
Eps. 20 – Pertu vs Jamu
Ana : “Semuanya?”
Nanda : “Ya,
semuanya tanpa terlewatkan satu pun.”
Ana meminta
Nanda mencari perempuan diluar sana yang bisa mengajari Nanda bercinta. Ana
tidak bisa melakukannya karena dirinya juga minim pengalaman. Ia hanya tahu
beberapa trik saja karena teman-teman dekatnya sudah berubah jadi ibu-ibu
mesum.
Mereka bahkan
tidak segan menceritakan dengan detail percintaan panas dengan suami mereka
masing-masing. Ana sampai harus gigit jari sendiri karena tidak bisa
mempraktekkannya. Apa ini saat yang tepat untuk mempraktekkannya?
Ana : “Apa tuan
akan menikahi saya?”
Nanda : “Ya. Kita
bisa nikah besok. Atau malam ini juga. Charlie sudah menyiapkan dokumennya.”
Ana : “Mana?”
Nanda : “Kau
mau menikah sekarang?”
Ana : “Tuan kan
mau tau itu. Nanti kalau kita sudah selesai dan tuan tidak mau menikahi saya,
gimana?”
Nanda mengambil
ponselnya, ia menelpon Charlie dan meminta Charlie membawakan dokumen
pernikahan dan makan malamnya ke kamar. Charlie sampai hampir menjatuhkan
ponselnya mendengar bentakan Nanda.
Nando : “Apa
yang terjadi?”
Charlie : “Tuan
muda pertama mau menikah sekarang juga, tuan muda kedua.”
Nando &
Carol : “Apa??!!”
*****
Ana
menandatangani dokumen pernikahannya dengan Nanda. Nanda menandatanganinya juga
dan memberikan semua dokumen itu kembali pada Charlie.
Nanda : “Sudah.
Daftarkan malam ini juga. Untuk ijabnya samaan saja dengan Nando. Atau kamu mau
pesta besar-besaran?”
Ana menggeleng,
ia sudah menikah dua kali. Terlalu memalukan kalau harus pesta lagi.
Charlie :
“Baik, tuan muda pertama. Silakan dinikmati makan malamnya. Perlu saya siapkan
yang lainnya, tuan muda?”
Nanda : “Jangan
biarkan siapapun mengganggu kami malam ini. Minta Nadia tidur lebih cepat.”
Charlie :
“Baik, tuan muda pertama.”
Charlie
tersenyum melihat Nanda sudah menikah dan tidak sabaran melalui malam pertama
pernikahannya. Ana menusuk potongan sosis di piringnya dengan sadis. Ia tidak
menyangka bisa menyetujui pernikahan dengan Nanda padahal mereka baru kenal,
__ADS_1
cuma gara-gara nafsu setan dan rasa penasarannya.
Ana : “Tuan
Nanda, apa pekerjaan tuan?”
Nanda : “Aku
bekerja di bilang IT.”
Ana terus
menanyakan pertanyaan-pertanyaan dasar yang berkaitan dengan Nanda sampai Nanda
menyuruhnya agar cepat makan. Mereka harus segera mulai melakukan apa yang
membuat Nanda penasaran.
Ana terpaksa mempercepat
makannya. Nanda memanggil pelayan untuk membereskan semuanya sementara Ana
masuk ke kamar mandi membawa titipan Carol. Mata Ana melotot melihat isi
bungkusan yang diberikan Carol.
Ana : “Hah. Ini
sangat memalukan. Bagaimana bisa Carol menyuruhku memakai baju ini? Ini bukan
baju tapi saringan. Kenapa bisa setipis ini?”
Ana memakai
juga lingerie itu dan menutupi tubuhnya dengan handuk yang ada disana. Nanda
mengkerutkan keningnya melihat Ana keluar memakai handuk.
Nanda : “Mana
bajumu? Kenapa cuma pakai handuk?”
Ana : “Tuan
ganti baju dulu sana. Bukannya tuan belum mandi?”
Nanda : “Ach,
iya. Aku belum mandi. Tunggu ya. Jangan keluar kamar.”
Ana : “Iya,
saya tunggu disini.”
Ana berbaring diatas
dulu. Tapi Ana berpikir dirinya terlihat murahan kalau berpose seperti itu. Ia
duduk kembali, mengambil bantal menutupi tubuhnya.
Ana melihat
sekeliling kamar itu, ia ingin melihat keluar jendela. Ana mengintip ke balik
korden, ia bisa melihat halaman yang luas dan bulan bersinar penuh. Kekaguman
terpancar dari mata Ana melihat keindahan di depan matanya.
Nanda : “Apa
kau suka tamannya?”
Ana : “Ya. Kau
sudah selesai mandi?”
Ana melihat
Nanda mendekatinya hanya memakai handuk. Rona merah muncul di pipi Ana saat
melihat tubuh berotot Nanda.
Nanda : “Tidak
manggil tuan lagi, heh?”
Ana : “Harusnya
kupanggil suamiku. Atau sayang...”
Ana
melingkarkan tangannya ke leher Nanda. Ia menyusuri pipi mulus Nanda dengan
jemarinya. Ana menyusuri leher Nanda dengan bibirnya.
Nanda :
“Ap...apa yang kau lakukan?”
Ana : “Kamu gak
suka? Aku berhenti ya.”
Nanda merangkul
__ADS_1
pinggang Ana dan diam lagi. Ana kembali meneruskan apa yang ingin ia coba pada
Nanda. Tangan Ana sangat aktif di bawah sana sampai handuk Nanda terlepas. Ana
menatap mata Nanda yang mulai tidak fokus. Ia menghentikan tangannya dengan
cepat dan Nanda mulai tersadar kembali.
Nanda : “Kenapa
berhenti? Yang tadi enak sekali.”
Ana : “Apa kau
yakin belum pernah melakukannya? Aku merasa seperti wanita murahan disini.”
Nanda : “Kau
istriku sekarang. Lakukan lagi yang tadi.”
Ana : “Kau
sangat tidak sabaran, tuan muda.”
Bruk! Nanda
mendorong Ana ke atas tempat tidurnya. Ia melakukan sama persis dengan apa yang
dilakukan Ana tadi pada tubuhnya. Ana belingsatan menerima serangan dari Nanda.
Sampai ia tiba-tiba berhenti bergerak.
Ana : “Ach,
kenapa berhenti?”
Nanda : “Kau
juga berhenti tadi.”
Ana sangat
kesal pada Nanda yang terlalu polos. Semuanya harus diajari dari nol. Akhirnya
Ana mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengajari Nanda, mempraktekkan semua
yang ia dengar dari teman-temannya.
Ana mengatur
nafasnya, ia baru saja membuat Nanda merasakan kepuasan bercinta. Mereka bahkan
belum sampai ke inti permainan yang memabukkan itu tapi Ana sudah merasa lelah.
Ana merebahkan tubuhnya di samping Nanda. Ia menarik selimut menggunakan
kakinya dan mengerubungi dirinya.
Ana hampir
terlelap saat ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Ana terbangun
dengan cepat dan membuka selimutnya.
Ana : “Kamu
ngapain?”
Nanda : “Gak
akan kubiarin kamu tidur. Yang tadi belum semuanya, kan?”
Ana : “Tapi aku
cuma taunya segitu aja.”
Nanda : “Trus,
mana anaknya?”
Ana : “Anak
apa?”
Nanda : “Bukannya
habis itu, kita punya anak?”
Ana keceplosan
tertawa, sebenarnya apa yang diketahui oleh Nanda. Sepertinya ia belum pernah
melihat film panas. Atau bahkan bolos waktu pelajaran biologi dulu.
Ana : “Mau
anak, tunggu hamil dulu. Sembilan bulan kemudian baru lahir.”
Nanda : “Apa
kamu sudah hamil?”
*****
Klik
__ADS_1
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.