
Selama diperjalanan, mereka ngobrol tentang keluarga mereka masing-masing. Alvin mengatakan kalau dia tidak punya waktu pacaran, jadi mereka tidak akan berpacaran.
Rara : “Gak pacaran, trus status kita apa dong? Masa temenan tapi kamu cium aku terus.”
Alvin : “Jadi kamu mau pacaran cuma untuk dicium?”
Rara : “Gak gitu maksudku, Al. Kamu uda cium aku 3 kali, masa aku gak boleh minta tanggung jawab kamu, kamu juga yang ambil first kiss-ku tau.”
Alvin : “4 kali, Ra. Kita sudah ciuman 4 kali, kamu lupa yg disamping kolam renang.”
Wajah Rara merona, jantungnya berdebar lebih cepat mengingat ciuman-ciuman mereka. Alvin menggenggam tangan Rara,
Alvin : “Aku ingin status kita lebih dari pacaran, aku mau kita nikah saja.”
Rara : “Nikah sekarang? Tapi…”
Rara terlihat shock, ia pikir ini hanya mimpi, mengejar cinta pangeran Alvin dan berakhir dengan pernikahan. Ini lebih indah dari sinetron. Tapi bagaimana dengan keluarga mereka?
Alvin mengambil HP-nya, ia membuka aplikasi
mobile banking salah satu bank swasta di Indonesia dan memperlihatkan saldo rekening tabungannya pada Rara. Ada 9 digit angka tertera disana dengan angka 8 didepannya.
Alvin : “Ini baru 1 rekening tabunganku, masih ada 4 lagi dengan nilai yang hampir sama. Aku memang belum lulus kuliah, tapi aku punya bisnis untuk bisa menjamin hidupmu dan anak-anak kita nanti.”
Rara : “Tapi orang tua kita gimana? Kamu sudah ngomong sama mama dan papamu?”
🌻🌻🌻🌻🌻
Sementara itu di kantor Boy, Joya hampir menjatuhkan HP saat melihat WA dari Alvin.
Alvin : “Mah, Alvin ijin ke kota Y, mau ngejar Rara. Kalau boleh, Alvin mau nikah sama Rara.”
Joya : “Alvin serius?! Sudah yakin?!” Boy berjalan mendekati Joya, memeluk pinggang istrinya yang masih terlihat ramping meski sudah beranak 2.
Boy : “Ada apa?”
Joya : “Alvin mau nikah, Boy. Ini gimana?”
Boy : “Oh, sama siapa?” Boy memang sedikit terkejut, tapi ia berusaha bersikap tenang.
Joya : “Sama Rara, ingatkan gadis yang datang ke pesta ultahku itu. Eh, kayaknya aku pernah lihat gadis itu dimana ya?”
Boy : “Apa mereka serius? Lulus kuliah aja belum, tapi kalau Alvin sudah kebelet, kita bisa apa…” Boy sedikit bernyanyi.
Joya : “Tapi kita belum kenal keluarganya, tapi sepertinya dia dari keluarga baik-baik. Satu kompleks rumah dengan kita juga kan. Tapi aku pernah lihat dia dimana ya?” Joya membuka galeri fotonya, dan menemukan foto Rara
bersama mb Putri.
Joya : “Nah, kan ketemu, aku harus telpon mb Putri dulu.”
Boy tersenyum melihat Joya kelimpungan karena putranya minta kawin. Terdengar notif pesan singkat masuk ke HP Boy, dari Alvin.
Alvin : “Pah, Alvin ijin ke Yogya ya. Mama uda cerita kan?”
Boy : “Nak, papa gak masalah, tapi kamu belum berbuat jauh sama gadis itu kan?”
Alvin : “Pah, Alvin gak senekat itu, paling cuma cium doang.”
Boy : “Yakin cuma cium doang?”
Alvin : “Pah! Alvin gak ngapa-ngapain, yah meskipun pengen ngapa-ngapain.” Boy terkikik melihat WA dari Alvin.
Boy : “Nah, kan. Awas anak gadis orang itu, Vin.”
Alvin : “Alvin juga gak ngerti, pah. Dekat Rara, buat Alvin khilaf. Makanya Alvin mau nikahin aja, takut dosa.” Boy tersenyum, ia ingat saat pertama mencumbu Joya dulu.
Boy : “Ya sudah kalau kamu mau halalin Rara. Kabarin papa kalau orang tuanya sudah setuju.”
🌻🌻🌻🌻🌻
Kembali lagi ke dalam kereta, Alvin masih menggenggam tangan Rara,
__ADS_1
Alvin : “Aku sudah bilang sama mama dan papa, mereka sich belum bilang apa-apa, tapi sepertinya setuju saja. Aku mau ketemu orang tuamu dulu.”
Rara : “Kamu yakin sama aku?”
Alvin : “Ra, kamu lebih pilih kita pacaran trus melakukan dosa atau kita nikah trus buat pahala?”
Rara : “Aku mau pahala, Al.”
Mereka tersenyum bersama. Rara dan Alvin sudah sampai di stasiun kota Y setelah melewati perjalanan selama kurang lebih 5 jam. Kini mereka jadi lebih dekat, dan terus berpegangan tangan. Sopir papa Rara sudah menanti di gerbang stasiun dan membawa mereka menuju rumah Rara.
Alvin menarik nafasnya, tiba-tiba dia jadi gugup ketika mobil memasuki sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi memiliki halaman yang sangat luas. Situasinya berbeda saat ia harus negosiasi dengan client dengan menghadapi orang tua Rara.
Rara : “Al, kamu baik-baik aja? Kita turun…”
Alvin : “Aku jadi gugup, Ra. Papamu gak galak kan?”
Rara : “Papaku gak galak, Al. Papaku baik banget kok.”
Alvin : “Ya, sama kamu baik, sama aku…”
Rara : “Mau turun, atau kusuruh sopir antar kamu ke stasiun lagi. Pulang aja sana, pengecut.”
Alvin tidak suka diremehkan, ia laki-laki jantan yang bahkan sudah berpenghasilan sendiri sebelum lulus kuliah, dan sekarang perempuan yang ia sayangi malah meremehkannya.
Alvin : “Aku turun, akan kuhadapi papamu dan kau awas saja nanti.”
Rara tertawa melihat Alvin seperti ingin menelannya, ia memahami sedikit sifat Alvin. Saat mengejarnya dulu, Rara sudah seperti stalker yang tahu semua kegiatan Alvin.
Mama Rara menyambut mereka di pintu masuk,
Rara : “Mama! Papa mana mah?”
Mama Rara : “Ada di dalam, ayo masuk dulu. Nak Alvin, ayo masuk.”
Alvin mencium tangan mama Rara, dan ikut masuk ke dalam. Papa Rara tampak duduk di ruang tamu, sedang membaca koran.
Rara : “Papa! Rara kangen.” Rara memeluk papanya erat.
Rara : “Pah, ini Alvin… temen dekat Rara.” Rara bingung mau memperkenalkan Alvin dengan status apa.
Papa Rara : “Cuma temen dekat? Silakan duduk.”
Alvin mendekati papa Rara, menjabat tangan dan mencium tangan papa Rara,
Alvin : “Perkenalkan om, saya Alvin.”
Papa Rara : “Silakan duduk dulu. Rara masuk dulu sama mama ya, buatkan Alvin teh dulu.”
Rara meninggalkan Alvin yang mulai gugup lagi, ia bingung mau bicara apa.
Papa Rara : “Jadi, apa maksud kedatangan Alvin kesini?”
Alvin : “Saya… saya ingin lebih dekat dengan Rara, om.”
Papa Rara : “Kamu mau pacaran sama anak saya?”
Alvin : “Bukan, om… Saya…” Papa Rara menggebrak meja, Alvin sampai terlonjak dari duduknya.
Papa Rara : “Kamu mau mainin anak saya? Ngomong yang bener.”
Alvin : “Saya mau melamar Rara, om. Jadi istri saya!”
Suasana kembali hening, Alvin kembali menunduk, ia baru saja mengeluarkan isi hatinya dengan lantang. Apa papa Rara akan menerimanya atau akan mengusirnya dari sini?
Papa Rara : “Kamu sudah bekerja? Punya rumah? Punya mobil?”
Alvin : “Saya belum kerja, om. Saya juga masih kuliah, tapi saya punya bisnis kecil-kecilan om. Untuk rumah, saya usahakan bisa membelinya sebelum lulus kuliah. Kalau mobil, saya belum punya, om. Saya masih pakai punya orang tua saya.”
Papa Rara : “Memangnya bisnis apa?”
Alvin : “Gerai makanan K, om. Mungkin om pernah lihat plang-nya di mal di dekat sini.”
__ADS_1
Papa Rara : “Kamu sudah yakin ingin menikahi Rara? Usia kalian masih muda kan. Gak mau berteman dekat dulu?”
Alvin : “Kalau cuma temen dekat nanti takut dosa, om. Alvin mau halalin Rara, om. Kalau om mengijinkan.”
Papa Rara : “Kalau kamu serius, kenapa gak ngajak orang tuamu? Kenapa sendirian kesini?”
Alvin : “Sebenarnya Alvin mau ngajak papa dan mama kesini, tapi Alvin berangkat mendadak tadi pagi mau nyusulin Rara, om. Alvin baru bilang tadi pagi kalau Alvin sayang sama Rara, Alvin janji secepatnya bawa orang tua Alvin
kesini, om.”
Tiba-tiba papa Rara tertawa terbahak-bahak, Alvin sampai bengong dan takut melihat papa Rara tertawa begitu keras. Lebih terkejut lagi waktu melihat papa dan mama Alvin muncul dari ruang tengah bersama Rara dan mama Rara.
Alvin : “Papa? Mama? Ngapain disini?”
Alvin duduk diapit mama dan papanya sementara Rara duduk dekat mamanya, wajah Rara sudah merona merah sejak keluar tadi.
Alvin : “Ada yang mau cerita? Alvin beneran bingung sekarang.”
Boy : “Kata Alvin mau nikahin Rara, ya papa sama mama kesinilah buat nglamar Rara.” Boy dan Joya segera
berangkat ke kota Y untuk menyusul Alvin dengan naik pesawat terbang, mereka tiba satu jam lebih awal dari Alvin dan Rara, dan langsung menemui orang tua Rara. Bukan Boy namanya kalau gak iseng sama anaknya, ia minta papa Rara untuk bersikap tegas pada Alvin.
Joya : “Mama gak nyangka kamu bisa nakal juga ya, Vin. Persis papamu.”
Alvin : “Mana ada Alvin nakal.” Wajah Alvin memerah, melirik Rara yang juga malu.
Joya : “Rara uda cerita sama mama semuanya tadi, detail. Masih mengelak?”
Mereka tertawa bersama, papa Rara dan papa Alvin berpelukan tanda lamaran sudah diterima. Persiapan lamaran dan pernikahan akan segera dimulai, tapi tanggal pernikahan ditentukan setelah mereka lulus kuliah. Alvin langsung
protes.
Alvin : “Lama sekali dong, pah. Alvin tidak mau menunggu lagi.”
Boy : “Sabar dong, nak. Rara kan masih kuliah, kamu juga skripsi belum. Masa uda kebelet kawin.”
Alvin : “Tapi jangan nunggu Rara lulus juga kali, pah. Alvin bisa aja lulus tahun depan, tapi Rara kan masih 2 tahun lagi.”
Joya : “Kalau kalian menikah sekarang, trus Rara hamil, kalian sanggup membagi waktu antara kuliah sama anak? Rara juga pasti mau kerja dulu kan?”
Rara : “Iya, tante. Rara masih mau kuliah trus kerja dulu, baru nikah.”
Alvin mulai stress karena Rara tidak mendukungnya. Boy yang melihat putranya cemberut, akhirnya mencoba memberikan solusi.
Boy : “Ok, kalian menikah dalam waktu dekat, tapi menunda punya anak, gimana?”
Alvin : “Maksud papa, Boy gak bisa…”
Alvin ingin bicara blak-blakan tapi punggungnya tiba-tiba terasa dingin. Papa Rara sudah menatapnya tajam, insting sesama pria-nya mulai aktif. Alvin akhirnya menyerah dengan tanggal pernikahan, ia harus sabar menanti.
Rara dan Alvin diminta pergi ke halaman belakang, karena pembicaraan berikutnya adalah persiapan pertunangan. Mereka akan bertunangan dulu sampai selesai kuliah nanti.
Rara : “Al, kamu marah ya.”
Alvin : “Aku gak marah, cuma gak sabar.”
Rara : “Dua tahun kan gak lama, Al. Kamu gak sabar ngapain emangnya.” Alvin memberi kode agar Rara mendekat. Dipeluknya tubuh Rara yang terkejut dan malu.
Alvin : “Aku mau lebih dari sekedar ini…” Alvin ******* bibir Rara, ia sudah menahannya sejak turun dari mobil tadi. Rara cuma bisa pasrah mengikuti permainan Alvin.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu
kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran dari para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
__ADS_1
-------