Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Joya sakit


__ADS_3

Eps. 21 – Joya


sakit


Dita menepuk


jidatnya, penghulu tersenyum dan menuntun Charlie mengucapkan kata-kata yang


harus ia ucapkan untuk bisa menikahi Dita. Charlie akhirnya bisa menikahi Dita


dengan sekali tarikan nafasnya.


Para saksi


berteriak sah dan ikut berdoa untuk kedua mempelai. Ketiga pasang pengantin


kembali berfoto bersama dengan wajah tersenyum bahagia.


“Oh, ya ampun.


Aku tidak membawa kado untuk Charlie. Gimana dong?”Joya panik sendiri.


“Tenang,


sayang. Kita bisa mengirimkan hadiah untuk mereka nanti. Apa kau baik-baik


saja? Kenapa tanganmu panas?”


Joya menyentuh


keningnya. “Kayaknya aku demam dech, mas. Masuk angin mungkin, kemarin kan aku


telat makan di kantor.”


“Ayo, kita


pulang. Kamu harus istirahat.”


Boy dan Joya


berpamitan pada mempelai yang sedang menikmati hidangan. Mereka segera kembali


ke rumah dan Joya mulai menggigil kedinginan. Boy hampir memanggil dokter tapi


Joya mengatakan kalau dia hanya deman biasa.


Joya meminta


dibuatkan bubur dan juga air putih yang cukup banyak. Boy menyuapi Joya makan, meski


hanya habis setengah. Ketika Boy menyodorkan obat penurun panas untuk diminum


Joya, ia tidak mau meminumnya.


“Mas, aku mau


bobok aja. Gak pake minum obat ya.”


“Tapi kamu


demam tinggi gini. Nanti tambah parah loh.”

__ADS_1


Joya tersenyum


melihat Boy terlihat khawatir. Ia bangkit lagi dari berbaringnya dan menarik Boy


mendekat. “Buka baju, mas.”


“Sayang, ini


masih sore. Kamu mau ngapain?”Boy sok-sokan nanya tapi membuka kemejanya juga.


“Peluk.”Hembusan


nafas panas Joya yang tidak beraturan mengenai telinga Boy. “Mas Boy.”


“Ya, sayang.”


Joya


membenamkan wajahnya di dada Boy. Entah kenapa ia menginginkan Boy saat ini. “Mas,


aku mau kamu.”bisik Joya membuat Boy sangat terkejut. Sangat jarang Joya


meminta duluan pada Boy.


“Kamu yakin,


sayang? Kamu kan lagi sakit.”


Joya tidak


menjawab Boy, ia hanya melakukan apa yang ia inginkan dan Boy tidak bisa menolaknya.


Joya akhirnya


pasrah dengan tubuh dipenuhi bekas ciuman Joya.


Boy mengelus


kepala Joya yang sudah tertidur lelap dengan keadaan berantakan. Setidaknya demam


Joya sudah turun sekarang. Boy tersenyum puas mengingat kelakuan Joya tadi.


“Tumben banget


kamu begitu tadi, sayang. Jangan-jangan kamu salah minum waktu di pesta tadi.”


Boy mengingat minuman apa yang diminum Joya tapi semuanya hanya  minuman biasa.


“Atau


makanannya?”Joya memang makan banyak daging di pesta. “Aku juga makan yang


sama, kelakuanmu hari ini sangat aneh, sayang. Tapi aku suka sekali.”


Boy membetulkan


selimut menutupi tubuh Joya. Ia mengatur AC agar Joya tidak demam lagi. Boy


turun  ke lantai bawah setelah dirinya


mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Keluarganya


sedang makan malam bersama, mereka melirik Boy yang turun sendirian. “Boy,


dimana Joya?”tanya Ny. Besar.


“Joya demam,


bu. Sekarang lagi tidur. Tadi habis makan bubur sama...”Boy menghentikan


kata-katanya tepat waktu. Hampir saja keceplosan.


Tapi mbak Putri


tidak mau diam begitu saja, apalagi saat melihat bekas perbuatan mereka ada di


leher Boy sekarang. Padahal Boy sengaja memakai baju berkerah tinggi untuk


menutupinya.


“Apa gak


sebaiknya kita panggil dokter Risman, Boy?”


“Gak usah


panggil dokter, bu. Bentar lagi juga sehat lagi.”kata mbak Putri sambil tersenyum


kearah Boy.


“Kenapa gitu,


Putri?”


“Ibu gak liat


itu di leher Boy ada apa. Gimana Joya gak demam, coba.”


“Bukan gitu,


mbak. Dari pulang dari pesta tadi, Joya sudah demam. Aku cuma bantu biar Joya


berkeringat aja, soalnya dia gak mau minum obat.”


Riuh di meja


makan mulai menggoda Boy yang keceplosan sendiri. Boy takut ibunya marah kalau


sampai Joya sakit.


“Ya, sudah. Nanti


bawakan makan malamnya keatas saja. Sama susu. Dia pasti masuk angin kan?”


“Iya, bu.


Kok ibu bisa tahu?”


*****


Klik

__ADS_1


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2