “Joya!


Jangan ngomong gitu ach.”


Niken melihat


sekitar mereka yang cukup ramai karena mulai jam makan siang. Beberapa orang


menoleh ketika mendengar Niken sedikit berteriak.


Joya : “Hihi...


maaf, kak. Habisnya gemes sama kakak.”


Niken : “Aku


gak bisa melakukan hal-hal kayak gitu. Membayangkannya saja sudah sangat


menggelikan.”


Joya : “Kakak


mau saranku gimana caranya?”


Niken mendekat pada


Joya,


Niken : “Emang


gimana caranya?”


Joya : “Coba


aja malam ini. Kakak punya lingerie?”


Niken : “Ada,


tapi buat apa?”


Joya : “Kakak


nanti pulang kerja, beli aja makanan. Trus jangan bersihkan rumah. Tapi kakak


bersihin badan kakak sendiri. Luluran dikit, mandi trus keramas biar wangi. Pakai


minyak wangi di leher sama disini.”


Joya menunjuk


ke dadanya.

__ADS_1


Joya : “Kakak


pakai lingeri trus tutupin sama bathrobe. Pas kak Rian masuk ke kamar, kakak


pura-pura jatuh gitu. Ntar kan kak Rian bantuin kakak bangun, nah lanjut dah...”


Niken bengong


mendengar semua rencana yang dikatakan Joya padanya. Dia penasaran siapa yang memberitahu


Joya tentang semua hal yang barusan dikatakan Joya padanya.


Joya : “Kak? Kak


Niken? Eh, malah bengong. Kakak denger aku gak?”


Niken : “Apa?


Nggak... eh, iya aku denger.”


Niken


menyeruput es jeruknya, mengurangi deg-degan di jantungnya. Dia akan melakukan


seperti apa yang dikatakan Joya. Setidaknya mencoba untuk melakukan itu.


Niken : “Gimana


kalau gak berjalan sesuai rencana?”


Joya : “Kakak


improvisasi aja dikit. Ngapain kek. Pokoknya kakak berusaha menggoda kak Rian


gitu.”


Niken tersenyum


geli melihat wajah serius Joya saat mengatakan hal-hal itu. Ia akhirnya tertawa


juga karena tidak tahan lagi.


Niken : “Hahahaha...”


Joya : “Iih,


kakak kenapa ketawa sich, serius nich.”


Niken : “Sory,


aku gak bisa nahan, mukamu itu lucu banget tau.”


Joya : “Emangnya


aku lagi nglawak. Kakak ngerti kan maksudku?”


Niken : “Hahaha...


iya, aku ngerti. Makasih ya Joya. Beneran, aku lebih lega sekarang. Aku coba


dulu rencana gilamu itu.”


Joya : “Itu


bukan rencana gila tapi rencananya mbak Putri.”


Niken : “Mb


Putri? Maksudmu Ny. Putri?”


Joya : “Iya, sepertinya


mbak Putri punya banget cara kalau berhubungan sama suami. Aku uda nyoba duluan


dong.”


Niken : “Oh,


ya? Trus gimana? Berhasil?”


Giliran wajah


Joya yang memerah karena malu. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan


membahas makanan yang mereka pesan.


Joya : “Eh,


sotonya enak loh, kak. Kakak cepat makan, ntar dingin.”


Niken : “Kamu


nich ngeles aja. Ya udah, cepat makan. Habis ini kita balik ke kantormu ya.”


Joya : “Kakak


semangat untuk ntar malem ya. Jangan lupa dandan sedikit, pakai lipstik merah


ya.”


Niken : “Iya,


iya. Aku ikutin semua kata-katamu.”


Joya : “Besok


wajib cerita apa yang terjadi ya.”


Niken : “Kepo


sekali.”


Mereka terkikik


geli dan melanjutkan makan sampai habis dan mereka segera kembali ke kantor


masing-masing karena waktu makan siang hampir berakhir.


*****


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2