
Sampai tak
terasa hari semakin sore dan sunset akan segera tiba. Joya menarik lengan Boy
agar mereka tidak melewatkan indahnya sunset di pulau Bali. Joya mengangkat
sandalnya dan berjalan di pasir tanpa alas kaki. Boy mengikuti Joya dengan
kamera di tangannya.
Boy terus
mengambil foto Joya dengan segala macam ekspresi dan pose. Ia tersenyum melihat
istrinya itu terlihat sangat senang bermain pasir.
Boy : “Kalau
anak kita sudah lahir nanti, kita kesini lagi ya. Taruh dia diatas pasir.”
Joya : “Iya,
mas. Semoga secepatnya ada kabar baik ya.”
Mereka berdua
duduk saling bersandar satu sama lain, sambil menikmati pemandangan sunset di
pantai Kuta yang sangat indah.
Setelah hari
mulai gelap, Boy mengajak Joya ke restaurant milik Melinda. Jaraknya tidak jauh
dari hotel tempat mereka menginap. Jadi mereka berjalan kaki menuju kesana.
Tiba disana,
restauran itu sangat ramai, ada tamu asing dan juga lokal. Sepertinya restauran
milik Melinda itu cocok di semua kalangan. Pelayan mengantar mereka berdua ke
meja yang kosong. Untungnya ada yang kosong. Boy dan Joya memilih makanan yang
ingin mereka makan.
Joya : “Rame
juga ya, mas.”
Boy : “Iya.
Sini sayang, kita selfie.”
Mereka
berdekatan dan Boy mengambil foto mereka dengan latar belakang situasi
restauran yang padat. Semua meja di restauran itu terisi penuh. Bahkan mulai
ada antrian di depan restauran setelah Boy dan Joya masuk kesana.
Boy mengirimkan
foto itu pada Melinda dan mengatakan restauranmu penuh sekali. Boy meletakkan
ponselnya karena pelayan sudah datang membawakan pesanan mereka. Boy
menyodorkan ponsel Joya pada pelayan untuk mengambil foto mereka berdua dengan
makanan yang masih lengkap.
Pelayan itu
mengambil beberapa foto mereka dengan berbagai sudut. Boy menerima ponsel Joya
kembali dan mengucapkan terima kasih sambil memberikan tips pada pelayan itu.
Joya : “Pantes rame, makanannya enak, besar porsinya,
murah lagi.”
Boy : “Iya. Sayang
banget manajemennya gak jujur.”
Mereka
menyelesaikan makanan mereka dan lanjut memesan desert. Melinda meminta mereka
mencoba desert andalan restaurant itu dan meminta foto lagi. Kali ini Boy
mengambil foto Joya dengan dua mangkuk desert di depannya.
Persoalan mulai
terjadi saat Boy minta bill dan tagihan yang datang tidak berupa rincian
pesanan mereka tapi hanya angka yang ditunjukkan melalui ipad yang dipegang
kasir.
Boy : “Gak ada
struknya ya, mbak. Saya harus lampirkan struk untuk kantor nich.”
Kasir : “Printernya
__ADS_1
sedang rusak, pak. Maaf, bagaimana kalau di foto saja?”
Boy mengambil
foto form struk yang berisi pesanan mereka yang bahkan tidak diisi tax &
service tapi Boy harus membayar tambahan itu juga.
Boy menggandeng
tangan Joya keluar dari restauran itu. Boy sengaja membayar dengan kartu agar
tercatat pada tagihan kartu kreditnya.
Mereka kembali
ke hotel untuk kembali beristirahat dan menikmati malam sambil melihat
pemandangan sekitar. Joya masuk ke kamar setelah Boy membuka pintu kamar
mereka. Ia langsung masuk ke kamar mandi.
Boy melihat ada
amplop diatas meja dan membukanya. Itu informasi hotel berikutnya yang harus
dikunjungi Boy dan juga restauran milik Melinda yang lain. Boy menelpon
Melinda,
Boy : “Melinda,
aku sudah dapat amplopnya. Berapa banyak restauran-mu?”
Melinda : “Ada
4 di Bali. Tapi yang berikutnya sepertinya jujur. Kamu coba cek aja ya. Ingat
kirim fotonya.”
Boy : “Ya, ok.
Tapi aku gak dapat struk tadi. Alasan printer rusak. Padahal ada dua kasir
disana.”
Melinda : “Dua
kasir? Aku gak pernah minta ada dua kasir. Sepertinya mengirimmu kesana sudah
benar ya. Lanjutkan, Boy. Aku tunggu yang berikutnya.”
Boy : “Ya, ok.
Bye.”
ponselnya dan pintu kamar mandi terbuka. Joya keluar dari sana, hanya memakai
lingerie tipis. Boy hampir jatuh karena terpesona melihat penampilan istrinya
itu. Joya terlihat segar dengan rambut yang sedikit basah. Ia menggantung
pakaian yang dipakainya tadi di dalam lemari.
Menyadari
suaminya sedang menatap dirinya, Joya mengintip dari balik pintu lemari.
Joya : “Mas,
kenapa ngliatin gitu sich?”
Boy berjalan
mendekati Joya, ia menarik tangan Joya dan duduk di atas tempat tidur. Dipangkunya
tubuh Joya, Boy menatap intens tubuh Joya yang memakai lingerie.
Boy : “Aku
kesal sekali.”
Joya : “Kenapa,
mas?”
Tangan Joya
membelai rambut di belakang telinga Boy dan memeluknya.
Boy : “Kamu
sudah siap-siap kayak gini, tapi aku gak bisa ngapa-ngapain. Sama aja seperti waktu
kita nginep dulu. Tidur seranjang, tapi gak boleh nakal.”
Joya : “Kapan
kita kayak gitu?” tanya Joya sambil menegakkan tubuhnya.
Boy : “Waktu
kamu masih magang. Kita pernah keluar kota kan? Kamu gak sadar kalau tiap malam
aku tidur disamping kamu.”
Joya : “Iss, dasar
__ADS_1
nakal.”
Boy : “Haduh, aku
gak tahan lagi. Aku ke kamar mandi dulu ya.”
Joya menahan
tubuh Boy, dan mengerling genit pada suaminya itu.
Joya : “Aku
bantu ya?”
Tawaran yang
tentu saja tidak bisa ditolak Boy. Meskipun mereka tidak boleh berhubungan
dulu, tapi sepertinya Joya bertanya pada Ny. Putri tentang sesuatu untuk
membantu suaminya itu.
*****
Sinar matahari
mulai mengintip di balik awan. Joya sudah bangun sejak tadi dan masih
berkeliaran di dalam kamar dengan lingerie-nya. Boy yang terusik dengan
kegiatan istrinya, membuka matanya menatap wajah cantik Joya.
Joya sibuk
menyiapkan pakaian untuk mereka dan juga membereskan isi koper. Sesekali Joya
membungkuk membelakangi Boy dan tanpa sadar mengundang hasrat suaminya itu
lagi.
Boy : “Sayang,
kamu udah mandi.”
Joya : “Maaass!!”
Joya memegangi
dadanya yang terkejut karena Boy tiba-tiba bicara. Boy menarik Joya ke dalam
pelukannya. Ia ingin mandi bersama Joya.
Joya : “Mas,
ntar khilaf loh. Gak boleh.”
Boy : “Bikin frustasi
aja sich.”
Joya menahan
senyumnya melihat Boy ngambek. Ia mendorong Boy, dan menarik tangan Boy masuk
ke kamar mandi. Joya melayani Boy dengan baik sampai suaminya itu puas dan
tidak ngambek lagi.
Perjalanan
mereka berikutnya ke daerah Kintamani yang cukup dingin. Dan pak Made sudah
siap menunggu untuk mengantar mereka kesana.
Sebelum
berangkat menuju Kintamani, Boy mengajak Joya mampir dulu ke sebuah toko baju
kaos yang ada di daerah Kuta. Ia membeli beberapa baju kaos dengan tulisan yang
menarik dan unik. Joya juga memilih beberapa kaos untuk oleh-oleh mereka nanti.
Alhasil, satu dus tanggung dibawa Boy keluar dari toko itu.
Mereka
melanjutkan perjalanan menuju daerah Kintamani yang sejuk. Sampai di hotel,
Joya merentangkan tangannya merasakan udara dingin menerpa kulitnya. Mereka
menginap di hotel yang dekat dengan danau.
Pak Made
menurunkan barang bawaan mereka dan Boy memberikan tips untuknya. Mereka akan
diantar sopir lain dari hotel tempat mereka menginap. Boy dan Joya mendekati
resepsionis dan memberikan kertas reservasi mereka.
*****
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1