Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Godaan


__ADS_3

Rara dan Alvin liburan di kota Y selama seminggu, mereka jalan-jalan keliling kota, melihat-lihat kerajinan tangan dan cara membuat kain tradisional.


Papa Rara sampai merajuk karena Rara memilih jalan-jalan dengan Alvin daripada menemani papanya main catur. Hari terakhir liburan, Alvin dan Rara memilih menemani papa dan mama Rara di rumah.


Rara menemani papanya main catur, sementara Alvin membantu mama Rara masak makan siang.


Papa Rara : “Ra, kamu uda dewasa sekarang, uda mau tunangan juga. Papa harap kalian bisa jaga diri ya.”


Rara : “Papa apain sich.”


Papa Rara : “Papa serius nich, Ra. Papa tahu kamu belum pernah pacaran, sekalinya suka sama laki-laki langsung suka sama Alvin. Jangan terlalu terhanyut sama perasaan ya, nak.”


Rara : “Maksud papa?”


Papa Rara : “Papa kasih tahu, laki-laki itu kalau imannya gak kuat, dia akan berubah jadi pemangsa. Alvin itu laki-laki, kalian pernah ciuman kan? Pernah gak Rara merasakan kalau Alvin akan berbuat lebih dari sekedar ciuman?”


Rara : “Pernah sich, pah. Tapi selalu ada yang ganggu, jadi gak pernah ada lanjutannya.”


Papa Rara : “Nah, itu dia… Skak!”


Rara : “Kok skak sich, papa bikin Rara gak konsen ih.”


Papa Rara : “Itu ada gangguan, kalau gak gimana? Kamu kan tahu pergaulan jaman sekarang lebih bebas. Makanya Rara harus bisa jaga diri, ingetin Alvin juga. Kalian belum resmi menikah, jangan coba-coba dech.”


Rara : “Papa ini mau nasihatin Rara apa mau curang? Baru kali ini Rara main catur sama papa, sampe bisa kena skak.”


Papa Rara : “Dua-duanya…”


Rara menggeleng kesal, papa Rara tertawa melihat anaknya cemberut. Putri semata wayangnya yang sangat ia sayangi akan segera bertunangan dan menikah.


Papa Rara merasa sedikit sedih tapi juga bahagia karena Alvin laki-laki yang baik.


💐💐💐💐💐


Makan siang sudah siap, mereka makan bersama sambil sesekali bercanda. Papa dan mama Rara akan pergi mengunjungi nenek Rara dan menginap disana, jadi malam ini Rara dan Alvin hanya berdua saja di rumah.


Papa Rara menarik Rara ke ruang kerjanya, ia memberikan sesuatu untuk Rara simpan. Rara membaca botol semprot ditangannya, ‘semprotan merica’.


Rara : “Ini buat apa pah?”


Papa Rara : “Buat Alvin kalo macem-macem, Rara simpen aja dech.”


Rara : “Alvin gak akan berani berbuat lebih, pah. Kami belum menikah.”


Papa Rara : “Jaga-jaga aja, papa pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik.”


Alvin dan Rara melambaikan tangan pada orang tua Rara ketika mobil yang membawa mereka berlalu. Alvin merasakan HP-nya bergetar, dia mengeceknya dan melihat notif pesan singkat dari papa Rara.


Papa Rara : “Awas kalau Rara sampai lecet! Tahan dirimu.”


Alvin : “Papa tenang aja. Alvin kuat iman kok.”

__ADS_1


Rara melihat Alvin senyum-senyum, ia penasaran dan merebut HP Alvin dan membaca pesan dari papanya.


Rara : “Ih, papa apaan sich.”


Alvin : “Wajar dong papamu begitu, anak gadisnya ditinggal berduaan di rumah sama laki-laki ganteng, keren gini.”


Rara : “Idih… Kamu gak malu muji diri sendiri ganteng.”


Alvin : “Emang aku ganteng kan, kalo gak, mana mau kamu sama aku.”


Rara merasakan tangan Alvin menarik tangannya mendekat. Mereka sudah sampai di ruang santai yang penuh bantal dan TV besar.  


Bruk! Alvin menjatuhkan tubuhnya ke atas bantal besar, Rara ikutan tertarik dan jatuh diatas tubuh Alvin. Tangan Alvin meraih belakang tengkuk Rara, mencium calon tunangannya.


Alvin melepaskan ciumannya dan menatap dalam mata Rara.


Alvin : “Kau tahu gak kalau wangi rambutmu membuatku tidak tahan ingin memelukmu terus. Kamu keramas tiap hari ya?”


Rara : “Kamu gombal ya, bisa masuk angin aku kalau keramas tiap hari.”


Alvin : “Beneran kok, aroma tubuhmu juga. Aku benar-benar menyukainya,


Ra.”


Rara : “Kalau gitu, aku gak akan mandi dua hari, coba aja kau cium bauku.”


Alvin : “Mana mungkin kau gak mandi, setiap hari kau mandi 45 menit, mamamu bilang kamu luluran dulu, maskeran dulu, baru mandi. Kamu paling suka mandi kan.”


Alvin : “Aku sayang kamu, Ra. Aku benar-benar ingin milikin kamu seutuhnya.”


Alvin mencium Rara lagi, ******* bibir Rara yang manis. Tangannya meraba punggung Rara, Rara hampir terlena, saat Alvin menghentikan ciumannya.


Alvin : “Aku bisa dibunuh papamu kalau kelewatan batas, kita nonton aja ya.”


Rara : “Iya Al.”


Rara tersenyum melihat Alvin mencari film komedi di tumpukan CD film di dekat TV. Alvin benar-benar bertahan untuk tidak bertindak jauh, tapi dia belum tahu sampai nanti malam, ketika mereka benar-benar hanya berdua saja.


Rara dan Alvin tertawa menonton film komedi yang dipilih Alvin, tak terasa hari beranjak gelap. Alvin berbaring di samping Rara yang masih tertawa, ia menatap wajah Rara yang terlihat semakin cantik, Alvin bangun, langsung mengukung Rara dibawahnya.


Alvin : “Ra, aku sayang kamu.”


Rara memejamkan mata ketika Alvin menciumnya lagi, kali ini ciumannya bergerak turun ke leher Rara. Tubuh Rara merinding, menerima sentuhan Alvin.


Tiba-tiba Rara teringat perkataan papanya, laki-laki bisa jadi pemangsa, tapi kalau pemangsa ganteng dan nikmat gini, Rara pasrah dech. Rara benar-benar sangat mencintai Alvin, sampai mau menerima apa yang Alvin lakukan padanya.


Alvin berhenti menciumi Rara, ia menatap Rara yang memejamkan mata dibawahnya.


Alvin : “Sayang, jangan pasrah gitu napa, aku juga butuh sedikit perlawanan.”


Rara : “Perlawanan kayak apa sich? Kenapa juga aku harus nglawan, enak gitu.”

__ADS_1


Alvin : “Polos banget sich kamu, untung kamu dapet calon suami kayak aku.”


Alvin mengacak rambut Rara, dan mencium pipinya.


Alvin : “Mandi sana. Aku juga mau mandi dulu. Uda laper nich.”


Rara : “Ya udah, aku mandi dulu ya, Alvin mau masak? Apa kita pesen aja?”


Alvin : “Aku pesen aja dech. Jangan mandi lama-lama, keburu aku tidur nich.”


Rara menuruti Alvin untuk cepat-cepat mandi, ia meninggalkan ritual luluran dan maskeran, Alvin baru keluar dari kamarnya, ketika ia melihat Rara keluar dari kamarnya juga.


Alvin : “Udah mandi? Tumben cepet.”


Rara : “Katanya suruh cepet. Aku jadi gak bisa luluran.”


Alvin : “Tapi kamu tetep wangi kok.”


Rara tertawa mendengar rayuan Alvin, pesanan makanan mereka sudah datang. Rara mengatur meja makan agar bisa segera makan malam. Mereka makan malam sambil sesekali ngobrol.


💐💐💐💐💐


Malam semakin larut, Alvin masuk ke dalam kamar Rara. Ia ingin mengambil chargernya yang kemarin terbawa Rara saat mereka jalan-jalan ke mal.


Alvin mencari di sekitar meja, dan menemukan charger milik Rara diatas meja. Ia memasang charger itu di colokan dan menyambungkan ke HP-nya yang lowbat.


Saat berbalik, Alvin menatap Rara yang sudah selesai ganti baju di kamar mandi. Ia melongo melihat Rara memakai baju tidur yang ketat.


Alvin : “Ra... Rara aku nitip ng-charger HP ya.”


Alvin balik badan lagi, ia menarik nafas panjang menenangkan hasratnya yang bergejolak. Godaan yang Tuhan berikan hari ini, benar-benar membuatnya pusing.


Rara berjalan ke samping Alvin, menyerahkan charger HP-nya yang masih tertinggal di dalam tas Rara. Aroma tubuh Rara membuat Alvin mulai goyah, ia menarik tangan Rara dan menciumnya lagi. Rara menatap Alvin  dengan mata bulatnya yang cantik, ia memeluk tubuh Alvin.


Kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu,  hampir melakukan hal-hal di luar batas. Tiba-tiba Rara mendorong tubuh Alvin dari atas tubuhnya, ia merasa takut. Alvin tersenyum menatap Rara yang tidak berani menatapnya.


Alvin : “Akhirnya kau tahu cara melawan. Jangan menggodaku lagi, kumohon.” Rara cuma mengangguk.


Alvin : “Ayo, tidur. Aku tidur sini ya, uda ngantuk nich.”


Rara tersenyum menatap Alvin yang sudah tertidur membelakanginya, hatinya semakin mencintai laki-laki di sampingnya. Rara menarik selimut dan mulai terpejam.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran dari para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak


kalah seru.

__ADS_1


-------


__ADS_2