Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Gak mau jauh


__ADS_3

Eps. 21 – Gak


mau jauh


Boy ikut


tersenyum melihat Joya terlihat sangat gembira. Ternyata begini banget rasanya


punya istri ngidam sampai harus rela tidur di luar biar gak ngambek aja.


Mereka segera


kembali ke rumah karena Boy harus pergi ke kantor. Tapi sepertinya Boy tidak


bisa berangkat ke kantor sekarang. Joya kembali membuat ulah dengan meminta Boy


memasak mie goreng untuknya.


Boy yang


seumur-umur belum pernah masuk dapur untuk masak, terpaksa masak didampingi Bi


Ijah. Bi Ijah lebih takut tuan mudanya akan membakar dapur nantinya, berjaga


dengan siaga di sampingnya. Joya senyum-senyum menunggu Boy selesai masak.


Rian yang


datang membawakan berkas penting untuk ditanda tangani Boy, melongo mendapati


bosnya sedang berdiri di depan kompor memakai celemek bunga-bunga.


“Maaf, tuan


Boy. Dokumennya sudah ditunggu. Tolong tanda tangan sebentar.”


Boy menoleh


menatap Joya yang masih tersenyum manis. “Sayang, aku tanda tangan bentar ya.”


Joya mengangguk


memberikan ijinnya, Rian menggigil menahan tawanya ketika Boy mendekat masih


memakai celemeknya.


“Kalau sampai


ini bocor di kantor, gak ada bonus bulan ini buat semuanya.”ancam Boy yang


kesal melihat Rian menertawakannya.


“Maaf, tuan.


Hanya saya dan orang di rumah tuan yang tahu. Saya permisi sebentar.”


Boy menghela


nafasnya, demi kebahagiaan Joya dan bayinya, Boy rela melakukan apa saja yang


diinginkan Joya. Mie goreng akhirnya jadi juga. Cuma masak mie goreng tapi Boy


membuat dapur jadi berantakan.


“Sayang, ini


mie-nya. Makan dulu.”


Joya yang


melihat dapur berantakan, langsung masuk ke dapur dan mengambil lap bersih. Boy


melongo melihat Joya malah asyik membersihkan dapur. Bi Ijah sudah melarangnya

__ADS_1


tapi Joya langsung mewek sambil menghentakkan kakinya.


Ny. Lastri yang


baru datang membawa duren lagi, tidak melihat Joya di dapur. Ia hanya melihat


Boy yang masih berdiri di samping meja makan masih memakai celemek bunga-bunga.


“Boy...”Ny. Lastri hampir menertawakan Boy, tapi suara orang muntah membuat mereka


menoleh.


“Hoeek...


Hoeeekkk...”


Bi Ijah


langsung mengambil baskom untuk menampung muntahan Joya ketika mencium bau


duren. Joya memuntahkan sarapannya di pinggir pantai tadi sampai tubuhnya lemas


dan hampir jatuh.


“Joya!!”teriak


Boy segera berlari menangkap Joya yang ditahan Bi Ijah.


Boy menggendong


Joya naik ke lantai 2 masuk ke kamar mereka, ia membaringkan tubuh Joya


perlahan dan menyelimutinya. Diusapnya kening Joya yang berkeringat, “Sayang,


kamu gak pa-pa kan?”


“Mas bau.


Cepetan mandi.”


masuk ke kamar mandi, ia keluar lagi cuma memakai handuk, rambutnya terlihat


basah. Boy membuka lemarinya ingin mengambil pakaian kerjanya, tapi Joya


memanggilnya lagi.


“Mas, sini


dech.”


Boy mendekati


Joya, ia berbaring di samping Joya yang mulai agresif lagi menyentuh tubuhnya. “Sayang,


mas gak boleh ke kantor nich?”


“Nggak. Hari


ini gak boleh kemana-mana. Temenin aku disini.”


Boy menghela


nafasnya, padahal banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor tapi Joya


tidak mau melepaskannya. Joya menempel pada tubuh Boy yang terasa sejuk.


Dirinya sendiri belum mandi dan sepertinya tidak berniat mandi sama sekali.


“Joya, mandi


dulu ya.”


“Kenapa, mas? Aku

__ADS_1


bau ya?”


“Nggak gitu,


sayang. Tapi kamu dari semalem gak mandi, emang gak gerah?”


“Kan ada mas,


adem.”


Boy


geleng-geleng kepala lagi melihat tingkah Joya yang semakin aneh, tidak mau


melepaskannya. Sampai Boy mulai iseng, meraba tubuh Joya di bawah selimut. “Maas...”panggil


Joya.


“Iya, sayang.


Pelan-pelan aja.”


Keduanya


terhanyut dalam ciuman yang dalam, Boy mengecupi bibir Joya, menyesapnya


bergantian penuh perasaan. Sesekali ciuman itu berubah lebih menuntut, sampai


Joya harus mendesah dengan keras untuk mengambil nafasnya.


Satu persatu


Boy menanggalkan pakaian Joya, keduanya kembali bersentuhan tanpa terhalang


pembatas apapun. Tapi saat inti permainan mereka hampir dimulai, seseorang


tiba-tiba masuk ke kamar Boy tanpa ketuk pintu dulu.


“Ups, maaf. Silakan


dilanjut lagi.”Ny. Lastri menutup pintu lagi sambil memukul keningnya. “Siang-siang


gini malah mau gituan. Gak dikunci lagi pintunya.” Ny.Lastri kembali menggiring


Bi Ijah yang membawa mie goreng buatan Boy tadi kembali ke dapur.


Joya dan Boy


bengong menatap pintu yang menutup lagi, mereka sama-sama terkejut ketika Ny.


Lastri tiba-tiba membuka pintu. Untung saja mereka berdua masih berada di bawah


selimut.


“Udah, kita


lanjut lagi?”


“Malu banget,


mas! Kunci pintunya, cepat.”Joya memegangi pipinya yang merona.


Boy bangkit


dari atas tempat tidur, mengunci pintu dengan cepat. Tapi sepertinya Joya tidak


mau melanjutkan apa yang mereka mulai tadi. Ia sudah memejamkan matanya bersiap


untuk tidur.


*****


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2