
Eps. 21 – Gak
mau jauh
Boy ikut
tersenyum melihat Joya terlihat sangat gembira. Ternyata begini banget rasanya
punya istri ngidam sampai harus rela tidur di luar biar gak ngambek aja.
Mereka segera
kembali ke rumah karena Boy harus pergi ke kantor. Tapi sepertinya Boy tidak
bisa berangkat ke kantor sekarang. Joya kembali membuat ulah dengan meminta Boy
memasak mie goreng untuknya.
Boy yang
seumur-umur belum pernah masuk dapur untuk masak, terpaksa masak didampingi Bi
Ijah. Bi Ijah lebih takut tuan mudanya akan membakar dapur nantinya, berjaga
dengan siaga di sampingnya. Joya senyum-senyum menunggu Boy selesai masak.
Rian yang
datang membawakan berkas penting untuk ditanda tangani Boy, melongo mendapati
bosnya sedang berdiri di depan kompor memakai celemek bunga-bunga.
“Maaf, tuan
Boy. Dokumennya sudah ditunggu. Tolong tanda tangan sebentar.”
Boy menoleh
menatap Joya yang masih tersenyum manis. “Sayang, aku tanda tangan bentar ya.”
Joya mengangguk
memberikan ijinnya, Rian menggigil menahan tawanya ketika Boy mendekat masih
memakai celemeknya.
“Kalau sampai
ini bocor di kantor, gak ada bonus bulan ini buat semuanya.”ancam Boy yang
kesal melihat Rian menertawakannya.
“Maaf, tuan.
Hanya saya dan orang di rumah tuan yang tahu. Saya permisi sebentar.”
Boy menghela
nafasnya, demi kebahagiaan Joya dan bayinya, Boy rela melakukan apa saja yang
diinginkan Joya. Mie goreng akhirnya jadi juga. Cuma masak mie goreng tapi Boy
membuat dapur jadi berantakan.
“Sayang, ini
mie-nya. Makan dulu.”
Joya yang
melihat dapur berantakan, langsung masuk ke dapur dan mengambil lap bersih. Boy
melongo melihat Joya malah asyik membersihkan dapur. Bi Ijah sudah melarangnya
__ADS_1
tapi Joya langsung mewek sambil menghentakkan kakinya.
Ny. Lastri yang
baru datang membawa duren lagi, tidak melihat Joya di dapur. Ia hanya melihat
Boy yang masih berdiri di samping meja makan masih memakai celemek bunga-bunga.
“Boy...”Ny. Lastri hampir menertawakan Boy, tapi suara orang muntah membuat mereka
menoleh.
“Hoeek...
Hoeeekkk...”
Bi Ijah
langsung mengambil baskom untuk menampung muntahan Joya ketika mencium bau
duren. Joya memuntahkan sarapannya di pinggir pantai tadi sampai tubuhnya lemas
dan hampir jatuh.
“Joya!!”teriak
Boy segera berlari menangkap Joya yang ditahan Bi Ijah.
Boy menggendong
Joya naik ke lantai 2 masuk ke kamar mereka, ia membaringkan tubuh Joya
perlahan dan menyelimutinya. Diusapnya kening Joya yang berkeringat, “Sayang,
kamu gak pa-pa kan?”
“Mas bau.
Cepetan mandi.”
masuk ke kamar mandi, ia keluar lagi cuma memakai handuk, rambutnya terlihat
basah. Boy membuka lemarinya ingin mengambil pakaian kerjanya, tapi Joya
memanggilnya lagi.
“Mas, sini
dech.”
Boy mendekati
Joya, ia berbaring di samping Joya yang mulai agresif lagi menyentuh tubuhnya. “Sayang,
mas gak boleh ke kantor nich?”
“Nggak. Hari
ini gak boleh kemana-mana. Temenin aku disini.”
Boy menghela
nafasnya, padahal banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor tapi Joya
tidak mau melepaskannya. Joya menempel pada tubuh Boy yang terasa sejuk.
Dirinya sendiri belum mandi dan sepertinya tidak berniat mandi sama sekali.
“Joya, mandi
dulu ya.”
“Kenapa, mas? Aku
__ADS_1
bau ya?”
“Nggak gitu,
sayang. Tapi kamu dari semalem gak mandi, emang gak gerah?”
“Kan ada mas,
adem.”
Boy
geleng-geleng kepala lagi melihat tingkah Joya yang semakin aneh, tidak mau
melepaskannya. Sampai Boy mulai iseng, meraba tubuh Joya di bawah selimut. “Maas...”panggil
Joya.
“Iya, sayang.
Pelan-pelan aja.”
Keduanya
terhanyut dalam ciuman yang dalam, Boy mengecupi bibir Joya, menyesapnya
bergantian penuh perasaan. Sesekali ciuman itu berubah lebih menuntut, sampai
Joya harus mendesah dengan keras untuk mengambil nafasnya.
Satu persatu
Boy menanggalkan pakaian Joya, keduanya kembali bersentuhan tanpa terhalang
pembatas apapun. Tapi saat inti permainan mereka hampir dimulai, seseorang
tiba-tiba masuk ke kamar Boy tanpa ketuk pintu dulu.
“Ups, maaf. Silakan
dilanjut lagi.”Ny. Lastri menutup pintu lagi sambil memukul keningnya. “Siang-siang
gini malah mau gituan. Gak dikunci lagi pintunya.” Ny.Lastri kembali menggiring
Bi Ijah yang membawa mie goreng buatan Boy tadi kembali ke dapur.
Joya dan Boy
bengong menatap pintu yang menutup lagi, mereka sama-sama terkejut ketika Ny.
Lastri tiba-tiba membuka pintu. Untung saja mereka berdua masih berada di bawah
selimut.
“Udah, kita
lanjut lagi?”
“Malu banget,
mas! Kunci pintunya, cepat.”Joya memegangi pipinya yang merona.
Boy bangkit
dari atas tempat tidur, mengunci pintu dengan cepat. Tapi sepertinya Joya tidak
mau melanjutkan apa yang mereka mulai tadi. Ia sudah memejamkan matanya bersiap
untuk tidur.
*****
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.