Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Status istri


__ADS_3

Yang penasaran


dengan ceritanya Rian dan Niken, monggo... ditunggu.


*****


Joya naik ke


lantai 2 dan masuk ke kamarnya, ia melihat Boy masih anteng tidur dibawah


selimutnya.


Joya : “Mas...


Mas bangun, udah siang.”


Boy : “Hmm...


Pagi, sayang.”


Joya : “Ayo,


bangun mas. Mandi dulu.”


Joya bangkit


dari sisi Boy, tapi Boy menarik tangannya. Boy memeluk erat pinggang Joya,


Boy : “Makasih


kadonya, sayang.”


Joya : “Iya,


sama-sama, mas.”


Boy : “Dan juga


kado tahun lalu.”


Joya mendorong


Boy, melepaskan pelukan mereka.


Joya : “Mas uda


ketemu kadonya? Kenapa gak bilang?”


Boy : “Kalau


aku bilang, apa aku akan mendapatkan kado terindah seperti semalam? Lagian aku


sudah memakainya dari habis mandi, masa kamu gak lihat?”


Joya : “Aku


kira mas pakai jam tangan yang biasanya.”


Boy : “Sayang, mandiin


dong. Dingin nich.”


Joya langsung


bangkit dari atas ranjang dan berjalan cepat ke pintu keluar.


Joya : “Gak mau


ach, nanti aku telat ngantor, mas.”


Boy : “Kita kan


berangkat sama-sama, sayang.”


Joya sudah


keluar dari kamar mereka dan berjalan menuruni tangga.


*****


Dipagi yang


sama, tapi beda rumah, Niken sedang membuat sarapan di dapurnya. Ia menyelesaikan


pekerjaannya dengan cepat sambil sesekali mengelap perabotan rumah. Sementara


Rian, baru selesai mandi, ia sedang memakai kemejanya saat Niken masuk ke dalam


kamar mereka.


Rian melirik


Niken yang berjalan masuk sambil melepas piyama tidur yang dipakainya. Niken


mencium bau rambutnya yang berbau masakan,


Rian : “Kamu


udah mandi?”


Niken : “Belum.


Ini baru mau mandi.”


Rian : “Sarapannya


uda siap?”


Niken : “Udah.


Makan aja duluan.”


Niken hampir


masuk ke kamar mandi ketika Rian memanggilnya lagi,


Rian : “Niken...”


Niken : “Ya?”


Niken menoleh


menatap Rian, ia melihat Rian mendekatinya sambil melepas kemeja yang sudah dipakainya.


Rian : “Aku


boleh ikut mandi?”


Niken : “Bukannya

__ADS_1


kamu baru selesai mandi?”


Rian : “Aku mau


nanya sama kamu, apa status kita?”


Niken : “Status


apa? Kamu ngomong apa sich?”


Rian : “Niken,


kita ini suami istri. Kamu gak bisa ya bertingkah seperti seorang istri?”


Niken : “Maksudmu


apa?”


Rian mendorong


Niken masuk ke kamar mandi dan mengukungnya ke dinding. Melihat Rian mendekat,


Niken spontan memalingkan wajahnya sambil memejamkan mata. Rian yang melihat


reaksi Niken, tersenyum miris dan menunduk.


Rian : “Aku


berangkat duluan. Kamu bawa mobilnya ya.”


Rian keluar


dari kamar mandi dan segera berpakaian, ia memanggil taxi online yang datang


dengan cepat dan membawanya ke kantor.


*****


Sepeninggalan


Rian, Niken memikirkan maksud kata-kata Rian yang belum jelas.


Niken : “Bukannya


aku sudah berperan jadi istri yang baik? Aku menjaga kebersihan rumah, memasak,


dan mengurus keperluan Rian. Apalagi?”


Sungguh Niken


bingung karena ini pertama kalinya dia berstatus istri orang. Disaat begitu,


Niken teringat Joya. Ia mandi dengan cepat dan segera berpakaian. Niken


mengambil ponselnya dan menelpon Joya yang saat itu sedang dalam perjalanan ke


kantornya bersama Boy.


Joya : “Halo,


kak Niken. Apa kabar?”


Niken : “Baik, Joya.


Eh, maksudku nyonya.”


Joya : “Kakak


Niken : “Aku


serius, nyonya. Maaf aku lupa dengan statusmu.”


Joya : “Berhenti


memanggilku nyonya. Kak Rian saja sudah membuatku stress setiap dia memanggilku


nyonya. Ada apa, kak?”


Niken : “Baiklah.


Apa kau sibuk? Aku ingin mengajakmu makan siang.”


Joya : “Boleh.


Dimana kak?”


Niken : “Nanti


siang aku jemput ya. Ada hal penting juga yang harus kutanyakan padamu.”


Joya : “Ok,


kak. Sampai ketemu.”


Joya memasukkan


kembali ponselnya ke dalam tas, Boy melirik Joya,


Boy : “Kenapa


Niken telpon?”


Joya : “Dia


mengajakku makan siang, mas.”


Boy : “Untuk


apa?”


Joya : “Apa aku


gak boleh makan siang dengan Niken?”


Boy : “Bukan


gak boleh. Tumben dia ngajak kamu makan siang. Aku juga ikut ntar.”


Joya : “Mas,


kasi kesempatan kami para wanita ini untuk keluar berdua. Boleh ya?”


Boy : “Justru


karena kalian cuma pergi berdua, aku jadi gak tenang.”


Joya : “Kami


cuma makan siang dan ngobrol saja. Apa masalahnya, mas?”

__ADS_1


Boy : “Ach, sudahlah.


Kamu boleh pergi sama Niken. Tapi ingat kabarin aku.”


Joya : “Iya,


mas sayang.”


Boy : “Ada


maunya baru manggil sayang.”


Joya terkikik


geli melihat Boy merajuk padanya. Mereka sampai di depan kantor Joya. Boy


menunggu Joya turun dari mobil dan berjalan sampai ke lobby. Rio yang kebetulan


juga baru sampai, berpapasan dengan Joya.


Boy menunggu


reaksi Rio dan Joya, ia melihat dengan jelas saat Rio menunduk sekilas pada


Joya dan berjalan cepat masuk ke dalam kantornya. Joya berbalik, melambaikan


tangan pada Boy yang sudah tersenyum manis padanya.


*****


Setengah jam


sebelum jam makan siang, Niken menelpon Joya,


Niken : “Joya,


aku sudah di parkiran kantormu. Kamu bisa turun sekarang?”


Joya : “Ok,


kak. Aku turun sekarang.”


Niken menunggu


10 menit dan melihat Joya celingukan mencari dirinya. Niken menurunkan kaca


mobil Rian dan melambaikan tangannya pada Joya.


Niken : “Joya,


sini.”


Joya : “Kak


Niken. Apa kabar?”


Niken : “Baik,


Joya. Kita jalan sekarang?”


Joya : “Iya, kak.


Kita mau kemana?”’


Niken : “Kita


ke rumah makan deket sini ya. Gak keberatan kan makan ditempat sederhana.”


Joya : “Kakak


nich, demen banget ya ngeledek aku. Aku gak akan berubah, kak.”


Niken : “Iya,


aku tau. Maaf ya.”


Keduanya segera


meluncur menuju rumah makan terdekat dari kantor Joya. Sampai di depan rumah


makan, Niken memarkir mobilnya di tempat parkir yang kosong. Mereka berdua


masuk ke dalam rumah makan itu dan mulai memesan makanan.


Joya : “Aku mau


coba soto ayamnya. Kakak mau apa?”


Niken : “Lalapan


ayam enak kayaknya. Pedes ya.”


Setelah memesan


makanan dan minuman yang mereka inginkan, Joya menatap Niken.


Joya : “Ada apa


nich, kak?”


Niken : “Maaf


ya, Joya. Aku ngerepotin kamu. Habisnya aku gak tahu harus curhat sama siapa


lagi. Masalahku ini gak bisa dibicarakan dengan orang sembarangan.”


Joya : “Kok aku


jadi tegang ya, kak. Ada apa, kak? Ada hubungannya sama kak Rian?”


Niken : “Iya.


Ini masalah rumah tanggaku dengan Rian. Aku bingung gimana jelasinnya ya.”


Obrolan mereka


terhenti saat pelayan datang membawakan pesanan minuman mereka. Mereka bahkan


tidak mengetahui kalau gerak-gerik mereka terus diawasi seseorang.


*****


Kira-kira Niken


kenapa ya?


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2