Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Spesial Episode AC) - Jatuh cinta pada Cecil


__ADS_3

Ini cerita khusus pertemuan Aril dan Cecil, bagaimana si playboy Aril menaklukkan Cecil yang dingin.


--------


Deril memanggil Cecil ke ruangannya, ia memberikan instruksi dengan singkat dan Cecil mendengarkannya dengan baik.


Deril : "Cecil, sudah berapa lama kau jadi sekretarisku?"


Cecil : "Bulan ini sudah masuk bulan ke 6, pak."


Deril : "Apa kau suka kerja disini?"


Cecil : "Iya, pak. Disini sangat menyenangkan, bayarannya juga bagus."


Deril : "Kau terus terang sekali ya."


Cecil : "Hmm... buat apa basa basi. Ada lagi yang kau perlukan, pak?"


Deril : "Mungkin nanti ada tamu yang akan datang, tapi aku tidak yakin jam berapa."


Cecil : "Oh, siapa namanya kalau saya boleh tahu."


Deril : "Aril."


Cecil : "Baiklah, pak. Saya akan memberitahumu kalau dia datang."


Cecil keluar dari ruang kerja Deril, ia merasa sedikit pusing karena belum minum kopi. Cecil membuat kopi untuk dirinya di pantry, saat kembali ke depan ruangannya, ia melihat seseorang berdiri disana.


Cecil : "Ada yang bisa saya bantu, tuan?"


Aril berbalik menatap Cecil,


Aril : "Hmm, hai cantik, apa Deril ada?"


Cecil : "Anda tuan Aril? Saya akan memberitahu pak Deril."


Aril : "Apa kopi itu punyamu?"


Cecil : "Iya, tuan."


Aril : "Untukku ya. Kepalaku pusing. Kau kan bisa membuatnya lagi nanti."


Cecil : "Tapi saya sudah meminumnya, tuan. Saya akan buatkan untuk tuan."


Aril tidak suka dengan penolakan, sifatnya ini hampir sama dengan Deril. Aril berjalan mendekati Cecil, mencondongkan tubuhnya ke arah wanita cantik itu.


Aril : "Kau cantik sekali ya."


Cecil menatap Aril dingin, ia bergerak mundur, menjaga jarak dengan aman dan meletakkan kopi yang dibawanya diatas meja.


Aril melirik kopi itu dan mengambilnya dengan cepat.


Cecil melirik sebal pada pria tampan di depannya. Ia melihat kemiripan wajah antara Deril dan Aril, menduga kalau mereka saudara.


Cecil : "Pak, tuan Aril sudah datang." Cecil menelpon ke dalam ruang kerja Deril.


Deril meminta Cecil mengantar Aril masuk ke ruang kerjanya.


Cecil : "Tuan Aril, silakan masuk."


Mata Aril menatap tubuh Cecil dari atas sampai bawah yang berjalan di depannya.


Deril mengalihkan pandangannya dari laptop saat Cecil masuk bersama Aril. Matanya menangkap pemandangan yang tampak biasa saja, ketika Aril menemukan mangsa baru.

__ADS_1


Deril : "Eehhemm...!"


Suara Deril menyadarkan Aril menatap penuh minat pada Cecil. Cecil memandang Deril yang sudah menatap Aril dengan galak.


Deril : "Cecil, buatkan kami kopi."


Aril : "Aku sudah mencicipi kopi buatan sekretarismu... tinggal..." mata Aril jelalatan lagi melihat tubuh Cecil.


Pletak! Aril meringis merasakan kepalanya benjol karena dijitak Deril.


Cecil menahan tawanya melihat Deril melotot pada Aril. Entah kenapa Aril menyukai tingkah Cecil ini.


Deril : "Kalau begitu buatkan aku kopi dan pesankan kami makan siang nanti. Kau mau apa?"


Aril : "Boleh aku makan sekretarismu?"


Deril memandang Cecil yang mulai kesal lagi.


Deril : "Steak lada hitam dan tambahkan sabun pada sausnya sekalian."


Cecil mengangguk dan berlalu dari ruang kerja Deril,


Aril : "Buat apa sabun?"


Deril : "Untuk otakmu yang mesum itu. Cecil bukan perempuan nakal, jaga tingkah lakumu. Buat malu saja."


Aril : "Dimana kau dapatkan perempuan itu?"


Deril : "Dia resepsionis dulunya. Aku pernah lembur suatu hari dan dia membantuku menyelesaikan pekerjaanku. Aku lihat dia punya potensi, jadi aku minta dia jadi sekretarisku."


Aril : "Pantas saja aku baru bertemu dia sekarang. Tubuhnya itu wow!"


Pletak! Lagi-lagi kepala Aril benjol. Deril mengancam agar Aril tidak macam-macam dengan staf di kantornya.


Aril : "Hei, mereka yang mau dan mengejarku. Aku hanya melakukan kebaikan."


Aril : "Sebenarnya aku menidurinya satu-satu, tapi boleh juga idemu. Kenapa tidak sekalian saja semuanya?"


Deril mengelus dada mendengar saudara kembarnya berkata dengan tidak tahu malu. Entah sudah berapa banyak wanita yang diajaknya ke atas ranjang hotel.


Cecil mengetuk pintu dan membawa dua cangkir kopi untuk mereka berdua. Saat Cecil membungkuk di depan Aril, ia tersenyum mesum melihat sesuatu di balik blus Cecil.


Aril : "Apa kau ada waktu nanti malam?"


Cecil menatap Aril, ia menoleh ke kanan ke kiri memastikan kalau Aril memang bicara padanya.


Cecil : "Saya sudah ada janji, tuan."


Aril : "Batalkan, ikut aku ke klub."


Deril : "Hei, dia sekretarisku bukan stafmu. Jangan seenaknya."


Aril : "Kau ikut juga, jangan bawel."


Cecil menatap Deril dan menggeleng,


Deril : "Memangnya kau mau kemana, Cil?"


Cecil : "Aku mau ke klub, ada janji dengan teman-temanku."


Deril : "Oh, ketempat biasanya ya. Tujuan kalian sama."


Aril : "Aku akan menjemputmu."

__ADS_1


Cecil : "Tidak perlu merepotkanmu, tuan. Aku bisa kesana sendiri."


Cecil berbalik keluar ruang kerja Deril dan memesan makan siang untuk mereka.


--------


Malam hari, Cecil sudah tiba di klub bersama teman-temannya. Ia memakai pakaian ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan jelas.


Penampilan Cecil menarik perhatian beberapa orang pria di dalam klub. Termasuk Aril, ia dan Deril duduk di sudut klub bersama pemilik klub itu. Mereka teman baik sejak sekolah dulu.


Pemilik klub melihat kode dari Aril yang segera meminta anak buahnya membawa Cecil dan teman-temannya bergabung dengan mereka.


Aril meneguk minumannya sampai tandas, hasratnya mulai naik karena Cecil yang duduk di samping Deril. Cecil memperkenalkan teman-temannya yang tertarik melihat ketampanan ketiga pria itu.


Aril : "Pelayan, ambilkan minuman. Malam ini aku traktir kalian."


Teman-teman Cecil berteriak senang, Cecil bahkan tidak menoleh pada Aril. Ia asyik mengobrol dengan Deril sementara temannya menempel pada Aril dan pemilik klub.


Semakin malam, teman-teman Cecil makin mabuk. Deril meminta pelayan memanggilkan taksi untuk mereka. Cecil ikut bangun bersama mereka, tapi Aril sudah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Deril.


--------


Cecil menggeliat, matanya terbuka perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang terlihat mewah.


Seperti teringat sesuatu, Cecil langsung bangun dari tidurnya. Ia meraba tubuhnya memastikan pakaiannya masih utuh di balik selimut yang menutupi tubuhnya.


Cecil mengingat kejadian saat ia akan masuk ke dalam taxi bersama teman-temannya, seseorang membekap mulutnya hingga pingsan.


Jaket, tank top dan sepatunya sudah terlepas. Tergeletak di dekat sofa yang sedang diduduki seseorang yang terus saja menatapnya.


Cecil : "Aril!! Se... sedang apa kamu disini?"


Aril : "Ini kamarku, kamu yang datang kesini."


Cecil : "Dasar gila! Aku mau pulang..."


Cecil bangkit dari atas ranjang, ia mendekati sofa, mengambil barang-barangnya dan berjalan ke pintu kamar.


Klek! Klek! Pintu kamar itu terkunci sempurna. Cecil membuka tasnya, mencari ponselnya tapi ia tidak menemukannya.


Cecil : "Aril, kembalikan ponselku."


Aril : "Bukan aku yang mengambilnya tapi asistenku. Ayolah, sayang. Malam ini temani aku..."


Cecil : "Brengsek! Sialan! Aku bukan *******!"


Aril berjalan mendekati Cecil yang terus mengumpatnya dengan kata-kata kasar. Ia menarik tangan Cecil memaksanya ikut dan menjatuhkan Cecil ke atas ranjang.


Cecil : "Kau binatang! Jangan sentuh aku!"


Aril : "Jangan berteriak sayang atau suaramu akan habis sebelum aku membuatmu mendesah."


Cecil bergidik ngeri melihat Aril melepas kemeja yang dipakainya dengan kasar. Ia berusaha berguling menjauh dari Aril, tapi Aril menarik kakinya dan mulai menciumnya.


Cecil : "Ja... jangan... mmpphhh... sakit... mmmpphhh... lepas..."


Jeritan Cecil memenuhi kamar apartment Aril malam itu.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.

__ADS_1


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


-------


__ADS_2