
Sejak diterima bekerja diperusahaan yang diinginkannya, Joya jarang bertemu Boy. Meskipun terkadang Boy datang ke rumah Ny. Besar. Ia semakin menjauh dari Joya.
Joya merasakan kesepian karena Boy tidak mau bicara padanya bahkan tidak mau melihatnya. Ia sangat sedih melihat kenyataan itu. Mungkin karena sebelumnya Joya masih training di tempat Boy makanya Boy mau bicara padanya meski sedikit.
Ny. Besar juga tidak pernah menyuruh Joya untuk pergi ke apartment Boy lagi untuk membersihkan apartment itu. Atau hanya sekedar mengirimkan sesuatu.
Ny. Besar hanya meminta Joya tetap menjaga kebersihan kamar Boy saja. Sesekali Boy menginap disana dan pergi di pagi hari meninggalkan kamar dalam keadaan berantakan.
Seperti kali ini setelah makan malam bersama karena ulang tahun salah satu kakak Boy yang dirayakan dengan sederhana. Boy menginap di rumah Ny. Besar.
Joya tidak tahu kalau Boy akan menginap, pergi ke kamar itu dan membersihkannya seperti biasa. Biasanya ia membersihkan kamar itu setelah pulang kerja. Tak peduli secapek apapun ia, Joya akan membersihkan kamar itu.
Boy tahu Joya masuk ke kamarnya, ia sedang berendam di kamar mandi. Tadi ia sempat memberitahu kakaknya untuk mengurung mereka berdua di dalam kamar, tapi kakaknya tidak mau. Kalau sampai Ny. Besar tahu, bisa habis mereka dimarahi.
Boy memikirkan sesuatu yang bisa membuat Joya stay di kamarnya malam ini. Tapi takut juga kalau ibunya sampai tahu. Karena terlalu asyik melamun, Boy berjalan tanpa melihat lantai kamar mandi yang licin.
Brak! Joya menoleh ke kamar mandi ketika mendengar suara benda jatuh.
Boy : "Adooww...!!"
Joya berlari mendekati kamar mandi, ia menggedor dengan heboh,
Joya : "Tuan?! Tuan kenapa?"
Boy : "Aku jatuh. Tolong..."
Joya mencoba membuka pintu kamar mandi dan terbuka. Ia melongok ke dalam dan melihat Boy masih telanjang. Joya menarik dirinya tegak kembali,
Joya : "Tuan masih telanjang."
Boy : "Lempar handuk di meja. Cepat!"
Joya melakukan yang diminta Boy sambil memalingkan wajahnya dan Boy melilitkan handuk itu ke pinggangnya. Joya mendekatinya sambil menunduk.
Joya : "Tuan bisa berdiri?"
Boy : "Kakiku terkilir. Bantu aku berdiri."
Joya meraih tangan Boy dan membantunya berdiri. Perlahan mereka keluar dari kamar mandi, Joya membantu Boy duduk di atas ranjangnya.
Boy meringis memegangi lututnya yang lebam. Kaki kirinya terkilir dan mulai membengkak.
Joya : "Tuan, saya panggil Ny. Besar dulu ya."
Boy : "Gak usah. Ibu pasti sudah tidur. Kamu bisa obatin kakiku?"
Joya : "Bisa, tuan."
Boy : "Ambilkan bathrobe dulu. Badanku masih basah."
Joya mengambil bathrobe di kamar mandi dan membantu Boy memakainya. Ia sedikit tergoda dengan tubuh Boy yang berotot dan seksi. Apalagi saat tangannya tidak sengaja menyentuh barisan otot itu.
Dag dig dug! Jantung Joya mulai salto bolak balik. Mereka hanya berdua di dalam kamar itu. Joya bisa merasakan kalau Boy menatapnya lekat-lekat.
Boy memang menatap gadis yang dicintainya itu dengan intens. Ia mengamati lekuk tubuh dan wajah manis Joya. Mencari perubahan pada diri Joya setelah berbulan-bulan ia tidak mengamatinya dengan baik.
Joya : "Tuan, saya ambil minyak urut dulu."
Joya pergi keluar kamar Boy, mengambil kotak P3K yang tergantung di dekat tangga. Didalam sana terdapat obat yang cukup lengkap dengan minyak urut, obat sakit kepala, penurun demam, dan penambah imun tubuh.
Joya mengambil minyak urut, ia pernah diajari memijat oleh Ny. Besar karena cucunya sering jatuh sampai terkilir. Joya yang ditugaskan merawat mereka.
Kembali ke dalam kamar Boy, Joya membantu Boy duduk sambil bersandar di ranjangnya. Ia mulai mengurut kaki kiri Boy. Sesekali Boy meringis menahan sakit di pergelangan kakinya.
Ia cukup senang karena harapannya dikabulkan malam ini, meskipun harus dibayar dengan kakinya yang sakit.
Boy : "Aooww... Pelan dikit."
Joya : "Tahan sebentar ya, Tuan. Ini akan sakit sedikit."
__ADS_1
Joya memegangi kaki Boy dan melakukan sesuatu sampai Boy menjerit tertahan karena rasa sakitnya.
Joya : "Coba gerakkan kakinya, tuan."
Boy menggerakkan kakinya yang sudah tidak sakit lagi. Tapi ia berpura-pura lututnya nyeri, ia tidak bisa jalan dengan baik.
Boy : "Aduh, kakiku sakit." Boy pura-pura meringis kesakitan.
Joya : "Tuan, saya panggilkan dokter ya. Takutnya ada yang patah."
Boy : "Hatiku yang patah..." Boy berbisik seperti dengungan lebah.
Joya : "Apa, tuan?"
Boy : "Gak usah panggil dokter. Kamu... tidur disini malam ini. Aku perlu bantuan kalau ke kamar mandi."
Joya : "Tapi..."
Boy : "Gak ada tapi, ambilkan bajuku. Kamu mau aku masuk angin."
Joya membuka lemari, mengambil kaos dan celana pendek Boy. Boy kegirangan diatas ranjangnya saat Joya berbalik mengambil pakaiannya.
Ia bersikap dingin lagi saat Joya mendekati ranjang lagi. Joya membantu Boy memakai kaosnya, tapi saat akan membantu memakaikan celana pendek Boy, ia bingung melakukannya.
Boy : "Bantu aku duduk di pinggir."
Joya kembali membantu Boy menggeser kakinya turun. Setelah Boy duduk di pinggir, Joya memasukkan celana pendek lewat kedua kaki Boy dan Boy memegang bahu Joya untuk berdiri.
Sebenarnya Joya tidak perlu membantu Boy sampai seperti itu tapi Boy mencari-cari alasan agar bisa menyentuh Joya.
Boy : "Bantu aku berdiri."
Joya menarik tangan Boy yang lebih berat darinya, akibatnya ia limbung dan jatuh menimpa Boy. Wajah Joya merona saat ia tidak sengaja memegang sesuatu yang masih tertutup handuk Boy.
Joya bangkit dengan cepat dari ranjang, mereka tampak canggung dan salah tingkah. Boy duduk lagi, kali ini ia mencoba berdiri sendiri. Joya hanya memegangi lengannya.
Ia menatap bibir pink Joya, Boy membeku memerangi hasratnya.
Joya : "Sudah, tuan?"
Boy cepat-cepat menarik celana pendeknya. Ia menepis tangan Joya agak melepaskan lengannya. Boy duduk kembali ke ranjang, ia gelisah mencoba mengusir pikiran kotor yang sempat lewat saat melihat Joya.
Boy : "Kamu tidur di sebelahku."
Joya : "Saya tidur di sofa saja, tuan."
Bisa-bisanya majikannya ini menyuruhnya tidur seranjang dengannya.
Boy : "Kamu gak bangun nanti aku mau ke toilet. Sana."
Joya menarik nafas berat, ia berjalan perlahan ke sisi lain ranjang dan duduk bersandar pada sandaran ranjang.
Boy : "Kamu gak baring?"
Joya : "Begini saja, tuan. Silakan tidur."
Boy memejamkan matanya, ia tidak mau mendebat Joya lagi. Melihat Boy memejamkan matanya, perlahan mata Joya juga terpejam.
πππππ
Jam 4 pagi, Joya merasakan tubuhnya diguncang seseorang. Ia membuka matanya dan hampir berteriak saat melihat wajah Boy sangat dekat dengannya.
Joya kebingungan kenapa bisa tertidur sambil berbaring di samping Boy.
Boy : "Bantu aku bangun. Aku mau ke toilet."
Joya melakukan apa yang diminta Boy dengan mata masih setengah terpejam. Mereka berjalan perlahan masuk ke kamar mandi.
Boy : "Kamu keluar dulu."
__ADS_1
Joya keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan pintu. Ia menepuk pipinya agar terbangun dari tidurnya.
Tak lama, Boy membuka pintu dengan tubuh hanya berbalut handuk. Joya menahan nafasnya melihat pemandangan indah tubuh Boy.
Joya memapah Boy duduk di ranjangnya dan berbalik memegangi dadanya yang berdegup kencang.
Joya : "Tuan mau ke kantor hari ini? Kaki tuan gimana?"
Boy : "Aku harus ke kantor. Siapkan sandalku. Pakaian kerja juga."
Joya membuka lemari, mengambil pakaian Boy yang tampak sesuai dengan seleranya. Setelah meletakkan semua keperluan Boy di dekatnya, Joya kembali memalingkan wajahnya. Entah kenapa udara di sekitarnya agak panas.
Boy melemparkan handuk ditangannya pada Joya, yang kaget menerimanya.
Boy : "Keringkan rambutku."
Kening Joya mengkerut, perasaan kaki Boy yang sakit dan bukan tangannya. Tapi Joya melakukan semua perintah majikannya dengan baik.
Tangan Boy hampir memegang pinggang ramping Joya saat pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar. Ny. Besar muncul dari sana dan berjalan masuk ke kamar Boy.
Joya : "Ny. Besar..."
Ny. Besar : "Joya, ngapain kamu disini? Kalian...?"
Setiap orang yang melihat posisi mereka saat itu di jam sepagi itu pasti akan mengira yang tidak-tidak. Joya melepaskan handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambut Boy dan menjauh dari Boy.
Joya : "Ny. Besar, saya bisa jelaskan. Semalam tuan Boy jatuh di kamar mandi dan kakinya terkilir. Saya hanya membantu menjaga saja."
Ny. Besar : "Oh, gitu. Trus gimana kakinya sekarang? Masih sakit?"
Boy : "Masih, bu."
Ny. Besar duduk di samping Boy, melihat kaki anaknya yang sama sekali tidak terlihat bengkak parah. Ia menatap Joya yang sudah menunduk dipojokan berharap tidak terlihat. Dan Boy yang nyengir lebar sekilas.
Ny. Besar : "Joya, pergi bersiap-siap sana. Kamu kan harus ke kantor."
Joya : "Baik, Ny. Besar."
Joya langsung kabur dari sana, hatinya sedikit lega karena Ny. Besar tidak bertanya apa-apa lagi.
Boy menatap ngeri melihat ibunya yang sudah tersenyum manis menatapnya.
Boy : "Bu, Boy gak ngapa-ngapain Joya. Masih tersegel. Gak nakal. Sueer..."
Ny. Besar : "Modus kamu ya. Mau cari kesempatan. Anak nakal!!"
Ny. Besar menjewer telinga dan memukul punggung Boy sampai kedua bagian itu memerah.
Boy : "Adduuhh...! Ampun, bu. Ibu, kenapa sich ibu sayang banget sama Joya. Boy gak disayang."
Ny. Besar : "Karena ibu gak pernah lihat orang setulus Joya. Ibu gak suka lihat dia nangis gara-gara kamu."
Boy : "Tapi Boy anak kandung ibu. Bener kan?"
Mendengar kata-kata Boy yang meragukan statusnya sendiri, Ny. Besar semakin gemas dan lanjut mencubiti lengan anaknya sampai merah-merah.
Boy hampir menangis meratapi nasibnya anak kandung rasa anak angkat.
-----
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dan βDuren Manisβ dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak...
-------
__ADS_1