Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Panggilan kerja


__ADS_3

Sehari lagi setelah tugas Joya selesai di apartment Boy, Joya mendapat telpon dari salah satu perusahaan yang diinginkannya untuk bisa bekerja disana.


Joya : "Halo. Siang."


HRD : "Selamat siang, benar saya bicara dengan Joya?"


Joya : "Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"


HRD : "Saya Sumi, HRD PT. Aneka. Maaf sebelumnya apa Joya pernah mengirimkan surat lamaran ke perusahaan kami?"


Joya : "PT. Aneka, oh iya ada. Bagaimana bu?"


HRD : "Besok bisa datang untuk interview? Jam 8 pagi."


Joya : "Bisa, bu. Terima kasih, saya akan datang tepat waktu."


Joya menggenggam erat ponselnya, ia senang sekali akhirnya dipanggil interview oleh perusahaan yang diinginkannya. Ia harus mempersiapkan dirinya agar besok interviewnya berjalan lancar.


Joya menemui Ny. Besar yang sedang duduk di ruang keluarga, membaca buku.


Joya : "Ny. Besar, saya ijin besok ada interview kerja."


Ny. Besar : "Oh, semoga berhasil ya."


Joya : "Terima kasih, Ny. Besar."


Ny. Besar : "Oh iya, hampir lupa. Joya tolong ke apartment Boy ya. Bawakan kotak di kamar ibu. Kotak warna merah diatas tempat tidur. Minta diantar sopir aja."


Joya : "Cuma bawa kotak itu aja, kan ya, Ny. Besar."


Ny. Besar : "Iya, memangnya kenapa?"


Joya : "Tuan Boy masih dikantor kan?"


Ny. Besar : "Harusnya masih. Emang kenapa sich?"


Joya : "Gak ada apa-apa, Ny. Besar."


Joya gak mungkin cerita kejadian di apartment pada Ny. Besar. Ia juga masih ragu dengan apa yang terjadi antara dia dan Boy.


Ny. Besar tidak percaya begitu saja, ia menelpon Boy dan menanyakan dengan jelas apa yang dilakukan Boy pada Joya di apartmentnya.


Saat mendengar jawaban gugup Boy, tahulah Ny. Besar kalau sudah ada yang terjadi diantara mereka berdua. Ny. Besar menatap tajam Joya yang menunduk di depannya.


Ny. Besar : "Joya, jujur sama ibu. Apa yang dilakukan Boy?"


Joya : "...."


-----


Flash back...

__ADS_1


Joya merasakan kalau Boy berdiri di belakangnya. Ia tidak bisa bergerak lantaran terhimpit antara ranjang dan Boy.


Bruk! Joya merasakan tubuhnya didorong ke atas ranjang, ia segera berbalik melihat Boy yang mulai mendekatinya.


Joya : "Tuan, mau apa?"


Joya mendorong tubuhnya ke sisi ranjang satunya, tapi Boy sudah menangkap kakinya dan menyeret Joya mendekat. Boy mengukung Joya dengan kedua tangannya.


Joya bisa melihat tatapan mata Boy berkabut menatap matanya, saat tangan Boy mulai mengarah memegang bahu Joya, ia mulai meronta.


Joya : "Tuan, stop!"


Joya mencoba mendorong Boy tapi kalah tenaga, ia beneran ketakutan sekarang. Apapun yang sedang dipikirkan Boy saat ini, sama sekali tidak boleh terjadi.


Joya : " Tuan, sadar. Tolong..."


Duk! Lengan Joya menyikut dagu Boy, membawanya kembali ke kenyataan. Ia menatap Joya yang hampir menangis.


Dengan cepat Boy bangkit berdiri, ia membelakangi Joya,


Boy : "Tunggu diluar. Keluar cepat!!"


Joya berlari secepat yang ia bisa keluar dari kamar Boy, jantungnya berdegup kencang mengalahkan hembusan nafasnya yang terasa berat. Ia bersandar pada meja bar, mengatur nafasnya.


Boy keluar dari kamarnya, sudah berpakaian lengkap dan membawa tas kerja. Ia berjalan mendekati Joya yang beringsut ke dekat kompor, wajahnya masih tampak ketakutan.


Boy : "Selesaikan pekerjaanmu dulu dan pulanglah. Besok kau bisa datang sore, siapkan makan malam juga."


Boy berkata begitu tanpa melihat Joya lagi, ia dengan cepat berjalan keluar dari apartmentnya membiarkan Joya sendirian. Tubuh Joya langsung lemas jatuh di lantai dapur. Ia memejamkan matanya menahan perasaannya pada Boy.


------


Ny. Besar terdiam mendengar cerita Joya yang terpaksa mengatakan semuanya. Joya merasakan lengannya ditarik Ny. Besar yang memeluknya erat.


Ny. Besar : "Jangan takut, Joya. Boy tidak bermaksud apa-apa. Tenang ya. Ada ibu disini."


Joya : "..."


Ny. Besar : "Pergilah kesana, jangan lupa bawa kotak merah itu ya. Ibu akan peringatkan Boy untuk jangan pulang dulu sebelum kamu selesai bersih-bersih."


Joya : "Iya, Ny. Besar. Saya pergi dulu."


Ny. Besar kembali menelpon Boy setelah Joya berlalu keluar rumah dan pergi dengan sopir.


Ny. Besar : "Boy, kalau kamu kebelet, gak gitu caranya. Joya sampai gemetaran loh."


Boy : "Maaf, bu. Boy beneran khilaf, untung aja Joya nglawan. Kalo gak,... bablas, bu."


Ny. Besar : "Dasar anak nakal! Awas kalo lagi-lagi ya. Ibu jewer kamu!"


Boy : "Boy gak bisa janji, bu."

__ADS_1


Ny. Besar kembali mengomeli Boy sampai ia menutup telponnya dengan telinga memerah.


-----


Boy tidak muncul sampai Joya menyelesaikan tugasnya membersihkan apartment Boy. Sekitar 2 jam Joya berada di sana termasuk memasak makan malam untuk Boy.


Bau harum makan malam, mengundang selera Boy yang sudah kelaparan. Ia baru tiba sekitar jam 7 di apartmentnya.


Ketika ia membuka pintu, Joya masih ada disana. Berdiri di dapur, Boy meliriknya sekilas dan pergi ke kamarnya. Joya menarik nafas lega, dia sudah hampir pergi dari sana.


Setelah merapikan peralatan masak kembali ke tempatnya, Joya bersiap pulang. Ia mendekati pintu kamar Boy dan mengetuk pintu.


Ceklek! Boy membuka pintu hanya memakai boxer-nya. Joya tampak terkejut melihat penampilan Boy,


Boy : "Ada apa?"


Joya : "Saya mau pulang, tuan. Ada yang bisa saya bantu lagi?"


Boy : "Tunggu..."


Boy berbalik ke kamarnya lagi, bukan untuk mengambil sesuatu tapi ia merasakan tubuhnya membara melihat wajah manis Joya.


Boy mengambil jas-nya di lemari, tapi sebelumnya ia sudah memakai bathrobe.


Boy : "Taruh ini di kamarku di rumah. Besok bawakan jas hitam selain jas ini kesini. Kamu bisa pulang."


Joya menerima jas itu dan membungkuk sebelum berjalan keluar apartment. Boy memukul pintu, kesal tidak bisa berlama-lama dengan Joya.


Hampir saja ia menyerang Joya. Boy keluar kamar, ia melihat sekeliling apartmentnya yang bersih dan wangi. Makan malam sudah terhidang di meja, masih hangat.


Boy menikmati makan malam itu sambil membayangkan Joya ada di depannya.


Boy : "Lama sekali menunggumu untuk jadi istriku. Aku gak bisa bayangkan setelah kita menikah nanti."


Boy senyum-senyum sendiri membayangkan masa depannya dengan Joya dan berapa banyak anak yang akan mereka dapatkan.


------


Keesokan paginya, Joya sudah sampai di tempat interview kerja. Ia melapor pada resepsionis dan diminta mengisi formulir calon karyawan.


Setelah mengisinya dengan lengkap, Joya diminta menunggu sebentar untuk interview dengan HRD. Tanpa banyak kesulitan, Joya bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan kembali diminta menunggu.


Saat Joya ditanya bisa mulai bekerja kapan, ia dengan cepat menjawab hari ini bisa. HRD menelpon atasannya dan Joya diterima bekerja di perusahaan yang ia inginkan.


-----


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2