Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Ulang tahun Boy


__ADS_3

Joya masuk ke


dalam kamarnya untuk mandi dan ganti baju. Ia teringat kadonya di dalam rak


belum sempat ia keluarkan.


Joya :


“Sebaiknya aku mandi dan ganti baju dulu. Keburu mas Boy datang nanti.”


Setelah


mengantar Joya pulang dan menurunkan barang-barang dari mobil, Rian segera


kembali ke kantor Boy untuk menjemput bosnya itu. Rian mengatakan kalau Boy


seharian hanya membahas apa kado Joya untuknya.


Selesai mandi,


Joya sedang memilih baju yang akan dipakainya untuk ulang tahun Boy. Tubuhnya


masih berbaluk handuk mini, saat dua tangan kekar memeluk pinggang rampingnya.


Joya :


“Kyaa...”


Boy : “Sayang,


kamu beneran menggodaku nich.”


Joya : “Mas


Boy...!”


Joya memegangi


jantungnya yang jumpalitan karena ulah suaminya itu. Boy membenamkan wajahnya


ke punggung Joya, membuat Joya meronta kegelian.


Joya : “Mas


geli... jangan tarik handuknya...!”


Boy : “Masih


ada waktu, sekali ya.”


Joya : “Mas,


aku harus ke bawah. Ibu nungguin aku, mas. Nanti malem kan bisa.”


Boy : “Aku


maunya sekarang, gimana dong?”


Joya :


“Maass... nanti malem ya. Kasi double dech.”


Boy : “Beneran


ya?”


Joya :


“He-eh...nanti malem, double.”


Boy belum mau melepas


pelukannya, ia sudah sangat berhasrat pada Joya tapi godaan yang ditawarkan


Joya untuk nanti malam, begitu menggodanya.


Boy : “Mana


kadoku?”


Joya : “Nanti


di bawah saja ya. Mas mandi dulu dech.”


Boy : “Iya,


dech.”


Joya : “Mas,


aku bagusnya pakai baju apa?”


Boy melirik ke


lemari Joya dan menunjuk lingerie yang tergantung disana.


Boy : “Pakai


itu yang warna hitam.”


Joya :


“Maksudku untuk pesta ulang tahunmu.”


Boy : “Oh, gaun


biru itu bagus. Aku akan pakai kemeja biru juga.”


Joya : “Ok,


mas.”


Joya memakai


gaun yang ditunjuk Boy dan menyiapkan kemeja biru untuk Boy. Setelah menata


rambut dan berdandan sedikit, Joya mendekati rak dibawah nakas dan membukanya.


Wajah panik


Joya muncul seketika ketika melihat rak itu kosong. Tidak ada kado untuk Boy


yang ia taruh disana semalam.


Joya : “Dimana?


Dimana kado itu?”


Joya membuka


semua rak di bawah nakas, ia sempat berpikir mungkin salah meletakkan kado

__ADS_1


karena sudah malam dan sedikit gelap. Tapi hasilnya tetap nihil. Joya semakin


panik saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Boy keluar dari


kamar mandi dan berjalan ke depan ranjang untuk berpakaian. Ia melirik Joya


yang masih membuka-buka laci yang ada di kamar mereka.


Boy : “Kamu


nyari apa sich?”


Joya : “Ach,


itu mas. Kotak perhiasan yang dikasi ibu, aku lupa taruh dimana.”


Boy : “Itu di


atas meja rias, apa?”


Joya : “Oh iya.


Aku gak lihat tadi, mas.”


Joya duduk di


meja rias dan segera memakai perhiasan yang ada di kotak itu. Boy juga segera


siap dan mengajak Joya turun.


Boy : “Joya,


sudah selesai? Ayo turun.”


Joya : “Mas


duluan aja. Aku masih siap-siap.”


Boy mengamati


penampilan Joya dan memuji istrinya sangat cantik,


Boy : “Sudah


cantik gitu. Apalagi? Ayo kita turun.”


Joya mau gak


mau ikut turun ke tempat pesta sedang berlangsung. Wajahnya masih sedikit cemas


memikirkan dimana kado yang sudah ia siapkan. Apa ada yang mengambilnya?


Boy : “Sayang,


kamu mikir apa sich? Dari tadi gelisah terus.”


Joya : “Apa?


Nggak mas. Aku cuma lagi mikir makanannya cukup gak.”


Boy : “Udah


diurus sama Bi Ijah, kan. Kamu duduk di samping aku, jangan kemana-mana.”


Joya terus


meremas-remas tangannya, ia takut kalau tiba-tiba Boy menanyakan kadonya gimana


Suasana pesta


semakin meriah saat keponakan Boy menampilkan pertunjukan untuk Boy. Mereka


semua tertawa melihat anak-anak itu menari dan menyanyi lagu selamat ulang


tahun. Joya bukannya tidak menikmati pesta, ia masih mencemaskan tentang kado


Boy. Jangan sampai Boy marah kalau tahu kadonya hilang.


Ny. Besar yang


melihat Joya yang sedang memikirkan sesuatu, memanggilnya.


Ny. Besar : “Joya,


sini dulu.”


Joya : “Iya,


bu. Mas, aku dipanggil ibu bentar ya.”


Boy : “Iya,


sana.”


Joya duduk di


samping Ny. Besar yang duduk bersama Ny. Putri.


Ny. Besar : “Kamu


kenapa, Joya? Dari tadi ibu lihat gelisah terus.”


Joya : “Gimana


dong, bu. Kado buat mas Boy hilang dari rak tempat Joya naruh kado itu. Padahal


mas Boy udah nanyain kadonya dari pagi.”


Ny. Besar : “Kamu


yakin naruh di rak? Gak di tempat lain?”


Joya : “Yakin,


bu. Semalem Joya yang naruh disana, tapi tadi Joya lihat uda gak ada. Joya


takut mas Boy ngambek lagi kayak tahun lalu.”


Ny. Besar : “Kamu


beliin lagi aja besok.”


Joya : “Tapi


nanti mas Boy marah gimana, bu?”


Ny. Putri : “Joya,


sini deket mbak.”

__ADS_1


Joya memutar


duduknya dan mendekatkan telinganya pada Ny. Putri. Kakak iparnya itu


membisikkan sesuatu ke telinga Joya yang mendengarkan dengan baik. Wajah Joya


perlahan memerah ketika dirinya membayangkan apa yang tadi dibisikkan Ny.


Putri.


Joya : “Mbak


yakin?”


Ny. Putri : “Iya,


dijamin Boy gak akan ngambek.”


Joya : “Tapi


itu agak...”


Ny. Putri : “Kamu


mau Boy ngambek? Marah-marah?”


Joya


menggeleng, ia memegang pipinya yang terasa panas. Ny. Besar hanya menatap kelakuan


menantu dan anaknya itu sambil senyum-senyum.


Joya : “Joya


coba dech, mbak. Tapi...”


Ny. Putri : “Halah,


kamu kebanyakan tapinya. Kerjain aja dech. Kasi tahu hasilnya besok ya.”


Joya : “Ok,


mbak.”


Boy : “Joya,


ayo kita tiup lilin.”


Kue ulang tahun


2 tingkat berwarna coklat tampak di kerubuti keponakan Boy yang tidak sabar


ingin meniup lilinnya. Boy juga tidak mau kalau lilinnya berbentuk angka. Ia


ingin lilin yang terpasang disana sebanyak umurnya. Kebayang kalau Boy berumur


50, seberapa besar kue ulang tahunnya nanti.


Keponakan Boy


mulai bernyanyi Happy Birthday to you sambil bertepuk tangan. Joya dan Boy


bergabung dengan mereka, ikut bertepuk tangan. Dan saat lagu berganti jadi Tiup


Lilin, Boy merangkul pinggang Joya dan meniup lilin bersama-sama dengan


keponakannya.


Boy : “Mana


kadoku?”


Joya : “Nanti


di kamar ya, mas.”


Boy berbisik


pada Joya yang juga berbisik padanya. Mereka mengingkir dari sana setelah Boy memotong


kue dan memberikannya pada Ny. Besar.


Boy : “Bu, ini


kue pertamanya untuk ibu.”


Ny. Besar : “Seharusnya


untuk Joya, Boy. Kau kan sudah punya istri sekarang.”


Boy : “Joya bilang


untuk ibu, kue pertamanya.”


Ny. Besar


mengelus kepala Joya yang duduk di sampingnya. Joya tersenyum senang menerima


sentuhan Ny. Besar. Ia semakin merapatkan duduknya pada Ny. Besar.


Boy : “Manja


sekali sich. Sama aku gak sampe gitu.”


Ny. Besar : “Apa


kau cemburu, Boy? Mau ibu elus-elus juga?”


Boy : “Nggak,


bu. Aku mau dielus Joya saja.”


Ny. Besar : “Ya,


ya. Sana sama istrimu saja.”


Boy tersenyum


melihat Ny. Besar berbalik ngambek padanya. Tadinya Boy yang merajuk, sekarang


gantian ibunya yang merajuk.


*****


Kira-kira apa


yang dibisikkan Ny. Putri pada Joya ya? Masih penasaran? Ditunggu up


selanjutnya ya.


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2