
Alvin dan Rara memasuki ruang praktek dr.Clara, sedikit berdebar menanti hasil pemeriksaan yang sudah mereka lakukan sejak pagi.
dr.Clara : “Silakan duduk. Bisa lihat hasil lab-nya?”
Rara : “Ini, mb.”
Dokter Clara membaca laporan di tangannya, ia menurunkan kacamatanya dan menatap keduanya.
dr.Clara : “Hmm, sepertinya kalian harus terus mencoba.”
Rara : “Maksud mb?”
dr.Clara : “Rara belum hamil.”
Alvin : “Beneran, dok? Tapi hasil test pack sebelumnya...”
dr.Clara : “Kemungkinan test pack yang kalian gunakan waktu itu sudah kadaluarsa, ditambah pengaruh hormon karena Rara minum pil kontrasepsi.”
Rara : “Yah, mama dan papa bisa kecewa nich.”
Alvin : “Tenang saja, sayang. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mewujudkan keinginan mereka. Mulai malam ini kau harus berhenti minum pil itu.”
Rara bergidik ngeri membayangkan tubuhnya tidak akan selamat malam ini, ia melihat senyum mesum Alvin yang terlihat sangat berbahaya.
dr.Clara : “Sebaiknya kau hentikan minum pil itu, Ra. Pakai kontrasepsi yang lebih aman setelah kau punya 1 bayi. Ayolah.”
Akhirnya Rara mengangguk pasrah, sudah seharusnya mereka punya anak dulu setelah menikah.
-------
Rara menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, ia sudah tidak mau menjawab pertanyaan semua orang yang menanyakan tentang kehamilannya.
Tugas itu sepenuhnya ia serahkan kepada Alvin yang sedang berbunga-bunga. Teringat sesuatu, Rara membuka laci nakas dan mengambil pil kontrasepsi yang masih tersisa. Ia menghitung sisanya dan melihat tanggal terakhir datang bulannya.
Rara tersenyum lega, hari ini seharusnya masuk masa suburnya. Alvin masuk ke dalam kamar, ia melihat pil kontrasepsi di tangan Rara dan langsung mengambilnya.
Alvin : “Masi mau minum ini?”
Rara : “Aku tidak, tadi aku cuma hitung tanggal aja. Hari ini masuk masa suburku... Jadi...”
Alvin berjalan ke dekat tong sampah dan membuang pil itu, ia mulai membuka kancing kemejanya satu persatu dan mendekati Rara dengan tatapan mesum.
Rara : “Sayang, kamu gak ke kantor lagi?”
Alvin : “Aku cuti.”
Rara : “Sayang, kita makan dulu ya. Aku lapar.”
Alvin : “Setelah ini selesai, kau boleh makan.”
Rara : “Sayang, nanti malam aja dech, aku masih capek.”
Alvin : “Ini akan berlangsung sampai malam.”
Rara : “Sayang, emmmpppp..!!”
Alvin sudah menyerang Rara, mencium bibirnya. Rara baru ingat kalau sudah 2 minggu Alvin gak dapat jatah, dan dia akan merapelnya hari ini. Panik, Rara berusaha mendorong Alvin yang sudah sangat bergairah.
Rara : “Sayang... kasi aku makan dulu ya... Aku bisa pingsan kalau...”
Alvin : “...Sekali saja, Ra. Aku janji hanya sekali, aku benar-benar sudah tidak tahan. Bantu aku, sayang.”
Rara tidak tega melihat mata Alvin yang terlihat sangat menginginkannya. Rara tersenyum, ia merangkul leher Alvin dan mulai menciumnya, kali ini Rara yang mengambil alih permainan.
Alvin : “Aku hanya... sekali...”
Rara : “Aku mau lebih, sayang...”
Desahan demi desahan memenuhi kamar mereka siang itu, Alvin hampir kewalahan menerima serangan Rara sampai akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan bersamaan.
__ADS_1
Alvin : "Makasi, sayang."
Rara : "Aku laper, Al."
Alvin : "Sebentar aku ambilin makanan ya."
Rara tersenyum diatas ranjang, sekali-kali enak juga dilayani suami.
-------
Boy dan Joya baru sampai di depan rumah Alvin, mereka sengaja mampir untuk mengantarkan makanan kesukaan Alvin dan Rara. Bibik membukakan pintu untuk keduanya dan mempersilahkan masuk.
Boy : “Bibik, kemana Rara dan Alvin?”
Bibik : “...”
Joya : “Bik, mereka gak ada di rumah.”
Boy dan Joya bingung melihat ART Rara tidak menjawab pertanyaan mereka dan hanya menunduk malu-malu.
Bibik : “Anu, Nyonya, Nyonya Rara ada dikamar sama Tuan Alvin... Itu...”
Joya : “Tolong panggil mereka ya, bik. Ini ada makanan kesukaan mereka.”
Bibik : “Sa... saya tidak berani, Nyonya... Dari tadi saya dengar suara ribut di dalam kamar.”
Joya : “Mereka bertengkar, bik? Saya harus lihat...”
Bibik : “Nyonya...! Jangan kesana... bibik malu dengernya...”
Boy : “Sayang, jangan kesana... biarkan mereka...”
Joya menatap Boy gak ngerti,
Joya : “Kalau mereka beneran berantem gimana?”
Boy : “Coba mama diam dulu sebentar, papa aja denger dari tadi.”
Joya : “Bik, titip ya. Sebaiknya bibik tutup telinga saja.”
Boy : “Kami pulang dulu ya, bik.”
Joya dan Boy segera masuk ke dalam mobil, Joya mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena sedikit berlari.
Boy : “Sayang, aku jadi ingat saat pertama kita melakukannya. Kenapa kau tidak mendesah sekeras itu?”
Joya : “Apa papa lupa kalau disamping kamar kita ada kamar mb Putri? Bagaimana kalau ada yang dengar?”
Boy : “Kamar kita ada peredam suaranya, sayang. Bagaimana kalau kita lakukan sekarang?”
Joya : “Jangan bercanda, papa lupa umur ya.”
Boy : “Aku ingat kalau minggu lalu masih ada yang minta jatah...”
Joya bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi, Boy sudah memarkir mobil di garasi rumah mereka dan menarik Joya masuk ke dalam kamar.
Bahkan anak dan bapak sama-sama mesumnya, meskipun sudah berumur, Joya tetap terlihat cantik dan bugar. Ia selalu menjaga kesehatannya dengan pola makan dan olahraga teratur. Hal itu karena ia masih harus melayani Boy yang tidak boleh kurang jatahnya.
____
Aliya menurunkan sedikit sandaran mobil Aldo sambil menikmati udara pantai yang dingin. Seharian ini, Aldo mengajaknya menyusuri pinggiran pantai sampai berhenti di dekat areal wisata yang sedikit ramai. Beberapa mobil tampak terparkir disana.
Aldo : “Kau suka tempat ini?”
Aliya : “Iya, disini tenang dan dingin.”
Aldo : “Seperti hatimu...” gumam Aldo sambil lalu.
Aliya : “Apa katamu?”
__ADS_1
Aldo : “Apa? Aku tidak bilang apa-apa.”
Aldo menggenggam tangan Aliya dan mencium punggung tangannya. Ia bergerak ke atas Aliya, dan mulai ******* bibirnya. Aliya memalingkan wajahnya, membuat Aldo mulai mencium lehernya.
Aliya : “Kenapa kau suka sekali menciumku...?”
Aldo : “Aku gak tahu, aroma tubuhmu membuatku tidak bisa menahannya.”
Aliya : “Aku boleh tanya sesuatu?”
Aldo : “...Apa?”
Aliya : “Apa sebelum aku, kau pernah pacaran?”
Aldo : “Apa kau sedang memancing pertengkaran?”
Aliya : “Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?”
Aldo : “Kalau aku katakan yang sebenarnya, kau akan bilang aku berbohong dan kalau kukatakan yang bohong, kau akan mulai marah dan membenciku. Jadi apa maumu?”
Aliya : “Coba saja katakan, dan aku mau tahu yang sebenarnya.”
Aldo : “Janji gak akan marah?”
Aliya : “Aku gak akan marah, resiko jawabannya juga sudah kupikirkan.”
Aldo : “Aku belum pernah pacaran.”
Aliya : “Apa kau bercanda? Maksudku, dengan kelakuanmu yang seperti playboy, menggoda gadis-gadis dan kau bilang belum pernah pacaran.”
Aldo : “Aku serius, gadis-gadis itu hanya suka bicara padaku, begitu juga denganku. Kalaupun kami sampai jalan bareng, paling cuma curhat. Gak lebih. Just friend.”
Aliya : “Apa kau terbiasa mencium temanmu?”
Aldo : “Memang kapan kau melihatku mencium temanku? Aku terbiasa mencium calon tunanganku sekarang.”
Aliya hampir bicara lagi, tapi Aldo sudah mulai menciumnya lagi, Aliya mendorong Aldo karena ia masih ingin bicara.
Aliya : “Aku belum selesai, jadi kalau suatu hari nanti aku memergokimu sedang bersama gadis lain, apa yang harus kulakukan?”
Aldo : “Terserah padamu, mau marah dan pergi atau mendengarkan penjelasanku baik-baik. Yang jelas kalau itu terjadi, bukan aku yang memulainya tapi gadis lain itu.”
Aliya : “Memangnya kau pikir aku akan percaya.”
Aldo : “Aku tidak memintamu percaya padaku, aku hanya berusaha jujur ketika bersamamu. Tidak banyak gadis yang suka kejujuranku, kebanyakan mereka akan mulai menjauh karena sakit hati.”
Aliya : “Kata-katamu terlalu kejam...”
Aldo : “Lebih baik kejam daripada aku harus bermulut manis dan membuat seseorang berharap lebih. Tapi kau sangat berbeda, Al...”
Aliya : “Karena aku tidak peduli dengan kata-kata kejammu?”
Aldo : “Karena aku merasakan kalau aku tidak perlu berpura-pura di depan seseorang. Kau tahu, terlalu banyak akting membuatku lelah. Bersamamu, aku bisa jadi apa adanya diriku tanpa perlu membuatmu tersinggung. Dan itu sangat menyenangkan.”
Aliya : “Thanks, tapi itu bukan alasan kau bisa menciumku setiap saat. Kita masih belum menikah dan kebiasaanmu cukup tabu di negara asal kita.”
Aldo : “Siapa suruh kau sangat cantik dan menggemaskan. Aku jadi tidak tahan...”
Aliya : “Apa kau mau kupukul?”
Aldo : “Jangan galak-galak, Al. Aku jadi semakin mencintaimu.”
Aldo menarik Aliya dalam pelukannya, mereka menikmati matahari terbenam dari atas tebing itu. Menumbuhkan rasa cinta mereka dengan mengobrol sampai larut malam.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
__ADS_1
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------