Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Mengenal adik ipar


__ADS_3

Rara terbangun saat mendengar suara ribut-ribut dari luar kamarnya, ia mengerjapkan mata melihat ke samping, Alvin sudah tidak ada di atas tempat tidur.


Rara melihat sekeliling kamar, Alvin sedang berganti baju di depan lemari. Deg! Rara bisa melihat dengan jelas bagian belakang tubuh Alvin, punggung putih yang tampak kemerahan seperti bekas cakaran, bokong yang padat, otot kaki yang sexy.


Rara deg-degan melihat tubuh Alvin yang kemarin tidak bisa dilihatnya dengan jelas. Rara memperhatikan kukunya yang cantik dengan nail art, ia merasa bersalah sudah mencakar punggung Alvin semalam.


Alvin sudah selesai berpakaian, ia memakai celana pendek coklat dan kemeja putih, rambutnya yang basah, menutupi dahinya.


Rara terpana melihat Alvin yang terlihat berbeda dari biasanya, tanpa sadar ia sudah duduk di atas tempat tidur, membiarkan sebagian tubuhnya terlihat.


Alvin menyadari kalau Rara sudah terbangun, ia tersenyum sambil mengeringkan rambutnya, Alvin duduk di tempat tidur menghadap Rara.


Alvin : “Pagi, sayang. Masih sakit?”


Rara : “Pagi, sayang. Sudah gak sich. Tapi punggungmu gimana?”


Alvin : “Lecet dikit, ntar dikasi obat juga sembuh. Sayang, keringin rambutku dong.”


Rara mengambil handuk di tangan Alvin dan mulai mengeringkan rambut Alvin, Rara tidak melihat saat Alvin tersenyum mesum.


Alvin hampir menarik selimut yang menutupi tubuh Rara, ketika suara HP-nya mengganggu mereka.


Alvin : “Aish!” Alvin mengambil HP-nya melihat nama Aliya muncul di layar, ia menjawab telpon itu sambil kembali menahan Rara.


Alvin : “Apa, dek?”


Aliya : “Kak, galak amat, semalem gak dapet jatah ya.”


Aliya mendengar suara desahan Rara di telpon, ia mengumpat pada kakaknya.


Aliya : “@^$*&)!*@$&^(#^@*($)@!! Kakak sengaja ya!”


Alvin : “Sapa suruh kau telpon pagi-pagi, uda tahu kakak baru nikah.”


Aliya : “Aku cuma pamit mau balik ke LN. Bye.”


Alvin : “Apa?! Aliya…!”


Aliya : “Apa sich, kak? Aku sibuk.”


Alvin : “Kok mendadak?”


Aliya : “Aku masih ada ujian. Pesawatku udah mau berangkat. Bye kak, sampaikan salam buat kakak ipar. Semoga kalian cepat kasi aku ponakan.”


Alvin meletakkan kembali HP-nya ke atas nakas, Rara memandangnya dengan tangan menutupi dada.


Rara : “Aliya bilang apa?”


Alvin : “Dia bilang mau balik sekarang ke LN, dan dia minta ponakan.”


Rara : “Kok cepet?”


Alvin : “Kita baru juga mulai semalem, gimana bisa cepet?”


Rara mau protes karena bukan itu maksudnya, tapi Alvin tidak memberinya kesempatan bicara lagi.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Sementara itu di ruang tengah rumah papa Rara, orang tua Alvin sudah datang sejak jam 9 pagi dan pengantin baru belum juga keluar kamar. Papa Rara menemani besannya mengobrol dengan perasaan gelisah. Ia mulai berpikir Alvin sedang memaksa Rara di dalam kamarnya. Papa Rara sangat persis dengan Rara, ketika ia sedang berpikir, semuanya terlihat jelas di wajahnya.


Mama Rara : “Papa kenapa gelisah terus sich? Rara baik-baik aja kok.”


Papa Rara : “Tapi udah jam segini mereka belum keluar juga. Mereka kan belum makan dari pagi.”


Mama Rara : “Tadi mama uda bawain sarapan mereka ke kamar kok, Alvin udah bangun, cuma Rara masih tidur.”


Boy : “Mungkin mereka tidur lagi, siapa yang tau semalem berapa ronde…”


Joya menyikut perut Boy yang mulai iseng pada besannya.


Joya : “Biarkan mereka istirahat dulu, besan. Lagipula mereka juga kembali ke kota S besok pagi kan.”


Pengantin baru yang diomongin berjalan mendekati mereka sambil berpegangan tangan, tampak mesra sekali.


Joya : “Nah, itu mereka datang.”


Papa Rara : “Rara sini, nak. Duduk samping papa.”


Papa Rara mengelus rambut Rara, ia menatap beberapa anggota tubuh Rara yang berhiaskan perhiasan baru.


Papa Rara : “Nak, ini perhiasan siapa?”


Rara : “Alvin yang ngasi, pah. Harusnya dibawa waktu seserahan, tapi belum selesai dibuat. Jadinya baru dikasi sekarang.”


Papa Rara : “Gimana tidurmu, nak? Alvin gak…” Mama Rara menyikut papa Rara yang mulai lagi.


Mama Rara : “Kita makan siang dulu yuk. Lanjut ngobrol di meja makan, mari besan.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Joya : “Sayang, kalau Alvin nakal, jewer aja telinganya ya atau telpon mama.”


Rara : “Iya, mah.”


Alvin : “Mana ada Alvin nakal, mah.”


Mereka tertawa bersama, saling mengucapkan perpisahan dan melambaikan tangan. Baru saja mobil menghilang dari pandangan, papa Rara celingukan mencari Rara, ia ingin main catur bersama putri semata wayangnya itu. Saat ia melihat ke belakang, Alvin sudah menarik Rara kembali ke kamar mereka.


Papa Rara : “Allviinnnn! Kalian mau kemana?”


Alvin : “Buat anak, pah!”


Alvin segera membawa Rara masuk dan mengunci pintu, sebelum mendengar omelan papa mertuanya. Padahal ia hanya ingin mengecek e-mail dan Rara juga harus mengecek gerai makanan. Pasangan ini kini sibuk dengan laptop dan HP masing-masing.


Setelah lewat satu jam, pintu kamar diketuk seseorang, Rara membuka pintu,


Mama Rara : “Ra, mama ganggu gak? Mama bawa cemilan nich.”


Rara : “Sini masuk, mah.”


Rara membuka pintu lebih lebar dan membiarkan mamanya masuk. Alvin masih duduk di depan laptopnya dengan tangan memegang HP, sepertinya sedang terlibat pembicaraan serius.


Mama Rara : “Kalian kok gak libur sich, masih sibuk aja. Papa kira tadi kalian beneran ‘buat anak’ lagi. Tapi mama bilang gak mungkin lah, palingan lagi kerja. Ternyata bener kan.”


Rara : “Kalo beneran, bisa lemes lah mah. Alvin sekalinya minta jatah, bisa berjam-jam.”

__ADS_1


Alvin : “Tapi enak kan?”


Rara dan mamanya menoleh melihat Alvin yang sudah selesai menelpon, nyengir lebar, tangannya mencomot pisang goreng panas dan langsung memasukkannya ke mulutnya.


Mama Rara : “Vin, pisang gorengnya masih panas.”


Alvin : “Huwaahh.. henak hok hah…(enak kok mah).” Alvin memaksa bicara dengan mulut kepanasan. Rara segera memberinya sirup dingin.


Rara : “Oh ya, Vin. Aliya kenapa gak pernah pulang ya?”


Alvin : “Kamu mau tahu tentang adik bandelku itu. Aku mulai dari mana ya? Aku masih ingat sedikit waktu dia baru lahir, aku seneng banget dapet adik perempuan. Tapi lama-lama aku mulai sadar kalau dia itu setan kecil.”


Rara : “Setan kecil? Maksudnya?” Mama Rara masih disana, sama penasarannya dengan Rara.


Alvin : “Aliya itu bisa dibilang adik yang jahat, selalu dia yang berbuat nakal tapi aku yang kena hukuman.”


Rara membayangkan Aliya berpakaian seperti setan wanita dan membawa cambuk, dan sedang menindas Alvin.


Rara : “Tapi Aliya terlihat sangat manis dan ramah.”


Alvin : “Coba saja kau hidup dengannya selama 15 tahun, kau akan tahu watak aslinya.”


Rara : “Kenapa dia bisa berbeda dari keluarga yang lain?”


Alvin : “Mama pernah bilang waktu kecil Aliya sangat ceria, dia tumbuh normal seperti kebanyakan bayi pada umumnya. Memang sich sejak kecil, Aliya lebih unggul dalam segala hal. Dia sudah bisa membaca koran di umur 2 tahun kurang. Bahkan ketika sudah mulai bicara, ia mulai belajar berpidato. Kata mama, Aliya termasuk anak jenius, dia bisa 5 bahasa, hmm… coba kuingat dulu.  Inggris, Mandarin, Jepang, Korea, dan


Spanyol.


Rara : “Waoo… Aliya sangat hebat. Trus kenapa dia pergi dari rumah dan tinggal di LN?”


Alvin : “Tidak ada yang tahu alasannya sampai saat ini, sayang. Aliya pergi begitu saja, bahkan nenek tidak bisa menghentikannya. Papa dan mama selalu membujuknya pulang, tapi Aliya menolak. Akhirnya papa dan mama


memberinya kebebasan dengan syarat kondisinya harus selalu baik-baik saja disana.”


Rara : “Bagaimana papa sama mama bisa membiarkan gadis seperti Aliya diluar sana sendirian? Rara tidak akan berani melakukan itu.


Alvin : “Siapa bilang Aliya sendirian, sepupu kami ada yang bekerja disana, dan papa menyewa detektif untuk menjaga Aliya. Aliya juga menguasai bela diri, aku pernah dibantingnya hanya gara-gara kesal pada teman


sekolahnya.”


Mama Rara : “Jadi sekarang Aliya masih sekolah atau sudah kuliah?”


Alvin : “Dia sudah kuliah, mah. Sepertinya sudah mulai tugas akhir.”


Rara dan mamanya mengangguk-angguk kagum,


Alvin : “Entah kapan dia akan pulang kesini lagi.”


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu


kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak

__ADS_1


kalah seru.


-------


__ADS_2