
Joya merasakan
tangan Boy bergerak, ia menoleh menatap Boy yang sedang menatapnya juga.
Joya : “Mas...
Mas udah bangun... Mau minum?”
Boy mengangguk
lemah, ia menoleh menatap ibunya yang sedang mengusap peluh di dahinya. Joya
menyodorkan sedotan di dalam gelas pada Boy yang langsung menyedot habis isi
dalam gelas itu.
Joya : “Mau
lagi, mas?”
Boy menggeleng,
ia kembali menatap ibunya.
Boy : “Bu,
cerita lagi...”
Ny. Besar : “Dari
tadi kamu nguping?”
Joya : “Mas gak
mau makan dulu? Aku buatin bubur ya.”
Boy : “Nggak.
Mau denger cerita...”
Ny. Besar
menatap keduanya yang menunggunya melanjutkan kisah malam pertamanya dulu.
Ny. Besar : “Hais...
Habis itu ibu mandi dan keluar kamar mandi cuma pake handuk doang.”
Joya : “Apa
ayah gak tergoda melihat ibu?”
Ny. Besar : “Waktu
ibu keluar, ibu lihat ayahmu lagi duduk di sofa, lagi ngobrol di telpon. Entah siapa
yang dia telpon jam segitu. Ibu celingak-celinguk nyari koper ibu, tapi gak
ketemu. Nah, ayahmu tiba-tiba bangun dari sofa dan mendekati ibu.” Ny. Besar diam
beberapa saat membuat Joya geregetan.
Joya : “Ayah
ngapain? Ibu...”
Ny. Besar : “Ayahmu
menarik tangan ibu masuk ke walk in closet. Dia nunjuk-nunjuk lemari trus keluar
gitu aja. Ibu buka dong lemarinya dan baju-baju ibu sudah tergantung rapi di
dalam sana. Ada juga beberapa baju baru dan piyama tidur.”
Joya : “Ibu
pakai piyama? Yang keliatan belahan dadanya?”
Ny. Besar : “Mana
ada piyama gitu dulu. Cuma piyama biasa, mirip dress gitu. Tapi ya gitu, waktu
ibu pakai, piyamanya memang nunjukin belahan dada sich.”
Joya
senyum-senyum menatap Boy yang juga tersenyum padanya. Suhu tubuh Boy sudah
turun.
Ny. Besar : “Ibu
keluar dari walk in closet sambil mengeringkan rambut ibu, ayahmu sudah duduk
di atas tempat tidur. Dia minta ibu mengeringkan rambut pakai hair dryer diatas
meja rias. ‘Keringin rambutmu dulu, baru tidur. Aku tidur duluan’. Ibu cuma
manggut-manggut. Habis rambut ibu kering, ayahmu sudah ngorok dengan posisi
tengkurap.”
Joya : “Yah,
gak jadi malam pertama dong.”
Boy : “Emangnya
ibu malam pertama kapan?”
Ny. Besar : “Ibu
__ADS_1
ingat waktu itu, ayahmu sering pulang malam habis kami menikah. Sampai suatu
malam tepat 2 bulan setelah tanggal pernikahan, ayahmu pulang dalam keadaan
mabuk.”
Boy : “Ayah
mabuk?”
Ny. Besar : “Ibu
gak ngerti juga entah mabuk beneran atau pura-pura. Mulut dan bajunya bau
alkohol. Yang jelas waktu ibu lagi mengganti baju ayahmu, dia bilang cinta sama
ibu.”
Joya : “Hah?
Itu beneran?”
Ny. Besar : “Ibu
ragu karena ayah kan lagi mabuk. Jadi ibu gak menanggapi. Eh, waktu ibu mau
pakaikan baju ke ayah, ibu malah ditarik ke atas tempat tidur.”
Joya : “Trus?”
Ny. Besar : “Ayah
nanya sama ibu, ‘kamu gak cinta sama aku ya?’. Ibu bengong sebentar, trus
manggut-manggut sambil bilang, ‘cinta kok’. Ayahmu itu, langsung nyium ibu.”
Joya : “Trus
kejadian dech.”
Boy : “Kamu
nich, sabar kenapa sich. Lanjut, bu.” Boy mencubit hidung Joya dengan gemas.
Ny. Besar : “Ibu
kaget, gak sengaja dorong ayahmu. Ayah sempat ngambek, trus ibu tanya lagi, ‘kamu
beneran cinta sama aku?’ giliran ayah yang manggut-manggut.”
Boy : “Trus, bu?”
Joya mencubit
lengan Boy dan menaikkan alisnya menatap Boy yang meringis padanya.
Ny. Besar : “Ibu
gak tau dah. Tau-tau udah kejadian aja, paginya ibu bangun badan rasanya sakit
sampai siang.”
Joya : “Ibu kok
gak gedor-gedor pintu kamar waktu kami baru nikah?”
Ny. Besar : “Karena
ibu tahu gimana malunya habis malam pertama, tau. Ayahmu sampai buru-buru
bangun, cuma pake handuk doang, bukain pintu kamar. Ibu waktu itu digodain
hampir seminggu lebih. Ayahmu sampe dikatain bocah gemblung karena baru berani
menyentuh ibu setelah 2 bulan menikah. Rupanya ayahmu pemalu.”
Joya : “Galak
tapi pemalu.”
Ny. Besar : “Karena
pemalu makanya galak. Sebenarnya ayahmu sudah mau menyerang ibu waktu ibu cuma
pake handuk doang di malam pertama kami. Tapi ayah malu.”
Joya : “Hihi...
kalo mas Boy sudah menyerang sebelum sah, bu.”
Ny. Besar : “Itu
mah karena kelamaan jomblo. Sekalinya disodorin perawan, gercep dech.”
Joya tertawa
bersama Ny. Besar, yang diketawain cuma bisa senyum miris.
Joya : “Bu, kenapa
ibu menjodohkan Joya dengan mas Boy?”
Ny. Besar : “Apa
ya? Ibu gak mau jauh-jauh dari kamu, Joya.”
Joya : “Kalo
misalnya mas Boy gak mau, gimana bu?”
Ny. Besar : “Ibu
__ADS_1
sempat mau bawa kalian ke pulau pribadi ayah. Trus ibu tinggal disana berdua.
Khilaf gak.”
Boy : “Gak usah
sampe ke pulau. Di rumah ini aja berduaan uda hampir khilaf. Ya kan?”
Boy mencolek
dagu Joya, membuatnya tersipu malu.
Joya : “Mas Boy
kan maksa. Maksa nyium, itu tangan juga gak bisa diem.”
Boy : “Kamunya
juga gak nolak. Pasrah aja.”
Joya : “Gak
tuch, masa iya aku mukul mas. Ntar dituntut kekerasan. Gak lucu headline
korannya, pembantu pukul majikan karena mesum.”
Boy : “Bilang
aja kamu dah jatuh cinta sama aku.”
Joya : “Mas
juga kan.”
Keduanya terus
berdebat sampai menyadari kalau Ny. Besar sudah tidak terdengar lagi suaranya.
Joya menoleh ke samping Boy. Ibu mertuanya itu sudah tertidur lelap.
Joya : “Sssttt.
Mas, ibu sudah tidur. Mas juga tidur ya. Mau minum lagi?”
Boy : “Aku mau
ke toilet. Anterin, pegangin juga.”
Joya : “Mas
pusing ya?”
Boy : “Nggak
sich.”
Joya : “Trus
apanya yang dipegangin?”
Boy : “Itu
dibawah.”
Joya : “Idih,
mesum.”
Boy : “Kamu kan
istriku. Cepetan, aku dah kebelet.”
Mereka berdua
masuk ke kamar mandi dan terdengar suara tawa dari dalam sana. Joya hanya
memegangi infus Boy dan berdiri di samping suaminya itu.
Keluar dari
kamar mandi, Boy kembali berbaring di atas ranjang, disamping ibunya. Joya
mengambil bed cover dari dalam lemari dan menyelimuti ibu mertuanya. Ia juga
mengambil bed cover lain dan bantal yang ia taruh diatas sofa.
Joya : “Mas
tidur lagi ya. Aku tidur di sofa.”
Boy : “Aku
tidur sama kamu aja ya. Ntar ibu ketularan demam.”
Joya : “Tapi
infus mas?”
Boy mencabut
jarum dari tangannya dan menekan darah yang keluar. Joya segera memasangkan
plester yang sudah disiapkan dokter Risman diatas nakas. Keduanya berbaring di
sofa saling berpelukan, membiarkan ibu tertidur dengan nyaman diatas tempat
tidur.
*****
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.