
Aliya baru tiba di apartmentnya, setelah merasa lebih sehat, Aliya berpamitan dengan Deril yang masih bersikeras mengantarnya pulang. Akhirnya Aliya menerima tawaran Deril untuk mengantarnya. Baru aja merebahkan diri di sofa kamarnya, telpon Aliya berdering. Aliya melihat layar HP dan menerima panggilan itu.
Aliya : “Halo, pah.”
Boy : “Halo, nak. Apa kabarmu?”
Aliya : “Sedikit lelah, pah. Bagaimana persiapan nikahnya?”
Boy : “Papa dan mama sudah di kota Y, jangan memaksakan diri, nak. Papa lihat ada yang mengantarmu pulang. Siapa dia?”
Aliya : “Om Roy yang bilang? Dia Deril, mentor yang dipilih profesor untuk tugas akhir Aliya. Bulan ini Aliya bisa sidang, pah.”
Boy : “Om Roy hanya membantu papa menjagamu disana, nak. Kau bisa pulang kan untuk pernikahan Alvin?”
Aliya : “Ya, pah. Tapi gak lama ya, besok paginya Aliya harus balik lagi atau sidang akan ditunda sampai bulan depan.”
Boy : “Aliya gak bisa pulang aja dan tinggal disini sama papa dan mama? Sudah 5 tahun, nak. Papa...”
Aliya : “Aliya juga kangen sama papa dan mama, tapi Aliya belum bisa balik sekarang, pah. Aliya masih mau ambil master dulu.”
Boy : “Ya sudah, nak. Papa tunggu kamu pulang ya. Jaga dirimu.”
Aliya meletakkan HP-nya di atas meja, ia teringat saat Deril mengatakan tentang saudara kembarnya.
Aliya : “Jadi bukan dia yang melakukan itu, tapi apa dia sudah punya pacar? Ih, kenapa juga aku harus bertanya tentang urusan pribadinya. Tidak masuk akal.”
Aliya pergi mandi, ia ingin istirahat lebih awal karena besok dia akan sangat sibuk. Dua hari lagi dia harus ke bandara untuk pulang ke Indonesia.
🍃🍃🍃🍃🍃
Aliya sudah tiba di bandara, setelah selesai ujian, ia segera ke bandara karena penerbangannya cukup mepet. Aliya berjalan cepat menyusuri deretan kursi yang cukup banyak. Penampilannya yang terlihat seperti eksekutif muda, menarik perhatian beberapa orang pria yang sudah duduk disana.
Aliya hampir sampai di pintu pesawat yang akan membawanya ke Indonesia, saat seseorang muncul dari sampingnya. Brak!! Mereka bertabrakan cukup keras, kacamata hitam yang dikenakan Aliya sampai terlepas dan hampir jatuh ke lantai bandara.
Jantung Aliya berdetak kencang, pria yang menabraknya bergerak cepat dengan tangan kanan memegang pinggangnya dan tangan kirinya menangkap kacamata Aliya. Mata mereka bertemu, Aliya bisa melihat bayangannya di mata hitam pria itu. Manik mata pria itu seperti lubang hitam yang bisa menyedot Aliya ke dalamnya.
Panggilan terakhir pesawat Aliya membuatnya sadar kalau dia sudah terlambat, dengan cepat ia melepaskan
diri dari pria itu, tanpa bicara apa-apa dan berjalan cepat membawa kopernya mendekati pramugari cantik yang sudah menunggunya. Aliya menyerahkan tiket dan passport-nya, ia tidak melihat kalau pria yang tadi menabraknya juga ikut di belakangnya.
Aliya merasa sedikit lega, ia sudah duduk di pesawat dan tidak terlambat. Matanya kembali bertemu dengan mata pria yang menabraknya, pria itu duduk di kursi di seberang Aliya.
__ADS_1
Aliya : “Ternyata dia juga mau ke Indonesia.”
Perjalanan cukup lama hampir 8 jam, Aliya menghabiskan waktunya dengan mendengarkan musik dan beristirahat. Ia tidak lagi memperhatikan pria yang menabraknya, setidaknya dia tidak terluka, itu sudah cukup untuk Aliya.
🌼🌼🌼🌼🌼
Tiba di Indonesia, tepatnya kota Y, Aliya memesan taksi menuju ke tempat resepsi pernikahan Alvin. Ia tidak memberitahu siapapun kapan ia akan datang, sehingga tidak ada yang menjemputnya. Taksi membawa Aliya melewati bangunan-bangunan kota yang belum modern, suasana tradisional masih kental di kota Y. Sesekali ia mengecek HP-nya memastikan kalau taksi yang ia tumpangi tidak salah jalan.
Aliya sampai di tempat resepsi, ia memperlihatkan undangan yang sudah dikirimkan Alvin kepada penjaga di depan dan diantarkan masuk. Sebuah mobil mewah berwarna hitam, juga ikut masuk dan mendahului Aliya yang berjalan kaki karena taksinya tidak bisa masuk.
Entah bagaimana saat Aliya memasuki rumah papa Rara yang menjadi tempat resepsi, lampu sorot yang tadinya mengarah ke pelaminan, berpindah mengarah ke pintu masuk. Aliya berjalan masuk dengan sangat dramatis, ia berjalan cepat ke depan pelaminan dan terhenti saat Alvin memeluknya.
Sedikit drama karena tidak ada yang mengenal Aliya sebagai adik Alvin, dan ketika masalahnya sudah beres, Aliya bisa duduk tenang menikmati makan malamnya. Ia mencicipi semua hidangan yang tersedia karena tidak pernah merasakannya lagi setelah pergi dari Indonesia 5 tahun yang lalu.
Boy memperhatikan anak perempuannya yang terlihat lebih cantik dan dewasa. Meskipun baru berusia 20 tahun, Aliya terlihat sangat elegan dan manis. Kehadirannya sudah mengundang perhatian beberapa pengusaha yang memiliki anak laki-laki lajang.
Saat ini, Boy sudah mendengar 10 pujian tentang Aliya dari 10 orang pengusaha rekan bisnis Boy. Mereka mengharapkan bisnis mereka akan semakin berkembang kalau anak mereka menikah dengan Aliya. Mendengar hal itu, Boy hanya mengatakan kalau Aliya masih sangat muda untuk menikah. Masih banyak waktu baginya saat ini sebelum berumah tangga.
Hal yang berbeda disampaikan oleh satu rekan bisnis Boy yang lain, Pak Alex, mereka sudah berteman sejak Boy baru menjabat sebagai direktur. Pak Alex banyak membantu Boy mempelajari bisnis dan bagaimana menangani rekan bisnis nakal yang ingin menjebaknya. Pertemanan Pak Alex dan Boy terlihat tidak terlalu akrab, tapi sebenarnya mereka saling melindungi satu sama lainnya.
Pak Alex : “Jadi Aliya sudah kembali, Boy?”
Boy : “Tidak untuk selamanya, dia akan kembali besok. Aku tidak bisa berbuat apa-apa?”
Boy mengalihkan pandangannya melihat ke arah yang ditunjuk Pak Alex. Seorang pria tampan, dengan rahang dan postur tubuh mirip dengan ayahnya, sedang berbicara dengan seorang gadis yang terlihat sangat menyukainya.
Boy : “Anakmu cukup populer, siapa namanya?”
Pak Alex : “Aldo, dia juga sedang bekerja di LN, mungkin Aliya dan Aldo pernah bertemu. Hei, anakku itu mengikuti jejakku dulu, banyak gadis jatuh cinta padanya.”
Boy : “Berapa usianya?”
Pak Alex : “Apa kau lupa, dia seumuran Alvin. Aku memang nikah duluan daripada kau, tapi aku dan istriku terlalu sibuk bekerja sampai kami lupa ‘bikin’ anak.”
Boy : “Ya, sekalinya kau ingat, dalam 3 tahun kau sudah punya 3 anak. Bagaimana kau bisa melakukan itu?”
Pak Alex : “Hei, aku mengikuti saranmu kan, ‘lepaskan saja dan lakukan’. Ingatkan kau bilang itu?”
Boy : “Kapan aku memberimu saran yang bodoh seperti itu? Tapi aku bersyukur kau mengikutinya, setidaknya anakmu lebih tampan darimu?”
Pak Alex : “Tentu saja dia tampan, kau lihat bapaknya.”
__ADS_1
Boy : “Hei, kau sangat percaya diri. Bagaimana dengan kedua anakmu yang lain?”
Pak Alex : “Well, putra keduaku Andra sudah bekerja bersamaku dan dia sudah bertunangan dengan kekasih masa kecilnya. Putri ketigaku masih kuliah saat ini. Aku berpikir mungkin Aliya akan menyukai Aldo.”
Boy : “Hmm, kita lihat saja, aku masih mengawasi putriku saat ini. Mungkin kita bisa membicarakannya lagi setelah dia kembali kesini untuk selamanya.”
Pak Alex : “Aku harap kita menunggu sesuatu yang pasti, aku rasa dua tahun akan cukup untuk mereka saling mengenal dulu. Bagaimana kalau kita kenalkan mereka sekarang? Hanya kenalan saja.”
Boy : “Akan kucoba bicara pada Aliya, kau ajak anakmu mendekati kami ya.”
Mereka bersilang jalan, Pak Alex mengajak Aldo ikut bersamanya mendekati Boy dan Aliya yang sedang mengobrol. Pandangan Boy bertemu dengan Aldo, ia tertegun sejenak melihat kalau Aldo memang benar-benar tampan.
Boy : “Pak Alex, apa kabar?”
Pak Alex : “Pak Boy, lama tidak bertemu. Kenalkan ini putra saya.”
Aldo : “Aldo, om. Dan ini...” Aldo menjabat tangan Boy, mata hitamnya mengarah pada Aliya.
Boy : “Ini kenalkan putri om, Aliya.”
Aliya : “Halo, om. Saya Aliya. Aldo, kita bertemu lagi.”
Aldo : “Maaf sudah menabrakmu di bandara, senang berkenalan denganmu.”
Boy : “Kalian sudah saling kenal?”
Aliya : “Bukan kenal, pah hanya pernah bertemu.”
Pak Alex : “Ah, bagus sekali kalau pernah bertemu. Kalian ngobrol dulu ya, papa ada perlu dengan om Boy sebentar.”
Mereka bergerak menjauh, meninggalkan Aldo dan Aliya berdua saja.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
__ADS_1
-------