
Joya masuk ke
dalam kamarnya untuk mandi dan ganti baju. Ia teringat kadonya di dalam rak
belum sempat ia keluarkan.
Joya :
“Sebaiknya aku mandi dan ganti baju dulu. Keburu mas Boy datang nanti.”
Setelah
mengantar Joya pulang dan menurunkan barang-barang dari mobil, Rian segera
kembali ke kantor Boy untuk menjemput bosnya itu. Rian mengatakan kalau Boy
seharian hanya membahas apa kado Joya untuknya.
Selesai mandi,
Joya sedang memilih baju yang akan dipakainya untuk ulang tahun Boy. Tubuhnya
masih berbaluk handuk mini, saat dua tangan kekar memeluk pinggang rampingnya.
Joya :
“Kyaa...”
Boy : “Sayang,
kamu beneran menggodaku nich.”
Joya : “Mas
Boy...!”
Joya memegangi
jantungnya yang jumpalitan karena ulah suaminya itu. Boy membenamkan wajahnya
ke punggung Joya, membuat Joya meronta kegelian.
Joya : “Mas
geli... jangan tarik handuknya...!”
Boy : “Masih
ada waktu, sekali ya.”
Joya : “Mas,
aku harus ke bawah. Ibu nungguin aku, mas. Nanti malem kan bisa.”
Boy : “Aku
maunya sekarang, gimana dong?”
Joya :
“Maass... nanti malem ya. Kasi double dech.”
Boy : “Beneran
ya?”
Joya :
“He-eh...nanti malem, double.”
Boy belum mau melepas
pelukannya, ia sudah sangat berhasrat pada Joya tapi godaan yang ditawarkan
Joya untuk nanti malam, begitu menggodanya.
Boy : “Mana
kadoku?”
Joya : “Nanti
di bawah saja ya. Mas mandi dulu dech.”
Boy : “Iya,
dech.”
Joya : “Mas,
aku bagusnya pakai baju apa?”
Boy melirik ke
lemari Joya dan menunjuk lingerie yang tergantung disana.
Boy : “Pakai
itu yang warna hitam.”
Joya :
“Maksudku untuk pesta ulang tahunmu.”
Boy : “Oh, gaun
biru itu bagus. Aku akan pakai kemeja biru juga.”
Joya : “Ok,
mas.”
Joya memakai
gaun yang ditunjuk Boy dan menyiapkan kemeja biru untuk Boy. Setelah menata
rambut dan berdandan sedikit, Joya mendekati rak dibawah nakas dan membukanya.
Wajah panik
Joya muncul seketika ketika melihat rak itu kosong. Tidak ada kado untuk Boy
yang ia taruh disana semalam.
Joya : “Dimana?
Dimana kado itu?”
Joya membuka
semua rak di bawah nakas, ia sempat berpikir mungkin salah meletakkan kado
__ADS_1
karena sudah malam dan sedikit gelap. Tapi hasilnya tetap nihil. Joya semakin
panik saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.
Boy keluar dari
kamar mandi dan berjalan ke depan ranjang untuk berpakaian. Ia melirik Joya
yang masih membuka-buka laci yang ada di kamar mereka.
Boy : “Kamu
nyari apa sich?”
Joya : “Ach,
itu mas. Kotak perhiasan yang dikasi ibu, aku lupa taruh dimana.”
Boy : “Itu di
atas meja rias, apa?”
Joya : “Oh iya.
Aku gak lihat tadi, mas.”
Joya duduk di
meja rias dan segera memakai perhiasan yang ada di kotak itu. Boy juga segera
siap dan mengajak Joya turun.
Boy : “Joya,
sudah selesai? Ayo turun.”
Joya : “Mas
duluan aja. Aku masih siap-siap.”
Boy mengamati
penampilan Joya dan memuji istrinya sangat cantik,
Boy : “Sudah
cantik gitu. Apalagi? Ayo kita turun.”
Joya mau gak
mau ikut turun ke tempat pesta sedang berlangsung. Wajahnya masih sedikit cemas
memikirkan dimana kado yang sudah ia siapkan. Apa ada yang mengambilnya?
Boy : “Sayang,
kamu mikir apa sich? Dari tadi gelisah terus.”
Joya : “Apa?
Nggak mas. Aku cuma lagi mikir makanannya cukup gak.”
Boy : “Udah
diurus sama Bi Ijah, kan. Kamu duduk di samping aku, jangan kemana-mana.”
Joya terus
meremas-remas tangannya, ia takut kalau tiba-tiba Boy menanyakan kadonya gimana
Suasana pesta
semakin meriah saat keponakan Boy menampilkan pertunjukan untuk Boy. Mereka
semua tertawa melihat anak-anak itu menari dan menyanyi lagu selamat ulang
tahun. Joya bukannya tidak menikmati pesta, ia masih mencemaskan tentang kado
Boy. Jangan sampai Boy marah kalau tahu kadonya hilang.
Ny. Besar yang
melihat Joya yang sedang memikirkan sesuatu, memanggilnya.
Ny. Besar : “Joya,
sini dulu.”
Joya : “Iya,
bu. Mas, aku dipanggil ibu bentar ya.”
Boy : “Iya,
sana.”
Joya duduk di
samping Ny. Besar yang duduk bersama Ny. Putri.
Ny. Besar : “Kamu
kenapa, Joya? Dari tadi ibu lihat gelisah terus.”
Joya : “Gimana
dong, bu. Kado buat mas Boy hilang dari rak tempat Joya naruh kado itu. Padahal
mas Boy udah nanyain kadonya dari pagi.”
Ny. Besar : “Kamu
yakin naruh di rak? Gak di tempat lain?”
Joya : “Yakin,
bu. Semalem Joya yang naruh disana, tapi tadi Joya lihat uda gak ada. Joya
takut mas Boy ngambek lagi kayak tahun lalu.”
Ny. Besar : “Kamu
beliin lagi aja besok.”
Joya : “Tapi
nanti mas Boy marah gimana, bu?”
Ny. Putri : “Joya,
sini deket mbak.”
__ADS_1
Joya memutar
duduknya dan mendekatkan telinganya pada Ny. Putri. Kakak iparnya itu
membisikkan sesuatu ke telinga Joya yang mendengarkan dengan baik. Wajah Joya
perlahan memerah ketika dirinya membayangkan apa yang tadi dibisikkan Ny.
Putri.
Joya : “Mbak
yakin?”
Ny. Putri : “Iya,
dijamin Boy gak akan ngambek.”
Joya : “Tapi
itu agak...”
Ny. Putri : “Kamu
mau Boy ngambek? Marah-marah?”
Joya
menggeleng, ia memegang pipinya yang terasa panas. Ny. Besar hanya menatap kelakuan
menantu dan anaknya itu sambil senyum-senyum.
Joya : “Joya
coba dech, mbak. Tapi...”
Ny. Putri : “Halah,
kamu kebanyakan tapinya. Kerjain aja dech. Kasi tahu hasilnya besok ya.”
Joya : “Ok,
mbak.”
Boy : “Joya,
ayo kita tiup lilin.”
Kue ulang tahun
2 tingkat berwarna coklat tampak di kerubuti keponakan Boy yang tidak sabar
ingin meniup lilinnya. Boy juga tidak mau kalau lilinnya berbentuk angka. Ia
ingin lilin yang terpasang disana sebanyak umurnya. Kebayang kalau Boy berumur
50, seberapa besar kue ulang tahunnya nanti.
Keponakan Boy
mulai bernyanyi Happy Birthday to you sambil bertepuk tangan. Joya dan Boy
bergabung dengan mereka, ikut bertepuk tangan. Dan saat lagu berganti jadi Tiup
Lilin, Boy merangkul pinggang Joya dan meniup lilin bersama-sama dengan
keponakannya.
Boy : “Mana
kadoku?”
Joya : “Nanti
di kamar ya, mas.”
Boy berbisik
pada Joya yang juga berbisik padanya. Mereka mengingkir dari sana setelah Boy memotong
kue dan memberikannya pada Ny. Besar.
Boy : “Bu, ini
kue pertamanya untuk ibu.”
Ny. Besar : “Seharusnya
untuk Joya, Boy. Kau kan sudah punya istri sekarang.”
Boy : “Joya bilang
untuk ibu, kue pertamanya.”
Ny. Besar
mengelus kepala Joya yang duduk di sampingnya. Joya tersenyum senang menerima
sentuhan Ny. Besar. Ia semakin merapatkan duduknya pada Ny. Besar.
Boy : “Manja
sekali sich. Sama aku gak sampe gitu.”
Ny. Besar : “Apa
kau cemburu, Boy? Mau ibu elus-elus juga?”
Boy : “Nggak,
bu. Aku mau dielus Joya saja.”
Ny. Besar : “Ya,
ya. Sana sama istrimu saja.”
Boy tersenyum
melihat Ny. Besar berbalik ngambek padanya. Tadinya Boy yang merajuk, sekarang
gantian ibunya yang merajuk.
*****
Kira-kira apa
yang dibisikkan Ny. Putri pada Joya ya? Masih penasaran? Ditunggu up
selanjutnya ya.
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.