Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Ke klub


__ADS_3

Mereka berempat sudah berkumpul di ruangan yang sudah disiapkan untuk meeting pagi itu. Boy melirik Joya yang terlihat cantik dan lebih segar karena mengikat rambutnya ekor kuda.


Tengkuknya yang putih terlihat jelas oleh Boy. Boy menelan liurnya, ia ingin menarik pengikat rambut Joya agar menutupi tengkuknya. Ia tidak ingin orang lain melihat salah satu bagian tubuh Joya yang membuat Boy tergila-gila.


Boy mengirim pesan pada Niken yang langsung dibaca karena notif khusus untuk bos-nya itu. Ia melihat ke arah Joya dan memanggilnya.


Niken : "Joya, ikut aku sebentar."


Joya : "Baik, kak."


Mereka berdua meninggalkan ruang meeting, pergi ke toilet. Niken meminta Joya mengatur rambutnya agar tidak terlihat seperti anak training.


Joya membuka pengikat rambutnya dan memasang jepit rambut di kedua sisi rambutnya. Ia terlihat lebih manis dengan tatanan rambut seperti itu.


Saat mereka kembali, Niken mengkerutkan keningnya melihat pesan dari Boy yang protes,


Boy : "Kenapa dia terlihat lebih manis dari yang tadi."


Niken : "Tuan, sebaiknya kita kurung saja Joya dalam kamar. Jadi hanya tuan yang bisa melihatnya."


Boy speechless menerima balasan dari Niken, ia langsung bad mood dan ingin meeting cepat selesai. Ia menatap satu persatu peserta meeting lainnya yang sudah masuk ke ruangan meeting. Ada lima orang yang datang bersama Calvin. Calvin adalah salah satu owner perusahaan yang mereka ajak kerjasama kali ini.


Calvin terus menatap Joya yang terlihat manis. Ia mencoba bicara dengannya dan Joya menanggapi pembicaraan itu. Rian bisa melihat Boy terbakar api cemburu. Ia memberi tanda pada Niken yang langsung memanggil Joya untuk mengoperasikan laptop.


Wajar Boy khawatir dengan penampilan Joya, masalahnya Calvin termasuk pria muda dan tampan. Usianya mungkin lebih muda dari Boy dan langsung akrab dengan Joya saat mereka bertemu.


Alih-alih konsentrasi pada jalannya meeting, Boy lebih sering menatap Calvin yang terus saja menatap Joya. Pensil di tangannya sampai patah jadi dua. Boy memberi kode pada Rian yang pura-pura tidak melihatnya. Semakin kesallah dia sepanjang sisa meeting.


Ketika meeting berakhir, Calvin terang-terangan mendekati Joya dan memberikan kartu namanya.


Calvin : "Nona Joya, senang sekali bertemu denganmu. Kau sibuk malam ini? Datanglah ke pestaku, ini kartu masuk ke klub-ku. Tempatnya dekat sini."


Joya : "Maaf, tuan. Saya..."


Calvin : "Aku tidak suka penolakan. Kau bisa pergi bersama tuan Boy juga. Aku tidak keberatan."


Calvin meraih tangan Joya dan mencium jemarinya sebelum Joya menarik tangannya dengan cepat. Joya melangkah mundur menjauh dari Calvin. Ia sangat tidak nyaman mendapatkan perhatian sebesar itu.


Boy segera berjalan diantara Calvin dan Joya, ia menjabat tangan Calvin dengan erat sambil tersenyum,


Boy : "Tentu saja kami terima undangan tuan Calvin."


Calvin : "Well, bagus sekali. Sampai jumpa nanti malam, Joya."


Joya membungkuk sebentar, ia tetap menjaga jarak dari Calvin dan menggunakan Boy sebagai tamengnya. Setelah Calvin menghilang dari ruangan itu, Boy kembali duduk di tempatnya semula.


Joya membereskan kertas-kertas yang berserakan sementara Niken mendekati Boy yang sudah memanggilnya. Mereka bisik-bisik sebentar,


Niken : "Joya, ayo balik ke kamar. Kita harus pergi lagi."


Seharusnya jadwal mereka hari itu adalah survey ke lokasi tempat projek kerjasama mereka, tapi Boy memutuskan survey hanya dengan Rian saja. Ia tidak mau Joya bertemu Calvin lagi. Boy meminta Niken mengajak Joya membeli sebuah gaun untuk dipakainya nanti malam termasuk untuk Niken juga.


Jadilah mereka berpisah jalan. Boy dan Rian naik mobil yang sudah disediakan Calvin menuju tempat projek, sementara Joya dan Niken naik ke mobil hotel yang mengantar mereka sampai ke mall terdekat.

__ADS_1


------


Menjelang petang, Boy dan Rian baru tiba kembali ke kamar hotel. Mereka bergantian mandi dan bersiap ke klub Calvin. Tapi sebelum itu mereka akan makan malam dulu di restauran hotel.


Boy dan Rian sudah duduk di meja restauran dan memesan menu makan malam saat Joya dan Niken memasuki restauran.


Semua mata memandang kedua gadis manis yang terlihat wow dengan gaun malam berwarna hitam. Tata rambut dan make up natural menunjang penampilan mereka.


Boy terpana melihat Joya, ia hampir  jatuh dari kursinya setelah mengucek matanya sejenak. Joya terlihat hot dengan penampilannya malam itu. Gaun malam warna hitam, rambut dicepol memperlihatkan tengkuknya, riasan natural, dan heels yang dipakainya membuat kombinasi yang pas untuk pikiran kotor Boy.


Boy : "Gosh! Shit! Dia terlalu hot."


Rian : "Iya, hot banget."


Rian merasakan tendangan pada tulang kakinya. Ia menoleh menatap Boy yang melotot padanya,


Rian : "Maksudku Niken, bos. Bukan Joya."


Boy : "Jadi menurutmu Joya tidak hot?"


Rian : "Daripada aku menjawabnya, lebih baik kau bunuh aku saja."


Bagi Rian, menjawab pertanyaan Boy sama saja makan buah simalakama, ia lebih baik minta dibunuh saja. Kalau dia mengatakan Joya hot, pasti tendangan yang lebih menyakitkan akan mendarat di kakinya. Tapi kalau menjawab tidak, tentu saja Boy juga akan ngamuk. Dasar bucin!


Boy : "Mereka kemari! Oh, shit! Aku belum siap."


Rian : "Stay cool, bos. Kau akan mengacaukan semuanya."


Boy menarik nafasnya dan kembali bersikap tenang. Niken lebih dulu mengambil tempat duduk di sebelah Rian dan Joya mau gak mau duduk di samping Boy.


Niken : "Apa saja yang cepat. Atau kita akan terlambat ke pesta."


Suara Niken terdengar dingin saat bicara dengan Rian membuat hati Rian berdesir. Ia memikirkan sesuatu malam ini, pas sekali dengan penampilan Niken yang mempesona. Rian juga sama terpananya saat melihat penampilan Niken.


Pesanan mereka akhirnya datang juga. Boy mengiris daging steak pelan-pelan, membuat Joya kasihan padanya. Mungkin tangan Boy belum sembuh benar. Dengan cepat Joya memotong daging steak di depannya.


Ia terbiasa melakukannya karena Ny.Besar selalu kesulitan memotong daging steak. Joya menyodorkan piring steak yang sudah dipotong ke hadapan Boy.


Joya : "Tuan, ini sudah selesai saya potong. Silakan dimakan."


Joya sudah bersiap hati kalau Boy akan mengabaikannya tapi ternyata Boy mengambil piring Joya dan Joya mengambil piring Boy yang masih utuh.


Senyuman muncul di sudut bibir Boy, Rian mencibir kearahnya dengan cepat. Ia juga sudah selesai memotong daging steak, tapi saat akan menukar piring dengan Niken, gadis itu sudah menghabiskan seperempat daging yang ada diatas piring. Niken terlihat profesional menggunakan pisau, melihat itu Rian menelan liurnya. Save otong.


------


Mereka sudah sampai di klub milik Calvin. Dentuman musik yang cukup keras menyambut mereka. Hampir semua orang yang hadir menoleh menatap visual mereka berempat yang cukup menarik perhatian.


Calvin yang sudah menunggu kedatangan Joya, memberi kode pada anak buahnya untuk mendekati Joya dan membawanya ke kursi Calvin. Boy memandang geram pada Calvin yang meminta Joya duduk di sampingnya.


Calvin : "Joya, duduk disini. Tuan Boy, senang sekali kau bisa datang. Selamat datang di klub saya. Anggap rumah sendiri."


Joya beringsut ke belakang tubuh Niken, ia tidak nyaman dengan tatapan Calvin pada tubuhnya. Joya memilih duduk di samping Niken, jauh dari Calvin. Minuman segera diantar pada mereka.

__ADS_1


Boy melirik minuman yang disodorkan pelayan pada Joya. Joya menolak minuman itu dan minta sebotol air mineral saja. Niken juga menolak minuman yang disodorkan padanya, hanya Rian dan Boy yang menegak minuman itu.


Calvin mulai mendekati Joya, ia meminta Joya bangun untuk berdansa dengannya. Joya ingin menolak tapi Calvin sudah menarik tangannya. Joya terpaksa mengikuti langkah Calvin ke lantai dansa.


Calvin benar-benar mengagumi Joya, mereka berdansa dengan santai karena Joya tidak pandai dansa. Joya memandang ke arah lain agar ia tidak perlu menatap Calvin.


Di tempat duduk, Boy meneguk segelas minuman yang disediakan. Tangannya mengepal penuh amarah karena cemburu. Ia tidak suka melihat pria lain menyentuh miliknya.


Rian : "Sabar, bos. Jangan terpengaruh, mereka hanya dansa."


Boy : "Tangannya menyentuh Joya sembarangan. Damn!"


Mengabaikan peringatan Rian, Boy berjalan ke lantai dansa dan menepuk pundak Calvin.


Boy : "Tidak keberatan kan?"


Calvin : "Silakan. Terima kasih Joya, dansa yang menyenangkan."


Jantung Joya berdetak kencang saat Boy meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat tapi tidak menyakitkan.


Ia menatap wajah Boy yang ternyata sudah menatapnya juga. Mereka bergerak seiring alunan musik, Boy menarik tangan Joya agar merangkul lehernya. Joya menyusupkan wajahnya ke dada Boy yang menundukkan kepalanya di bahu Joya.


Mereka sama-sama menyembunyikan perasaan mereka yang paling dalam satu sama lain.


------


 


 


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


 


 


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


 


 


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


 


 


Makasi banyak...


 


 

__ADS_1


-------


__ADS_2