Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 18 - Resepsi


__ADS_3

Sampai di dalam


kamar pengantin mereka, Joya melihat sebuah gaun tergantung di sisi luar


lemari. Ia memperhatikan detail gaun itu, tidak sadar kalau Boy sudah mengunci


pintu.


Boy


memperhatikan tubuh langsing Joya dan juga ranjang mereka yang berseprai putih


dan harum. Joya merasakan punggungnya disentuh Boy.


Boy membalik


tubuh Joya menghadap padanya.


Joya :


"Tuan..."


Boy :


"Panggil aku suamiku... Cepat..."


Joya :


"Su... Suamiku..."


Joya memejamkan


matanya ketika Boy mendekatkan wajahnya. Sebuah ciuman hangat dirasakan Joya


ketika bibir lembab Boy menempel di bibirnya.


Pelan-pelan


ciuman Boy semakin dalam dan menuntut. Joya berusaha melepaskan cengkeraman Boy


yang membelenggu tubuhnya.


Ia kesulitan


bernafas karena ciuman Boy.


Boy melepaskan


ciumannya, menatap istrinya yang menarik nafas dalam-dalam.


Boy : "Ini


baru permulaan tapi kamu uda ngos-ngosan."


Joya :


"Tuan..."


Boy :


"Kita ganti baju ya."


Joya mengangguk


dan tersenyum. Ia mengira kalau Boy akan ganti baju di kamar lain. Tapi Boy


seenaknya membuka baju pengantin yang dipakainya dan memperlihatkan otot


tubuhnya pada Joya.


Bluss. Wajah


Joya memerah melihat pandangan tubuh Boy. Ia mengalihkan pandangannya ke tempat


lain.


Boy :


"Kenapa kamu belum lepas kebayamu?"


Joya :


"Disini?!"


Boy :


"Iya. Kenapa? Kita sudah sah jadi suami istri. Apa salahnya?"


Joya :


"Tapi..."


Boy mendekati


Joya lagi, kali ini langsung membuka kancing kebaya Joya yang mulai gelisah.


Tangan Boy juga


gemetaran merasakan lembutnya kulit tubuh Joya. Untuk pertama kalinya setelah


mereka menikah, Boy menyentuh tubuh Joya.


Seharusnya


tidak ada rasa takut, tapi keduanya malah semakin gugup setelah kebaya Joya


terlepas.


Saat Boy mulai


menarik retsleting angkin yang dipakai Joya, tiba-tiba ada ketukan halus di


depan pintu.


Keduanya


menoleh bersamaan ke pintu dan langsung menjauh satu sama lain. Joya membuka


lemari ingin mengambil bathrobe menutupi tubuh bagian atasnya.


Boy membuka


pintu dan melihat 3 orang asing di depannya. Ketiga melongo melihat visual Boy


yang belum memakai bajunya.


Boy :


"Siapa kalian?"


MUA 1 :


"Permisi, tuan. Kami ditugaskan membantu Ny. Joya bersiap-siap."


Boy :


"Kenapa ada laki-laki? Kamu gak boleh masuk!"


MUA 2 :


"Gak pa-pa gak boleh masuk asal boleh masuk ke hatimu, tuan Boy. Ganteng


banget!"


Boy berjengit


melihat tingkah genit MUA laki-laki yang ternyata menyukai Boy. Joya menahan


tawanya di dalam kamar.


Tadi pagi


mereka bertiga yang membantunya bersiap-siap. Tapi saat ganti baju, hanya MUA


perempuan yang masuk ke balik tirai.


Joya :


"Tuan, biarkan mereka masuk."


Boy : "Ok,


tapi aku tetap disini."

__ADS_1


Joya tidak bisa


berbuat apa-apa. Boy sudah duduk manis di kursi di dalam tirai, memperhatikan


kinerja para MUA yang membantu Joya.


Joya menahan


rasa malunya saat pakaiannya diganti di depan Boy yang sangat senang melihat


tubuh istrinya.


Setelah Joya


selesai bersiap-siap, Boy mengangguk melihat Joya terlihat cantik.


Boy :


"Bagus. Kerja kalian bagus, kecuali kamu ya. Dari tadi godain saya


terus."


Boy menunjuk


MUA laki-laki yang mesam-mesem melihat Boy.


Mereka semua


keluar meninggalkan Joya dan Boy kembali berduaan. Boy menatap Joya yang sedang


mengagumi keindahan gaun yang dipakainya.


Jemari tangan


Boy menyentuh punggung Joya, seperti mencari sesuatu.


Joya : "Tuan


nyari apa?"


Boy :


"Retsletingnya dimana?"


Joya :


"Ada di samping kiri, tuan."


Boy : "Oh,


disini. Nanti malam biar gampang kubuka."


Joya deg-degan,


nanti malam memang malam pengantin mereka. Boy mencium tengkuk Joya, istrinya


itu mulai memejamkan mata.


Entah dimana


Boy belajar menggoda, tangan Joya sampai ikut gemetar merasakan sentuhan Boy


dibalik gaun malamnya.


Joya :


"Tuan..."


Joya menggigit


bibir bawahnya, kakinya hampir tidak kuat menopang berat tubuhnya. Joya sudah


sepenuhnya bersandar pada Boy.


Boy :


"Kita jangan keluar ya... Disini saja."


Joya :


"Hemmm.. "


Tok, tok,


Joya :


"Tuan, ada orang..."


Boy :


"Biarkan saja."


Joya :


"Mungkin itu Ny. Besar. Sebentar, tuan."


Joya berjalan


mendekati pintu, sementara Boy merapikan jas yang sudah dipakainya. Ketika Joya


membuka pintu, benar saja itu Ny. Besar.


Ny. Besar :


"Sudah beres, Joya. Hmm... Cantik sekali. Pakai ini."


Lagi-lagi Ny.


Besar memberikan sekotak perhiasan dengan batu permata yang warnanya senada


dengan gaun yang dipakai Joya.


Joya terpaksa


memakai perhiasan itu atau Ny. Besar akan mengomel. Setelah memastikan


penampilan Joya sekali lagi, Ny. Besar menuntun Joya keluar kamar pengantin.


Boy menyusul


dibelakangnya tampak sangat tampan.


Resepsi


pernikahan Boy dan Joya hanya dihadiri 500 undangan. Pesta jadi meriah dengan


persembahan lagu dari beberapa pembawa acara.


Joya sudah


duduk di pelaminan setelah selesai bersalaman dan berfoto bersama dengan para


tamu. Ia melepas heels yang dipakainya dan mulai memijat betisnya yang pegal.


Boy yang


melihat hal itu langsung ingin ikut memijat betis Joya juga.


Joya : “Jangan,


tuan. Biar saya saja.”


Boy : “Kamu


tidak mau aku sentuh?”


Joya : “Bukan


begitu, tuan. Tidak sopan rasanya kalau membiarkan suami saya memijat kaki


saya.”


Boy : “Nanti


malam kau tidak akan mengeluhkan itu saat aku menyentuh seluruh tubuhmu.”


Joya : “Tuan


mau melakukan apa? Apa tuan gak capek?”


Boy : “Melakukan


yang seharusnya dilakukan suami istri saat malam pertama pernikahan.”

__ADS_1


Joya : “Apa


tuch?”


Joya yang


penasaran semakin mendekat pada Boy yang memberinya tanda mendekat. Cup. Boy mencium


pipi Joya. Joya yang terkejut segera menjauh dari Boy sambil melihat ke arah


para tamu, tapi Boy menarik tangan Joya lagi dan menciumnya dengan lembut.


Para tamu


undangan yang tadinya sedang makan, auto nengok ke atas pelaminan.


Saudara-saudara Boy langsung bergerak ke atas pelaminan dan menutupi kelakuan


Boy dari para tamu undangan.


Joya : “Tuan...


saya malu... sudah...”


Boy : “Ntar...


dulu...”


Setelah puas


mencium Joya, Boy ingin membawanya ke kamar pengantin mereka. Ia memberi tanda


pada saudaranya kalau ia akan pergi sekarang. Saudara Boy memberi jalan


memuluskan keinginan Boy.


Sampai di dalam


kamar pengantin mereka, Boy menutup pintu dan menguncinya. Joya melihat


sekeliling kamar pengantin yang sudah dihiasi bunga dan lilin. Meskipun belum


menyala, tapi aroma wanginya melingkupi kamar itu.


Tangan Joya


bergerak ingin melepas giwang yang masih dipakainya. Ia membuka kotak perhiasan


yang tadi diberikan Ny. Besar dan meletakkan giwang itu kembali ke dalam kotak.


Ia juga melepas kalung dan gelang permata itu.


Saat ia ingin


menurunkan retsleting gaunnya, Joya merasakan tangan Boy sudah melakukannya


duluan. Entah sejak kapan Boy sudah melepas jas dan kemejanya. Ia masih memakai


celana panjang,


Boy : “Joya,


panggil aku sayang...”


Joya : “Kalau


saya tidak mau, tuan mau apa?”


Boy : “Aku akan


memakanmu sekarang.”


Joya : “Kalau


saya mau, tuan tidak akan memakan saya sekarang, kan?”


Boy : “Aku juga


akan memakanmu.”


Joya ingin


bergerak menghindar, tapi Boy sudah menahan tangannya. Tangan Boy menarik turun


retsleting gaun yang dipakai Joya dan menurunkan gaun itu.


Joya : “Tunggu


tuan, saya ijin sebentar ya.”


Boy : “Kamu mau


kemana?”


Joya : “Saya


mau lihat Ny. Besar dulu. Dari tadi saya belum ketemu lagi.”


Boy tersenyum


melihat Joya sangat perhatian pada ibunya,


Boy : “Ya, tapi


cium aku dulu.”


Joya menatap


Boy dan menciumnya dengan cepat. Boy langsung menarik tengkuk Joya dan


menciumnya sampai Joya ngos-ngosan. Boy melepaskan tangannya dari tengkuk Joya


dan membiarkan Joya memakai pakaian yang ia ambil dari dalam lemari.


Sepeninggalan


Joya, Boy melihat sekeliling kamarnya. Ia menghidupkan lilin-lilin yang


terdapat di sudut kamar. Tapi baru saja ia ingin mandi, Joya masuk lagi ke


dalam kamar.


Joya : “Tuan,


Ny. Besar tidak enak badan. Saya mau mandi dulu.”


Boy : “Apa?...


Aku ikut mandi ya.”


Joya mengangguk


dengan cepat, ia tidak memikirkan hal lainnya selain kondisi Ny. Besar. Joya


bahkan tidak ragu lagi membuka pakaiannya di depan Boy dan masuk ke bawah


shower duluan.


Boy menyusulnya


masuk ke dalam shower. Ia menjaga untuk tidak menyerang Joya sekarang meskipun


susahnya setengah mati. Selesai mandi, keduanya segera berpakaian dan keluar


kamar menuju kamar Ny. Besar.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren


Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak..

__ADS_1


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2