Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Jadi partner


__ADS_3

Aliya masuk ke ruang kerja Aldo, ia tidak melihat Aldo disana, dilihatnya jam dinding di atas jendela. Sudah jam 6 sore.


Aliya : “Apa dia ngambek dan pulang sendiri?” Aliya hampir berbalik keluar, tapi Aldo muncul dari kamar mandi.


Aldo : “Mau kemana, sayang?”


Aliya : “Oh, aku pikir kau sudah pulang.”


Aldo : “Tadinya begitu. Kenapa lama sekali, Al?”


Aliya : “Aku tadi membicarakan masalah partner itu dengan Deril.”


------


Flash back----


Aliya meletakkan kontrak yang baru selesai ia review. Ia menatap Deril yang masih menunggu kelanjutan ucapannya.


Aliya : “Aku berencana menjalin kerja sama denganmu, sesuai dengan kemampuanku, aku lihat hampir setiap hari kau mengurus kontrak baru. Mungkin kalau kita jadi partner, keuntunganmu akan bertambah.”


Deril : “Bagaimana bentuk kerja samanya?”


Aliya : “Aku bertanggung jawab mereview semua kontrak yang perusahaanmu terima, dan bernegosiasi dengan clientmu. Bayarannya per kontrak, aku tidak keberatan dengan pembayaran yang kau berikan sebelumnya.


Bagaimana?”


Deril : “Keuntungan apa yang akan kau dapat dengan kerja sama ini, kalau dari sisi bayaran yang kau terima, aku rasa itu terlalu kecil.”


Aliya : “Pengalaman yang sangat berharga dan itu sudah cukup. Kau setuju?”


Deril : “Ok, kirim draft kontraknya, akan kutandatangani.”


Aliya : “Ok deal.”


Deril dan Aliya berjabat tangan dan menyambut pertemanan baru mereka.


---Flash back end


------


Aldo : “Jadi dia mau?”


Aliya : “Iya, aku sudah mengirimkan draft kontrak partner padanya. Mungkin besok dia akan menghubungiku.”


Aldo menatap Aliya dalam, ia mendekati Aliya yang sudah duduk di sofa ruang kerjanya.


Aliya : “Apa? Jangan dekat-dekat…”


Aldo : “Kapan kau pindah?”


Aliya : “Aku…”


Aliya menepuk keningnya, kenapa juga dia harus setuju tinggal bersama Aldo sebagai syarat kerja samanya dengan Deril.


Aliya : “Kau belum bilang papaku kan?”


Aldo : “Sayangnya… udah dan kau tahu apa jawaban papamu?”


Aliya : “Papaku gak setuju kan?” Aliya tiba-tiba berharap papanya akan memihaknya kali ini.


Aldo : “Papamu setuju asalkan aku bisa menjagamu dengan baik.”


Aliya : “Hais… Baiklah aku pindah setelah kontrak ditanda tangani. Tapi…”


Aldo : “Tapi apa?”


Aliya : “Janji sebelum kita menikah, kau tidak akan menyentuhku.”


Aldo : “Aku gak bisa janji…”


Aliya : “Maksudmu kau akan melakukannya sebelum kita menikah?!”


Aldo : “Apa yang kau maksud? Bagaimana bisa aku berjanji tidak menyentuhmu, sedangkan aku selalu ingin memeluk dan menciummu? Aku tahu… kau sedang berpikir mesum ya…”


Wajah Aliya merona, ia memalingkan wajahnya tidak melihat Aldo lagi. Jantungnya berdebar kencang, ia lupa kalau mereka sudah pernah bermalam bersama dan tidak ada yang terjadi. Meskipun Aldo sudah melihat sebagian tubuh polosnya, Aldo tetap tidak bersikap kurang ajar.

__ADS_1


Aldo : “Ayo kita pulang, aku bantu kau berkemas dan aku harus menginap lagi di apartmentmu hari ini.”


Aliya : “Kenapa kau tidak tidur saja di apartmentmu?”


Aldo : “Papamu memberi syarat lain lagi, aku harus merombak apartmentku sedikit.”


Aliya : “Kau kan bisa tinggal di apartment papamu?”


Aldo : “Kau gila! Terakhir aku menginap disana, aku hampir tidak bisa tidur semalaman. Entah apa yang papa dan mamaku lakukan di kamar sebelah. Aku sampai berpikir aku akan punya adik lagi.”


Aliya : “Astaga, orang tua kita ternyata sama saja.”


Aldo : “Bagaimana kau tahu? Kau kan tinggal jauh dari mereka.”


Aliya : “Alvin yang cerita, aku pikir dia menanyakan aku mau punya ponakan laki-laki atau perempuan, ternyata maksudnya adik.”


Aldo dan Aliya tertawa bersama, mereka beranjak pulang ke apartment Aliya. Tetapi sebelumnya membeli makan malam di sebuah restauran.


-------


Aldo masuk ke apartment Aliya membawa sebuah tas besar, ia meletakkannya di dekat lemari pakaian Aliya. Sementara Aliya merapikan makanan diatas meja makan.


Aldo masuk ke kamar mandi Aliya dan keluar beberapa menit kemudian cuma pakai handuk. Aliya menatap tubuh Aldo yang masih sedikit basah. Cuek, Aldo memakai pakaiannya di depan Aliya dan memasukkan baju kotornya


ke dalam tas khusus.


Aliya bahkan tidak bereaksi apa-apa, ia tetap melakukan tugasnya di dapur.


Ini kejadiannya kalau Aliya melihat Aldo, bagaimana kalau author balik ya...


Setelah makanan terhidang dengan baik, giliran Aliya yang masuk ke kamar mandi dan keluar beberapa menit kemudian hanya memakai handuk. Aliya membuka lemari pakaiannya, mengambil piyama tidur. Baru saja Aliya ingin melepas handuknya, Aldo sudah berdiri di belakangnya.


Aliya : “Al, aku pakai baju dulu. Kamu tunggu di meja makan, sana…”


Aldo : “Aku cuma mau cium, dikit aja.”


Aliya : “Gak boleh, sana pergi!”


Aldo : “Bentar aja…”


Aliya : “Ini apa?”


Aldo : “Aku membelinya untukmu. Kau suka?”


Aliya : “Iya, makasih… Sekarang aku pakai baju dulu ya.”


Aldo : “Mau aku bantu?”


Aliya : “…”


Aldo sudah ngloyor ke meja makan. Ia duduk membelakangi Aliya, mengaduk makanan dalam piringnya. Aliya tersenyum menatap Aldo, ia mulai yakin kalau pilihannya tidak salah.


Setelah berganti baju, Aliya duduk di depan Aldo. Malam itu ia memakai piyama tidur yang sedikit terbuka, bukan untuk menggoda Aldo. Hanya saja, semua piyama tidurnya memang seperti itu. Seharusnya itu tidak masalah buat Aldo, kan.


Tentu tidak masalah, karena malam-malam sebelumnya Aliya memakai jubah tidurnya juga. Tapi malam itu, ia tidak memakainya.


Aldo : “Apa kau mencoba menggodaku?”


Aliya : “Aku tidak... Kenapa?”


Aldo : “Al, kamu anggap aku pria sejati atau tidak?”


Aliya : “Tentu saja kau pria sejati. Memangnya kau tidak?”


Aldo : “Kalau begitu, pakai jubah tidurmu. Atau aku tidak akan bisa menahan diriku.”


Aliya : “Kau harus menahan dirimu, Al. Aku yakin kamu bisa, kalau yang ini saja tidak bisa kau lewati, bagaimana kau bisa tahan tinggal bersamaku 2 tahun kedepan?”


Aliya menggigit sendoknya, menatap Aldo yang terlihat gelisah. Aldo menggaruk kepalanya dengan kasar, ia menyelesaikan makannya dan mencuci piring. Kemudian duduk di sofa, menonton TV.


Aliya tersenyum melihat bagaimana Aldo berusaha mengalihkan pandangannya dari dirinya.


Aliya : “Apa aku terlalu kejam?” kata Aliya dalam hati. Tapi ia harus terus melakukan itu agar Aldo bisa berlatih menahan dirinya sampai mereka menikah nanti.


-------

__ADS_1


Suara alarm jam membangunkan Aliya di pagi hari, ia menggeliat bangun dan mendapati piyama tidurnya sudah turun salah satu talinya. Aliya menoleh melihat Aldo tertidur memeluk bantal dengan tangan menggenggam tali piyama tidur Aliya.


Aliya meraih tangan Aldo, memeluknya dengan erat, menyusupkan wajahnya ke dada Aldo. Aldo menggeliat, memicingkan matanya menatap Aliya yang sudah memeluknya.


Aldo : “Pagi, sayang.”


Aliya : “Pagi. Al…?”


Aldo : “Hmm…”


Aliya : “Kamu beneran gak papa kalau aku partner sama Deril?”


Aldo : “Sebenarnya aku gak suka, tapi aku percaya kamu bisa jaga diri. Janji ya jangan tinggalkan aku.”


Aliya : “Aku janji… Bangun  yuk.”


Aldo : “Aku sich mau aja, kamu yang gak ngasi aku bangun.”


Aliya menguwel-uwel hidungnya ke dada Aldo yang kegelian. Aldo menghentikan Aliya dengan memeluknya erat sampai Aliya sesak bernafas.


Aliya : “Uaahh… Kau mau membunuhku ya…”


Aldo : “Bukan membunuhmu, tapi memakanmu. Tingkahmu pagi ini membuat adik kecilku bangun.”


Aliya : “Trus kamu mau apa?”


Aldo : “Aku…mau mandi dan sarapan…”


Aldo melepaskan pelukan Aliya dan masuk ke kamar mandi. Aliya tersenyum manis, sebuah notif pesan di HP Aldo membuat HP-nya berkelap-kelip. Aliya mengambil HP Aldo dan membukanya, ada password-nya.


Iseng Aliya memasukkan tanggal lahirnya dan kuncinya terbuka. Aliya membaca puluhan pesan dari banyak perempuan, dan hanya beberapa yang dijawab Aldo dengan intens. Bahkan ada yang mengirimkan foto hot. Aliya


membuka album foto dan tidak menemukan foto mesum di dalamnya. Tapi ada beberapa foto dirinya yang sedang tersenyum.


Aldo : “Ada telpon masuk?”


Aliya menoleh dari HP Aldo, Aldo sudah keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk dan rambutnya basah. Aldo duduk di ranjang, menarik tasnya dengan kaki dan mulai memilih baju.


Aliya : “Hanya pesan dari entah siapa, ingin bertemu denganmu. Apa kau marah, aku melihat-lihat HP-mu?”


Aldo : “Kenapa marah? Aku tidak menyembunyikan apa-apa.”


Aliya : “Banyak sekali penggemarmu. Bahkan lebih seksi dari aku.”


Aldo : “Lebih seksi dan cantik banyak, tapi tidak ada yang murni seperti kamu.”


Aliya : “Kalau aku sudah tidak perawan, apa kau tetap mau denganku?”


Aldo : “Yang penting kamu tidak berubah jadi munafik seperti mereka. Aku akan tetap bersamamu.”


Aliya membalikkan tubuhnya, ia melihat Aldo mulai memakai pakaiannya satu persatu. Wajahnya memerah malu melihat tubuh Aldo.


Aldo : “Kau punya bahan makanan? Kita sarapan apa?”


Aliya : “Lihat saja di dapur dan kulkas, aku mandi dulu. Ini HP-mu.”


Aldo : “Kemarikan tanganmu.” Aliya menyodorkan tangannya dan Aldo mengatur sidik jari Aliya di HP-nya.


Aldo : “Cobalah.” Aliya meletakkan jari telunjuknya ke tempat scan dan HP itu terbuka kuncinya.


Aliya : “Al… I love you…”


Aldo menarik Aliya dalam dekapannya dan mencium Aliya,


Aldo : “I love you too…”


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


-------

__ADS_1


__ADS_2