
Eps. 20 – Blacky yang pintar
Carol memekik ketakutan saat Blacky mendorongnya, menggigit kecil tangannya agar mau
mengikuti anjing besar itu mendekati Nanda. Carol berdiri di depan Nanda dengan Blacky berjaga di belakangnya.
Nanda : “Harga dirimu tinggi juga ya. Baru seperti itu aku bicara, kau sudah tersinggung.
Sini, duduk. Tanda tangan perjanjian pra nikah ini.”
Carol : “Saya gak mau. Saya sudah bilang pernikahan ini batal.”
Nanda : “Jangan keras kepala! Cepat tanda tangan atau kusuruh Blacky menggigit lehermu.”
Carol bergidik ketakutan, ia mengambil pulpen di meja dan langsung menandatangani kertas yang
disodorkan Nanda tanpa membacanya.
Nanda : “Blacky, bawa pengantin wanita ke kamar Nando.”
Carol : “Apa? Tapi...”
Nanda : “Kalian sudah tanda tangan surat nikah. Secara hukum, kalian sudah menikah. Charlie,
daftarkan pernikahan mereka.”
Nanda memberikan kertas yang dibawanya pada Charlie. Carol terpaksa mengikuti Blacky
yang terus mengeram di sekitarnya. Anjing itu mengerti semua yang dikatakan
Nanda. Carol sudah sampai lagi di kamar Nando. Ia melihat kamar itu sudah
dihias layaknya kamar pengantin.
Carol didorong Blacky agar duduk di atas tempat tidur. Blacky duduk di samping kakinya, anjing
itu menjaganya agar tetap duduk disana.
Carol : “Blacky... Jangan gigit aku ya. Boleh aku ke toilet sebentar?”
Carol menunjuk pintu kamar mandi dan ajaibnya Blacky menyingkir sedikit dari kaki Carol.
Carol : “Kamu pinter banget ya. Anjing baik.”
Carol masuk ke kamar mandi, Nando yang masuk ke kamarnya, melihat Blacky di depan pintu kamar
mandi. Ia membuka pintu lebih lebar, Blacky berlari keluar dari kamar itu. Nando
menutup pintu kamarnya, ia duduk di atas tempat tidurnya, menunggu Carol keluar
dari kamar mandi.
Nando menoleh saat Carol akhirnya keluar dari sana. Carol sedikit terkejut melihat Nando
sudah ada di dalam kamarnya. Ia memilih duduk disofa daripada di samping Nando.
Keduanya jadi canggung setelah mengetahui kalau mereka sudah resmi menikah
secara negara.
Nando melihat jam semakin larut, ia beranjak ke lemari dan mengambil piyama tidur. Ia melihat
beberapa pakaian wanita ada di dalam lemari itu juga.
Nando : “Aku mau ganti baju. Kamu bisa pilih baju disini buat ganti ya.”
Carol menunggu sampai Nando masuk ke kamar mandi. Ia mendekati lemari itu dan menelan
__ADS_1
salivanya melihat pilihan piyama tidur untuknya yang sangat seksi. Carol
memutuskan mengambil satu, tapi mengambil kaos Nando juga.
Carol masuk ke kamar mandi setelah Nando keluar. Saat Carol keluar dari kamar mandi, ia
melihat Nando sudah berbaring dengan nyaman di atas sofa dan sepertinya sudah
tertidur. Carol menarik selimut diatas tempat tidur Nando. Ia menyelimuti Nando
dan tersenyum menatap wajah pria yang ia cintai itu.
Carol : “Maaf ya. Aku hanya akan jadi bebanmu. Tapi aku juga akan berusaha membantumu. Menjalani
suka duka sama-sama. Maaf juga karena menikah denganku, kau tidak akan dapat
uang saku lagi dari kakakmu. Aku kira, mungkin gajiku cukup untuk menutup uang
sakumu itu.”
Nando : “Apa kamu pikir aku gak dapet gaji dari perusahaan?”
Nando menarik tangan Carol hingga terjatuh diatas tubuhnya. Keduanya bertatapan dengan wajah
memerah. Nando memiringkan tubuhnya, membuat Carol terbaring di sampingnya.
Nando memeluk tubuh Carol hingga tidak bisa bergerak.
Carol : “Nando, lepasin.”
Nando : “Nggak mau. Jangan dengarkan kakak, dia memang seperti itu. Selalu curiga pada
siapapun termasuk aku. Satu-satunya yang ia perdulikan hanya Nadia.”
Carol : “Apa karena itu kau nakal dulu? Sampai nyopet?”
Carol : “Kamu aja pindah sana. Aku tidur disini.”
Nando : “Setidaknya kita harus kacaukan tempat tidur itu atau kakak akan memaksa menonton kita
melakukan malam pertama.”
Carol : “Apa kakak ipar segila itu?”
Nando : “Berani ngatain kakak gila. Kamu memang beneran istri yang hebat.”
Carol : “Aku gak sengaja. Bukan maksudku ngatain kakak ipar gila.”
Nando : “Kau baru saja mengatakannya lagi.”
Carol menutup wajahnya yang memerah karena malu. Nando mencium kening Carol, membuat gadis
itu terpekik kaget. Carol mendorong Nando hingga hampir jatuh dari sofa. Nando
mempererat pelukannya, mereka sangat dekat satu sama lain.
Nando : “Kenapa kamu pakai kaosku? Piyamanya gak cukup?”
Carol : “Cukup, tapi terlalu seksi. Aku cuma gak mau dianggap mengundangmu.”
Nando : “Aku kan sudah jadi suamimu. Sudah boleh lihat. Buka aja.”
Carol : “Nggak mau!”
Nando menarik-narik kaos yang dipakai Carol, ia memancing kekesalan Carol. Mereka berkejar-kejaran
di dalam kamar Nando. Membuat kamar itu sangat berantakan, bahkan seprai juga
__ADS_1
terlepas dari tempat tidur.
Carol terbaring kecapean diatas tempat tidur. Ia langsung memejamkan matanya dan terlelap. Nando
tersenyum melihat Carol sudah tertidur pulas. Ia menarik lepas kaos yang masih
dipakai Carol dan menyelimuti tubuh istrinya itu.
*****
Keesokan harinya, Nanda sudah berdiri di depan kamar pengantin Nando. Ia menunggu
Charlie membuka kunci pintu kamar itu. Keduanya masuk ke dalam kamar setelah
pintu terbuka dan melongo melihat keadaan kamar yang sangat berantakan.
Kedua pengantin baru, masih tertidur pulas diatas tempat tidur mereka. Nanda menoleh pada
Charlie, menanyakan jam berapa keributan di kamar mereka berakhir dan Charlie
menjawab jam 2 pagi. Nanda juga bertanya pada Charlie apa perlu mereka membuat
kamar pengantin sangat berantakan seperti ini. Apa saja yang mereka lakukan?
Untuk pertama kalinya Charlie juga tidak bisa menjawab pertanyaan Nanda dan mengatakan kalau
dirinya belum menikah dan tidak tahu apapun mengenai malam pertama pernikahan.
Charlie tersenyum pada Nanda ketika Nanda menyuruhnya segera menikah dan
memberitahu Nanda tentang malam pertamanya.
Charlie mengatakan dirinya akan memikirkannya nanti kalau sekarang, mereka akan terlambat
mengantar Nadia berangkat ke sekolah. Mendengar nama Nadia, Nanda hampir
beranjak dari kamar Nando. Nanda dan Charlie menoleh saat Carol terbangun dari
tidurnya. Ia menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya saat melihat Nanda
ada di dalam kamar itu.
Carol : “Kakak ipar. Selamat pagi.”
Nanda : “Kalian mau tidur sampai kapan? Sarapan dulu. Habis itu lanjutkan lagi.”
Carol : “Kami akan bangun, kakak. Itu, nanti siang Tuan Boy dan Ny.Joya akan kesini untuk
makan siang. Nando mengundang mereka kemarin.”
Nanda : “Oh, kita belum menyiapkan apapun. Bagaimana Charlie?”
Charlie : “Semua sudah disiapkan, tuan muda.”
Nanda : “Apa hanya aku yang gak tau? Sudahlah. Aku harus pergi. Nanti aku kembali lagi.”
Carol : “Baik, kakak. Terima kasih.”
Carol sudah bernafas lega tapi Nanda kembali lagi. Dan bertanya pada Carol apa perlu membuat kamar
sangat berantakan saat malam pertama pernikahan. Wajah Carol memerah mendengar
pertanyaan Nanda. Untung saja Nando keburu terbangun dan menjawab pertanyaan
kakaknya dengan tengil.
*****
__ADS_1
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan jejakmu). Tq.