
Kita tidak tahu kapan diletakkan sebuah rasa oleh Tuhan. Bahkan pada seorang asing sekalipun. Kita akan sadari jika ia mulai menjauh.
"Tunangan?" Safira balik bertanya.
"Iya, kamu lupa?"
"Bukannya Mas Alva tidak menginginkan saya?" Pertanyaan Safira membuat Alva berhenti dari aktivitasnya. Tatapannya tajam ke arah gadis itu.
"Kita pulang sekarang!" Segera ia menutup laptop dan mengemasi barang-barangnya. Sedang Safira hanya bergeming memperhatikan pria itu.
"Ayo!" titahnya saat semua beres.
***
Alva terlihat gusar, di kepalanya terngiang pertanyaan menohok dari bibir gadis itu. Safira menoleh saat sadar bahwa pria itu tidak membawanya pulang. Sementara langit terlihat mendung.
"Kita ke mana?"
"Aku mau bicara!"
"Bicara saja di sini. Di luar gerimis."
"Aku berhak menentukan di mana kita bicara!" Alva tampak naik pitam. Melihat itu Safira tak lagi membantah.
Mobil terus melaju hingga tiba di sebuah danau. Tempat itu sangat tenang. Hanya terlihat satu dua orang yang berada di sana. Karena hujan rintik mulai datang.
Suasana tenang terasa saat Safira mengikuti langkah pria di depannya.
Alva menghentikan langkahnya saat mereka berdua tepat berada di tepi danau.
"Duduk!" perintahnya.
Kembali suasana sepi. Dari kejauhan terlihat di tengah danau beberapa boat tengah mengapung dikemudikan para pasangan mulai merapat ke tepian.
Alva melirik gadis beralis rapi bak semut beriring di sebelahnya.
"Kamu jangan salah sangka, aku memang tidak pernah menginginkan atau menganggapmu tunangan. Aku hanya tak ingin kamu bergaul dengan orang yang salah!" tuturnya memecah keheningan. Safira tak bereaksi, gadis itu merapikan rambut yang menari dimainkan sang bayu.
"Kamu paham maksudku?"
"Paham, terima kasih."
Alva mengangguk puas.
"Mau ke mana?" tanya pria itu heran melihat Safira melangkah mendekati danau. Gadis itu menoleh lalu kembali melangkah hingga di bibir danau. Alva berdiri menjajarinya.
"Gerimis semakin deras, jangan di sini." Alva berkata menatap gadis itu.
"Saya rindu kampung halaman. Saya ingin pulang," ucapnya lirih tanpa menoleh. Lelaki itu menangkap bukit bening menggantung di sudut mata Safira.
"Nggak usah cengeng, ayo pulang!" sergahnya meraih tangan Safira. Gadis itu menepis pelan menolak mengikuti Alva. Penolakan Safira membuatnya terkejut. Tak menyangka gadis itu keras kepala.
"Ck! Hujan semakin deras, kamu ngerti nggak sih?"
Tiba-tiba petir menyambar diiringi gelegar guntur. Safira sama sekali tidak menampakkan takut. Ia justru menatap garis serupa akar yang menyala di cakrawala. Alva semakin tak mengerti dengan gadis di depannya itu.
Tak menunggu lama segera ia menarik lengan Safira mengajak gadis itu berteduh. Keduanya duduk di saung tidak jauh dari danau.
Pria itu masih geram sekaligus heran dengan ekspresi datar gadis di depannya. Sepanjang ia berhubungan dengan para gadis, hampir mereka semua takut pada petir dan semisal. Tapi itu tak berlaku pada Safira.
Hari beranjak naik. Mereka masih terperangkap hujan. Selama dalam saung keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Baju dan rambut Safira sedikit basah. Sementara Alva lebih aman, sebab ia mengenakan jaket sejak keluar cafe tadi.
"Kamu nggak kedinginan?" Pria itu membuka suara. Safira melirik sekilas lalu menggeleng.
"Kamu nggak takut petir?" selidiknya penasaran. Lagi lagi gadis itu menggeleng.
"Saya suka hujan dengan semua yang dia bawa," tuturnya menatap langit yang masih mendung. Kali ini tampak Alva penasaran dengan ucapan Safira.
__ADS_1
"Semua yang dia bawa ... maksud kamu?"
Sungging kecil terlihat di bibir Safira.
"Iya, hujan dengan petir dan gelegar gunturnya! Coba Mas lihat, langit seolah terbelah saat petir datang, dan dunia terlihat terang!" paparnya tanpa menoleh. Alva mengernyit heran kemudian menggeleng.
"Gadis aneh!" gumamnya.
"Sudah saya duga, tidak semua orang bisa memahami saya," balas Safira masih menatap cakrawala.
"Oke. terserah kamu lah! Oh iya, mengenai pertunangan itu ...."
"Jangan khawatir, saya akan mengatakan hal ini pada ibu," sela Safira ringan.
"Kamu ...."
"Itu, 'kan yang Mas inginkan? Saya cukup tahu diri kok, Mas."
"Kamu mau bicara ke ibu bahwa ...."
"Bahwa saya meminta kembali ke desa, dan meneruskan hidup saya di sana."
***
"Tidak! Ibu tidak mengizinkan kamu kembali ke desa tanpa Alva!" jawab Bu Santi saat ia mengutarakan keinginannya. Wanita paruh baya itu tampak kecewa dengan permintaan Safira.
Lama pasangan suami istri itu menginginkan seorang putri. Dengan adanya Safira mereka berharap gadis itu bisa menjadi kerinduan dari keinginan mereka.
"Ibu, saya akan tetap menjadi putri ibu, saya akan tetap berhubungan baik dengan keluarga ini tanpa harus terikat pernikahan dengan Mas Alva," tuturnya sopan. Bu Santi menarik napas dalam-dalam lalu melepas alat bantu penglihatan di atas meja.
"Ada apa dengan kamu, Nak? Apa Alva menyakitimu? "Apa dia mengatakan hal buruk padamu?"
Sambil tersenyum ia menggeleng dan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu terjadi antara dirinya dan putra kedua wanita bijak itu. Lugas Safira bertutur bahwa Alva sudah dewasa dan berhak atas wanita pilihannya. Meski berbagai alasan dikemukakan Safira, tetap saja wanita di depannya itu tidak bisa menerima.
"Mana Alva?" tanyanya pada Mbok Mirah yang saat itu tengah melintas di depan mereka.
"Ibu tahu, Safira. Tapi ibu juga tahu seperti apa putra ibu," tutur Bu Santi lembut.
"Ibu ingin kamulah yang akan menemani hari-harinya kelak. Ibu melihat kalian pasangan yang bisa mengisi satu sama lain."
Gadis itu melipat wajah menatap lantai yang ditutup karpet tebal berwarna jingga. Meski ibu angkatnya itu yakin ia berjodoh dengan Alva, tapi tidak demikian dengannya. Safira merasa pria itu terlalu jauh untuk 'disentuh'. Ia sendiri tak yakin lelaki itu bisa mencintainya.
"Kamu pasti bisa mendapatkan cinta Alva. Ibu tahu mungkin saat ini anak ibu itu belum bisa menerima keputusan ini. Tapi percayalah, kamu pasti bisa melembutkan hatinya."
Kali ini Safira yang menarik napas dalam-dalam.
"Maaf, Ibu. Bukan saya menentang keinginan Ibu, tapi ...."
"Sore, Bu," suara Alva terdengar di tengah-tengah mereka. Seperti biasa, lelaki itu selalu mengecup kening ibunya saat tiba di rumah. Sambil melepas dasi ia duduk di sebelah Bu Santi.
"Ada apa ini, Bu? Sepertinya serius sekali?" Ia menatap Safira dan ibunya bergantian.
"Alva, apa kamu masih berhubungan dengan gadis itu?" tanya Bu Santi tanpa basa-basi. Mata putranya membulat penuh tanya. Sekilas ia menatap Safira yang masih menekuk wajah.
"Ini bukan pengaduan Safira. Hanya saja ibu merasa kamu belum bisa menerima pertunangan ini, begitu?" cecar sang ibu.
Alva menyugar rambut frustrasi. Sis lain darinya sangat mencintai perempuan yang telah melahirkannya. Tetapi di sisi lain, ia juga mencintai sang kekasih.
"Ibu akan mengatur pernikahan kalian secepatnya," cetus Bu Santi.
Mendengar penuturan itu, sontak keduanya memandang ke arah wanita paruh baya itu.
"Safira, kamu boleh mengunjungi desamu besok. Alva, kamu antar dia ya. Ingat! Ibu tidak ingin rencana pernikahan kalian gagal." Perempuan itu beranjak dari duduknya melangkah ke kamar.
Alva memandang gadis di depannya kesal. Ia berpikir bahwa Safira telah mengadukan dan merencanakan semua ini.
"Kamu bicara apa ke ibu, heh!"
__ADS_1
Tak ingin air di pelupuknya tumpah, gadis itu pergi tanpa menjawab pertanyaan Alva. Terdengar umpatan kecil dari bibir pria itu.
***
Safira telah rapi bersiap pergi setelah makan pagi. Dress panjang berwarna biru dengan motif bunga putih, rambut dibiarkan tergerai ditambah sedikit polesan make up, ia terlihat cantik. Berkali-kali Bu Santi memuji penampilannya.
"Alva mana?" tanya Tyo.
Safira tak menjawab, ia hanya tersenyum. Sang kakak tersenyum paham dengan kelakuan sang adik. Ia memberi isyarat agar gadis itu bersabar.
"Aku akan panggil dia. Kamu tunggu di sini!"
Terdengar suara Tyo memanggil serta mengetuk pintu kamar adiknya.
"Al, kamu ditunggu Safira," ujarnya saat pintu terbuka. Malas Alva mengangguk.
"Kalau kamu nggak mau ngantar, biar aku aja! Paling tidak hargai gadis itu, Al!" sentak Tyo kesal melihat reaksi pria yang lebih muda darinya itu.
"Ya udah, Kak. Kakak aja yang antar," balasnya tersenyum masam kembali menutup pintu. Rupanya kejadian itu diperhatikan oleh Bu Santi. Wanita itu berdiri tak jauh dari mereka berdua.
"Alva! Dia tunangan kamu, bukan kakakmu!" serunya tegas. Kedua putranya itu menoleh melihat sang ibu.
"Alva!"
"Iya, Bu. Alva antar, tapi ... Al langsung balik ya," pintanya meminta persetujuan.
"Ibu mengizinkan Safira dua minggu di sana. Kamu boleh pulang, dan menjemput jika sudah waktunya kembali." Tanpa menunggu jawaban sang putra, Bu Santi melangkah menuruni tangga.
Celana jeans hitam, kemeja putih dengan lengan dilipat hingga siku dengan kaca mata hitam, Alva siap berangkat. Ia telah berada di belakang kemudi saat Tyo menghampiri Safira.
"Selamat bersenang-senang di desa. Oh iya, nanti kalau aku senggang, aku menyusul," ucapnya tersenyum yang disambut anggukan oleh Safira
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan tak ada obrolan yang terjadi di antara mereka. Alva fokus mengemudi sedang Safira menatap ke jendela.
Telepon genggam milik gadis itu bergetar. Bibirnya sedikit tertarik membaca identitas penelpon.
"Hai"
"___"
"Jadi"
"___"
"Iya"
"___"
"Boleh, hati-hati!"
Sambungan telepon diputus. Kembali ia masukkan benda pipih itu ke dalam tas. Masih dengan wajah senang ia menatap keluar jendela.
"Siapa telepon?" Alva bertanya.
Safira menoleh tersenyum.
"Aku tanya, siapa telepon?"
"Mas Deva, dia akan menyusul besok!"
Alva tertegun sejenak kemudian menarik napas dalam-dalam.
"Deva! Mau kamu apa sih?" batinnya.
"Kamu kasi dia nomer telepon dan alamat desa kamu?"
"Iya, Mas Deva ingin tahu suasana di sana," papar gadis itu.
__ADS_1
Lelaki di balik kemudi itu mengangguk-angguk dan menggumam sesuatu yang Safira tidak tahu.