
Setelah pelayan
pergi dari meja mereka, Joya memegang tangan Niken,
Joya : “Coba
cerita pelan-pelan, kak.”
Niken : “Joya,
pagi ini Rian nanya sama aku apa aku ini tahu apa statusku?”
Joya : “Status?
Maksudnya?”
Niken : “Aku
juga tanya hal yang sama. Dia bilang statusku ini istrinya. Mungkin aku juga
yang salah.”
Joya mengkerutkan
keningnya, bukan sifat Niken untuk mengakui kesalahannya secepat ini.
Niken : “Dia
bertingkah aneh pagi ini, dia sudah mandi dan ingin mandi lagi waktu aku mau
mandi. Trus aku didorong ke dinding kamar mandi dan dia hampir menciumku. Aku refleks
menghindar.”
Joya : “Kenapa
kakak menghindar? Bukannya bagus ya kalau kak Rian mau nyium kakak.”
Niken : “Aku
gak keberatan, tapi aku habis masak, masih bau masakan. Rambutku, bajuku. Aku
aja gak nyaman dengan baunya. Aku takut Rian jadi ilfeel sama aku.”
Joya : “Iya,
sih kak.”
Niken : “Rian
malah langsung pergi dan minta aku yang bawa mobilnya. Aku bingung, Joya. Kamu
pernah ngalamin hal yang sama gak?”
Joya : “Terus
terang gak pernah, sih kak. Sejak nikah sama mas Boy, aku jarang banget punya
kesempatan masak. Sekalinya masak, aku langsung mandi dan ganti baju. Jadi mungkin
mas Boy gak pernah nyium bau masakan dari badanku.”
Niken menatap
Joy, dia lupa kalau wanita di depannya ini nikah dengan orang kaya. Niken
menarik nafas panjang,
Joya : “Tapi,
kak. Aku boleh nanya gak?”
Niken : “Apa?”
Joya : “Selama
kalian nikah, sudah berapa kali berhubungan?”
Niken menatap
tak percaya pada wanita dihadapannya yang ia kenal sebagai wanita polos,
setelah menikah jadi lebih berani bicara hal-hal seperti itu.
Joya : “Aku gak
maksud kepo, kak. Tapi jawaban kakak ini bisa jadi petunjuk untuk pertanyaanku
selanjutnya.”
Niken : “Aku
gak inget, Joya. Mungkin bulan lalu...”
Joya : “Apa
selama ini kakak mengurus rumah sendiri? Masak sendiri?”
Niken : “Iya.
Bukannya itu tugas seorang istri? Menjaga kebersihan rumah dan memasak.”
Pelayan datang
membawa pesanan mereka. Joya menghirup wangi soto ayam yang membuat perutnya
mulai keroncongan.
Joya : “Aduh,
salfok sama soto ayamnya. Aku laper, kak.”
Niken : “Kita
ngobrol sambil makan ya. Aku benar kan?”
Joya : “Kak,
aku gak maksud menggurui kakak. Pertanyaan kak Rian ada benarnya juga.”
Niken : “Maksudmu?”
__ADS_1
Niken masih menunggu lalapannya dingin karena baru selesai di goreng, sedangkan
Joya sedang menuangkan sedikit sambal ke dalam sotonya.
Joya : “Tugas
istri bukan hanya mengurus rumah dan masak tapi juga melayani suami, kak.”
Niken : “Aku
juga melakukannya, menyiapkan pakaiannya, mencuci bajunya. Menemaninya makan
juga.”
Joya : “Kalau
memang yang kak Rian perlukan hanya itu, ngapain dia menikahi kakak, kak Rian
kan bisa mencari asisten rumah tangga.”
Deg! Niken
berhenti merobek-robek dada ayam di depannya. Ia bahkan tidak merasakan panas
lagi di tangannya ketika mendengar kata-kata Joya.
Joya : “Kakak
tahu, sejak aku menikah dengan mas Boy, aku hanya diminta fokus melayani
suamiku saja. Ibu mertuaku yang mengatakannya. Aku masih boleh memasak, tapi
hanya untuk dia. Ya, meskipun aku bandel kadang-kadang keasyikan mengobrol
dengan ibu mertuaku sampai melupakan mas Boy.”
Niken : “Aku
kira Rian tidak mempermasalahkan itu.”
Joya : “Mungkin
kak Rian kasian melihat kakak terlalu capek. Pulang kerja, masih harus
menyiapkan makan malam, membersihkan rumah. Kalau memang bisa, sebaiknya kakak
mencari asisten rumah tangga yang bisa membantu kakak membersihkan rumah dan
mengurus pakaian kotor. Jadi kakak punya waktu untuk melayani kak Rian.”
Wajah Niken
merona mendengar kata-kata Joya.
Niken : “Kamu
ini habis nikah, kok kata-katamu makin berani ya.”
Joya : “Maaf,
kak. Aku gak maksud...”
Niken : “Bukan
melayani suami.”
Joya : “Coba
dech kakak sekali-sekali genit dikit sama kak Rian.”
Niken : “Joya!
Jangan ngomong gitu ach.”
Niken melihat
sekitar mereka yang cukup ramai karena mulai jam makan siang. Beberapa orang
menoleh ketika mendengar Niken sedikit berteriak.
Joya : “Hihi...
maaf, kak. Habisnya gemes sama kakak.”
Niken : “Aku
gak bisa melakukan hal-hal kayak gitu. Membayangkannya saja sudah sangat
menggelikan.”
Joya : “Kakak
mau saranku gimana caranya?”
Niken mendekat pada
Joya,
Niken : “Emang
gimana caranya?”
Joya : “Coba
aja malam ini. Kakak punya lingerie?”
Niken : “Ada,
tapi buat apa?”
Joya : “Kakak
nanti pulang kerja, beli aja makanan. Trus jangan bersihkan rumah. Tapi kakak
bersihin badan kakak sendiri. Luluran dikit, mandi trus keramas biar wangi. Pakai
minyak wangi di leher sama disini.”
Joya menunjuk
ke dadanya.
__ADS_1
Joya : “Kakak
pakai lingeri trus tutupin sama bathrobe. Pas kak Rian masuk ke kamar, kakak
pura-pura jatuh gitu. Ntar kan kak Rian bantuin kakak bangun, nah lanjut dah...”
Niken bengong
mendengar semua rencana yang dikatakan Joya padanya. Dia penasaran siapa yang memberitahu
Joya tentang semua hal yang barusan dikatakan Joya padanya.
Joya : “Kak? Kak
Niken? Eh, malah bengong. Kakak denger aku gak?”
Niken : “Apa?
Nggak... eh, iya aku denger.”
Niken
menyeruput es jeruknya, mengurangi deg-degan di jantungnya. Dia akan melakukan
seperti apa yang dikatakan Joya. Setidaknya mencoba untuk melakukan itu.
Niken : “Gimana
kalau gak berjalan sesuai rencana?”
Joya : “Kakak
improvisasi aja dikit. Ngapain kek. Pokoknya kakak berusaha menggoda kak Rian
gitu.”
Niken tersenyum
geli melihat wajah serius Joya saat mengatakan hal-hal itu. Ia akhirnya tertawa
juga karena tidak tahan lagi.
Niken : “Hahahaha...”
Joya : “Iih,
kakak kenapa ketawa sich, serius nich.”
Niken : “Sory,
aku gak bisa nahan, mukamu itu lucu banget tau.”
Joya : “Emangnya
aku lagi nglawak. Kakak ngerti kan maksudku?”
Niken : “Hahaha...
iya, aku ngerti. Makasih ya Joya. Beneran, aku lebih lega sekarang. Aku coba
dulu rencana gilamu itu.”
Joya : “Itu
bukan rencana gila tapi rencananya mbak Putri.”
Niken : “Mb
Putri? Maksudmu Ny. Putri?”
Joya : “Iya, sepertinya
mbak Putri punya banget cara kalau berhubungan sama suami. Aku uda nyoba duluan
dong.”
Niken : “Oh,
ya? Trus gimana? Berhasil?”
Giliran wajah
Joya yang memerah karena malu. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan
membahas makanan yang mereka pesan.
Joya : “Eh,
sotonya enak loh, kak. Kakak cepat makan, ntar dingin.”
Niken : “Kamu
nich ngeles aja. Ya udah, cepat makan. Habis ini kita balik ke kantormu ya.”
Joya : “Kakak
semangat untuk ntar malem ya. Jangan lupa dandan sedikit, pakai lipstik merah
ya.”
Niken : “Iya,
iya. Aku ikutin semua kata-katamu.”
Joya : “Besok
wajib cerita apa yang terjadi ya.”
Niken : “Kepo
sekali.”
Mereka terkikik
geli dan melanjutkan makan sampai habis dan mereka segera kembali ke kantor
masing-masing karena waktu makan siang hampir berakhir.
*****
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.