Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Dimabuk cinta


__ADS_3

Setelah Joya


dan Boy makan siang, Boy meminta sekretaris Lia menyuruh orang membereskan


bekas makan mereka. Sekretaris Lia masuk ke dalam ruang kerja Boy dan


melakukannya sendiri.


Boy : “Dimana


OB?”


Lia : “Mereka


masih istirahat sekarang, tuan.”


Joya : “Biar


saya bantu, mb.”


Lia : “Tidak


perlu, nyonya. Silakan beristirahat saja.”


Lia masih kesal


dengan kenyataan kalau anak magang yang bahkan tidak dianggapnya dulu, sekarang


menjadi istri bosnya. Lia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan segera


keluar dari ruang kerja Boy.


Boy : “Sayang,


aku ingin memperkenalmu pada karyawanku lagi.”


Joya : “Mereka


kan sudah kenal, mas.”


Boy : “Mereka


kenal kamu sebagai anak magang disini. Aku ingin mereka semua tahu kalau kau


istriku.”


Joya : “Masih ada


waktu, mas. Bukannya dalam waktu dekat pesta ulang tahun perusahaan akan segera


tiba.”


Boy : “Oh,


masih sebulan lagi. Terlalu lama.”


Joya : “Gak


pa-pa, mas. Lagian mereka gak harus tahu kita sudah menikah, kan.”


Boy : “Aku gak


tahan mendengar mereka meremehkanmu.”


Joya : “Gak


semua, kok. Masih ada yang baik.”


Boy : “Kau ini


keras kepala sekali.”


Joya : “Sudah


tahu saya keras kepala, kenapa mas mau menikahi saya?”


Boy : “Aku


terlalu mencintaimu sampai lupa dengan sifatmu yang menyebalkan itu.”


Joya : “Bukan


karena saya terlalu manis sampai tuan muda Boy mau tidur di samping saya


terus?”


Boy kehilangan


kata-katanya ketika mendengar sindiran Joya. Wanita yang sudah menjadi istrinya


itu tampak lebih matang dan dewasa seiring bertambahnya usia. Joya bukan lagi


gadis polos yang dikenalnya saat mereka pertama kali bertemu. Joya bahkan sudah


berani menggodanya sekarang, meski terkadang masih malu-malu.


Joya : “Apa mas


mau kopi?”


Boy : “Iya,


mau.”


Joya beranjak


ke meja kopi di sudut ruangan, ia membuatkannya dengan cepat dan membawa


secangkir kopi ke meja kerja Boy.


Boy : “Makasih,


sayang. Dengar, kita gak bisa jalan-jalan hari ini.”


Boy sudah


bersiap melihat wajah kecewa Joya saat ia membatalkan acara jalan-jalan mereka


berdua saja.


Joya : “Oh ya,


ada apa? Pekerjaan mas banyak?”


Joya bahkan


tidak tampak kecewa, senyuman tetap menghiasi wajah cantiknya. Boy bernafas


lega melihat reaksi Joya. Pilihannya memang tidak salah, Joya tidak seperti

__ADS_1


kebanyakan wanita yang dulu mengejarnya, manja dan egois. Bahkan tidak mengerti


kalau Boy sibuk bekerja.


Boy : “Ada satu


desain yang harus diselesaikan bagian pemasaran hari ini juga. Besok aku ada


meeting penting dengan client utama kita dan desain itu belum selesai juga.


Mungkin mereka harus lembur sampai pagi dan aku harus menemani mereka.”


Joya : “Lain


kali kan masih bisa jalan-jalan. Kalau mas mau, saya temani mas disini sampai


pagi.”


Boy : “Nanti


kamu capek, sayang.”


Joya :


“Memangnya mas gak capek? Kita sudah suami istri gini harus berbagi suka dan


duka sama-sama. Tapi sebelum itu, boleh pinjam HP mas, gak?”


Boy : “Boleh.”


Boy menyerahkan


ponselnya dan Joya mengutak-atik ponsel itu sepertinya menelpon seseorang. Boy


menajamkan pendengarannya karena Joya sudah berjalan ke sofa dan duduk disana.


Joya : “Halo,


Nyonya Besar... ibu. Ibu sedang apa?”


Boy bernafas


lega, istrinya itu bahkan gak bisa lepas dari ibunya meskipun hanya sehari gak


ketemu. Boy tersenyum melihat senyum mengembang di wajah Joya yang tampak


bersemangat bercerita kegiatan mereka berdua di apartment. Sesekali tersipu


malu, karena sepertinya ibu mertuanya menggoda Joya.


Tanpa terasa 30


menit berlalu dan Joya mengembalikan ponsel Boy.


Joya : “Mas,


maaf saya terlalu lama bicara sama ibu.”


Boy : “Gak apa.


Apa kau senang?”


Joya : “Iya,


mas. Ibu bilang agar kita jangan lupa makan karena terlalu asyik berduaan.”


Boy : “Mana


melakukannya, sayang.”


Joya : “Sudah


saya duga mas akan bilang begitu. Mesum.”


Boy : “Kamu


berani bilang suamimu mesum?”


Boy menarik


Joya hingga jatuh ke pangkuannya. Tangan Boy mulai masuk ke dalam blus Joya,


meraba perutnya.


Joya : “Geli...


jangan, mas.”


Kedua insan itu


saling bercanda dengan sangat mesra diatas kursi kerja Boy, membuat Rian yang


masuk ke ruang kerja Boy, mulai merasa kepanasan. Disaat seperti ini ia ingin


bersama Niken.


Rian : “Tuan,


ehemm... maaf mengganggu.”


Boy : “Ada apa?”


Boy berbicara dari balik kursi kerjanya, Joya dengan cepat menurunkan blusnya


yang tadi diangkat Boy.


Rian : “Saya


perlu tanda tangan, tuan.”


Setelah melihat


Joya rapi kembali, kursi kerja Boy berbalik dan Joya berjalan cepat masuk ke


kamar mandi. Rian tersenyum menatap wajah Boy yang kesal karena keasyikannya


terganggu.


Rian : “Apa


perlu saya atur tur untuk honey moon, tuan?”


Boy : “Belum


bisa, Joya tidak mau honey moon. Dia gak mau meninggalkan ibu sendirian.”


Rian : “Oh,


nyonya muda sangat perhatian pada nyonya besar ya.”

__ADS_1


Boy : “Hem. Bahkan


aku tidak dianggap ada kalau Joya sudah mulai bicara dengan ibu.”


Rian menahan


tawanya melihat Boy cemberut, bosnya ini sudah seperti anak kecil sejak ia


menikah. Tapi Rian menikmati melihat Boy yang sekarang karena ia bisa lebih


banyak tertawa, menertawakan bosnya tepatnya.


Boy : “Ini,


sudah semua. Bagaimana perkembangan tim pemasaran? Sudah selesai desainnya?”


Rian : “Belum,


tuan. Mereka saat ini sedang tahap pembuatan. Terakhir kali revisi kemarin dan


besok client minta desainnya sudah jadi.”


Boy : “Apa bisa


selesai hari ini?”


Rian : “Karena


itu, mereka perlu dukungan tuan agar semangat.”


Boy menatap


Rian curiga,


Rian : “Kenapa tuan


menatap saya begitu?”


Boy : “Kenapa


aku merasa kau sedang menjualku?”


Rian tersenyum


lebar, ia mengambil dokumen yang sudah ditandatangani Boy dan memeriksanya


sekali lagi.


Rian : “Bukan


menjual, tuan tepatnya mengumpankan tuan kepada wanita-wanita single kelaparan


di bagian pemasaran.” Ucap Rian dalam hati dengan liciknya.


Sudah menjadi


rahasia umum kalau sebagian besar staf pemasaran adalah fans berat tuan Boy


yang tampan. Jangankan wanita, pria saja juga terpikat pada ketampanan Boy.


Pria seperti pak Calvin.


Boy : “Aku akan


kesana sekarang. Apa Joya boleh ikut?”


Rian : “Tentu


saja, tuan. Tapi sebaiknya tuan jangan terlalu mesra di depan mereka.”


Boy : “Kenapa


tidak boleh? Joya kan istriku.”


Rian : “Saya


takut ada yang baper dan desainnya tidak akan selesai tepat waktu, tuan.”


Boy : “Kenapa


semua orang menentangku memperkenalkan Joya sebagai istriku!!”


Boy berteriak


membuat Rian hampir menutup telinganya.


Rian : “Tuch


kan marah lagi.” batin Rian.


Joya yang


keluar dari kamar mandi, tercekat mendengar teriakan Boy. Boy yang melihat


Joya, langsung mendekatinya dan menarik tangan istrinya itu agar berjalan


mengikutinya.


Boy : “Maaf,


sayang. Aku membuatmu kaget ya. Aku berteriak pada Rian tadi.”


Joya : “Saya


kira kenapa?”


Boy mengajak


Joya duduk di sofa dan mulai bermanja-manja padanya, lupa kalau tadi ia ingin


melihat kinerja bagian pemasaran. Rian menatap nelangsa kepada bosnya yang


sedang dimabuk cinta.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis”


dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak..


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2