Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Sakit lagi


__ADS_3

Boy


mengeringkan tubuh Joya setelah mereka mandi bersama. Pikiran Boy lebih rileks


sekarang dan ia lebih banyak tersenyum. Setelah tubuh Joya kering, Boy memeluk


istrinya itu.


Joya : “Mas,


pake baju dulu dong.”


Boy : “Bentar


dulu.”


Joya : “Oh ya,


lupa. Mas belum pake obat. Mana lebamnya?”


Joya mengambil


obatnya dan mengoleskannya pada lebam di lengan dan kaki Boy. Saat Joya


membubuhkan sedikit obat ke pipi Boy, Boy malah bergerak mencium pipinya.


Joya : “Mas,


diem dulu. Nanti memarnya gak mau hilang. Mas nich kenapa gak hati-hati sich.”


Boy menjatuhkan


dirinya diatas ranjang. Joya harus duduk di sisinya untuk mengobati memar di


pipi Boy.


Joya : “Udah.


Pake baju dulu, mas. Kita turun habis ini.”


Boy tidak


membiarkan Joya bangun dari sisinya. Ia menarik tangan Joya dan duduk di


sampingnya.


Boy : “Kamu


belum pakai obatnya.”


Giliran Boy


yang mengoleskan obat itu ke tubuh Joya yang masih tampak sedikit lebam. Tangan


nakal Boy sesekali menyenggol aset Joya, meraba seluruh tubuhnya untuk


memastikan tidak ada lebam lagi.


Joya : “Mas,


jangan raba disitu...”


Keduanya saling


menatap dan mendekat. Joya tersenyum ketika Boy menciumnya lagi. Keduanya


saling memberi sentuhan hangat satu sama lain sampai suara ponsel Boy


membuyarkan suasana romantis yang sudah tercipta.


Boy ingin


meraih ponselnya, tapi Joya malah menariknya semakin dekat. Perhatian Boy


kembali pada Joya yang bersikap sangat manja padanya. Boy tahu kalau Joya sedang


menghibur dirinya.


*****


Rian menatap


ponselnya, ia menatap Niken yang juga sedang menatapnya. Ia baru saja menelpon


Boy yang tidak diangkat oleh bosnya itu.


Niken : “Tidak


diangkat?”


Rian : “Mungkin


lagi makan makan.”


Niken : “Ya,


sudah. Besok saja kasi taunya.”


Rian hampir


menjalankan mobil Boy untuk pulang bersama Niken ketika melihat Lia berjalan


keluar dari kantor menuju ke mobil hitam yang baru saja sampai di depan kantor.


Seorang pria tampak keluar dari sana dan mencium pipi Lia.


Rian : “Uda


punya pacar, masih aja mau godain laki orang.”


Niken : “Sudah,


Rian. Yang penting kita sudah tahu ada sesuatu sama dia.”


Lia masuk ke


mobil pria itu dan mereka pergi dari depan kantor.

__ADS_1


Rian : “Pengen


banget ngikutin dia.”


Niken : “Biarin


aja. Tugas kita memastikan tuan Boy baik-baik saja, kan? Ayo pulang.”


Mereka berdua


memergoki Lia tadi di ruang kerja Boy, tapi Lia tidak menyadari kalau dirinya


sedang diintip oleh Rian dan Niken. Mereka bisa mendengar dengan jelas saat Lia


bicara pada foto Boy diatas meja kalau dirinya lebih cocok jadi Ny. Boy


daripada Joya.


Mendengar hal


itu, Niken mengepalkan tangannya dan hampir membongkar keberadaan mereka.


Keduanya langsung kembali ke mobil tanpa sepengetahuan Lia.


Rian : “Aku


stress sekali nich.”


Niken : “Kamu


mau apa biar gak stress, sayang...”


Rian melirik


Niken yang sudah tersenyum manis padanya. Ia tidak menjawab apapun, tapi


membawa mereka pulang ke rumah dengan cepat.


*****


Joya memakai


pakaiannya setelah Boy melepaskan pelukannya dari tubuh Joya. Mereka bahkan


menghabiskan waktu sejam hanya untuk bercengkrama antara suami dan istri. Joya


menyodorkan pakaian Boy yang memakainya dengan cepat.


Joya : “Ayo


turun, mas. Uda telat makan malam nich.”


Boy : “Iya,


sebentar.”


Boy tidak


sempat melihat ponselnya dan mengikuti Joya turun.


semua anggota keluarga sudah berkumpul, mereka hanya tinggal menunggu kedatangan


Boy dan Joya. Setelah mereka berdua duduk, Ny. Besar meminta makanan segera di


hidangkan.


Joya : “Maaf,


Joya telat, ibu.”


Ny. Besar : “Tidak


apa. Besok kamu mulai kerja, Joya?”


Joya : “Iya,


bu. Cuti Joya sudah habis.”


Boy : “Joya,


akhir pekan ini, kita ke villa ibu ya.”


Joya : “Iya,


mas. Bu, boleh kan?”


Boy


menghentikan gerakan tangannya, tubuhnya menegang menunggu jawaban ibunya. Ia


bahkan belum berani menatap ibunya, hatinya belum siap kalau ibunya menatapnya


dengan dingin.


Ny. Besar : “Joya,


kamu sudah menikah, jadi terserah suamimu mau mengajakmu kemana saja.”


Joya : “Makasi,


bu.”


Joya memegang


tangan Boy yang mengangguk pelan. Ia menarik nafasnya dan mulai menghabiskan


makan malamnya.


Setelah makan


malam selesai dan semua orang mulai kembali ke kamar masing-masing, Boy


melangkah sendirian kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya diatas nakas


dan memeriksa chat masuk dari Rian.


Keningnya

__ADS_1


mengkerut membaca chat yang cukup panjang yang menceritakan tentang kejadian


yang Rian lihat bersama Niken di ruang kerja Boy.


Boy : “Mulai


siapkan orang untuk menggantikan Lia. Kalau sampai dia berani macam-macam, kau


sudah tahu harus berbuat apa.”


Hanya itu chat


balasan yang dikirimkan Boy pada Rian. Ia memijat kepalanya lagi, ada-ada saja


masalah yang harus ia hadapi. Boy membaringkan tubuhnya dan perlahan memejamkan


matanya.


Joya yang tadi


mengantar ibu mertuanya ke dalam kamar, masuk ke kamar mereka dan mendapati


suaminya sudah tertidur. Pelan-pelan Joya menyelimuti Boy dan mengusap


keningnya yang berkeringat. Saat itu Joya sadar kalau Boy sedang demam tinggi.


Joya : “Mas,


bangun. Mas Boy!”


Boy : “Eemm...”


Boy hanya


bergumam sebentar dan kembali tidur. Joya berlari keluar kamar untuk mengambil


kotak obat yang terletak di ruang TV. Ia mencari obat penurun panas dan juga


minyak kayu putih.


Joya : “Mas,


bangun mas. Minum obat dulu.”


Boy hanya


menggeliat sedikit. Joya mengukur suhu tubuh Boy dengan termometer dan melihat


suhu tubuh Boy mencapai 39’. Sedikit panik, Joya menelpon dokter Risman.


dr. Risman : “Halo.”


Joya : “Dokter,


cepat datang ke rumah Ny. Besar. Boy demam tinggi sampai 39’.”


dr. Risman : “Tenang,


Joya. Apa dia sadar?”


Joya : “Saya


sudah panggil berkali-kali tapi gak bangun juga, dokter.”


dr. Risman : “Saya


kesana sekarang. Coba dikompres dulu ya.”


Joya : “Iya,


dokter.”


Joya meletakkan


ponselnya dan berlari keluar kamar. Ia menuruni tangga dengan cepat dan membuka


pintu depan yang sudah dikunci. Joya memberitahu security untuk membukakan


pintu saat dokter Risman datang.


Keributan yang


ditimbulkan Joya, membuat Ny. Besar keluar dari kamarnya. Ia melihat Joya


berlari masuk ke dalam rumah,


Ny. Besar : “Joya,


ada apa?”


Joya : “Mas


Boy, bu. Mas Boy demam tinggi.”


Ny. Besar


segera naik ke lantai 2, sementara Joya mengambil baskom di dapur dan juga


handuk kecil dari lemari. Ia menyusul Ny. Besar yang sedang berusaha


membangunkan putra bungsunya itu.


Boy sempat


membuka matanya sebentar dan menggenggam tangan Ny. Besar sebelum kembali tidak


sadar.


*****


Next, Lia berusaha menarik perhatian Boy.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2