
Sudah lumrah ya kalau setelah malam pertama pernikahan, pasangan pengantin baru pasti bangun kesiangan. Termasuk juga bagi pasangan Aliya dan Aldo. Jam di ponsel mereka sudah menunjukkan hampir jam 9.30
pagi, tapi keduanya masih betah di bawah selimut.
Aliya menggeliat dibawah selimutnya, ia mengedarkan pandangan mencoba mengingat dimana keberadaannya.
Aliya : “Aaooww.. Sakit…”
Aliya merasakan tubuhnya sakit, ia menyingkap selimutnya.
Aldo : “Selamat pagi, sayang.”
Aliya refleks menutup rapat tubuhnya dengan selimut, ia melihat ke samping tampak Aldo tersenyum manis menatapnya.
Wajah Aliya bersemu merah melihat senyum Aldo, memorinya berputar mengingat malam pertama pernikahan mereka yang terasa indah.
Aldo : “Sayang, kamu imut banget kalo lagi malu gini. Cium aku.”
Aliya menarik selimut menutupi wajahnya, Aldo menyusup masuk ke dalam selimut Aliya dan menciumnya. Cuma cium ya… maaf author nyela lagi.
Ting, tong… Suara bel pintu kamar membuat Aldo menghentikan ciumannya ada Aliya.
Aldo : “Siapa yang datang?”
Aldo bangkit dari atas tubuh Aliya, mengambil bathrobe dari lemari dan berjalan ke pintu kamar. Sementara Aliya menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala dengan selimut.
Room Service : “Selamat pagi, tuan. Saya mengantar breakfast untuk Tuan Aldo dan Nyonya Aliya. Ini kartunya.”
Aldo membiarkan petugas room service masuk ke dalam kamar, dan menata hidangan diatas meja dengan baik. Ia tersenyum membaca kartu di tangannya, “Untuk adik dan iparku, tolong berhentilah sebentar untuk makan. Setelah itu silakan lanjutkan lagi kegiatan buat anaknya. Kakak tersayang, Alvin.”
Room Service : “Setelah breakfast, tuan bisa menghubungi bagian SPA di ext. 105 untuk paket spa pasangan. Ini kartunya dan selamat menikmati breakfast dari hotel kami. Permisi, tuan.”
Aldo : “Baik, terima kasih.”
Aldo menutup pintu kamar, berjalan mendekati lemari dan mengambil bathrobe untuk Aliya.
Aliya : “Itu dari siapa?”
Aldo : “Ini kartunya.”
Aliya memakai bathrobe dan berjalan perlahan mendekati sofa sambil membaca kartu itu,
Aliya : “Sepertinya aku tahu kita harus kemana dulu ntar sore.”
Aldo : “Alvin sudah menyiapkan ini untuk kita. Ada paket spa juga, jangan marah lagi sama dia.”
Aliya : “Sogokannya boleh juga. Kita beli hadiah untuk baby Arya ya.”
Aldo : “Ok.”
Aliya dan Aldo menikmati breakfast yang sudah tersedia, sesekali ngobrol sambil bercanda. Aldo terus saja menatap Aliya yang terlihat cantik meski belum mandi. Sementara Aliya tidak berani membalas tatapannya, ia masih malu setelah malam pertama mereka.
__ADS_1
-------
Aliya dan Aldo bersiap turun untuk mengambil paket spa yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Dua orang therapist sudah siap menunggu mereka. Sebuah sekat memisahkan antara Aliya dan Aldo, mereka hanya bisa saling bertatap muka saja.
Tengah asyik menikmati pijatan, seseorang mengetuk pintu ruangan, Deril dan Mila masuk ke ruangan itu membawa sebuah hadiah yang cukup besar. Aliya meminta tolong pada Mila untuk membelikan hadiah baby Arya, karena Aliya tidak terlalu familiar dengan mall di kota itu.
Deril dan Mila yang kebetulan masih berada di Indonesia setelah menghadiri pernikahan Aliya dan Aldo dengan senang hati membantu. Aliya dan Aldo berpandangan melihat kemesraan Deril dan Mila, meskipun belum juga hamil. Deril terlihat sangat menyayangi Mila.
Mila : “Aliya, ini hadiah yang kau pesan. Ada lagi yang bisa kubantu?”
Aliya : “Makasih mb Mila, aku cukup merepotkan ya.”
Mila : “Akh, tidak juga. Sekalian tadi aku menemukan sesuatu yang bagus.” Mila mengerling nakal pada Deril.
Deril : “Apa itu, sayang?”
Mila membisikkan sesuatu pada Deril yang langsung melihat jam tangannya,
Deril : “Tidak akan sempat… tapi kita bisa check in bentar…”
Mila : “Tapi pesawat kita…”
Deril : “Di dekat bandara ada. Ayo…”
Deril dan Mila bangkit dari sofa yang mereka tempati tadi.
Aliya : “Kalian mau kemana?”
Mila : “Bye Aliya, bye Aldo. CU di LN.”
Aliya menatap Aldo yang sudah tersenyum mesum sambil menatapnya,
Aldo : “Habis ini kita lakukan lagi ya.”
Kata-kata Aldo membuat wajah Aliya memerah, sementara dua therapist yang memijat mereka menahan tawanya. Seolah mengerti hasrat pengantin baru itu, bathup berisi air hangat dan kepingan mawar sudah disiapkan polountuk mereka berdua.
Aldo diminta masuk lebih dulu dan therapist pria menuangkan susu ke pundaknya. Setelah therapist pria keluar dari sana, giliran Aliya yang masuk ke bath up.
Therapist wanita : “Saya akan keluar dulu dan kembali sekitar 1 jam lagi. Apa waktunya cukup untuk anda berdua?”
Aliya menunduk malu, ia mengalihkan pandangannya pada mawar yang terletak di pinggir bathup.
Aldo : “Satu jam cukup, bisa tolong kunci pintunya?”
Therapist wanita : “Pintu keluar akan otomatis terkunci dan password untuk membukanya 123456, saya akan menggunakan kunci untuk masuk nanti. Saya permisi, tuan dan nyonya.”
Baru saja terdengar suara pintu ditutup, Aldo menarik tangan Aliya agar mendekat padanya.
Aldo : “Sayang, jangan jauh-jauh.”
Aliya : “Jangan bilang kau ingin melakukannya disini.”
__ADS_1
Aldo : “Kesempatan itu selalu ada, sayang. Sebentar saja.”
-------
Sore hari setelah cukup beristirahat dan check out dari hotel, Aliya dan Aldo berkunjung ke rumah baby Arya. Bayi itu sedang mencoba duduk di ruang keluarga bersama Rara, pipi gembulnya semakin gembul karena cemberut.
Aliya : “Hai, baby Ar…”
Rara : “Hai, pengantin baru. Gimana rasanya?”
Aliya : “Rasa apa nich, kak?”
Rara : “Rasanya jadi pengantin baru?”
Aliya : “Enak juga ternyata..”
Aliya tersenyum malu sambil melirik Aldo yang cengengesan. Aldo mengangkat baby Arya yang kesal karena belum bisa duduk. Baby Arya menatap Aldo dan tertawa terbahak-bahak.
Rara : “Lihat, Aldo cocok jadi papa ya.”
Aliya membuka hadiah untuk baby Arya, beberapa mainan dan juga alat bantu belajar berdiri untuk bayi.
Aliya : “Dimana Alvin?”
Rara : “Sebentar lagi dia pulang, kalian mau makan apa?”
Suara gelak tawa baby Arya membuat Rara dan Aliya menoleh, Alvin baru masuk ke dalam rumah.
Alvin : “Halo, pengantin baru.”
Aliya : “Hai, kakak sayang…”
Alvin langsung mode waspada, tapi pukulan Aliya sudah mengenai perutnya dengan telak. Bug! Alvin tersungkur di atas sofa.
Rara : “Astaga, apa yang terjadi?”
Aliya menyerahkan paper bag yang penuh berisi mainan baby Arya pada Rara.
Rara : “Kenapa mainan baby Arya ada sama kamu?”
Aliya : “Tanya aja sama Alvin, bikin acara romantis jadi berantakan.”
Alvin tidak bisa menjawab, Aliya benar-benar menindas kakaknya sampai menangis. Sementara baby Arya tertawa girang melihat papanya merintih kesakitan.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
-------