Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Menghentikan Deril


__ADS_3

Aliya menoleh melihat layar HP-nya yang menyala, ada panggilan masuk dari Deril,


Aliya : “Halo, Deril.”


Deril : “Aliya, apa kabarmu...? Apa kau sibuk?”


Aliya : “Aku baik, sebenarnya aku agak sibuk. Kenapa kau menelpon?”


Deril : “Bisakah kau datang? Ada beberapa kontrak yang harus kau review hari ini.”


Aliya melirik Aldo yang sedang menatap layar HP-nya, tapi sepertinya dia menguping pembicaraannya dengan Deril.


Aliya : “Aku akan datang, aku akan mengabarimu kalau sudah sampai di lobby.”


Deril : “Aku sudah memberitahu resepsionis agar membiarkan kau langsung naik ke ruanganku. Aku akan menunggumu.”


Aliya menutup telponnya, saat itu ia sedang ada di kantor Aldo karena Aldo ingin di temani saat ia mengerjakan proyek barunya. Aldo menatap Aliya yang kini menatapnya,


Aldo : “Pergilah, bawa mobilku. Kalau sudah selesai, jemput aku disini.”


Aliya : “Bagaimana kau tahu?”


Aldo : “Aku sedang berusaha mempercayaimu, tapi jangan coba-coba bermain di belakangku, atau…”


Aliya : “Atau apa?” Mereka bahkan belum bertunangan dan Aldo sudah berani mengancamnya,


Aldo : “Aku akan menikahimu sehari setelah pernikahan Andra dan tidak akan melepaskanmu sampai kau hamil.” Fix! Ancamannya menunjukkan dengan jelas tingkat kemesuman Aldo.


Aliya : “Apa kau berani melakukannya?”


Aldo : “Aku mendapatkan dukungan penuh dari orang tuaku dan orang tuamu. Apa yang membuatku tidak berani?” kata Aldo penuh percaya diri.


Aliya : “Kenapa juga aku mau bertunangan denganmu?”


Aldo : “Karena kau mencintaiku.” Ok, double PD.


Aliya : “Sepertinya aku harus membatalkannya…” balas Aliya sambil menatap tajam Aldo.


Aldo : “Appaa…??!!!” teriakan Aldo membuat seisi ruang kerjanya bergetar.


Aliya : “…Aku belum selesai bicara…”


Aldo sudah merangsek menindih Aliya, menghimpitnya di sofa. Aliya menatap Aldo dengan tenang, tangannya bergerak melingkar di leher Aldo.


Aliya : “Apa kau marah?”


Telunjuk Aliya bergerak menyentuh telinga Aldo, turun ke leher, sampai di kancing kemeja Aldo. Dengan berani Aliya membuka kancing kemeja itu, telunjuknya bergerak menelusuri dada Aldo, membuat kemarahan Aldo surut, berganti deru nafas yang berat.


Detik berikutnya, Aldo merasakan panas menyengat di dadanya, Aliya kembali mencubit dadanya sampai memerah.


Aldo : “Aaaooooowwww…!! Ssshhhh…!!”


Aldo terjatuh dari sofa setelah Aliya mendorongnya. Aliya bangun dari sofa, mengambil kunci mobil Aldo dan berjalan keluar dari ruangan.


Aliya : “Aku pergi dulu. Bye.” Meninggalkan Aldo yang masih merintih kesakitan.


------

__ADS_1


Aliya sampai di kantor Deril, ia memarkir mobil Aldo di samping mobil Deril dan berjalan masuk. Suasana lobby terlihat lebih sepi dari biasanya, hanya terlihat security dan resepsionis. Aliya mengingat hari apa ini, bukan hari libur.


Resepsionis yang melihat kedatangan Aliya, segera menyambutnya dengan senyum ramah dan langsung mempersilahkan Aliya masuk ke lift. Aliya ingat kalau resepsionis ini yang memperlakukannya tidak baik sebelumnya. Aliya memasuk lift yang sudah terbuka dan menekan tombol lantai ruang kerja Deril.


Lift terbuka dan Aliya berjalan keluar lift, menelusuri lorong hingga sampai di depan ruang kerja Deril yang tidak tertutup dengan baik. Aliya bisa mendengar dengan jelas perkataan Deril pada sekretarisnya,


Deril : “Bawa masuk bunga  itu setelah aku mengatakan perasaanku pada Aliya. Dan aku gak mau diganggu sampai selesai dengan Aliya.”


Aliya bergerak cepat mengetuk pintu seolah-olah ia baru saja tiba, sekretaris Deril membuka pintu lebih lebar, mempersilakan Aliya masuk.


Aliya : “Hai,Cecil, Deril.”


Deril : “Hai, Al. Duduklah, mau minum apa?”


Aliya : “Air putih saja.”


Deril : “Ini kontrak yang harus kau periksa, dan ada lagi di mejaku. Apa bisa kau selesaikan sekarang?”


Aliya menatap tumpukan kontrak itu, ia menghitung waktu, minimal ia bisa menyelesaikan 5 kontrak sampai jam pulang karena ia harus menjemput Aldo.


Aliya : “Aku hanya bisa bekerja sampai jam 5, aku harus menjemput Aldo setelah itu. Bisa kita mulai sekarang?”


Deril : “…siapa Aldo?” bisik Deril.


Aliya : “Apa?”


Deril : “Ya, kita mulai sekarang.”


Cecil, sekretaris Deril membawakan air putih untuk Aliya dan meninggalkan mereka berdua saja. Aliya mulai mengerjakan tugasnya, keningnya berkerut membaca kata demi kata dalam kontrak. Sesekali ia mencoret kata dan menuliskan yang benar di sudut kertas.


Deril masih menatap Aliya, ia merasa ragu ketika ingin mengatakan sesuatu, Aliya mengetahui gelagat Deril dan Aliya sudah sempat menyurutkan keinginannya tadi dengan menyebutkan Aldo. Tapi Aliya masih tetap bersikap


------


Satu jam sebelum jam 5, Deril tetap mengawasi jam, mencari kesempatan bicara serius dengan Aliya. Gadis manis ini sudah menyelesaikan memeriksa 7 kontrak dan sedang memeriksa kontrak ke-8. Ia terlihat sangat menikmati pekerjaannya.


Deril berjalan mendekati Aliya dan duduk di sebelahnya,


Deril : “Aliya, istirahatlah dulu. Aku ingin bicara denganmu.”


Aliya : “Bicara saja, aku akan dengarkan.” Kata Aliya tanpa menoleh.


Deril : “Aku serius, Aliya. Lihat aku.”


Aliya mengalihkan pandangannya pada Deril yang sudah tersenyum manis.


Deril : “Aku mau bilang, terima kasih karena sudah menjagaku terakhir kali aku sakit. Maaf aku tidak pernah cerita tentang masa laluku, yah kau tahu sendiri alasannya.”


Deril menarik nafasnya yang terasa berat, ia jadi gugup saat Aliya menatapnya. Pandangan yang sama yang pernah ia dapatkan dari Viona ketika pertama kali mereka bertemu. Deril menghentikan kata-kata yang ingin ia


sampaikan pada Aliya.


Kenapa setelah sekian tahun dan ia bertemu dengan Aliya, Deril masih membandingkan gadis ini dengan almarhum kekasihnya. Deril menunduk, pikirannya berkecamuk antara benar atau tidak. Apa dia benar-benar jatuh cinta lagi pada Aliya? Atau hanya melihat sosok Viona dalam diri Aliya.


Kalau dia salah dengan perasaannya, Deril akan menyakiti Aliya seperti dia menyakiti Viona. Perasaan Deril jadi kacau, ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, memegangi dadanya. Kali ini bukan serangan panik, terakhir kali serangan panik itu datang dan Aliya ada disamping, Deril tidak pernah lagi mengalaminya. Ia sudah sembuh sekarang.


Aliya masih menunggu apa yang akan Deril katakan selanjutnya, ia sudah siap menghentikan Deril dengan beberapa kata saja tentang hubungannya dengan Aldo.

__ADS_1


Deril : “Aliya, maaf kalau aku lancang, tapi… Aku benar-benar bingung sekarang.”


Aliya : “Kenapa bingung? Yang jelas, aku bukan Viona.”


Deril : “…Ya, kau kan Aliya, bukan Viona.”


Kata-kata Aliya seperti palu yang menghantam kepala Deril, membuatnya semakin pusing. Aliya menyodorkan gelas minuman pada Deril yang langsung meminumnya,


Aliya : “Bernafaslah dengan tenang. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, aku sudah tahu. Aku mendengarnya dengan jelas saat datang tadi.”


Deril : “…”


Aliya : “Aku mengerti perasaanmu, tapi sepertinya bukan padaku. Hatimu baru saja sembuh kan, seseorang yang terluka dan akhirnya sembuh setelah sekian lama, akan mudah luluh pada hati yang ada didekatnya.”


Deril : “Kalau bukan seperti itu bagaimana?”


Aliya : “Coba kau ingat lagi, seberapa mirip aku dengan Viona, maksudku bukan wajah kami, tapi sifatku, kebiasaanku.”


Deril : “Ada beberapa bagian dirimu yang memang mirip dengannya.”


Aliya : “Lalu kenapa? Begitu banyak manusia di dunia ini, tidak mungkin tidak memiliki sifat yang sama, kan.”


Deril : “Jadi…”


Aliya : “Carilah wanita yang memang kau cintai, bukan karena dia mirip Viona. Tapi kau benar-benar melihat dia dengan jalan cinta. Kau sudah sampai sejauh ini melangkah, sudah saatnya kau memaaafkan dirimu dan memberi


kesempatan pada wanita lain untuk menjadi milikmu.”


Deril : “Apa kau tidak menyukaiku?”


Aliya : “Aku menyukaimu, tapi sebagai teman yang baik. Teman yang sudah sangat membantuku menyelesaikan tugasku, bahkan memberiku kesempatan dengan pekerjaan yang kusukai. Tapi rasa suka bukanlah cinta.”


Deril : “Aku mengerti…”


Aliya : “Lagipula aku sudah menemukan cinta… dan perasaan ini benar-benar hangat.”


Deril : “Maksudmu Aldo? Bagaimana kalian bertemu?”


Aliya : “Papa kami berteman baik, awalnya aku pikir ini hanya keterikatan pertemanan, tapi semakin dekat dengannya membuatku menyadari kalau aku mulai mencintainya. Kami akan bertunangan minggu depan.”


Deril : “Selamat padamu, apa aku akan diundang?”


Aliya : “Kalau kau mau, datanglah ke Indonesia. Akan kukirimkan undangannya padamu.”


Deril : “Makasi Aliya, makasi sudah mau jadi teman baikku.”


Aliya : “Aku rasa kita bisa jadi lebih dari sekedar teman baik…”


Deril : “Maksudmu?”


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


-------


__ADS_2