Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Kado untuk Boy


__ADS_3

Joya : “Nah,


akhirnya ketemu juga.”


Joya menutup


mulutnya dengan tangan. Ia melirik ke atas ranjang, Boy tampak berbalik badan


menghadap kearahnya. Tapi matanya masih terpejam.


Joya : “Fiuh...


hampir saja. Aku harus menyimpannya ditempat lain atau hadiah ini akan


ditemukan mas Boy.”


Joya celingukan


mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan hadiah Boy. Ia melihat ada rak di


bawah nakas dan meletakkan hadiah itu disana.


Joya :


“Sepertinya akan aman disini. Lanjut tidur ach.”


Setelah Joya


berbaring di sampingnya, Boy membuka matanya dan tersenyum melirik rak dibawah


nakas.


Boy : “Disitu


rupanya kau menyimpan kado untukku.” gumam Boy dalam hati. Ia membalik


tubuhnya lagi dan memeluk tubuh Joya yang mulai terlelap ke alam mimpi.


*****


Pagi hari, pagi


yang sangat indah karena Joya terbangun dalam keadaan yang sangat segar. Ia


melihat ke samping, Boy masih tidur. Joya mengamati wajah ganteng Boy, tidur


aja ganteng.


Ia menyusuri


wajah Boy dengan jemarinya,


Joya : “Mas


Boy...”


Boy hanya


menggeram saat dirinya dipanggil.


Joya : “Mas...”


Joya semakin


berani menoel-noel pipi Boy. Segala resikonya karena mengganggu tidur suaminya


ini akan ia tanggung sendiri nanti.


Joya : “Mas,


bangun...”


Boy : “Hmm...


apa?”


Boy terbangun


dan melihat wajah cantik Joya sedang tersenyum menatapnya.


Boy : “Cantik


banget. Pagi, sayang.”


Joya : “Pagi,


mas. Selamat ulang tahun. Semoga kamu selalu sehat dan perkasa, kuat dan


bertenaga, selalu bahagia dan sukses dalam apapun.”


Boy :


“Apa-apaan ucapan selamat seperti itu. Kalimatmu menggodaku, sayang.”


Joya : “Tuch,


kan. Tangannya tidak bisa dikondisikan dengan baik.” gumam Joya dalam hati.


Boy : “Apa kita


bisa... pagi ini...?”


Joya : “Kita


harus ke kantor dan ini sudah hampir siang, mas. Nanti malam, ya?”


Boy : “Kau yang


minta ya.”


Joya : “Aku


tidak... maksudku...”


Boy tidak


mendengarkan penjelasan dari Joya lagi. Ia masuk ke kamar mandi dan segera


mandi dengan cepat. Keluar dari kamar mandi, Joya sudah menyiapkan pakaian dan


perlengkapan suaminya.

__ADS_1


Joya : “Aku


mandi dulu ya, mas.”


Boy : “Aku kira


kau sudah mandi tadi. Tau gitu kan mandi sama-sama.”


Joya : “Ntar


telat, mas.”


Boy segera


memakai pakaiannya, ia ingin melihat Joya berganti baju di depannya. Sambil


duduk di sofa, Boy menunggu Joya keluar. Saat pintu kamar mandi terbuka, Joya


keluar dengan tubuh berbalut handuk mini.


Boy tersenyum


melihat Joya berjalan cepat ke lemari dan mengambil pakaiannya.


Boy : “Kamu mau


kemana?”


Joya : “Mau


pakai baju, mas.”


Boy : “Pakai


disini, sekarang.”


Joya : “Mas


keluar dulu sana, aku malu.”


Boy : “Bagian


mana lagi yang belum kulihat, cepat pakai baju disini atau aku lepas lagi


bajuku nich.”


Joya melihat


Boy hampir menarik dasi yang sudah rapi dipakainya.


Joya : “Iya,


iya... sabar.”


Joya menahan


malunya karena harus berpakaian di depan Boy. Suaminya itu bahkan menarik


selimut yang ia pakai menutupi tubuhnya saat ia sedang memakai pakaian dalam.


Boy : “Untuk


seterusnya wajib begini ya.”


Joya : “Iya,


Joya : “Ya,


ampun malunya. Meski sudah suami istri, tapi aku risih dipandangi begitu sama


mas Boy. Mana tangannya gak bisa diem, bikin jantungan aja.”


Joya akhirnya


selesai memakai bajunya, ia menyisir rambutnya dengan cepat dan memakai lipstik


setelah mengoleskan pelembab ke wajahnya.


Boy : “Kamu


cuma pakai itu aja?”


Joya : “Iya,


mas. Kenapa? Jelek ya?”


Boy : “Aku kira


kau pakai banyak alat make up seperti mb Putri.”


Joya : “Aku


biasanya cuma pakai pelembab tanpa lipstik, mas. Kalau terlalu pucat, baru


pakai blush on sedikit dan lipstik.”


Boy menatap


wajah Joya yang cantik alami, ibunya juga sama seperti Joya. Tidak banyak


memakai make up tapi tetap terlihat cantik.


Boy : “Trus,


mana kadoku?”


Joya : “Kado


mas? Nanti sore ya. Kan pestanya nanti sore.”


Boy : “Kalau


gitu aku harus dapat DP-nya dulu.”


Joya : “DP?


Memangnya mau nyicil mobil? Hihi...”


Boy : “Aku


harus minta jaminan kalau akan ada kado untuk nanti. Tahun lalu kau tidak

__ADS_1


memberiku kado.”


Joya : “Aku


sudah menyiapkannya, tapi mas pergi gitu aja. Ngambek.”


Boy : “Kau kan


bisa menaruhnya di kamarku.”


Boy memencet


hidung Joya dengan gemas.


Joya : “Ntar


kadoku dibuang lagi. Lagian kadonya mahal, jadi aku simpan lagi.”


Boy : “Kalo


gitu, kadoku tahun ini double ya?”


Joya : “Apa?


Tapi...”


Boy : “Ayo


cepat sarapan, kita berangkat ke kantor.”


Joya mengikuti


langkah Boy yang sudah menariknya keluar dari kamar. Mereka sarapan bersama dan


pergi ke kantor bersama. Boy mengantar Joya dulu ke kantornya dan berbalik arah


menuju kantornya sendiri.


*****


Jam 3 sore,


Joya bersiap-siap untuk pulang. Ia sudah mendapat ijin pulang cepat dengan


alasan Boy ulang tahun. Semua orang di kantor itu sudah mengetahui kalau Joya


menikah dengan  salah satu pemegang saham


di perusahaan itu. Jadi kalau menyangkut tentang Boy, bahkan direktur juga


tidak bisa berkata apa-apa.


Meskipun


menjadi istri pemegang saham, Joya tidak pernah bertingkah sombong dan angkuh.


Ia sangat ramah dengan siapapun termasuk OB dan security.


Joya berjalan


ke loby kantornya, ia menunggu Rian yang sedang dalam perjalanan menuju


kantornya. Tadi Rian sempat menelpon dan mengatakan akan menjemput Joya


sekalian membawa barang pesanan Ny. Besar untuk pesta ulang tahun Boy.


Security : “Mb


Joya lagi nunggu siapa?”


Joya : “Eh,


pak. Saya lagi nunggu jemputan. Bapak giliran shift sore ya. Gimana kabar istri


bapak? Sudah sehat?”


Security : “Iya,


bu. Terima kasih banyak sudah membantu biaya pengobatan istri saya. Sekarang


dia sudah sehat kembali.”


Joya :


“Syukurlah kalau begitu, pak. Itu jemputan saja sudah datang. Saya pulang dulu,


ya pak.”


Security


membukakan pintu untuk Joya dan mobil meluncur keluar dari halaman kantor Joya.


Joya : “Kak


Rian, masih ada lagi yang perlu diambil gak?”


Rian : “Tidak


ada, nona. Sudah semua.”


Mereka segera


sampai di rumah Ny. Besar yang sedang sibuk dengan persiapan pesta sederhana


untuk ulang tahun Boy. Pesta ulang tahun yang hanya akan dihadiri keluarga


terdekat saja. Boy tidak mau mengundang relasinya karena memang sejak dulu


ulang tahun Boy satu-satunya yang tidak dihadiri orang luar.


Boy tidak suka


ketika ia sedang menikmati pesta ulang tahunnya, ia harus sibuk menemani para


tamu undangan. Boy akan duduk bersama Ny. Besar dan mengobrol sampai keduanya


mengantuk.


*****


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2