
Sampai di dalam
kamar pengantin mereka, Joya melihat sebuah gaun tergantung di sisi luar
lemari. Ia memperhatikan detail gaun itu, tidak sadar kalau Boy sudah mengunci
pintu.
Boy
memperhatikan tubuh langsing Joya dan juga ranjang mereka yang berseprai putih
dan harum. Joya merasakan punggungnya disentuh Boy.
Boy membalik
tubuh Joya menghadap padanya.
Joya :
"Tuan..."
Boy :
"Panggil aku suamiku... Cepat..."
Joya :
"Su... Suamiku..."
Joya memejamkan
matanya ketika Boy mendekatkan wajahnya. Sebuah ciuman hangat dirasakan Joya
ketika bibir lembab Boy menempel di bibirnya.
Pelan-pelan
ciuman Boy semakin dalam dan menuntut. Joya berusaha melepaskan cengkeraman Boy
yang membelenggu tubuhnya.
Ia kesulitan
bernafas karena ciuman Boy.
Boy melepaskan
ciumannya, menatap istrinya yang menarik nafas dalam-dalam.
Boy : "Ini
baru permulaan tapi kamu uda ngos-ngosan."
Joya :
"Tuan..."
Boy :
"Kita ganti baju ya."
Joya mengangguk
dan tersenyum. Ia mengira kalau Boy akan ganti baju di kamar lain. Tapi Boy
seenaknya membuka baju pengantin yang dipakainya dan memperlihatkan otot
tubuhnya pada Joya.
Bluss. Wajah
Joya memerah melihat pandangan tubuh Boy. Ia mengalihkan pandangannya ke tempat
lain.
Boy :
"Kenapa kamu belum lepas kebayamu?"
Joya :
"Disini?!"
Boy :
"Iya. Kenapa? Kita sudah sah jadi suami istri. Apa salahnya?"
Joya :
"Tapi..."
Boy mendekati
Joya lagi, kali ini langsung membuka kancing kebaya Joya yang mulai gelisah.
Tangan Boy juga
gemetaran merasakan lembutnya kulit tubuh Joya. Untuk pertama kalinya setelah
mereka menikah, Boy menyentuh tubuh Joya.
Seharusnya
tidak ada rasa takut, tapi keduanya malah semakin gugup setelah kebaya Joya
terlepas.
Saat Boy mulai
menarik retsleting angkin yang dipakai Joya, tiba-tiba ada ketukan halus di
depan pintu.
Keduanya
menoleh bersamaan ke pintu dan langsung menjauh satu sama lain. Joya membuka
lemari ingin mengambil bathrobe menutupi tubuh bagian atasnya.
Boy membuka
pintu dan melihat 3 orang asing di depannya. Ketiga melongo melihat visual Boy
yang belum memakai bajunya.
Boy :
"Siapa kalian?"
MUA 1 :
"Permisi, tuan. Kami ditugaskan membantu Ny. Joya bersiap-siap."
Boy :
"Kenapa ada laki-laki? Kamu gak boleh masuk!"
MUA 2 :
"Gak pa-pa gak boleh masuk asal boleh masuk ke hatimu, tuan Boy. Ganteng
banget!"
Boy berjengit
melihat tingkah genit MUA laki-laki yang ternyata menyukai Boy. Joya menahan
tawanya di dalam kamar.
Tadi pagi
mereka bertiga yang membantunya bersiap-siap. Tapi saat ganti baju, hanya MUA
perempuan yang masuk ke balik tirai.
Joya :
"Tuan, biarkan mereka masuk."
Boy : "Ok,
tapi aku tetap disini."
__ADS_1
Joya tidak bisa
berbuat apa-apa. Boy sudah duduk manis di kursi di dalam tirai, memperhatikan
kinerja para MUA yang membantu Joya.
Joya menahan
rasa malunya saat pakaiannya diganti di depan Boy yang sangat senang melihat
tubuh istrinya.
Setelah Joya
selesai bersiap-siap, Boy mengangguk melihat Joya terlihat cantik.
Boy :
"Bagus. Kerja kalian bagus, kecuali kamu ya. Dari tadi godain saya
terus."
Boy menunjuk
MUA laki-laki yang mesam-mesem melihat Boy.
Mereka semua
keluar meninggalkan Joya dan Boy kembali berduaan. Boy menatap Joya yang sedang
mengagumi keindahan gaun yang dipakainya.
Jemari tangan
Boy menyentuh punggung Joya, seperti mencari sesuatu.
Joya : "Tuan
nyari apa?"
Boy :
"Retsletingnya dimana?"
Joya :
"Ada di samping kiri, tuan."
Boy : "Oh,
disini. Nanti malam biar gampang kubuka."
Joya deg-degan,
nanti malam memang malam pengantin mereka. Boy mencium tengkuk Joya, istrinya
itu mulai memejamkan mata.
Entah dimana
Boy belajar menggoda, tangan Joya sampai ikut gemetar merasakan sentuhan Boy
dibalik gaun malamnya.
Joya :
"Tuan..."
Joya menggigit
bibir bawahnya, kakinya hampir tidak kuat menopang berat tubuhnya. Joya sudah
sepenuhnya bersandar pada Boy.
Boy :
"Kita jangan keluar ya... Disini saja."
Joya :
"Hemmm.. "
Tok, tok,
Joya :
"Tuan, ada orang..."
Boy :
"Biarkan saja."
Joya :
"Mungkin itu Ny. Besar. Sebentar, tuan."
Joya berjalan
mendekati pintu, sementara Boy merapikan jas yang sudah dipakainya. Ketika Joya
membuka pintu, benar saja itu Ny. Besar.
Ny. Besar :
"Sudah beres, Joya. Hmm... Cantik sekali. Pakai ini."
Lagi-lagi Ny.
Besar memberikan sekotak perhiasan dengan batu permata yang warnanya senada
dengan gaun yang dipakai Joya.
Joya terpaksa
memakai perhiasan itu atau Ny. Besar akan mengomel. Setelah memastikan
penampilan Joya sekali lagi, Ny. Besar menuntun Joya keluar kamar pengantin.
Boy menyusul
dibelakangnya tampak sangat tampan.
Resepsi
pernikahan Boy dan Joya hanya dihadiri 500 undangan. Pesta jadi meriah dengan
persembahan lagu dari beberapa pembawa acara.
Joya sudah
duduk di pelaminan setelah selesai bersalaman dan berfoto bersama dengan para
tamu. Ia melepas heels yang dipakainya dan mulai memijat betisnya yang pegal.
Boy yang
melihat hal itu langsung ingin ikut memijat betis Joya juga.
Joya : “Jangan,
tuan. Biar saya saja.”
Boy : “Kamu
tidak mau aku sentuh?”
Joya : “Bukan
begitu, tuan. Tidak sopan rasanya kalau membiarkan suami saya memijat kaki
saya.”
Boy : “Nanti
malam kau tidak akan mengeluhkan itu saat aku menyentuh seluruh tubuhmu.”
Joya : “Tuan
mau melakukan apa? Apa tuan gak capek?”
Boy : “Melakukan
yang seharusnya dilakukan suami istri saat malam pertama pernikahan.”
__ADS_1
Joya : “Apa
tuch?”
Joya yang
penasaran semakin mendekat pada Boy yang memberinya tanda mendekat. Cup. Boy mencium
pipi Joya. Joya yang terkejut segera menjauh dari Boy sambil melihat ke arah
para tamu, tapi Boy menarik tangan Joya lagi dan menciumnya dengan lembut.
Para tamu
undangan yang tadinya sedang makan, auto nengok ke atas pelaminan.
Saudara-saudara Boy langsung bergerak ke atas pelaminan dan menutupi kelakuan
Boy dari para tamu undangan.
Joya : “Tuan...
saya malu... sudah...”
Boy : “Ntar...
dulu...”
Setelah puas
mencium Joya, Boy ingin membawanya ke kamar pengantin mereka. Ia memberi tanda
pada saudaranya kalau ia akan pergi sekarang. Saudara Boy memberi jalan
memuluskan keinginan Boy.
Sampai di dalam
kamar pengantin mereka, Boy menutup pintu dan menguncinya. Joya melihat
sekeliling kamar pengantin yang sudah dihiasi bunga dan lilin. Meskipun belum
menyala, tapi aroma wanginya melingkupi kamar itu.
Tangan Joya
bergerak ingin melepas giwang yang masih dipakainya. Ia membuka kotak perhiasan
yang tadi diberikan Ny. Besar dan meletakkan giwang itu kembali ke dalam kotak.
Ia juga melepas kalung dan gelang permata itu.
Saat ia ingin
menurunkan retsleting gaunnya, Joya merasakan tangan Boy sudah melakukannya
duluan. Entah sejak kapan Boy sudah melepas jas dan kemejanya. Ia masih memakai
celana panjang,
Boy : “Joya,
panggil aku sayang...”
Joya : “Kalau
saya tidak mau, tuan mau apa?”
Boy : “Aku akan
memakanmu sekarang.”
Joya : “Kalau
saya mau, tuan tidak akan memakan saya sekarang, kan?”
Boy : “Aku juga
akan memakanmu.”
Joya ingin
bergerak menghindar, tapi Boy sudah menahan tangannya. Tangan Boy menarik turun
retsleting gaun yang dipakai Joya dan menurunkan gaun itu.
Joya : “Tunggu
tuan, saya ijin sebentar ya.”
Boy : “Kamu mau
kemana?”
Joya : “Saya
mau lihat Ny. Besar dulu. Dari tadi saya belum ketemu lagi.”
Boy tersenyum
melihat Joya sangat perhatian pada ibunya,
Boy : “Ya, tapi
cium aku dulu.”
Joya menatap
Boy dan menciumnya dengan cepat. Boy langsung menarik tengkuk Joya dan
menciumnya sampai Joya ngos-ngosan. Boy melepaskan tangannya dari tengkuk Joya
dan membiarkan Joya memakai pakaian yang ia ambil dari dalam lemari.
Sepeninggalan
Joya, Boy melihat sekeliling kamarnya. Ia menghidupkan lilin-lilin yang
terdapat di sudut kamar. Tapi baru saja ia ingin mandi, Joya masuk lagi ke
dalam kamar.
Joya : “Tuan,
Ny. Besar tidak enak badan. Saya mau mandi dulu.”
Boy : “Apa?...
Aku ikut mandi ya.”
Joya mengangguk
dengan cepat, ia tidak memikirkan hal lainnya selain kondisi Ny. Besar. Joya
bahkan tidak ragu lagi membuka pakaiannya di depan Boy dan masuk ke bawah
shower duluan.
Boy menyusulnya
masuk ke dalam shower. Ia menjaga untuk tidak menyerang Joya sekarang meskipun
susahnya setengah mati. Selesai mandi, keduanya segera berpakaian dan keluar
kamar menuju kamar Ny. Besar.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren
Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak..
__ADS_1
🌴🌴🌴🌴🌴