Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Sakit hati


__ADS_3

Eps. 21 – Sakit


hati


Pedih hati Joya


mengingat apa yang ia lihat tadi. Apa Boy memang suka melakukan hal seperti itu


tanpa sepengetahuannya?


Di lantai bawah


ruang kerja Boy, Joya akhirnya melihat lift terbuka. Ia masuk ke dalam sana.


Lift meluncur dengan cepat sampai ke lobby. Supir Ny. Besar yang masih menunggu


Joya di lobby, segera mengimbangi langkah cepat Ny. mudanya itu.


“Pak, saya mau


pulang. Tolong cepat.”


Supir Ny. Besar


kebingungan melihat Joya menangis sesenggukan di dalam mobil. Ia mengirimkan


pesan dengan cepat pada Ny. Besar sambil mengemudikan mobil menuju rumah Ny.


Besar. Ny. Besar sudah berpesan untuk mengirimkan kabar kalau terjadi apa-apa


dengan Joya.


Ketika mobil


yang membawa Joya akhirnya berhenti di depan rumah Ny. Besar, wanita paruh baya


itu sudah menunggu Joya di depan pintu. Joya tersentak melihat ibu mertuanya


berdiri di depan pintu. Ia tidak bisa menutupi apapun dari Ny. Besar.


Tangisan Joya


semakin keras ketika Ny. Besar bertanya apa yang terjadi padanya,


“Mas Boy, bu.


Dia pelukan sama wanita lain.”


Ny. Besar


melihat Joya menangis sangat sedih membuatnya naik pitam dan memerintahkan


pintu gerbang ditutup untuk Boy. Tapi mobil Boy sudah masuk lebih dulu, tuan


muda itu berlari menaiki tangga, berusaha mendekati Joya yang masih menangis di


pelukan Ny. Besar.


“Bu, Boy bisa


jelaskan! Joya, apa yang kamu lihat tadi bukan seperti kelihatannya!”


“Begitu. Trus


bagaimana kau jelaskan bekas lipstik di bajumu itu?!”lengking Ny. Besar. “Ibu menyerahkan


Joya padamu bukan untuk kau sakiti seperti ini, Boy!”


Joya melihat


juga bekas lipstik ada di baju Boy. Tangisannya masih keras memikirkan


bagaimana bibis wanita lain bisa mendarat di kemeja Boy seperti itu. Ny. Besar


memanggil security dan penjaga rumah lainnya untuk mengusir Boy keluar dari


rumahnya.


“Bu! Aku tidak


melakukan apa-apa! Ini salah paham! Tidak disengaja!”


“Sampai kau


bisa buktikan ucapanmu, kau tidak diijinkan masuk ke rumah ini, Boy! Keluar!”


Joya mendongak


melihat Ny. Besar berteriak sangat kencang mengusir Boy. Ia memegang tangan Ny.


Besar agar jangan berteriak lagi dan mengambil nafas lebih tenang. Joya


ketakutan melihat amarah Ny. Besar akan mempengaruhi kondisi kesehatannya


nanti.


Boy melihat


ibunya memegangi dadanya, ia memilih pergi dari sana, menunggu suasana tenang

__ADS_1


kembali. Joya menuntun Ny. Besar masuk ke kamarnya.


Tring! Tring!


Ponsel Joya


berbunyi tanda notif chat masuk. Joya mengabaikannya, ia menghapus air matanya


dan fokus menjaga emosi Ny. Besar agar kembali stabil.


“Ibu, maafin


Joya. Seharusnya Joya bisa selesaiin masalah Joya sendiri. Ibu jangan marah


lagi ya.”


“Gak bisa,


Joya. Ibu sudah lihat sendiri di baju Boy ada bekas lipstik seperti itu. Bagaimana


dekatnya antara pria dan wanita dengan hasil seperti itu, ibu rasa kamu juga


tahu.”


“Mungkin mas


Boy gak sengaja, bu.”Joya membujuk mertuanya agar bisa tenang. Ia jadi


ketakutan melihat Ny. Besar sempat memegangi dadanya tadi.


Tring! Tring!


Suara ponsel Joya


membuat Ny. Besar terganggu, ia minta Joya melihat isi chat itu dulu. Itu chat


dari Boy,


“Joya, aku bisa


jelaskan. Semuanya gak sengaja terjadi. Dia jatuh tadi, aku cuma bantu dia


bangun.”


“Joya, jangan


sampai ibu sakit gara-gara kamu nangis gak jelas gini!”


“Kalau sampai


ada apa-apa sama ibu, aku gak akan terima gitu aja. Ini salahmu!”


jangan kekanakan gini! Cepat balas chatku!”


Joya hampir


menangis lagi melihat isi chat yang dikirim Boy dengan emosi. Ia cepat


menguasai diri agar mertuanya tidak cemas lagi.


“Dari siapa,


Joya?”tanya Ny. Besar ketika melihat Joya langsung mematika ponselnya.


“Cuma SMS gak


jelas, bu. Iklan. Sekarang ibu istirahat ya. Jangan mikirin masalah Joya lagi.


Joya akan segera selesaikan sama mas Boy.”


“Kamu gak boleh


ketemu dia sebelum dia ngasi bukti kalau dia gak salah. Sekarang kamu istirahat


ya. Ingat kamu sedang hamil. Jangan tertalu stress.”


Joya berusaha


tersenyum meskipun hatinya pedih membaca chat dari Boy. Bagaimana Boy bisa


menyalahkannya seperti itu? Sejak dulu Joya-lah yang paling memperhatikan


kesehatan Ny. Besar. Joya yang menjaga Ny. Besar kalau beliau sedang sakit


meskipun ia harus begadang semalaman tidak tidur.


Joya yang


selalu memperhatikan apa yang dokter katakan saat mengantar Ny. Besar general


check up. Semua yang boleh dan tidak boleh di makan Ny. Besar, Joya hafal di luar


kepala. Semua anak dan menantu Ny. Besar sangat bergantung pada Joya kalau soal


urusan kesehatan Ny. Besar.


Mereka tidak


pernah terlalu mengkhawatirkan Ny. Besar karena Joya selalu menjaganya dengan

__ADS_1


ketat. Joya menunggu sampai Ny. Besar tertidur lelap. Ia keluar dari kamar


sambil mengendap-endap dan melihat Ny. Lastri dan Ny. Putri ada di depan pintu.


“Apa yang


terjadi, Joya?”tanya Ny. Lastri.


“Mbak...”Joya


memeluk kakak iparnya itu sambil kembali menangis.


Joya


menceritakan apa yang ia lihat di ruang kerja Boy tadi sambil sesenggukan.


Mereka duduk di meja makan agar Ny. Besar tidak mendengar suara mereka.


“Mbak gak


sangka Boy bisa berbuat gitu. Seperti bukan Boy. Atau memang momennya yang pas.


Pas Joya masuk, pas mereka lagi di posisi itu?”duga Ny. Putri.


Tring! Tring!


Boy menelpon


Joya yang langsung menekan tombol merah. Boy terus menelpon sampai Ny. Lastri


kesal dan mengangkat telpon itu.


“Halo, Boy.


Bisa gak kamu jangan telpon dulu?”


“Mbak, mana Joya?


Aku mau bicara.”


Ny. Lastri melihat


Joya menggeleng, suara Boy cukup keras sampai terdengar Joya tanpa menggunakan


mode loudspeaker.


“Joya gak mau


ngomong sama kamu, Boy.”


“Apa ibu


baik-baik aja?! Mbak, jangan sampai ibu kenapa-napa ngliat Joya nangis gitu.


Semua ini salah paham, mbak!”


“Apa maksud


kamu, Boy?”


“Aku gak mau


ibu sakit gara-gara Joya ngadu hal yang gak jelas! Awas aja kalau sampai ibu


sakit!”


“Jadi maksud


kamu Joya membuat ibu sakit? Orang yang paling peduli sama kesehatan ibu, orang


yang siang malam ada di samping ibu kalau ibu sakit, orang yang gak mau makan


kalau lihat ibu belum makan? Apa kamu sudah gila, Boy!!”lengking Ny. Lastri.


“Mbak...”


“Sepertinya apa


yang terjadi di kantor kamu memang benar ya. Kalau kamu sudah bosan sama Joya,


gak usah pake alasan apapun. Tinggalkan saja dia. Kami bisa mengurusnya dengan


baik disini. Gak perlu kamu!”


Brak! Ny.


Lastri membanting ponsel Joya ke atas meja. Sambungan sudah terputus berganti


layar chat terakhir Boy pada Joya. Ny. Lastri membaca chat itu tanpa sempat di cegah


Joya.


“Boy!!”


*****


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa

__ADS_1


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2