
Aril mengemudikan mobilnya ke kantor Deril, mata Cecil jelalatan melihat sekeliling, memastikan Deril belum datang setelah mereka sampai di parkir kantor.
Cecil membuka pintu mobil Aril, ia bergegas kabur ke dalam kantor tanpa bilang apa-apa pada Aril. Aril tersenyum melihat tingkah Cecil. Ia menelpon Deril,
Deril : "Apa kau gila, ini jam berapa?" Suara serak Deril terdengar menandakan ia baru bangun tidur.
Aril : "Aku baru mengantar sekretarismu ke kantor."
Deril : "Kau apakan dia?!"
Aril : "Aku ingin bersamanya, aku jatuh cinta padanya."
Deril : "Apa kau gila? Kau serius kan?"
Aril : "Semalam aku membawanya ke apartmentku, kami melakukannya diatas ranjangku. Deril, tolong aku kali ini."
Deril : "Apa kau serius? Jangan permainkan dia, aku baru mengenal Cecil tapi aku tahu kalau dia wanita baik-baik."
Aril : "Akhirnya aku menemukan apa yang kucari. Aku tidak mau melepaskannya, tolong bantu aku mendapatkan Cecil."
Deril :"Akan kulakukan sebisaku."
-------
Deril baru tiba di kantornya dan Cecil sudah menyiapkan dokumen untuk meeting yang sebentar lagi dimulai.
Deril : "Cecil, aku mau minta tolong. Kau tahu, Aril ingin aku membantunya mendekorasi ulang apartmentnya. Dia ingin sedikit sentuhan wanita, aku bingung maunya anak itu. Bisakah kau membantunya?"
Cecil : "Kenapa saya, pak? Bagian produksi kan ada yang bisa melakukannya."
Deril : "Aril gak suka sembarangan orang masuk ke apartmentnya. Aku juga tidak yakin dia mau kalau kau yang datang."
Cecil : "Baiklah, pak. Kapan aku mulai?"
Deril : "Kau bisa mulai setelah selesai meeting. Ini berkas Aril, nomor HP, dan apa saja yang ia inginkan."
Cecil : "Aku akan menelponnya untuk membuat janji dulu."
Deril : "Kirimkan saja pesan untuknya. Dia tidak mau mengangkat telpon dari nomor tidak dikenal."
Cecil keluar dari ruang kerja Deril dan mengirimkan pesan pada Aril untuk bertemu di apartment Aril tiga jam lagi.
Deril juga melakukan hal yang sama, mengatakan kalau tugasnya sudah selesai dan giliran Aril untuk menyelesaikannya.
-------
Cecil melirik jam tangannya, sudah satu jam sejak ia mengirimkan pesan pada Aril dan belum dijawab sampai sekarang.
Cecil mencoba menelpon Aril, tidak diangkat, ia meninggalkan pesan di voice mail Aril. Cecil menarik nafas panjang, ia bingung memikirkan apa yang harus ia katakan pada Deril kalau dia bertanya selesai meeting nanti.
__ADS_1
Cecil tidak pernah gagal menjalankan tugas yang diberikan padanya, tapi Aril membuatnya frustasi.
Benar saja, Deril tampak keluar dari ruang meeting bersama beberapa manager. Ia menatap Cecil yang juga menatapnya.
Cecil : "Tuan Aril meminta bertemu di apartmentnya dalam satu jam. Sebelum saya pergi, apa yang bapak perlukan?"
Deril : "Aku rasa tidak ada, pesankan aku makan siang dulu. Bawa berkas dan note juga. Kabari aku kalau kau sudah selesai."
Cecil : "Baik, pak."
Deril berlalu ke ruang kerjanya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, sepertinya adik kembarnya akan menikah duluan.
Sementara Cecil menarik nafas dengan gusar, bagaimana bisa ia berbohong pada bos-nya seperti itu. Cecil bahkan berharap tidak akan bertemu lagi dengan Aril.
-------
Disinilah Cecil berdiri, di depan apartment Aril. Ia menarik nafas panjang dan menekan bel pintu. Seseorang membuka pintu apartment dan itu Aril,
Cecil : "Selamat siang, tuan Aril. Saya datang untuk...
Aril : "Masuklah."
Cecil memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan masuk ke dalam. Aril terlihat sibuk di dapur, memasak sesuatu.
Cecil : "Tuan, kau masih sibuk? Aku akan kembali nanti."
Aril : "Sebentar lagi selesai. Apa Deril sudah mengatakan yang kuinginkan?"
Aril : "Bisakah kau selesaikan dalam seminggu atau dua minggu? Aku rasa tidak sulit, hanya beberapa rak dan meja rias."
Cecil : "Tergantung detail apa yang kau inginkan, Tuan."
Aril : "Tidak perlu terlalu rumit, simple saja tapi cukup untuk menampung semua barang untuk wanitaku."
Deg! Kenapa hati Cecil sedikit sakit mendengar kata-kata Aril. Semudah itu playboy ini mendapatkan wanita lain setelah mereka tidur bersama.
Cecil : "Boleh aku melihat kamarnya, Tuan?"
Aril : "Kau kan sudah tahu dimana dan panggil saja aku Aril. Jangan terlalu resmi."
Cecil membawa note dan alat ukur ke kamar Aril, ia membuka pintu dan terkejut melihat begitu banyak paper bag memenuhi kamar itu dari berbagai macam merk terkenal dunia. Saking banyaknya, Cecil sampai harus mengingkirkan satu persatu paper bag itu ke pinggir.
Wanita pada dasarnya suka melihat barang-barang bagus meskipun tidak memilikinya, minimal bisa menyentuhnya. Termasuk Cecil, ia termasuk wanita yang suka menyentuh barang-barang bagus. Perhatian Cecil teralihkan saat ia melihat paper bag di dekat walk in closet.
Cecil meletakkan barang yang dibawanya diatas meja sofa dan berjalan mendekati paper bag itu. Isinya sebuah gaun merah yang sangat indah dan tentu saja keluaran terbaru tahun ini. Cecil meraba gaun merah itu, memperhatikan detail jahitan dan aksesorisnya.
Aril : “Apa kau suka gaun itu? Coba pakai.”
Cecil hampir menjatuhkan gaun itu karena terkejut, Aril sedang memandangnya dari pintu kamar yang terbuka.
__ADS_1
Cecil : “Ah, maaf. Saya akan lanjutkan pekerjaan saya.”
Aril : “Cobalah gaun itu, aku mau lihat. Pakai sendiri atau aku yang akan memakaikannya.”
Aril sedikit memaksa Cecil memakai gaun itu, akhirnya Cecil masuk ke walk in closet dan mulai melepas pakaian kerjanya. Cecil menarik retsleting gaunnya menutup dan memperhatikan penampilannya. Gaun itu sangat pas melekat pada tubuh Cecil.
Cecil keluar dari walk in closet, mata Aril hampir copot melihat penampilan Cecil dalam balutan gaun itu. Aril berjalan mengelilingi Cecil yang terlihat tidak nyaman.
Aril : “Besok malam aku ada pesta penting, kau harus datang bersamaku. Atau kukatakan semuanya pada Deril.”
Cecil mendelik kesal, sampai kapan ia akan terjebak dengan playboy mesum ini. Aril mendorong Cecil agar duduk di sofa. Ia berkeliling menarik beberapa paper bag berisi sepatu dan clutch. Satu persatu Aril membuka kotak sepatu, membuat kamarnya semakin berantakan.
Cecil terpana melihat Aril berlutut di depannya setelah menemukan sepatu yang cocok. Ia memakaikan sepatu itu dan membantu Cecil berdiri.
Aril : “Astaga, kau sangat mempesona. Bantu aku meletakkan barang-barang ini di walk in closet itu dan kita bisa lihat berapa banyak rak lagi yang kita butuhkan. Untuk meja rias, kau ingin aku letakkan dimana?”
Cecil : “Kenapa jadi saya? Suruh saja wanitamu melakukan itu. Tugasku disini hanya mengukur.”
Aril : “Siapa lagi wanitaku kalau bukan kamu, Cecil. Ganti bajumu, sini aku bantu.”
Tangan Aril dengan usil meraba tubuh Cecil yang terus memberontak,
Aril : “Sayang, kalau kau tidak bisa berhenti bergerak, aku akan membuatmu mendesah lagi.”
Cecil : “Aku bisa ganti baju sendiri! Lepaskan tanganmu.”
Aril : “Jangan pakai bajumu dulu, ini pakai bathrobe. Masih ada beberapa gaun lagi yang harus kau coba untuk pesta-pesta berikutnya.”
Cecil : “Kenapa kau seenaknya sendiri? Aku bukan pacarmu!!”
Aril : “Apa kau lebih suka jadi simpananku?”
Plak! Tamparan keras mengenai wajah Aril. Ia menatap tajam pada Cecil yang sedikit mengkerut karena takut. Aril memaksa melepaskan gaun yang masih melekat di tubuh Cecil dan mendorongnya ke sofa. Cecil mengambil bathrobe menutupi tubuhnya,
Aril : “Sejak kau masuk ke apartment ini dan tidur di ranjangku, saat itu kau sudah jadi milikku, Cecil sayang.”
Cecil : “Jangan mendekat…!!”
Aril membuat Cecil menyerah lagi dalam kenikmatan dan pelukan Aril padanya.
Aril tersenyum senang, dalam erangan Cecil tadi ia sudah mengakui perasaannya pada Aril kalau wanita itu mulai mencintainya dan menerima Aril jadi pacarnya.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
-------