
Boy
mengeringkan tubuh Joya setelah mereka mandi bersama. Pikiran Boy lebih rileks
sekarang dan ia lebih banyak tersenyum. Setelah tubuh Joya kering, Boy memeluk
istrinya itu.
Joya : “Mas,
pake baju dulu dong.”
Boy : “Bentar
dulu.”
Joya : “Oh ya,
lupa. Mas belum pake obat. Mana lebamnya?”
Joya mengambil
obatnya dan mengoleskannya pada lebam di lengan dan kaki Boy. Saat Joya
membubuhkan sedikit obat ke pipi Boy, Boy malah bergerak mencium pipinya.
Joya : “Mas,
diem dulu. Nanti memarnya gak mau hilang. Mas nich kenapa gak hati-hati sich.”
Boy menjatuhkan
dirinya diatas ranjang. Joya harus duduk di sisinya untuk mengobati memar di
pipi Boy.
Joya : “Udah.
Pake baju dulu, mas. Kita turun habis ini.”
Boy tidak
membiarkan Joya bangun dari sisinya. Ia menarik tangan Joya dan duduk di
sampingnya.
Boy : “Kamu
belum pakai obatnya.”
Giliran Boy
yang mengoleskan obat itu ke tubuh Joya yang masih tampak sedikit lebam. Tangan
nakal Boy sesekali menyenggol aset Joya, meraba seluruh tubuhnya untuk
memastikan tidak ada lebam lagi.
Joya : “Mas,
jangan raba disitu...”
Keduanya saling
menatap dan mendekat. Joya tersenyum ketika Boy menciumnya lagi. Keduanya
saling memberi sentuhan hangat satu sama lain sampai suara ponsel Boy
membuyarkan suasana romantis yang sudah tercipta.
Boy ingin
meraih ponselnya, tapi Joya malah menariknya semakin dekat. Perhatian Boy
kembali pada Joya yang bersikap sangat manja padanya. Boy tahu kalau Joya sedang
menghibur dirinya.
*****
Rian menatap
ponselnya, ia menatap Niken yang juga sedang menatapnya. Ia baru saja menelpon
Boy yang tidak diangkat oleh bosnya itu.
Niken : “Tidak
diangkat?”
Rian : “Mungkin
lagi makan makan.”
Niken : “Ya,
sudah. Besok saja kasi taunya.”
Rian hampir
menjalankan mobil Boy untuk pulang bersama Niken ketika melihat Lia berjalan
keluar dari kantor menuju ke mobil hitam yang baru saja sampai di depan kantor.
Seorang pria tampak keluar dari sana dan mencium pipi Lia.
Rian : “Uda
punya pacar, masih aja mau godain laki orang.”
Niken : “Sudah,
Rian. Yang penting kita sudah tahu ada sesuatu sama dia.”
Lia masuk ke
mobil pria itu dan mereka pergi dari depan kantor.
__ADS_1
Rian : “Pengen
banget ngikutin dia.”
Niken : “Biarin
aja. Tugas kita memastikan tuan Boy baik-baik saja, kan? Ayo pulang.”
Mereka berdua
memergoki Lia tadi di ruang kerja Boy, tapi Lia tidak menyadari kalau dirinya
sedang diintip oleh Rian dan Niken. Mereka bisa mendengar dengan jelas saat Lia
bicara pada foto Boy diatas meja kalau dirinya lebih cocok jadi Ny. Boy
daripada Joya.
Mendengar hal
itu, Niken mengepalkan tangannya dan hampir membongkar keberadaan mereka.
Keduanya langsung kembali ke mobil tanpa sepengetahuan Lia.
Rian : “Aku
stress sekali nich.”
Niken : “Kamu
mau apa biar gak stress, sayang...”
Rian melirik
Niken yang sudah tersenyum manis padanya. Ia tidak menjawab apapun, tapi
membawa mereka pulang ke rumah dengan cepat.
*****
Joya memakai
pakaiannya setelah Boy melepaskan pelukannya dari tubuh Joya. Mereka bahkan
menghabiskan waktu sejam hanya untuk bercengkrama antara suami dan istri. Joya
menyodorkan pakaian Boy yang memakainya dengan cepat.
Joya : “Ayo
turun, mas. Uda telat makan malam nich.”
Boy : “Iya,
sebentar.”
Boy tidak
sempat melihat ponselnya dan mengikuti Joya turun.
semua anggota keluarga sudah berkumpul, mereka hanya tinggal menunggu kedatangan
Boy dan Joya. Setelah mereka berdua duduk, Ny. Besar meminta makanan segera di
hidangkan.
Joya : “Maaf,
Joya telat, ibu.”
Ny. Besar : “Tidak
apa. Besok kamu mulai kerja, Joya?”
Joya : “Iya,
bu. Cuti Joya sudah habis.”
Boy : “Joya,
akhir pekan ini, kita ke villa ibu ya.”
Joya : “Iya,
mas. Bu, boleh kan?”
Boy
menghentikan gerakan tangannya, tubuhnya menegang menunggu jawaban ibunya. Ia
bahkan belum berani menatap ibunya, hatinya belum siap kalau ibunya menatapnya
dengan dingin.
Ny. Besar : “Joya,
kamu sudah menikah, jadi terserah suamimu mau mengajakmu kemana saja.”
Joya : “Makasi,
bu.”
Joya memegang
tangan Boy yang mengangguk pelan. Ia menarik nafasnya dan mulai menghabiskan
makan malamnya.
Setelah makan
malam selesai dan semua orang mulai kembali ke kamar masing-masing, Boy
melangkah sendirian kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya diatas nakas
dan memeriksa chat masuk dari Rian.
Keningnya
__ADS_1
mengkerut membaca chat yang cukup panjang yang menceritakan tentang kejadian
yang Rian lihat bersama Niken di ruang kerja Boy.
Boy : “Mulai
siapkan orang untuk menggantikan Lia. Kalau sampai dia berani macam-macam, kau
sudah tahu harus berbuat apa.”
Hanya itu chat
balasan yang dikirimkan Boy pada Rian. Ia memijat kepalanya lagi, ada-ada saja
masalah yang harus ia hadapi. Boy membaringkan tubuhnya dan perlahan memejamkan
matanya.
Joya yang tadi
mengantar ibu mertuanya ke dalam kamar, masuk ke kamar mereka dan mendapati
suaminya sudah tertidur. Pelan-pelan Joya menyelimuti Boy dan mengusap
keningnya yang berkeringat. Saat itu Joya sadar kalau Boy sedang demam tinggi.
Joya : “Mas,
bangun. Mas Boy!”
Boy : “Eemm...”
Boy hanya
bergumam sebentar dan kembali tidur. Joya berlari keluar kamar untuk mengambil
kotak obat yang terletak di ruang TV. Ia mencari obat penurun panas dan juga
minyak kayu putih.
Joya : “Mas,
bangun mas. Minum obat dulu.”
Boy hanya
menggeliat sedikit. Joya mengukur suhu tubuh Boy dengan termometer dan melihat
suhu tubuh Boy mencapai 39’. Sedikit panik, Joya menelpon dokter Risman.
dr. Risman : “Halo.”
Joya : “Dokter,
cepat datang ke rumah Ny. Besar. Boy demam tinggi sampai 39’.”
dr. Risman : “Tenang,
Joya. Apa dia sadar?”
Joya : “Saya
sudah panggil berkali-kali tapi gak bangun juga, dokter.”
dr. Risman : “Saya
kesana sekarang. Coba dikompres dulu ya.”
Joya : “Iya,
dokter.”
Joya meletakkan
ponselnya dan berlari keluar kamar. Ia menuruni tangga dengan cepat dan membuka
pintu depan yang sudah dikunci. Joya memberitahu security untuk membukakan
pintu saat dokter Risman datang.
Keributan yang
ditimbulkan Joya, membuat Ny. Besar keluar dari kamarnya. Ia melihat Joya
berlari masuk ke dalam rumah,
Ny. Besar : “Joya,
ada apa?”
Joya : “Mas
Boy, bu. Mas Boy demam tinggi.”
Ny. Besar
segera naik ke lantai 2, sementara Joya mengambil baskom di dapur dan juga
handuk kecil dari lemari. Ia menyusul Ny. Besar yang sedang berusaha
membangunkan putra bungsunya itu.
Boy sempat
membuka matanya sebentar dan menggenggam tangan Ny. Besar sebelum kembali tidak
sadar.
*****
Next, Lia berusaha menarik perhatian Boy.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1