
Eps. 20 – Pertu buka puasa
Nanda : “Jangan
sok tau. Aku sudah membuatnya sejak semalam, baru selesai satu jam lalu. Pasti sudah
ada bayi disana. Cek lagi!”
Mengertilah
para dokter itu apa yang terjadi pada Ana. Ia kelelahan karena melayani nafsu
perjaka tua yang sudah puasa sejak lahir ini.
Suster : “Dokter,
ada darah disini.”
Nanda : “Darah?
Ana terluka? Dimana?”
Para dokter itu
saling menatap, perjaka tua vs perawan berakhir dengan si wanita demam tinggi.
Judul film terbaru yang baru saja tayang di kamar itu.
Dokter wanita :
“Tuan muda, itu darah dari selaput dara nyonya yang sobek. Kami akan bersihkan
dulu. Silakan tuan muda duduk dulu.”
Nanda : “Apa
yang sobek?”
Dokter wanita :
“Dokter akan menjelaskannya pada anda, tuan muda. Silakan duduk dulu. Suster,
tolong panggilkan 2 pelayan wanita kesini.”
Nanda : “Kalian
mau ngapain?”
Dokter : “Biarkan
mereka menjalankan tugasnya, tuan muda. Apa yang tuan muda mau tanyakan pada
saya?”
Nanda meminta
penjelasan tentang apa yang terjadi pada Ana. Ia menjawab dengan jelas
pertanyaan dari dokter tentang apa yang mereka lakukan semalam. Suara Nanda
yang cukup keras membuat merah telinga pelayan dan suster yang membersihkan tempat
tidur dan tubuh Ana.
Setelah semua
kekacauan itu bersih kembali, dokter wanita kembali mengecek kondisi Ana. Ia
memberikan suntikan untuk meredakan demam Ana dan menunggu dia sadar.
Nanda : “Kenapa
dia belum sadar juga?”
Dokter wanita :
“Nyonya sedang tidur, tuan muda. Tubuh Nyonya sangat lelah setelah melakukan
aktifitas yang sangat melelahkan dan terlalu berlebihan. Sebaiknya tuan muda
juga membersihkan diri dulu.”
Nanda : “Aktifitas
apa? Aku yang lebih capek. Dia hanya tiduran dibawahku.”
Dokter wanita
itu ingin melempar tasnya pada Nanda untuk berhenti mengatakan hal-hal pribadi
seperti itu. Tapi urung karena ia masih sayang pada nyawanya. Bekerja pada tuan
Nanda bayarannya sangat bagus, tapi harus bersiap nyawa setiap waktu.
Dokter wanita :
“Tentu saja aktifitas membuat anak, tuan muda. Nyonya juga kelelahan.”
Nanda : “Ah,
benar juga. Dia sempat diatas tadi.”
Mendengar suara
Nanda yang keras, Ana perlahan mulai terbangun.
Suster : “Dokter,
__ADS_1
nyonya sudah sadar.”
Ana memicingkan
matanya melihat seorang wanita memeriksa tangan dan matanya. Ketika ia melihat
kesamping dan melihat Nanda, Ana langsung memegang tangan dokter wanita yang
masih berdiri di sampingnya.
Dokter wanita :
“Tenang, nyonya. Nyonya baik-baik saja? Ada yang terasa sakit?”
Ana : “Badan
saya sakit semua. Saya kenapa, dokter?”
Dokter wanita :
“Nyonya kelelahan karena terlalu berlebihan melakukan aktifitas seksual.”
Ana : “Sudah
kuduga. Aduh, saya kebelet.”
Suster membantu
Ana yang ingin bangun tapi Nanda dengan cepat menggendongnya ke kamar mandi.
Ketiga orang di dalam kamar menajamkan telinganya ketika mendengar suara
jeritan Ana dari dalam sana. Mereka sudah berpikir yang tidak-tidak, apalagi
ketika Ana dan Nanda tidak kunjung keluar juga.
Dokter wanita :
“Apa kita pergi saja, dokter? Saya bisa kirim obatnya kesini nanti.”
Dokter : “Ya,
sebaiknya kita pergi dulu. Akhirnya tuan muda menikah juga. Saya sempat
berpikir kalau tuan muda tidak akan menikah seumur hidupnya.”
Mereka bertiga
keluar dari kamar Nanda.
*****
Boy yang baru
datang ke kantor pagi itu, tersenyum melihat Carol sudah kembali bertugas. Nando
juga sudah bertugas dan dipercaya memegang jabatan Pak Joni untuk sementara.
Carol : “Pagi,
tuan Boy.”
Boy : “Pagi,
Carol. Akhirnya kamu kerja juga. Bisa tolong aku, telpon Joya. Ceritakan
tentang Ana dan Nanda. Aku hampir gila karena dia terus bertanya apa yang
terjadi pada mereka berdua.”
Carol : “Baik,
tuan. Saya telpon sekarang?”
Boy : “Ya,
telpon sekarang atau aku harus dengar rengekannya lagi. Rian, ayo ke ruanganku.”
Rian : “Baik,
tuan.”
Carol menelpon
Joya yang saat itu sedang menemani ibu mertuanya mengobrol. Joya sudah tidak
bekerja lagi karena Ny.Besar memintanya berkonsentrasi untuk punya anak dulu.
Joya : “Halo?”
Carol : “Halo,
Ny. Ini saya, Carol. Apa saya mengganggu?”
Joya : “Ach,
Carol. Ada apa?”
Carol : “Tuan
Boy meminta saya menelpon Ny. Apa Ny. sibuk?”
Joya : “Oh, ya.
Aku mau tahu gimana kelanjutan cerita Nanda dan Mbak Ana? Tapi aku sedang
mengobrol dengan ibu. Bagaimana kalau nanti siang, aku mampir ke kantor? Nanti
__ADS_1
aku buatkan makanan untukmu dan Nando juga.”
Carol : “Merepotkan
Ny. saja.”
Joya : “Tidak
merepotkan. Sampai jumpa nanti siang.”
Carol menutup
telponnya. Ia kembali bekerja menerima telpon dan juga mengatur meeting untuk
Boy. Sesekali Nando menelponnya hanya untuk mengatakan kata-kata manis yang
membuatnya tersipu.
Kemajuan
pernikahan keduanya belum segercep Nanda dan Ana. Nando lebih sabar dan
mengikuti kemauan Carol untuk melakukan malam pertama mereka setelah ijab
nanti.
*****
Ana sedang
duduk diatas tempat tidur Nanda dengan termometer terjepit di mulutnya. Ia
memasang wajah cemberut karena kesal pada Nanda. Bahkan saat dirinya masih
sakit, Nanda memaksa ingin melakukan itu lagi.
Ana sampai
harus pura-pura pingsan untuk menghentikan Nanda. Dan sekarang ia malah
dikelilingi dokter yang terus memeriksanya. Padahal ia hanya ingin tidur saja
untuk memulihkan dirinya.
Ana : “Sampai
kapan kalian akan memeriksaku?”
Dokter : “Sampai
tuan muda puas, nyonya.”
Ana : “Suamiku,
sini.”
Nanda bangkit
dari sofa dan menghampiri Ana. Dengan cepat Ana menarik bathrobe yang dipakai
Nanda hingga tuan muda itu terjatuh di atas tempat tidur. Ana segera menaiki
tubuh Nanda dan menekannya.
Ana : “Suruh
mereka semua keluar, sayang. Aku sudah tidak tahan...”
Nanda memberi
tanda pada semua orang untuk keluar dari kamarnya. Saat orang terakhir sudah
keluar dan menutup pintu, Ana langsung mengancam Nanda.
Ana : “Dengar!
Aku belum hamil, okey. Kau tidak bisa meminta anak secepat itu.”
Nanda : “Kita
lakukan terus sampai berhasil.”
Ana : “Kau hanya
akan buang-buang tenaga saja.”
Nanda : “Kalau
sangat menyenangkan seperti itu, aku tidak keberatan.”
Ana : “Apa kau
mau aku cepat mati!!”
Nanda : “Tidak.
Apa maksudmu?”
Ana : “Kau
menyakitiku, suamiku. Aku capek sekali. Bahkan untuk ke kamar mandi saja, kau
harus menggendongku. Apa kau tidak sayang padaku?”
*****
Klik
__ADS_1
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.