Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Ngidam


__ADS_3

Eps. 21 –


Ngidam


Joya memegang


perutnya yang masih rata. Ny. Besar memeluk Joya, “Selamat ya nak, kau akan


jadi ibu. Boy… sedang apa anak itu sekarang?”


*****


Sementara itu, Boy


sedang meeting dengan staf-nya membahas laporan bulanan perusahaan. Rian


menyela meeting yang sedang berjalan memanas dengan pencapaian target yang


kurang 1,00% dari bulan lalu. Boy sedang menarik nafas setelah menangkis semua


alasan yang dilontarkan bagian marketing padanya.


Ia tahu kalau


beberapa staf marketing mereka sedang mencoba bermain dengan perusahaannya


dengan bekerja asal-asalan. Boy sudah hampir melontarkan kalimat balasan lagi,


tapi Rian memanggil nya terus.


“Ada apa?


Sebaiknya ini penting, Rian.”


“Tuan Boy, Ny.


Besar menelpon. Terjadi sesuatu yang penting tentang Ny. Joya.”


Boy


menghentikan meeting dengan wajah berubah cemas, ia pergi ke sudut ruangan,


bicara pada Ny. Besar.


“Halo, ibu. Joya


kenapa? Sakitnya tambah parah?”


“Boy, selamat


nak. Joya sudah hamil.”kata Ny. Besar dengan sangat antusias.


“Ibu yakin…?”Boy


juga antara percaya atau tidak percaya. Boy menghentikan ucapannya, ia


mendengar suara orang muntah di belakang ibunya.


“Apa Joya


baik-baik saja? Boy pulang sekarang…”


“Iya, dia


muntah-muntah dari tadi. Hati-hati dijalan, nak.”


Boy memutuskan


telpon, ia menatap seluruh peserta rapat, “Rapat hari ini saya tunda, segera


perbaiki target bulan ini. Saya tidak mau ada kesalahan lagi. Silakan keluar.”


Wajah Boy yang


dingin segera berganti menjadi senyuman yang hangat. Ia meminta Rian menghandle


sisa hari itu, sementara ia segera pulang.


Joya masih


muntah-muntah, Ny. Lastri sampai membantunya berdiri. “Apa yang kau inginkan,


Joya? Kamu ingin makan sesuatu?”


Joya


menggeleng, ia sudah merasa lebih baik. Boy yang sudah datang, langsung masuk


ke kamar. “Joya, kamu baik-baik saja?” Boy melihat wajah Joya pucat dengan


nafas terengah-engah.


“Aku baik-baik aja,


mas. Cuma…”Joya masuk lagi ke kamar mandi, ia mual mencium bau parfum Boy. “Mas,


ganti baju dulu sana. Baumu… aku gak kuat.” Boy kebingungan dengan kondisi

__ADS_1


Joya.


“Sudah, Boy.


Ganti dulu bajumu, jangan pakai parfum dulu. Joya sedang ngidam, itu biasa di


awal kehamilan.”jelas Ny. Lastri sambil memegangi Joya.


Boy menemani


Joya di dalam kamar, ia sudah berganti baju, mengelap leher dan lengannya


dengan tissue basah, sehingga bau parfumnya menghilang.


“Mas, aku mau


makan mie goreng isi telur mata sapi diatasnya.”pinta Joya.


Boy melarangnya


karena gizinya kurang, tapi Joya mulai menangis. “Mas, jahat!”


“Baik, baik tunggu


sebentar ya. Jangan nangis , sayang. Mas yang salah.”Boy bingung harus


menghadapi Joya yang berubah seperti anak kecil.


Boy turun ke


lantai bawah, memanggil Bi Ijah, “Bi, tolong buatkan mie goreng dengan telur


mata sapi diatasnya. Jangan sampai salah ya. Nanti antar ke atas.”


“Baik, tuan


muda.” Bi Ijah segera membuatkannya, sementara Boy menemui Ny. Besar di


kamarnya.


“Bu, apa wanita


hamil boleh makan mie goreng?”


Ny. Besar tersenyum,


“Joya sedang ngidam ya? Berikan saja apa yang dia mau, yang penting bayi kalian


sehat. Kamu yang sabar ya. Sudah mau jadi ayah, harus lebih sabar sama istrimu


Boy cuma mengangguk


saja, ia kembali ke kamarnya, melihat Joya sedang menghabiskan mie goreng


dengan lahap.


“Masi mual? Ada


yang kamu mau makan lagi?”tanya Boy sambil tersenyum.


Joya mengelus


perutnya yang buncit karena makan mie goreng. “Ach, kenyang. Mas Boy, kok sudah


pulang?”


“Iya, tadi ibu


nelpon dan ngabarin berita baik ini. Mas bahagia banget denger kamu hamil.”


Tiba-tiba Joya


merasa mual lagi, ia mencoba menahan untuk tidak muntah, tapi tidak bisa. Joya


masuk ke kamar mandi, mengeluarkan mie goreng yang tadi dimakannya. Boy yang


panik, berteriak memanggil ibunya.


“Ada apa, Boy?


Joya muntah lagi?”


Boy menggendong


Joya keluar dari kamar mandi.


“Sebaiknya kita


bawa Joya ke dokter kandungan. Sekarang ibu kabarin dokter Risman.”


Boy menggendong


Joya turun ke lantai bawah dan masuk ke mobilnya. Ia terlihat cemas dan


khawatir dengan kondisi Joya yang lemas akibat terlalu sering muntah. Mereka


sampai dengan cepat di rumah sakit dan dokter Risman segera membawa mereka ke

__ADS_1


dokter kandungan yang langsung memeriksa Joya.


Dokter


kandungan memberi obat penahan mual dan vitamin untuk Joya, “Kalau masih mual,


sampai tidak bisa makan, datang lagi ya.”


“Iya, dokter.


Makasih.”


Ketika berjalan


keluar dari rumah sakit, Joya melihat penjual rujak lewat di dekat pintu masuk


rumah sakit. “Aku mau rujak, Mas.”


Boy


mengernyitkan dahinya, ia khawatir karena Joya belum makan dengan benar, malah


minta rujak. “Nanti perutmu sakit, kita pulang saja, minta bibi buatkan rujak.”


Joya merajuk,


ia mulai menangis seperti anak kecil minta permen tapi tidak dikasi. Akhirnya


Boy mengalah dan memborong rujak dengan buah yang dipilih Joya.


Boy menyetir


kembali ke rumah sambil sesekali melirik Joya yang sedang makan rujak di mobil.


Boy benar-benar pusing dengan ngidam Joya, ini pengalaman pertamanya menjadi


calon ayah. Biasanya Boy tidak akan membiarkan siapapun makan di dalam


mobilnya, tapi kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Setelah


menghabiskan satu bungkus rujak, Boy mendengar suara dengkuran halus di


sampingnya. Joya sudah tertidur.


Mereka sampai


di rumah, tapi Joya belum bangun juga. Pelan-pelan Boy menggendong Joya ke


kamar mereka, sementara bi Ijah mengeluarkan obat Joya dan rujak dari dalam


mobil Boy.


“Boy, bagaimana


Joya?” tanya Ny. Besar yang mengikuti mereka. Ny. Besar memasuki kamar mereka,


ia mengelus kepala Joya yang tertidur.


“Biarkan dia


tidur dulu, bu. Dokter bilang kalau masih muntah sampai tidak bisa makan, kita


harus ke rumah sakit lagi. Tadi Joya makan rujak. Boy takut dia sakit perut.


Tapi Joya malah menangis.”


Ny. Besar


tertawa, ia menggandeng lengan Boy keluar dari kamar.


“Dulu waktu ibu


mengandungmu, juga sama. Ayahmu sampai pusing memenuhi semua permintaan ibu,


karena ibu akan menangis kalau tidak dapat. Bersabarlah.”


“Iya, bu. Tapi


Boy khawatir kondisi Joya kalau gak bisa makan dengan baik.”


“Sabar ya. Cuma


3 bulan, habis itu normal lagi, kok.”


Boy mengangguk,


melihat pintu kamarnya yang sudah tertutup .


*****


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2