
Rian dan Niken baru kembali ke hotel. Mereka saling pandang sebelum Rian membuka pintu kamar tempat mereka kemarin menginap. Sepi, tidak ada tanda-tanda Boy disana.
Rian memberi tanda pada Niken untuk diam dulu. Ia bergerak ke connecting door untuk memastikan bosnya sudah balik ke hotel atau belum.
Niken : "Rian... Ada gak?" bisik Niken.
Rian : "Gak keliatan, ntar..."
Rian berjalan mengendap-endap mendekati ranjang dan melihat pemandangan yang cukup membuat darahnya berdesir. Boy sedang bercumbu dengan Joya diatas salah satu ranjang disana.
Ia segera balik badan, berjalan cepat tanpa suara dan menutup connecting door perlahan. Rian menatap Niken yang masih berdiri ditempatnya,
Rian : "Mereka disebelah, lagi itu..."
Niken : "Itu apa?"
Rian : "Yang sebentar lagi akan kita lakukan."
Niken melihat Rian berjalan mendekatinya, ia refleks mundur sampai ke pinggir ranjang. Niken jatuh terduduk, ia ingin bangun, tapi Rian sudah mendorongnya.
Niken : "Rian, aku mau ke toilet dulu."
Rian : "Tunggu bentar."
Rian mengambil sesuatu dari dalam lemari dan memberikannya pada Niken.
Rian : "Pakai ini."
Niken mengangkat baju yang diberikan Rian yang ternyata piyama tidur yang tipis. Ia melotot pada Rian dan melemparkan piyama itu padanya.
Niken : "Aku gak mau pake. Dasar mesum."
Rian : "Trus kamu mau tidur pake gaun itu? Emang nyaman? Atau kamu gak mau pakai baju waktu tidur?"
Rian menaik turunkan alisnya membuat Niken refleks menyilangkan tangannya di depan dadanya. Mau gak mau Niken menerima piyama itu dari tangan Rian.
Ia masuk ke kamar mandi dan mengganti gaun malamnya dengan piyama itu. Niken merapikan penampilannya yang terlihat segar dan menggoda. Ia sangat tidak nyaman memakai piyama itu. Selain tipis, bagian dadanya cukup rendah memperlihatkan sebagian asetnya yang bulat kencang.
Niken keluar dari kamar mandi, ia memakai gaun malam untuk menutupi tubuhnya dari pandangan Rian. Ia berjalan cepat naik ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Niken mengambil ponselnya diatas nakas dan menyetel alarm jam 5 pagi. Rian yang sudah ganti baju, terus memperhatikan setiap kelakuan Niken.
Ia berjalan mendekati sisi ranjang Niken dan hampir duduk di sisinya,
Niken : "Kamu ngapain kesini? Tempat tidurmu disana."
Niken menunjuk ranjang disebelah mereka. Rian hanya menoleh sekilas pada ranjang itu sebelum menoleh lagi pada Niken.
Rian : "Kamu gak penasaran tadi bos ngapain disebelah?"
Niken : "Memangnya mereka ngapain?"
Rian tiba-tiba menarik tangan Niken, hingga wajah mereka sangat dekat. Saat pandangan mereka bertemu, Rian langsung mencium Niken. Niken berontak pada awalnya tapi Rian menciumnya dengan lembut tanpa nafsu yang memburu.
Mata keduanya terpejam saling menyesapi rasa manis dari ciuman itu. Perlahan tangan Rian menarik turun tali kecil piyama yang menggantung di pundak Niken.
Niken menahan tangan Rian dan menggeleng, dia belum siap. Meskipun mereka mungkin pernah melakukannya, tapi Niken belum benar-benar mencintai Rian.
Rian melihat keengganan dalam diri Niken, sungguh ia hanya ingin tidur sambil memeluk Niken tanpa mau melakukan apapun lagi. Tapi ia mengerti dengan sikap Niken dan memilih berbaring memunggungi Niken.
Niken ragu-ragu berbaring di samping Rian, ia meletakkan salah satu bantal di antara mereka dan perlahan mulai terpejam.
------
Boy turun dari atas tubuh Joya, ia tersenyum melihat keadaan Joya yang hampir polos. Hampir saja ia kebablasan melakukan itu pada Joya.
Boy merapatkan selimut Joya menutupi tubuhnya. Ia ikut berbaring di samping Joya dan memandangi wajahnya.
Boy : "Sampai kapan aku harus menunggumu, Joya. Sehari berlalu rasanya seminggu untukku. Sebentar lagi kamu selesai training. Alasan apa lagi yang harus kubuat agar kamu bisa selalu dekat denganku? Kamu bahkan gak mau kerja di tempatku."
__ADS_1
Joya menggeliat dalam tidurnya, ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya hingga terbuka setengah. Dinginnya AC tidak membuatnya berhenti berkeringat.
Tangan Joya menarik tali bra-nya hingga terlepas, ia melemparkan bra itu ke samping dan jatuh diatas wajah Boy.
Boy : "Astaga, bahkan dalam tidurmu kamu juga mau menggodaku."
Boy kembali mengukung Joya diantara kedua tangannya. Ia menunduk mencium Joya lagi.
------
Keesokan paginya, di kamar sebelah, Rian menggeliat bangun. Matanya menangkap sosok wanita berambut pendek yang sedang kesulitan menarik retsleting gaunnya.
Rian tersenyum tipis, ia bangkit dari ranjang, mendekati Niken.
Rian : "Perlu bantuan?"
Niken : "Aarrg...! Aku bisa sendiri." Niken kaget ketika punggungnya diraba Rian.
Rian : "Yakin?"
Niken : "..."
Melihat reaksi Niken yang hanya diam sambil menunduk, Rian menarik retsleting gaun malam yang semalam Niken pakai.
Rian : "Hari ini kita ke KUA ya."
Niken : "Orang tuamu gimana?"
Rian : "Kita ketemu disana."
Niken menatap Rian bingung, seolah pernikahan adalah hal yang mudah untuk dilakukan tanpa mengenal calon menantu.
Niken : "Tapi..."
Rian : "Apa perlu aku melakukan sesuatu untuk meyakinkanmu?"
Niken : "Aku cuma belum siap. Kita juga gak saling cinta. Buat apa memaksakan pernikahan ini."
Niken : "Tapi pernikahan itu sekali seumur hidup, gimana kalau setelah kita nikah, kau jatuh cinta pada perempuan lain."
Rian : "Aku gak punya waktu. Kau tahu sendiri bagaimana sibuknya pekerjaanku."
Niken : "Apa kau yakin?"
Rian : "Niken, kalau kau terus begini, aku akan melakukannya sekarang. Tidak peduli bos akan masuk dan memergoki kita."
Rian mendorong tubuh Niken hingga jatuh di atas ranjang. Ia membalik tubuh Niken, menarik turun retsleting gaunnya dan menyusupkan tangannya menyentuh aset Niken.
Niken : "Aachh! Jangan!"
Rian membungkam mulut Niken dengan ciuman panas. Ia menahan tubuh Niken agar tidak bisa bergerak menghindar.
Saat Rian hampir membuka seluruh pakaian mereka, connecting door terbuka dan Boy masuk ke kamar itu.
Rian dan Niken memandang Boy yang pura-pura tidak melihat mereka. Niken mendorong Rian dan berlari masuk ke kamar sebelah sambil memegangi gaunnya.
Boy : "Aku mengganggu ya?"
Rian : "Kau datang tepat waktu, aku hampir khilaf."
Boy : "Jadi, belum ada yang terjadi?"
Rian : "Belumlah. Orang tuaku sangat keras untuk urusan ini."
Boy : "Lalu kenapa kau mau menikahinya?"
Rian : "Orang tuaku ingin aku segera menikah. Kau tahu aku tidak suka perempuan cerewet yang manja. Dan Niken termasuk tipeku setelah mengenalnya lebih dalam. Hanya saja dia sulit di dekati."
Boy : "Jadi kau menjebaknya?"
__ADS_1
Rian : "Aku hanya mengarahkannya agar mau menikahiku. Dan berhasil."
Boy : "Dan kapan tepatnya?"
Rian : "Hari ink di KUA."
Boy : "Dokumennya gimana?"
Rian : "Aku sudah mengurusnya. Kami tinggal ijab dan ttd aja."
Boy : "Kau tidak buat resepsi?"
Rian : Kau memberiku cuti?"
Boy : "Akan kupikirkan."
Rian : "Sudah kuduga. Gimana mau buat resepsi kalau aku gak boleh cuti."
Boy : "Akan kupikirkan setelah mandi."
Rian menatap Boy yang berjalan ke kamar mandi dengan frustasi.
-----
Niken menutup connecting door dengan cepat. Ia sangat malu kepergok Boy sedang dicumbu Rian. Image coolnya hancur seketika karena hal itu. Sudah lama ia mengagumi Boy sebatas mengagumi idola.
Tapi Rian bisa membuat jantungnya berdebar kencang. Nafasnya masih saja ngos-ngosan setelah Rian berusaha menidurinya lagi. Ia juga malu pada Rian.
Niken melihat Joya menggeliat di atas ranjang, ia cepat-cepat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Jangan sampai Joya memergokinya masih memakai gaun malam.
Setelah selesai mandi, Niken keluar dari kamar mandi. Ia melihat Joya udah sadar sepenuhnya.
Niken : "Kamu gak pa-pa?"
Joya : "Kepala saya sakit, kak. Apa saya mabuk semalam?"
Niken : "Sepertinya begitu." Niken tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka semalam. Boy tidak sempat mengatakan apa-apa padanya tadi.
Joya memiringkan kepalanya yang pusing, Niken bisa melihat dengan jelas bekas cupangan di leher dan tengkuk Joya. Ia tersenyum tipis dan bertanya pada Joya,
Niken : "Kenapa lehermu merah-merah?"
Joya : "Merah?"
Niken : "Nich lihat sendiri."
Niken memberikan cermin kecil pada Joya yang terkejut melihat lehernya.
Joya : "Apa saya ada alergi ya?"
Niken : "Itu bekas gigitan..."
Joya : "Siapa yang gigit?"
Niken : "Mungkin tuan Boy..."
Joya : "Appaa...??!!"
Joya bingung dan malu mendengar kata-kata Niken, meskipun belum tentu benar, Niken tidak pernah berbohong padanya. Mungkin kalau Joya tahu yang sebenarnya, ia akan sangat terkejut sampai pingsan.
-----
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak...
__ADS_1
-------