
Setelah Joya
dan Boy makan siang, Boy meminta sekretaris Lia menyuruh orang membereskan
bekas makan mereka. Sekretaris Lia masuk ke dalam ruang kerja Boy dan
melakukannya sendiri.
Boy : “Dimana
OB?”
Lia : “Mereka
masih istirahat sekarang, tuan.”
Joya : “Biar
saya bantu, mb.”
Lia : “Tidak
perlu, nyonya. Silakan beristirahat saja.”
Lia masih kesal
dengan kenyataan kalau anak magang yang bahkan tidak dianggapnya dulu, sekarang
menjadi istri bosnya. Lia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan segera
keluar dari ruang kerja Boy.
Boy : “Sayang,
aku ingin memperkenalmu pada karyawanku lagi.”
Joya : “Mereka
kan sudah kenal, mas.”
Boy : “Mereka
kenal kamu sebagai anak magang disini. Aku ingin mereka semua tahu kalau kau
istriku.”
Joya : “Masih ada
waktu, mas. Bukannya dalam waktu dekat pesta ulang tahun perusahaan akan segera
tiba.”
Boy : “Oh,
masih sebulan lagi. Terlalu lama.”
Joya : “Gak
pa-pa, mas. Lagian mereka gak harus tahu kita sudah menikah, kan.”
Boy : “Aku gak
tahan mendengar mereka meremehkanmu.”
Joya : “Gak
semua, kok. Masih ada yang baik.”
Boy : “Kau ini
keras kepala sekali.”
Joya : “Sudah
tahu saya keras kepala, kenapa mas mau menikahi saya?”
Boy : “Aku
terlalu mencintaimu sampai lupa dengan sifatmu yang menyebalkan itu.”
Joya : “Bukan
karena saya terlalu manis sampai tuan muda Boy mau tidur di samping saya
terus?”
Boy kehilangan
kata-katanya ketika mendengar sindiran Joya. Wanita yang sudah menjadi istrinya
itu tampak lebih matang dan dewasa seiring bertambahnya usia. Joya bukan lagi
gadis polos yang dikenalnya saat mereka pertama kali bertemu. Joya bahkan sudah
berani menggodanya sekarang, meski terkadang masih malu-malu.
Joya : “Apa mas
mau kopi?”
Boy : “Iya,
mau.”
Joya beranjak
ke meja kopi di sudut ruangan, ia membuatkannya dengan cepat dan membawa
secangkir kopi ke meja kerja Boy.
Boy : “Makasih,
sayang. Dengar, kita gak bisa jalan-jalan hari ini.”
Boy sudah
bersiap melihat wajah kecewa Joya saat ia membatalkan acara jalan-jalan mereka
berdua saja.
Joya : “Oh ya,
ada apa? Pekerjaan mas banyak?”
Joya bahkan
tidak tampak kecewa, senyuman tetap menghiasi wajah cantiknya. Boy bernafas
lega melihat reaksi Joya. Pilihannya memang tidak salah, Joya tidak seperti
__ADS_1
kebanyakan wanita yang dulu mengejarnya, manja dan egois. Bahkan tidak mengerti
kalau Boy sibuk bekerja.
Boy : “Ada satu
desain yang harus diselesaikan bagian pemasaran hari ini juga. Besok aku ada
meeting penting dengan client utama kita dan desain itu belum selesai juga.
Mungkin mereka harus lembur sampai pagi dan aku harus menemani mereka.”
Joya : “Lain
kali kan masih bisa jalan-jalan. Kalau mas mau, saya temani mas disini sampai
pagi.”
Boy : “Nanti
kamu capek, sayang.”
Joya :
“Memangnya mas gak capek? Kita sudah suami istri gini harus berbagi suka dan
duka sama-sama. Tapi sebelum itu, boleh pinjam HP mas, gak?”
Boy : “Boleh.”
Boy menyerahkan
ponselnya dan Joya mengutak-atik ponsel itu sepertinya menelpon seseorang. Boy
menajamkan pendengarannya karena Joya sudah berjalan ke sofa dan duduk disana.
Joya : “Halo,
Nyonya Besar... ibu. Ibu sedang apa?”
Boy bernafas
lega, istrinya itu bahkan gak bisa lepas dari ibunya meskipun hanya sehari gak
ketemu. Boy tersenyum melihat senyum mengembang di wajah Joya yang tampak
bersemangat bercerita kegiatan mereka berdua di apartment. Sesekali tersipu
malu, karena sepertinya ibu mertuanya menggoda Joya.
Tanpa terasa 30
menit berlalu dan Joya mengembalikan ponsel Boy.
Joya : “Mas,
maaf saya terlalu lama bicara sama ibu.”
Boy : “Gak apa.
Apa kau senang?”
Joya : “Iya,
mas. Ibu bilang agar kita jangan lupa makan karena terlalu asyik berduaan.”
Boy : “Mana
melakukannya, sayang.”
Joya : “Sudah
saya duga mas akan bilang begitu. Mesum.”
Boy : “Kamu
berani bilang suamimu mesum?”
Boy menarik
Joya hingga jatuh ke pangkuannya. Tangan Boy mulai masuk ke dalam blus Joya,
meraba perutnya.
Joya : “Geli...
jangan, mas.”
Kedua insan itu
saling bercanda dengan sangat mesra diatas kursi kerja Boy, membuat Rian yang
masuk ke ruang kerja Boy, mulai merasa kepanasan. Disaat seperti ini ia ingin
bersama Niken.
Rian : “Tuan,
ehemm... maaf mengganggu.”
Boy : “Ada apa?”
Boy berbicara dari balik kursi kerjanya, Joya dengan cepat menurunkan blusnya
yang tadi diangkat Boy.
Rian : “Saya
perlu tanda tangan, tuan.”
Setelah melihat
Joya rapi kembali, kursi kerja Boy berbalik dan Joya berjalan cepat masuk ke
kamar mandi. Rian tersenyum menatap wajah Boy yang kesal karena keasyikannya
terganggu.
Rian : “Apa
perlu saya atur tur untuk honey moon, tuan?”
Boy : “Belum
bisa, Joya tidak mau honey moon. Dia gak mau meninggalkan ibu sendirian.”
Rian : “Oh,
nyonya muda sangat perhatian pada nyonya besar ya.”
__ADS_1
Boy : “Hem. Bahkan
aku tidak dianggap ada kalau Joya sudah mulai bicara dengan ibu.”
Rian menahan
tawanya melihat Boy cemberut, bosnya ini sudah seperti anak kecil sejak ia
menikah. Tapi Rian menikmati melihat Boy yang sekarang karena ia bisa lebih
banyak tertawa, menertawakan bosnya tepatnya.
Boy : “Ini,
sudah semua. Bagaimana perkembangan tim pemasaran? Sudah selesai desainnya?”
Rian : “Belum,
tuan. Mereka saat ini sedang tahap pembuatan. Terakhir kali revisi kemarin dan
besok client minta desainnya sudah jadi.”
Boy : “Apa bisa
selesai hari ini?”
Rian : “Karena
itu, mereka perlu dukungan tuan agar semangat.”
Boy menatap
Rian curiga,
Rian : “Kenapa tuan
menatap saya begitu?”
Boy : “Kenapa
aku merasa kau sedang menjualku?”
Rian tersenyum
lebar, ia mengambil dokumen yang sudah ditandatangani Boy dan memeriksanya
sekali lagi.
Rian : “Bukan
menjual, tuan tepatnya mengumpankan tuan kepada wanita-wanita single kelaparan
di bagian pemasaran.” Ucap Rian dalam hati dengan liciknya.
Sudah menjadi
rahasia umum kalau sebagian besar staf pemasaran adalah fans berat tuan Boy
yang tampan. Jangankan wanita, pria saja juga terpikat pada ketampanan Boy.
Pria seperti pak Calvin.
Boy : “Aku akan
kesana sekarang. Apa Joya boleh ikut?”
Rian : “Tentu
saja, tuan. Tapi sebaiknya tuan jangan terlalu mesra di depan mereka.”
Boy : “Kenapa
tidak boleh? Joya kan istriku.”
Rian : “Saya
takut ada yang baper dan desainnya tidak akan selesai tepat waktu, tuan.”
Boy : “Kenapa
semua orang menentangku memperkenalkan Joya sebagai istriku!!”
Boy berteriak
membuat Rian hampir menutup telinganya.
Rian : “Tuch
kan marah lagi.” batin Rian.
Joya yang
keluar dari kamar mandi, tercekat mendengar teriakan Boy. Boy yang melihat
Joya, langsung mendekatinya dan menarik tangan istrinya itu agar berjalan
mengikutinya.
Boy : “Maaf,
sayang. Aku membuatmu kaget ya. Aku berteriak pada Rian tadi.”
Joya : “Saya
kira kenapa?”
Boy mengajak
Joya duduk di sofa dan mulai bermanja-manja padanya, lupa kalau tadi ia ingin
melihat kinerja bagian pemasaran. Rian menatap nelangsa kepada bosnya yang
sedang dimabuk cinta.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis”
dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
Makasi banyak..
🌴🌴🌴🌴🌴