
Keesokan harinya Ny.Besar memeriksa bekal makanan buatan Joya. Semalam, Ny.Besar minta Joya yang memasak untuk sarapan dan makan siang Boy.
Ada juga beberapa botol vitamin untuk diminum Boy termasuk obat demam dan sakit kepala. Joya yang khawatir dengan kesehatan Boy, benar-benar menyiapkan semuanya dengan sempurna.
Tapi ia benar-benar menyembunyikan perasaannya dengan baik. Jadi terlihat hanya menyiapkan bekal sesuai dengan perintah.
Ny.Besar : "Bagus sekali. Bawakan untuk Boy ya, Joya. Untuk besok, ibu yang akan memasaknya."
Joya : "Baik Ny.Besar. Saya berangkat dulu."
Ny.Besar : "Itu, asisten Boy sudah menunggu di depan. Akhir-akhir ini banyak sekali dokumen yang harus ibu tanda tangani. Jadi dia bolak balik ke rumah. Berangkat saja sama dia."
Joya : "Baik Ny.Besar."
Joya membawa bekal makanan untuknya dan Boy bersama tas tangannya. Untung saja ada asisten Boy, kalau tidak Joya akan kesulitan membawa semua barang itu naik ojol.
Joya mengingat apa dia punya tas ransel, setidaknya tangannya bisa bebas memegang bekal makanan saja.
Lamunannya buyar saat asisten Boy memanggilnya,
Asst. Boy : "Joya, pagi-pagi sudah nglamun. Kamu mikirin apa? Ayo masuk."
Joya : "Pagi, kak. Saya cuma lupa punya tas ransel apa nggak. Sepertinya lebih nyaman kalau pakai tas ransel. Apalagi bawaan sebanyak ini."
Asst. Boy : "Coba saja nanti kau cari. Kita hampir terlambat ke kantor. Aku masih harus menjemput tuan Boy."
Joya : "Bekal makanan tuan Boy saya taruh di sini saja, ya kak."
Asst. Boy : "Eh, jangan. Bawa langsung ke ruangannya ya. Ini kartu akses ke lantai ruang kerja tuan Boy. Kamu bisa pakai masuk ke ruang kerja tuan Boy juga."
Joya : "Sa...saya gak berani, kak. Takut hilang."
Asst. Boy : "Tolong aku ya, bawakan bekal ini sampai ke ruang kerjanya. Kalau ditaruh disini, nanti bekalnya dingin. Di ruang kerja tuan Boy ada meja kopi. Kamu taruh diatas nampan disana. Jangan lupa mengeluarkan obat-obatannya dulu."
Joya : "Baik, kak. Tapi besok, kakak yang bawa ke ruang kerja tuan Boy ya."
Asst. Boy : "Liat besok ya. Aku cukup sibuk."
Lagi-lagi Joya merasa merinding, ia melirik bayangannya yang terlihat jelas dari kaca hitam di belakangnya.
Sebenarnya ia curiga kalau sejak awal ada seseorang yang duduk di belakang sana, tapi ia tidak bisa menebak siapa orangnya.
Boy tersenyum menatap Joya yang sesekali melirik ke belakang. Sejak penolakan Joya, Boy mulai memikirkan cara untuk bisa terus bersamanya tanpa sepengetahuan Joya.
__ADS_1
Ini salah satu misi rahasia yang ia jalankan untuk bisa terus bersama Joya. Membeli sebuah mobil baru dengan fitur yang cukup canggih dengan kaca penyekat antara sopir dan kursi penumpang.
Boy bisa mendengar apa yang terjadi di luar sana, tapi orang di luar sana tidak bisa mendengarnya. Boy sempat berpikir akan melakukan sesuatu yang nakal pada Joya di bagian belakang mobil yang luas itu.
Tapi pikiran gilanya langsung lenyap mengingat ekspresi kemarahan ibunya kalau tahu apa yang ingin ia lakukan pada Joya.
Boy bergidik ngeri, membayangkan ibunya sendiri akan memisahkannya dari Joya. Boy sampai berpikir untuk test DNA untuk mengecek apa dia memang anak kandung ibunya. Ibunya terlalu protektif kalau berhubungan dengan Joya.
Mobil Boy masuk ke parkiran basement, Joya keluar dari sana dan asisten Boy memberitahunya untuk langsung menggunakan kartu itu di dalam lift.
Joya mencobanya dan lift langsung membawanya ke ruangan paling atas di kantor itu. Ia berjalan perlahan menuju kantor Boy. Ia menempelkan kartu itu ke pintu ruang kerja Boy yang langsung terbuka.
Joya melihat sekeliling, ada coffee maker di sudut ruangan dan microwave juga. Joya mengeluarkan obat-obatan dari tas bekal dan menggabungkannya di dalam keranjang yang berisi obat batuk.
Setelah melihat semuanya sudah rapi, Joya segera keluar dari sana.
Sekretaris Boy, Lia memergoki Joya sedang menutup pintu ruang kerja Boy.
Lia : "Sedang apa kamu disini?"
Joya : "Selamat pagi, bu. Saya tadi menaruh bekal makanan untuk tuan Boy."
Lia : "Siapa yang menyuruhmu? Dan bagaimana kamu bisa masuk?"
Lia ingin bertanya lebih jauh, tapi lift terbuka dan Boy keluar bersama asistennya. Boy berhenti berjalan, ia mengambil ponsel di sakunya dan sibuk mengetik sesuatu.
Asisten Boy menyapa Joya dan Lia,
Asst. Boy : "Joya, sudah selesai?"
Joya : "Sudah, pak. Saya permisi dulu."
Joya berjalan cepat melewati Boy dan masuk ke dalam lift. Ia fokus menekan tombol lantai tempat ia bekerja tanpa berani menatap Boy yang masih berdiri di depannya.
Entah kenapa pintu lift itu tidak mau tertutup. Joya tidak tahu kalau pintu lift itu tidak akan tertutup selama Boy masih berdiri di depannya.
Kartu akses yang dibawa Boy, mengatur secara otomatis sensor pada lift. Lift akan standby selama Boy ada di depannya.
Asisten Boy yang kasihan melihat Joya kebingungan, sengaja memanggil Boy yang pura-pura budeg. Ia tidak mau pindah dari depan lift, terlihat sibuk sekali dengan ponselnya.
Setelah sekitar 10 menit, Boy beranjak dari depan lift yang langsung menutup. Joya bersandar pada dinding lift.
Kakinya gemetaran, ia sudah ketakutan karena mengira Boy akan masuk ke dalam lift lagi. Sungguh ia belum siap ketemu Boy meskipun ia sangat merindukan Boy.
__ADS_1
Ia takut menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah jelas. Boy harus menunggu kalau dia mau menunggu.
Tapi apa Boy sanggup menunggu, usianya hampir kepala tiga. Sudah saatnya ia menikahi seorang wanita yang baik yang bisa menemani hari-harinya.
Hati Joya sakit ketika mengharapkan sesuatu yang baik untuk Boy. Dia merasa sangat egois.
Joya : "Andai saja aku bisa mempercepat semua ini, apa aku masih punya kesempatan?"
Sesungguhnya Joya menyesal menolak Boy, tapi ia yakin keputusannya adalah yang terbaik untuk semua orang termasuk dirinya dan Boy.
Joya kembali ke lantai tempat ruang kerjanya. Niken yang sudah menunggunya tidak menanyakan apa-apa. Joya mencoba menjelaskan, tapi Niken sudah memberinya beberapa tugas yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Tugas-tugas itu begitu menumpuk sampai Joya melewatkan waktu makan siang. Niken meminta Joya makan dulu sebelum meeting dimulai. Untuk mempersingkat waktunya, Joya pergi ke balkon di dekat ruang meeting.
Ia melihat ada bangku di tempat itu dan memilih duduk disana. Niken sudah mengijinkannya makan disana.
Joya tidak menyadari kalau ruangan di depannya adalah ruang kerja Boy. Boy bisa melihat dengan jelas ekspresi senang Joya saat menggigit udang kesukaannya.
Boy berjalan mendekati jendela, ia meraba jendela itu seolah sedang menyentuh pipi dan rambut Joya. Ia senyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi wajah Joya saat mengetahui kalau Boy sedang menatapnya saat ini.
Asisten Boy yang melihat semua kejadian itu mendekati Boy,
Asisten Boy : "Apa mulai besok saya boleh mengatur makan siang dengan nona Joya, tuan?"
Boy : "Maksudmu?"
Asisten Boy : "Tuan dan nona Joya bisa makan siang disini bersama, tanpa nona Joya sadari."
Boy : "Untuk sesekali bisa saja, tapi kalau setiap hari, dia akan curiga. Lagipula siapapun tahu balkon ini hanya khusus untukku. Tapi idemu bagus."
Asisten Boy tersenyum senang, mereka menatap Joya yang sudah selesai makan, ia segera membereskan tas bekalnya dan kembali ke ruang meeting.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak...
-------
__ADS_1