
Eps. 21 – Sakit
hati
Pedih hati Joya
mengingat apa yang ia lihat tadi. Apa Boy memang suka melakukan hal seperti itu
tanpa sepengetahuannya?
Di lantai bawah
ruang kerja Boy, Joya akhirnya melihat lift terbuka. Ia masuk ke dalam sana.
Lift meluncur dengan cepat sampai ke lobby. Supir Ny. Besar yang masih menunggu
Joya di lobby, segera mengimbangi langkah cepat Ny. mudanya itu.
“Pak, saya mau
pulang. Tolong cepat.”
Supir Ny. Besar
kebingungan melihat Joya menangis sesenggukan di dalam mobil. Ia mengirimkan
pesan dengan cepat pada Ny. Besar sambil mengemudikan mobil menuju rumah Ny.
Besar. Ny. Besar sudah berpesan untuk mengirimkan kabar kalau terjadi apa-apa
dengan Joya.
Ketika mobil
yang membawa Joya akhirnya berhenti di depan rumah Ny. Besar, wanita paruh baya
itu sudah menunggu Joya di depan pintu. Joya tersentak melihat ibu mertuanya
berdiri di depan pintu. Ia tidak bisa menutupi apapun dari Ny. Besar.
Tangisan Joya
semakin keras ketika Ny. Besar bertanya apa yang terjadi padanya,
“Mas Boy, bu.
Dia pelukan sama wanita lain.”
Ny. Besar
melihat Joya menangis sangat sedih membuatnya naik pitam dan memerintahkan
pintu gerbang ditutup untuk Boy. Tapi mobil Boy sudah masuk lebih dulu, tuan
muda itu berlari menaiki tangga, berusaha mendekati Joya yang masih menangis di
pelukan Ny. Besar.
“Bu, Boy bisa
jelaskan! Joya, apa yang kamu lihat tadi bukan seperti kelihatannya!”
“Begitu. Trus
bagaimana kau jelaskan bekas lipstik di bajumu itu?!”lengking Ny. Besar. “Ibu menyerahkan
Joya padamu bukan untuk kau sakiti seperti ini, Boy!”
Joya melihat
juga bekas lipstik ada di baju Boy. Tangisannya masih keras memikirkan
bagaimana bibis wanita lain bisa mendarat di kemeja Boy seperti itu. Ny. Besar
memanggil security dan penjaga rumah lainnya untuk mengusir Boy keluar dari
rumahnya.
“Bu! Aku tidak
melakukan apa-apa! Ini salah paham! Tidak disengaja!”
“Sampai kau
bisa buktikan ucapanmu, kau tidak diijinkan masuk ke rumah ini, Boy! Keluar!”
Joya mendongak
melihat Ny. Besar berteriak sangat kencang mengusir Boy. Ia memegang tangan Ny.
Besar agar jangan berteriak lagi dan mengambil nafas lebih tenang. Joya
ketakutan melihat amarah Ny. Besar akan mempengaruhi kondisi kesehatannya
nanti.
Boy melihat
ibunya memegangi dadanya, ia memilih pergi dari sana, menunggu suasana tenang
__ADS_1
kembali. Joya menuntun Ny. Besar masuk ke kamarnya.
Tring! Tring!
Ponsel Joya
berbunyi tanda notif chat masuk. Joya mengabaikannya, ia menghapus air matanya
dan fokus menjaga emosi Ny. Besar agar kembali stabil.
“Ibu, maafin
Joya. Seharusnya Joya bisa selesaiin masalah Joya sendiri. Ibu jangan marah
lagi ya.”
“Gak bisa,
Joya. Ibu sudah lihat sendiri di baju Boy ada bekas lipstik seperti itu. Bagaimana
dekatnya antara pria dan wanita dengan hasil seperti itu, ibu rasa kamu juga
tahu.”
“Mungkin mas
Boy gak sengaja, bu.”Joya membujuk mertuanya agar bisa tenang. Ia jadi
ketakutan melihat Ny. Besar sempat memegangi dadanya tadi.
Tring! Tring!
Suara ponsel Joya
membuat Ny. Besar terganggu, ia minta Joya melihat isi chat itu dulu. Itu chat
dari Boy,
“Joya, aku bisa
jelaskan. Semuanya gak sengaja terjadi. Dia jatuh tadi, aku cuma bantu dia
bangun.”
“Joya, jangan
sampai ibu sakit gara-gara kamu nangis gak jelas gini!”
“Kalau sampai
ada apa-apa sama ibu, aku gak akan terima gitu aja. Ini salahmu!”
jangan kekanakan gini! Cepat balas chatku!”
Joya hampir
menangis lagi melihat isi chat yang dikirim Boy dengan emosi. Ia cepat
menguasai diri agar mertuanya tidak cemas lagi.
“Dari siapa,
Joya?”tanya Ny. Besar ketika melihat Joya langsung mematika ponselnya.
“Cuma SMS gak
jelas, bu. Iklan. Sekarang ibu istirahat ya. Jangan mikirin masalah Joya lagi.
Joya akan segera selesaikan sama mas Boy.”
“Kamu gak boleh
ketemu dia sebelum dia ngasi bukti kalau dia gak salah. Sekarang kamu istirahat
ya. Ingat kamu sedang hamil. Jangan tertalu stress.”
Joya berusaha
tersenyum meskipun hatinya pedih membaca chat dari Boy. Bagaimana Boy bisa
menyalahkannya seperti itu? Sejak dulu Joya-lah yang paling memperhatikan
kesehatan Ny. Besar. Joya yang menjaga Ny. Besar kalau beliau sedang sakit
meskipun ia harus begadang semalaman tidak tidur.
Joya yang
selalu memperhatikan apa yang dokter katakan saat mengantar Ny. Besar general
check up. Semua yang boleh dan tidak boleh di makan Ny. Besar, Joya hafal di luar
kepala. Semua anak dan menantu Ny. Besar sangat bergantung pada Joya kalau soal
urusan kesehatan Ny. Besar.
Mereka tidak
pernah terlalu mengkhawatirkan Ny. Besar karena Joya selalu menjaganya dengan
__ADS_1
ketat. Joya menunggu sampai Ny. Besar tertidur lelap. Ia keluar dari kamar
sambil mengendap-endap dan melihat Ny. Lastri dan Ny. Putri ada di depan pintu.
“Apa yang
terjadi, Joya?”tanya Ny. Lastri.
“Mbak...”Joya
memeluk kakak iparnya itu sambil kembali menangis.
Joya
menceritakan apa yang ia lihat di ruang kerja Boy tadi sambil sesenggukan.
Mereka duduk di meja makan agar Ny. Besar tidak mendengar suara mereka.
“Mbak gak
sangka Boy bisa berbuat gitu. Seperti bukan Boy. Atau memang momennya yang pas.
Pas Joya masuk, pas mereka lagi di posisi itu?”duga Ny. Putri.
Tring! Tring!
Boy menelpon
Joya yang langsung menekan tombol merah. Boy terus menelpon sampai Ny. Lastri
kesal dan mengangkat telpon itu.
“Halo, Boy.
Bisa gak kamu jangan telpon dulu?”
“Mbak, mana Joya?
Aku mau bicara.”
Ny. Lastri melihat
Joya menggeleng, suara Boy cukup keras sampai terdengar Joya tanpa menggunakan
mode loudspeaker.
“Joya gak mau
ngomong sama kamu, Boy.”
“Apa ibu
baik-baik aja?! Mbak, jangan sampai ibu kenapa-napa ngliat Joya nangis gitu.
Semua ini salah paham, mbak!”
“Apa maksud
kamu, Boy?”
“Aku gak mau
ibu sakit gara-gara Joya ngadu hal yang gak jelas! Awas aja kalau sampai ibu
sakit!”
“Jadi maksud
kamu Joya membuat ibu sakit? Orang yang paling peduli sama kesehatan ibu, orang
yang siang malam ada di samping ibu kalau ibu sakit, orang yang gak mau makan
kalau lihat ibu belum makan? Apa kamu sudah gila, Boy!!”lengking Ny. Lastri.
“Mbak...”
“Sepertinya apa
yang terjadi di kantor kamu memang benar ya. Kalau kamu sudah bosan sama Joya,
gak usah pake alasan apapun. Tinggalkan saja dia. Kami bisa mengurusnya dengan
baik disini. Gak perlu kamu!”
Brak! Ny.
Lastri membanting ponsel Joya ke atas meja. Sambungan sudah terputus berganti
layar chat terakhir Boy pada Joya. Ny. Lastri membaca chat itu tanpa sempat di cegah
Joya.
“Boy!!”
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.