Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Honeymoon (2)


__ADS_3

Sampai tak


terasa hari semakin sore dan sunset akan segera tiba. Joya menarik lengan Boy


agar mereka tidak melewatkan indahnya sunset di pulau Bali. Joya mengangkat


sandalnya dan berjalan di pasir tanpa alas kaki. Boy mengikuti Joya dengan


kamera di tangannya.


Boy terus


mengambil foto Joya dengan segala macam ekspresi dan pose. Ia tersenyum melihat


istrinya itu terlihat sangat senang bermain pasir.


Boy : “Kalau


anak kita sudah lahir nanti, kita kesini lagi ya. Taruh dia diatas pasir.”


Joya : “Iya,


mas. Semoga secepatnya ada kabar baik ya.”


Mereka berdua


duduk saling bersandar satu sama lain, sambil menikmati pemandangan sunset di


pantai Kuta yang sangat indah.


Setelah hari


mulai gelap, Boy mengajak Joya ke restaurant milik Melinda. Jaraknya tidak jauh


dari hotel tempat mereka menginap. Jadi mereka berjalan kaki menuju kesana.


Tiba disana,


restauran itu sangat ramai, ada tamu asing dan juga lokal. Sepertinya restauran


milik Melinda itu cocok di semua kalangan. Pelayan mengantar mereka berdua ke


meja yang kosong. Untungnya ada yang kosong. Boy dan Joya memilih makanan yang


ingin mereka makan.


Joya : “Rame


juga ya, mas.”


Boy : “Iya.


Sini sayang, kita selfie.”


Mereka


berdekatan dan Boy mengambil foto mereka dengan latar belakang situasi


restauran yang padat. Semua meja di restauran itu terisi penuh. Bahkan mulai


ada antrian di depan restauran setelah Boy dan Joya masuk kesana.


Boy mengirimkan


foto itu pada Melinda dan mengatakan restauranmu penuh sekali. Boy meletakkan


ponselnya karena pelayan sudah datang membawakan pesanan mereka. Boy


menyodorkan ponsel Joya pada pelayan untuk mengambil foto mereka berdua dengan


makanan yang masih lengkap.


Pelayan itu


mengambil beberapa foto mereka dengan berbagai sudut. Boy menerima ponsel Joya


kembali dan mengucapkan terima kasih sambil memberikan tips pada pelayan itu.


Joya  : “Pantes rame, makanannya enak, besar porsinya,


murah lagi.”


Boy : “Iya. Sayang


banget manajemennya gak jujur.”


Mereka


menyelesaikan makanan mereka dan lanjut memesan desert. Melinda meminta mereka


mencoba desert andalan restaurant itu dan meminta foto lagi. Kali ini Boy


mengambil foto Joya dengan dua mangkuk desert di depannya.


Persoalan mulai


terjadi saat Boy minta bill dan tagihan yang datang tidak berupa rincian


pesanan mereka tapi hanya angka yang ditunjukkan melalui ipad yang dipegang


kasir.


Boy : “Gak ada


struknya ya, mbak. Saya harus lampirkan struk untuk kantor nich.”


Kasir : “Printernya

__ADS_1


sedang rusak, pak. Maaf, bagaimana kalau di foto saja?”


Boy mengambil


foto form struk yang berisi pesanan mereka yang bahkan tidak diisi tax &


service tapi Boy harus membayar tambahan itu juga.


Boy menggandeng


tangan Joya keluar dari restauran itu. Boy sengaja membayar dengan kartu agar


tercatat pada tagihan kartu kreditnya.


Mereka kembali


ke hotel untuk kembali beristirahat dan menikmati malam sambil melihat


pemandangan sekitar. Joya masuk ke kamar setelah Boy membuka pintu kamar


mereka. Ia langsung masuk ke kamar mandi.


Boy melihat ada


amplop diatas meja dan membukanya. Itu informasi hotel berikutnya yang harus


dikunjungi Boy dan juga restauran milik Melinda yang lain. Boy menelpon


Melinda,


Boy : “Melinda,


aku sudah dapat amplopnya. Berapa banyak restauran-mu?”


Melinda : “Ada


4 di Bali. Tapi yang berikutnya sepertinya jujur. Kamu coba cek aja ya. Ingat


kirim fotonya.”


Boy : “Ya, ok.


Tapi aku gak dapat struk tadi. Alasan printer rusak. Padahal ada dua kasir


disana.”


Melinda : “Dua


kasir? Aku gak pernah minta ada dua kasir. Sepertinya mengirimmu kesana sudah


benar ya. Lanjutkan, Boy. Aku tunggu yang berikutnya.”


Boy : “Ya, ok.


Bye.”


ponselnya dan pintu kamar mandi terbuka. Joya keluar dari sana, hanya memakai


lingerie tipis. Boy hampir jatuh karena terpesona melihat penampilan istrinya


itu. Joya terlihat segar dengan rambut yang sedikit basah. Ia menggantung


pakaian yang dipakainya tadi di dalam lemari.


Menyadari


suaminya sedang menatap dirinya, Joya mengintip dari balik pintu lemari.


Joya : “Mas,


kenapa ngliatin gitu sich?”


Boy berjalan


mendekati Joya, ia menarik tangan Joya dan duduk di atas tempat tidur. Dipangkunya


tubuh Joya, Boy menatap intens tubuh Joya yang memakai lingerie.


Boy : “Aku


kesal sekali.”


Joya : “Kenapa,


mas?”


Tangan Joya


membelai rambut di belakang telinga Boy dan memeluknya.


Boy : “Kamu


sudah siap-siap kayak gini, tapi aku gak bisa ngapa-ngapain. Sama aja seperti waktu


kita nginep dulu. Tidur seranjang, tapi gak boleh nakal.”


Joya : “Kapan


kita kayak gitu?” tanya Joya sambil menegakkan tubuhnya.


Boy : “Waktu


kamu masih magang. Kita pernah keluar kota kan? Kamu gak sadar kalau tiap malam


aku tidur disamping kamu.”


Joya : “Iss, dasar

__ADS_1


nakal.”


Boy : “Haduh, aku


gak tahan lagi. Aku ke kamar mandi dulu ya.”


Joya menahan


tubuh Boy, dan mengerling genit pada suaminya itu.


Joya : “Aku


bantu ya?”


Tawaran yang


tentu saja tidak bisa ditolak Boy. Meskipun mereka tidak boleh berhubungan


dulu, tapi sepertinya Joya bertanya pada Ny. Putri tentang sesuatu untuk


membantu suaminya itu.


*****


Sinar matahari


mulai mengintip di balik awan. Joya sudah bangun sejak tadi dan masih


berkeliaran di dalam kamar dengan lingerie-nya. Boy yang terusik dengan


kegiatan istrinya, membuka matanya menatap wajah cantik Joya.


Joya sibuk


menyiapkan pakaian untuk mereka dan juga membereskan isi koper. Sesekali Joya


membungkuk membelakangi Boy dan tanpa sadar mengundang hasrat suaminya itu


lagi.


Boy : “Sayang,


kamu udah mandi.”


Joya : “Maaass!!”


Joya memegangi


dadanya yang terkejut karena Boy tiba-tiba bicara. Boy menarik Joya ke dalam


pelukannya. Ia ingin mandi bersama Joya.


Joya : “Mas,


ntar khilaf loh. Gak boleh.”


Boy : “Bikin frustasi


aja sich.”


Joya menahan


senyumnya melihat Boy ngambek. Ia mendorong Boy, dan menarik tangan Boy masuk


ke kamar mandi. Joya melayani Boy dengan baik sampai suaminya itu puas dan


tidak ngambek lagi.


Perjalanan


mereka berikutnya ke daerah Kintamani yang cukup dingin. Dan pak Made sudah


siap menunggu untuk mengantar mereka kesana.


Sebelum


berangkat menuju Kintamani, Boy mengajak Joya mampir dulu ke sebuah toko baju


kaos yang ada di daerah Kuta. Ia membeli beberapa baju kaos dengan tulisan yang


menarik dan unik. Joya juga memilih beberapa kaos untuk oleh-oleh mereka nanti.


Alhasil, satu dus tanggung dibawa Boy keluar dari toko itu.


Mereka


melanjutkan perjalanan menuju daerah Kintamani yang sejuk. Sampai di hotel,


Joya merentangkan tangannya merasakan udara dingin menerpa kulitnya. Mereka


menginap di hotel yang dekat dengan danau.


Pak Made


menurunkan barang bawaan mereka dan Boy memberikan tips untuknya. Mereka akan


diantar sopir lain dari hotel tempat mereka menginap. Boy dan Joya mendekati


resepsionis dan memberikan kertas reservasi mereka.


*****


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2