Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Pertu buka puasa


__ADS_3

Eps. 20 – Pertu buka puasa


Nanda : “Jangan


sok tau. Aku sudah membuatnya sejak semalam, baru selesai satu jam lalu. Pasti sudah


ada bayi disana. Cek lagi!”


Mengertilah


para dokter itu apa yang terjadi pada Ana. Ia kelelahan karena melayani nafsu


perjaka tua yang sudah puasa sejak lahir ini.


Suster : “Dokter,


ada darah disini.”


Nanda : “Darah?


Ana terluka? Dimana?”


Para dokter itu


saling menatap, perjaka tua vs perawan berakhir dengan si wanita demam tinggi.


Judul film terbaru yang baru saja tayang di kamar itu.


Dokter wanita :


“Tuan muda, itu darah dari selaput dara nyonya yang sobek. Kami akan bersihkan


dulu. Silakan tuan muda duduk dulu.”


Nanda : “Apa


yang sobek?”


Dokter wanita :


“Dokter akan menjelaskannya pada anda, tuan muda. Silakan duduk dulu. Suster,


tolong panggilkan 2 pelayan wanita kesini.”


Nanda : “Kalian


mau ngapain?”


Dokter : “Biarkan


mereka menjalankan tugasnya, tuan muda. Apa yang tuan muda mau tanyakan pada


saya?”


Nanda meminta


penjelasan tentang apa yang terjadi pada Ana. Ia menjawab dengan jelas


pertanyaan dari dokter tentang apa yang mereka lakukan semalam. Suara Nanda


yang cukup keras membuat merah telinga pelayan dan suster yang membersihkan tempat


tidur dan tubuh Ana.


Setelah semua


kekacauan itu bersih kembali, dokter wanita kembali mengecek kondisi Ana. Ia


memberikan suntikan untuk meredakan demam Ana dan menunggu dia sadar.


Nanda : “Kenapa


dia belum sadar juga?”


Dokter wanita :


“Nyonya sedang tidur, tuan muda. Tubuh Nyonya sangat lelah setelah melakukan


aktifitas yang sangat melelahkan dan terlalu berlebihan. Sebaiknya tuan muda


juga membersihkan diri dulu.”


Nanda : “Aktifitas


apa? Aku yang lebih capek. Dia hanya tiduran dibawahku.”


Dokter wanita


itu ingin melempar tasnya pada Nanda untuk berhenti mengatakan hal-hal pribadi


seperti itu. Tapi urung karena ia masih sayang pada nyawanya. Bekerja pada tuan


Nanda bayarannya sangat bagus, tapi harus bersiap nyawa setiap waktu.


Dokter wanita :


“Tentu saja aktifitas membuat anak, tuan muda. Nyonya juga kelelahan.”


Nanda : “Ah,


benar juga. Dia sempat diatas tadi.”


Mendengar suara


Nanda yang keras, Ana perlahan mulai terbangun.


Suster : “Dokter,

__ADS_1


nyonya sudah sadar.”


Ana memicingkan


matanya melihat seorang wanita memeriksa tangan dan matanya. Ketika ia melihat


kesamping dan melihat Nanda, Ana langsung memegang tangan dokter wanita yang


masih berdiri di sampingnya.


Dokter wanita :


“Tenang, nyonya. Nyonya baik-baik saja? Ada yang terasa sakit?”


Ana : “Badan


saya sakit semua. Saya kenapa, dokter?”


Dokter wanita :


“Nyonya kelelahan karena terlalu berlebihan melakukan aktifitas seksual.”


Ana : “Sudah


kuduga. Aduh, saya kebelet.”


Suster membantu


Ana yang ingin bangun tapi Nanda dengan cepat menggendongnya ke kamar mandi.


Ketiga orang di dalam kamar menajamkan telinganya ketika mendengar suara


jeritan Ana dari dalam sana. Mereka sudah berpikir yang tidak-tidak, apalagi


ketika Ana dan Nanda tidak kunjung keluar juga.


Dokter wanita :


“Apa kita pergi saja, dokter? Saya bisa kirim obatnya kesini nanti.”


Dokter : “Ya,


sebaiknya kita pergi dulu. Akhirnya tuan muda menikah juga. Saya sempat


berpikir kalau tuan muda tidak akan menikah seumur hidupnya.”


Mereka bertiga


keluar dari kamar Nanda.


*****


Boy yang baru


datang ke kantor pagi itu, tersenyum melihat Carol sudah kembali bertugas. Nando


juga sudah bertugas dan dipercaya memegang jabatan Pak Joni untuk sementara.


Carol : “Pagi,


tuan Boy.”


Boy : “Pagi,


Carol. Akhirnya kamu kerja juga. Bisa tolong aku, telpon Joya. Ceritakan


tentang Ana dan Nanda. Aku hampir gila karena dia terus bertanya apa yang


terjadi pada mereka berdua.”


Carol : “Baik,


tuan. Saya telpon sekarang?”


Boy : “Ya,


telpon sekarang atau aku harus dengar rengekannya lagi. Rian, ayo ke ruanganku.”


Rian : “Baik,


tuan.”


Carol menelpon


Joya yang saat itu sedang menemani ibu mertuanya mengobrol. Joya sudah tidak


bekerja lagi karena Ny.Besar memintanya berkonsentrasi untuk punya anak dulu.


Joya : “Halo?”


Carol : “Halo,


Ny. Ini saya, Carol. Apa saya mengganggu?”


Joya : “Ach,


Carol. Ada apa?”


Carol : “Tuan


Boy meminta saya menelpon Ny. Apa Ny. sibuk?”


Joya : “Oh, ya.


Aku mau tahu gimana kelanjutan cerita Nanda dan Mbak Ana? Tapi aku sedang


mengobrol dengan ibu. Bagaimana kalau nanti siang, aku mampir ke kantor? Nanti

__ADS_1


aku buatkan makanan untukmu dan Nando juga.”


Carol : “Merepotkan


Ny. saja.”


Joya : “Tidak


merepotkan. Sampai jumpa nanti siang.”


Carol menutup


telponnya. Ia kembali bekerja menerima telpon dan juga mengatur meeting untuk


Boy. Sesekali Nando menelponnya hanya untuk mengatakan kata-kata manis yang


membuatnya tersipu.


Kemajuan


pernikahan keduanya belum segercep Nanda dan Ana. Nando lebih sabar dan


mengikuti kemauan Carol untuk melakukan malam pertama mereka setelah ijab


nanti.


*****


Ana sedang


duduk diatas tempat tidur Nanda dengan termometer terjepit di mulutnya. Ia


memasang wajah cemberut karena kesal pada Nanda. Bahkan saat dirinya masih


sakit, Nanda memaksa ingin melakukan itu lagi.


Ana sampai


harus pura-pura pingsan untuk menghentikan Nanda. Dan sekarang ia malah


dikelilingi dokter yang terus memeriksanya. Padahal ia hanya ingin tidur saja


untuk memulihkan dirinya.


Ana : “Sampai


kapan kalian akan memeriksaku?”


Dokter : “Sampai


tuan muda puas, nyonya.”


Ana : “Suamiku,


sini.”


Nanda bangkit


dari sofa dan menghampiri Ana. Dengan cepat Ana menarik bathrobe yang dipakai


Nanda hingga tuan muda itu terjatuh di atas tempat tidur. Ana segera menaiki


tubuh Nanda dan menekannya.


Ana : “Suruh


mereka semua keluar, sayang. Aku sudah tidak tahan...”


Nanda memberi


tanda pada semua orang untuk keluar dari kamarnya. Saat orang terakhir sudah


keluar dan menutup pintu, Ana langsung mengancam Nanda.


Ana : “Dengar!


Aku belum hamil, okey. Kau tidak bisa meminta anak secepat itu.”


Nanda : “Kita


lakukan terus sampai berhasil.”


Ana : “Kau hanya


akan buang-buang tenaga saja.”


Nanda : “Kalau


sangat menyenangkan seperti itu, aku tidak keberatan.”


Ana : “Apa kau


mau aku cepat mati!!”


Nanda : “Tidak.


Apa maksudmu?”


Ana : “Kau


menyakitiku, suamiku. Aku capek sekali. Bahkan untuk ke kamar mandi saja, kau


harus menggendongku. Apa kau tidak sayang padaku?”


*****


Klik

__ADS_1


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2