Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Boy sembuh


__ADS_3

Joya merasakan


tangan Boy bergerak, ia menoleh menatap Boy yang sedang menatapnya juga.


Joya : “Mas...


Mas udah bangun... Mau minum?”


Boy mengangguk


lemah, ia menoleh menatap ibunya yang sedang mengusap peluh di dahinya. Joya


menyodorkan sedotan di dalam gelas pada Boy yang langsung menyedot habis isi


dalam gelas itu.


Joya : “Mau


lagi, mas?”


Boy menggeleng,


ia kembali menatap ibunya.


Boy : “Bu,


cerita lagi...”


Ny. Besar : “Dari


tadi kamu nguping?”


Joya : “Mas gak


mau makan dulu? Aku buatin bubur ya.”


Boy : “Nggak.


Mau denger cerita...”


Ny. Besar


menatap keduanya yang menunggunya melanjutkan kisah malam pertamanya dulu.


Ny. Besar : “Hais...


Habis itu ibu mandi dan keluar kamar mandi cuma pake handuk doang.”


Joya : “Apa


ayah gak tergoda melihat ibu?”


Ny. Besar : “Waktu


ibu keluar, ibu lihat ayahmu lagi duduk di sofa, lagi ngobrol di telpon. Entah siapa


yang dia telpon jam segitu. Ibu celingak-celinguk nyari koper ibu, tapi gak


ketemu. Nah, ayahmu tiba-tiba bangun dari sofa dan mendekati ibu.” Ny. Besar diam


beberapa saat membuat Joya geregetan.


Joya : “Ayah


ngapain? Ibu...”


Ny. Besar : “Ayahmu


menarik tangan ibu masuk ke walk in closet. Dia nunjuk-nunjuk lemari trus keluar


gitu aja. Ibu buka dong lemarinya dan baju-baju ibu sudah tergantung rapi di


dalam sana. Ada juga beberapa baju baru dan piyama tidur.”


Joya : “Ibu


pakai piyama? Yang keliatan belahan dadanya?”


Ny. Besar : “Mana


ada piyama gitu dulu. Cuma piyama biasa, mirip dress gitu. Tapi ya gitu, waktu


ibu pakai, piyamanya memang nunjukin belahan dada sich.”


Joya


senyum-senyum menatap Boy yang juga tersenyum padanya. Suhu tubuh Boy sudah


turun.


Ny. Besar : “Ibu


keluar dari walk in closet sambil mengeringkan rambut ibu, ayahmu sudah duduk


di atas tempat tidur. Dia minta ibu mengeringkan rambut pakai hair dryer diatas


meja rias. ‘Keringin rambutmu dulu, baru tidur. Aku tidur duluan’. Ibu cuma


manggut-manggut. Habis rambut ibu kering, ayahmu sudah ngorok dengan posisi


tengkurap.”


Joya : “Yah,


gak jadi malam pertama dong.”


Boy : “Emangnya


ibu malam pertama kapan?”


Ny. Besar : “Ibu

__ADS_1


ingat waktu itu, ayahmu sering pulang malam habis kami menikah. Sampai suatu


malam tepat 2 bulan setelah tanggal pernikahan, ayahmu pulang dalam keadaan


mabuk.”


Boy : “Ayah


mabuk?”


Ny. Besar : “Ibu


gak ngerti juga entah mabuk beneran atau pura-pura. Mulut dan bajunya bau


alkohol. Yang jelas waktu ibu lagi mengganti baju ayahmu, dia bilang cinta sama


ibu.”


Joya : “Hah?


Itu beneran?”


Ny. Besar : “Ibu


ragu karena ayah kan lagi mabuk. Jadi ibu gak menanggapi. Eh, waktu ibu mau


pakaikan baju ke ayah, ibu malah ditarik ke atas tempat tidur.”


Joya : “Trus?”


Ny. Besar : “Ayah


nanya sama ibu, ‘kamu gak cinta sama aku ya?’. Ibu bengong sebentar, trus


manggut-manggut sambil bilang, ‘cinta kok’. Ayahmu itu, langsung nyium ibu.”


Joya : “Trus


kejadian dech.”


Boy : “Kamu


nich, sabar kenapa sich. Lanjut, bu.” Boy mencubit hidung Joya dengan gemas.


Ny. Besar : “Ibu


kaget, gak sengaja dorong ayahmu. Ayah sempat ngambek, trus ibu tanya lagi, ‘kamu


beneran cinta sama aku?’ giliran ayah yang manggut-manggut.”


Boy : “Trus, bu?”


Joya mencubit


lengan Boy dan menaikkan alisnya menatap Boy yang meringis padanya.


Ny. Besar : “Ibu


gak tau dah. Tau-tau udah kejadian aja, paginya ibu bangun badan rasanya sakit


sampai siang.”


Joya : “Ibu kok


gak gedor-gedor pintu kamar waktu kami baru nikah?”


Ny. Besar : “Karena


ibu tahu gimana malunya habis malam pertama, tau. Ayahmu sampai buru-buru


bangun, cuma pake handuk doang, bukain pintu kamar. Ibu waktu itu digodain


hampir seminggu lebih. Ayahmu sampe dikatain bocah gemblung karena baru berani


menyentuh ibu setelah 2 bulan menikah. Rupanya ayahmu pemalu.”


Joya : “Galak


tapi pemalu.”


Ny. Besar : “Karena


pemalu makanya galak. Sebenarnya ayahmu sudah mau menyerang ibu waktu ibu cuma


pake handuk doang di malam pertama kami. Tapi ayah malu.”


Joya : “Hihi...


kalo mas Boy sudah menyerang sebelum sah, bu.”


Ny. Besar : “Itu


mah karena kelamaan jomblo. Sekalinya disodorin perawan, gercep dech.”


Joya tertawa


bersama Ny. Besar, yang diketawain cuma bisa senyum miris.


Joya : “Bu, kenapa


ibu menjodohkan Joya dengan mas Boy?”


Ny. Besar : “Apa


ya? Ibu gak mau jauh-jauh dari kamu, Joya.”


Joya : “Kalo


misalnya mas Boy gak mau, gimana bu?”


Ny. Besar : “Ibu

__ADS_1


sempat mau bawa kalian ke pulau pribadi ayah. Trus ibu tinggal disana berdua.


Khilaf gak.”


Boy : “Gak usah


sampe ke pulau. Di rumah ini aja berduaan uda hampir khilaf. Ya kan?”


Boy mencolek


dagu Joya, membuatnya tersipu malu.


Joya : “Mas Boy


kan maksa. Maksa nyium, itu tangan juga gak bisa diem.”


Boy : “Kamunya


juga gak nolak. Pasrah aja.”


Joya : “Gak


tuch, masa iya aku mukul mas. Ntar dituntut kekerasan. Gak lucu headline


korannya, pembantu pukul majikan karena mesum.”


Boy : “Bilang


aja kamu dah jatuh cinta sama aku.”


Joya : “Mas


juga kan.”


Keduanya terus


berdebat sampai menyadari kalau Ny. Besar sudah tidak terdengar lagi suaranya.


Joya menoleh ke samping Boy. Ibu mertuanya itu sudah tertidur lelap.


Joya : “Sssttt.


Mas, ibu sudah tidur. Mas juga tidur ya. Mau minum lagi?”


Boy : “Aku mau


ke toilet. Anterin, pegangin juga.”


Joya : “Mas


pusing ya?”


Boy : “Nggak


sich.”


Joya : “Trus


apanya yang dipegangin?”


Boy : “Itu


dibawah.”


Joya : “Idih,


mesum.”


Boy : “Kamu kan


istriku. Cepetan, aku dah kebelet.”


Mereka berdua


masuk ke kamar mandi dan terdengar suara tawa dari dalam sana. Joya hanya


memegangi infus Boy dan berdiri di samping suaminya itu.


Keluar dari


kamar mandi, Boy kembali berbaring di atas ranjang, disamping ibunya. Joya


mengambil bed cover dari dalam lemari dan menyelimuti ibu mertuanya. Ia juga


mengambil bed cover lain dan bantal yang ia taruh diatas sofa.


Joya : “Mas


tidur lagi ya. Aku tidur di sofa.”


Boy : “Aku


tidur sama kamu aja ya. Ntar ibu ketularan demam.”


Joya : “Tapi


infus mas?”


Boy mencabut


jarum dari tangannya dan menekan darah yang keluar. Joya segera memasangkan


plester yang sudah disiapkan dokter Risman diatas nakas. Keduanya berbaring di


sofa saling berpelukan, membiarkan ibu tertidur dengan nyaman diatas tempat


tidur.


*****


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2