
Eps. 20 – Situasi memalukan
Boy dan Joya menikmati makan malam mereka sambil mengobrol dengan Melinda dan Azriel. Sesama
teman memang harus saling berbagi tanpa khawatir apapun.
Usai makanan habis, Boy dan Joya berpamitan pulang ke rumah Ny. Besar. Mereka harus istirahat
agar besok bisa kembali bekerja.
Sampai di rumah Ny. Besar, semua penghuni rumah sepertinya sudah tidur. Boy dan Joya berhenti
di depan kamar Ny. Besar dan Joya mengintip ke dalam. Ny. Besar tampak sudah
tertidur dibalik selimutnya.
Joya : “Sstt... ibu sudah tidur. Kita keatas aja, mas.”
Boy mengangguk, mereka bergandengan tangan naik ke lantai 2 dan masuk ke kamar mereka. Joya
ingin mandi dulu sebelum tidur. Ia melepas pakaiannya hingga tersisa pakaian
dalam saja. Boy tentu saja menikmati pemandangan indah tubuh istrinya. Tapi ia
masih harus puasa 1 minggu penuh, meskipun tadi sempat melanggar pantangan dokter.
Joya : “Mas mau mandi?”
Boy : “Iya. Tapi kamu duluan aja.”
Joya masuk ke dalam kamar mandi dengan tenang. Ia mandi dengan cepat agar bisa gantian dengan
Boy. Diluar kamar mandi Boy berkutat dengan ponselnya, ia membalas chat dengan
Rian yang tak henti-henti sejak 2 hari ini.
Niken menemukan salah satu pejabat di perusahaan Boy melakukan kecurangan pada nilai proyek
yang berada di bawah pengawasannya. Dengan kecurangan itu ia baru saja membeli
sebuah rumah mewah di kawasan elit dengan menggunakan nama anaknya.
Boy sudah bersiap kalau-kalau proyek itu mengalami kemunduran dan berakhir dengan
kerugian bagi perusahaan. Masalahnya adalah sangat sulit mencari bukti yang
memberatkan orang itu. Dan sepertinya sebagian besar karyawan di bagian itu
sudah disuap olehnya.
Boy meminta Niken untuk mundur saja dan tetap mengawasi bagiannya. Ia juga meminta Rian
menyiapkan cadangan orang untuk menggantikan posisi karyawan yang dicurigai
sudah menerima suap.
Salah satu orang kepercayaan Boy juga, Nando, berada pada department yang sama dengan
orang yang curang itu dan ia baru saja menerima sejumlah uang yang ditransfer
ke rekeningnya. Nandi segera mentransfer uang itu ke rekening pribadi Boy dan
mengirimkan screen shot bukti transfernya.
Nando : “Tuan Boy, saya baru saja menerima uang transfer bagian saya dari Pak Joni. Sudah
saya transfer kembali ke rekening bapak. Berikut screen shot bukti transfernya.”
__ADS_1
Boy : “Ok, Nando. Usahakan dapat bukti perbuatan Pak Joni. Tapi kamu harus hati-hati.”
Nando : “Baik, tuan.”
Boy semakin stress dengan masalah yang datang. Rian memberitahunya kalau mereka harus
meeting keluar kota besok dan perusahaan akan berada tanpa pengawasan selama
mereka pergi.
Boy : “Kau bisa pergi dengan Niken? Aku baru saja kembali dan cukup melelahkan kalau harus
pergi lagi. Katakan pada semua orang kalau kita pergi bertiga. Aku akan tetap
di rumah mengawasi perusahaan.”
Rian : “Baik, bos. Aku akan segera menyiapkannya.”
Boy : “Kuberi waktu 4 hari, bersenang-senanglah dengan Niken disana. Tapi kau harus cepat
kembali.”
Rian : “Kami akan langsung pulang, bos. Niken sudah melotot padaku melihat chat dari bos.”
Boy : “Ya, baiklah. Terima kasih sudah ikut menjaga perusahaan ayah. Kalian harus
berhati-hati.”
Rian : “Siap, bos.”
Boy meletakkan ponselnya ke atas nakas. Ia merasa sangat lelah dan tubuhnya terasa tidak
nyaman. Joya yang baru selesai mandi, melihat Boy memijat kepalanya.
Joya : “Mas kenapa? Pusing?”
Boy : “Hmm...”
Boy masuk ke kamar mandi tanpa mengunci pintunya. Joya meminta Boy jangan mandi lama-lama
agar tidak masuk angin. Boy selesai mandi, ia keluar hanya memakai handuk dan
langsung duduk diatas tempat tidur.
Joya : “Baring sini, mas.”
Boy berbaring diatas ranjang, Joya menarik selimut menutupi tubuh Boy.
Joya : “Handuknya buka aja ya.”
Boy : “Kamu mau nakal ya?” goda Boy sambil menarik tangan Joya mendekat.
Joya : “Nggak, cuma mau pijiit. Handuk mas kan basah, ntar masuk angin.”
Boy mengikuti keinginan istrinya itu. Ia hanya terlentang diatas ranjang dan Joya mulai
mengoleskan minyak kayu putih ke tubuh Boy. Sesekali Joya memijat bagian
lengan, dada, dan perut Boy. Joya tersenyum melihat otot bawah Boy menegang. Ia
mengabaikannya dan lanjut memijat paha dan kaki Boy.
Bau minyak kayu putih menguar memenuhi kamar mereka. Pikiran Boy mulai rileks, ia paling suka
kalau di pijat dengan minyak kayu putih. Tapi berbeda sekali dengan otot
bawahnya. Boy tidak bisa tahan kalau Joya menyentuh seluruh tubuhnya seperti itu.
__ADS_1
Joya mendorong tubuh Boy hingga tengkurap. Kali ini Joya naik ke atas tubuh Boy dan duduk di
pinggangnya untuk memijat punggung Boy. Boy menggeram merasakan kulit paha Joya
yang lembut dan dingin menyentuh pinggangnya.
Boy : “Yank, masih lama?”
Joya : “Pahanya belum, mas.”
Boy : “Aku dah gak tahan lagi.”
Joya : “Mas mau ngapain? Kebelet?”
Joya bangkit dari tubuh Boy, duduk di sampingnya. Boy mengukung Joya dibawah tubuhnya. Tapi
saat Boy hampir melakukan sesuatu yang intim, Duuuttt!! Situasinya berubah jadi
memalukan karena angin keluar dari bokong Boy alias kentut. Wajah Joya memerah
seketika menahan tawanya.
Joya : “Hihihihi....”
Boy langsung memeluk tubuh Joya, ia malu kepergok kentut di depan Joya. Boy membenamkan
wajahnya di leher Joya yang belum berhenti tertawa.
Joya : “Hihihihi. Udah enakan perutnya, mas?”
Boy tidak menjawab, ia menggesekkan hidungnya ke leher Joya. Joya menjerit kegelian, ia
terus menghindar sampai bunyi duuuttt!! kedua kembali terdengar.
Joya : “Huahahahahaha....”
Boy benar-benar malu pada Joya, tapi ia senang mendengar suara tawa Joya yang lepas. Wajah Joya
pasti terlihat semakin manis dengan senyumnya yang merekah.
Boy : “Belum puas ketawa?”
Joya : “Udah, mas. Gak lagi. Hihihi... Maaf.”
Boy menegakkan tubuhnya menatap wajah Joya yang memang terlihat lebih manis dengan senyum mengembang. Sesekali Joya masih keceplosan tertawa.
Boy : “Yang dibelakang uda keluar, giliran yang di depan.”
Joya : “Belum boleh, mas. Jangan nakal.”
Boy : “Tadi boleh.”
Joya : “Mas kan maksa.”
Boy : “Gak boleh nich?”
Joya : “Gak boleh. Mas, kita tidur aja ya. Besok kan mas kerja.”
Boy berbaring di samping Joya, ia meraih Joya dalam pelukannya.
Boy : “Besok aku kerja di rumah.” Joya : “Mas gak enak badan ya? Mau kubuatkan sup?”
Boy : “Bukan gitu. Perusahaan lagi gawat. Ada pejabat yang korupsi tapi kami gak punya
bukti. Hadeh, aku pusing.”
Joya : “Oh, gitu. Kenapa gak dijebak aja, mas?”
__ADS_1
*****
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan jejakmu). Tq.