
Ny. Besar terbangun saat alarm jam di samping nakas berbunyi tanda sudah jam 6 pagi. Ia
kebingungan saat mendapati disampingnya tidak ada siapa-siapa. Hanya infus yang
tertinggal diatas nakas. Ny. Besar tidak perlu mencari lama karena ia sudah
melihat Boy tidur berpelukan dengan Joya di sofa.
Sedang asyik memandangi kedua pasutri itu, Joya perlahan menggeliat dan membuka matanya. Ia
tersenyum melihat wajah Boy sangat dekat dengannya. Cup. Joya mencium bibir Boy
yang langsung direspon Boy dengan balas mencium Joya.
Keduanya bahkan tidak melihat apakah ibunya sudah bangun atau belum. Ny. Besar geleng-geleng
kepala melihat adegan mesra itu. Saat gerakan keduanya mulai tidak wajar, Ny.
Besar bangkit dari atas tempat tidur.
Ny. Besar :
“Ehem... Ibu keluar dulu ya. Lanjutkan saja.”
Joya : “Ibu...! Mas, lepasin.”
Boy : “Kamu yang meluk aku. Bobok lagi yuk.”
Joya : “Aku harus ke kantor. Mas uda baikan? Mau ke kantor?”
Boy : “Ya. Aku harus meeting. Tapi aku akan pulang kalau pusing lagi.”
Joya : “Apa gak sebaiknya mas istirahat dulu.”
Boy : “Tenang saja, sayang. Aku gak pa-pa. Mandi yuk.”
Boy bangun setelah Joya bangkit berdiri. Keduanya masuk ke dalam kamar mandi dan
bergantian mandi. Setelah berpakaian, Joya membawa tas Boy dan tasnya sendiri
menuruni tangga. Sopir Boy sudah siap menunggu, mengambil tas keduanya dan
membawanya masuk ke dalam mobil.
Sarapan sudah siap diatas meja makan. Satu persatu penghuni rumah keluar dan duduk melingkari
meja makan. Cucu-cucu Ny. Besar mulai sarapan dengan tidak sabaran, membuat Joya
ikut turun tangan membantu mereka.
Saat Joya kembali duduk di samping Boy, Boy berbisik padanya,
Boy : “Sayang, kalau nanti kita sudah punya anak sendiri gimana?”
Joya : “Emang gimana? Ya, aku sama-sama ngurus anak kita juga.”
Boy : “Maksudku, akunya gimana?”
__ADS_1
Mengertilah Joya maksud suaminya yang mulai cemburu karena merasa tidak diperhatikan. Joya
melayani Boy mengambil sarapannya, terkadang mengelap sudut bibir Boy yang
terlihat senang sekali. Ny. Besar juga ikut tersenyum melihat kemesraan Joya dan Boy.
*****
Setelah mengantar Joya ke kantornya, mobil Boy berputar arah menuju kantornya sendiri. Pagi
itu jalanan cukup padat hingga Boy sedikit terlambat sampai di kantor. Boy
berkali-kali melihat jam tangannya, ia sudah terlambat ikut meeting pertama.
Sampai di depan ruang kerjanya, Lia sudah menghampiri Boy.
Lia : “Tuan, anda baik-baik saja? Kenapa wajah anda pucat?” Lia bahkan hampir menyentuh
wajah Boy kalau saja Boy tidak cepat menghindar.
Boy : “Dimana Rian?”
Lia : “Sudah di ruang meeting, tuan. Anda perlu saya... ambilkan sesuatu?”
Boy menarik nafasnya agar tidak berpikir macam-macam pada sekretarisnya ini. Meskipun dari
tingkah dan sikapnya mulai menunjukkan dengan jelas kalau Lia berniat menggoda
Boy, Boy harus menunggu sampai wanita di hadapannya benar-benar melakukan kesalahan fatal.
kembali menyerangnya. Boy bahkan belum pulih sepenuhnya dari demamnya semalam.
Ia masih harus beristirahat lebih banyak lagi.
Lia masuk ke dalam ruang kerja Boy, ia sempat melihat Boy memijat keningnya karena pintu
yang tidak tertutup sempurna.
Lia : “Tuan, ini dokumen yang harus ditandatangani.”
Sekretaris itu dengan sengaja menunduk di samping Boy, menunjukkan belahan dadanya yang bisa
terlihat dari blus berleher rendah yang ia pakai bahkan tanpa ia menunduk sekalipun masih bisa terlihat dengan jelas.
Boy : “Pasti sengaja nich. Tadi masih pake syal, kemana juga tuch syal perginya.” Batin Boy
sambil duduk di kursi kerjanya.
Boy masih tetap tenang membaca dokumen yang harus ia tanda tangani itu. Beberapa kali lengan Lia menyenggol lengan Boy ketika ia menjelaskan sesuatu tentang dokumen itu yang bahkan tidak perlu dijelaskan.
Lia : "Maaf, tuan. Apa tuan sedang sakit?"
Boy : "Kenapa?"
Lia : "Tubuh tuan terasa lebih panas dari sebelumnya."
Boy memang merasakan tubuhnya kembali meriang dan mungkin memang demam. Boy memegang keningnya, ia mencoba mengukur suhu tubuhnya sendiri. Lia yang melihat adanya kesempatan, mengulurkan tangannya ingin memegang kening Boy juga.
__ADS_1
Boy dengan cepat mengelak, ia melakukannya dengan sangat rapi seolah tidak sengaja berpindah untuk mengambil gelas di ujung mejanya.
Lia semakin gemas pada bosnya itu. Apalagi setelah menghabiskan air minum di gelasnya, Boy menarik dasinya agar terlepas. Lia berpikir kalau Boy ingin menggodanya.
Lia : "Tuan mau saya ambilkan obat?"
Boy : "Memang ada?"
Lia : "Sebentar saya ambilkan obat penurun panas."
Lia berjalan sambil melenggak-lenggokkan pinggulnya agar menarik perhatian Boy. Ketika menoleh sebelum keluar, Boy malah asyik bermain dengan ponselnya.
Lia cepat-cepat kembali ke mejanya dan mengambil obat penurun panas. Ia menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya.
Ketika Lia kembali masuk ke ruangannya sambil membawa obat, Boy mengernyitkan hidungnya. Bau parfum Lia mengganggu hidungnya.
Bukannya merasa lebih baik, Boy malah semakin pusing. Ia menandatangani dokumen yanv diberikan Lia dan menyerahkannya kembali.
Lia : "Tuan, ini obatnya. Silaka diminum dulu."
Boy : "Ya, nanti aku minum. Keluarlah."
Lia tersenyum licik, sebelum keluar ruang kerja Boy, ia berhenti sebentar pura-pura mengecek sesuatu di dokumen yang dipegangnya.
Lia melihat sendiri Boy meminum obat yang ia berikan. Hatinya girang setengah mati, mumpung Rian sedang sibuk meeting Lia akan mengambil kesempatan ini untuk bersenang-senang dengan Boy.
Setengah jam kemudian, Lia masuk lagi ke ruang kerja Boy. Kali ini, masuk dengan penampilan yang lebih seksi lagi. Boy tampak menelungkup diatas meja kerjanya.
Beberapa dokumen tampak berserakan di bawah. Lia mengambil dokumen itu sambil memulai sandiwaranya.
Lia : "Tuan Boy... Mas..."
Boy : "Joya..."
Boy menegakkan tubuhnya, ia menatap Lia yang samar berubah menjadi Joya. Boy tanpa sadar mengulurkan tangannya yang langsung disambut Lia.
Lia : "Iya, mas..."
Lia duduk di pangkuan Boy. Ia terkikik senang dan mencoba mengangkat kepala Boy yang terus tertunduk. Di samping Boy masih ada sisa bungkusan obat yang tadi diberikan Lia.
Lia : "Mas Boy sayang setelah ini selesai, kau harus bertanggung jawab padaku."
Lia mulai menggesekkan tubuhnya pada tubuh Boy dengan tidak tahu malu. Ia melucuti blus-nya, mengangkat roknya tinggi. Setengah telanjang dengan wajah merona menahan gairah, Lia merangsek ke tubuh Boy.
Tiba-tiba...
*****
Tiba-tiba author datang membawa permintaan untuk vote ya kk.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1