
Mobil kembali meluncur, malam semakin merangkak naik. Safira tampak lelah dan mengantuk, hingga ia terlelap. Menyadari gadis di sebelahnya tidur, ia mengecilkan volume suara dari tape mobil. Sekilas melirik wajah lelap Safira. Wajah tanpa polesan make up di itu memang menarik. Alva menyeringai teringat ucapan Deva.
"Loe benar, Dev! Dia emang cantik, tapi nyusahin!" batinnya.
Mobil telah sampai di halaman rumah, kembali Alva melirik gadis di sebelahnya. Terbit seringai nakal di bibirnya, namun kemudian menggeleng meninggalkan Safira sendiri. Alva masuk rumah langsung menuju kamar. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Ibu Santi rupanya telah beristirahat, demikian juga dengan suaminya. Tak seorang pun tahu Safira ditinggalkan begitu saja oleh Alva di mobil.
Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat segar. Menuju dapur membuat secangkir kopi hangat sambil memainkan gadget, Alvaro duduk di ruang keluarga. Saat sedang asik berselancar di dunia maya tiba-tiba ia teringat sesuatu. Bergegas ia keluar menuju mobil.
Matanya menyipit saat ia tak mendapati gadis yang ia tinggalkan tadi. Ia melirik benda penunjuk waktu di pergelangan tangan tepat pukul sebelas malam. Sambil mengangkat bahu ia mengunci mobil, kembali masuk dan mengunci rumah. Alva berpikir Safira telah masuk ke rumah. Tanpa ia tahu bahwa gadis itu masih berada di dalam, ia berbaring di kursi belakang.
πΌπΌπΌ
"Alfa, bangun! Safira mana?" seru Ibu Santi seraya mengetuk pintu kamar putranya. Dengan mata yang masih mengantuk ia membuka pintu seraya menggeleng.
"Masa iya dia tidur di kamar Al, Bu. Ya di kamarnya lah," jawab pria itu mengusap wajahnya. Namun, tatapan perempuan yang telah melahirkannya itu membuat wajah itu berubah serius. Ibu Santi menjelaskan bahwa Safira tak ada di kamar.
"Kalau dia ada di kamar, pasti pagi-pagi sekali dia sudah bangun," ungkap Bu Santi menatap kesal ke Alva. Sejenak ia berpikir.
"Jadi dia nggak ada di kamarnya?" ia balik bertanya.
"Kamu tinggalkan dia di mana? Cari!" Terdengar suara ibunya meninggi. Bergegas Alva melempar selimut yang sedari tadi ia pegang. Dengan bertelanjang dada ia menuruni tangga, menyambar kunci mobil berlari ke garasi.
"Sial! Apa cewek nyusahin itu masih di sana?" gumamnya kesal. Bergegas Alva membuka pintu mobil. Tampak Safira tengah meringkuk memeluk lutut dengan mata mengembun. Keringat terlihat di kening. Alva mengacak rambutnya, memberi isyarat agar gadis itu keluar. Ia melihat Safira memejamkan mata saat melihatnya.
"Ck! Berhenti membuatku dalam masalah!" sungutnya menatap kesal seraya membanting pintu dan meninggalkan Safira. Sambil mengusap keringat, ia melangkah masuk ke rumah. Bu Santi menyambut dengan meminta agar ia memaafkan Alva.
"Saya yang salah, Bu. Semalam saya ketiduran, mungkin Mas Al sudah membangunkan, tapi saya saja yang tidur keterlaluan," ucapnya tersenyum. Perempuan berkacamata itu membalas senyuman Safira, lalu memerintahkan agar ia segera membersihkan diri.
"Alfa, nanti kalau Safira sudah siap, kamu temani dia ke toko yang mau kita buka itu ya, di sana sudah ada beberapa orang yang akan membantu membersihkan," ujar Bu Santi saat makan pagi. Malas lelaki itu menatap ibunya.
"Bu, kemarin Al sudah capek nemenin dia belanja, kenapa sekarang harus Al lagi sih?" protesnya sambil memasukkan potongan roti ke dalam mulut.
"Nggak ada salahnya 'kan. Lagipula ini hari minggu, kamu free. Jadi bisa fokus bantuin Safira." Pak Yuda yang sedari tadi diam ikut bicara. Alva mengernyit menatap kedua orang tuanya. Baru saja ia hendak membalas ucapan Pak Yuda, matanya menangkap sosok Safira melintas menuju dapur. Alva menggeleng berdiri meninggalkan meja makan.
"Alva, kamu belum selesai sarapan," panggil ayahnya.
__ADS_1
"Udah kenyang," sahutnya menaiki tangga menuju kamar.
"Safira, kamu nanti sama Al ke toko yang waktu itu pernah ibu tunjukkan ya. Semua barang sudah diangkut ke sana," pesan Ibu Santi ramah seraya mengatakan agar ia tidak perlu terlalu lelah.
"Ada beberapa orang di sana yang akan membantu bersih-bersih, kamu tinggal mengatur saja, saya pergi dulu,"Β sambungnya tersenyum lalu melangkah pergi bersama Pak Yuda.
πΌπΌπΌ
Gadis berkulit putih itu mengikat rambut kebelakang menyisakan beberapa anak rambut terjatuh di sisi kiri dan kanan. Memoles wajah dengan bedak lalu keluar kamar. Saat ia hendak melangkah menuju tangga, Safira menoleh ke kamar sebelahnya. Ragu ia hendak mengajak Alva seperti pesan Ibu Santi tadi. Mengingat kejadian kemarin malam, lelaki itu pasti marah seperti biasa.
Menggeleng gadis itu meneruskan langkah menuruni tangga.
"Mbak Safira, kita berangkat sekarang?" Pak Joko menyapanya. Tersenyum ia mengangguk. Namun, sopir keluarga itu terlihat celingukan.
" Ada apa, Pak?" tanyanya heran
Pria kurus itu menanyakan tentang Alva.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya bisa sendiri kok," jawab Safira mengajak Pak Joko dengan isyarat. Toko yang sedianya akan digunakan Safira berekspresi itu terletak masih dalam satu komplek rumah Alva. Hanya lokasinya yang terletak di bagian depan gerbang komplek itu.
Di sana sudah ada beberapa pekerja yang membersihkan ruangan. Seperti Bu Santi ucapkan bahwa ia tak perlu bekerja terlalu lelah, karena memang semua telah dibersihkan. Ia hanya tinggal merapikan dan menentukan letak serta setting ruang.
"Mbak, sudah siang. Apa Mbak tidak lapar?" Pak Joko yang baru saja tiba membawa makanan. Safira tersenyum menggeleng.
"Ayo makan dulu, Mbak. Nanti sakit," ajak lelaki yang telah memiliki seorang cucu itu.
"Pak Joko makan aja. Kebetulan saya sudah ngemil ini,"Β balasnya menunjukkan sebungkus cheese stik yang sengaja ia bawa dari rumah tadi. Pak Joko berkelakar mengatakan bahwa ia tak akan kenyang jika makan itu. Semua pekerja di ruangan itu tertawa. Sopir pribadi keluarga Al itu mengajak yang lainnya untuk istirahat makan siang. Sedang Safira kembali meneruskan pekerjaannya.
Sementara di rumah, Alfa baru saja mandi dan terlihat ia tengah bersiap pergi. T-shirt putih melekat pas di tubuh atletisnya dengan celana denim blue black tak lupa sepatu kets melengkapi tampilan pria jangkung itu. Dengan sedikit berlari ia menuruni anak tangga.
"Mas Al mau ke mana?" Mbok Mirah yang sedang merapikan meja makan bertanya.
"Keluar bentar, Mbok," jawabnya acuh.
"Mas, tapi ibu tadi pesan supaya MasΒ Al ...."
__ADS_1
"Nemenin cewek itu?" potongnya menatap perempuan di depannya. Mbok Mira mengangguk mengiyakan. Seringai terlihat di bibir Alva, ia menggeleng melangkah seraya berujar, "udahlah, Mbok. Saya sedang tidak ingin melihatnya. Oh iya, Mbok punya tetangga cowok nggak?" Ia membalikkan badan menghadap Mbok Mirah. Perempuan itu menyipit tak mengerti pertanyaan anak majikannya itu.
Kembali ia tersenyum menyeringai. Sambil menyugar rambut ia mengatakan agar Mbok Mirah mencarikan jodoh buat Safira.
"Kenapa begitu, Mas Al? Kan ibu dan bapak ...."
"Ck! Itu tak akan pernah terjadi, jika Mbok mau membantu saya mencarikan jodoh untuk gadis kampung itu," balas Alvaro meninggalkan Mbok Mirah yang termangu.
Matahari tak lagi memberi sengat seperti tadi. Langit pun sudah berubah warna. Para pekerja pamit pulang, sedang Safira masih merapikan meja dan kursi. Toko kue itu akan dibuka dua hari lagi. Itu artinya dia akan semakin sibuk mempersiapkan item kue yang akan dijadikan andalan tokonya. Toko itu berlantai dua, bagian atas bisa digunakan untuk beristirahat. Ada ranjang queen size lengkap dengan lemari pendingin dan kamar mandi. Sangat nyaman.
"Mbak Safira, ada Ibu," seru Pak Joko. Gadis itu melihat Ibu Santi dan Pak Yuda berjalan mendekat. Wajah keduanya tampak puas dengan ruangan itu. Ia melihat mata Ibu Santi menyelidik ke arahnya.
"Alva mana, Safira?"
Terlihat gadis itu sedikit gugup. Sambil melirik Pak Joko yang berdiri di sebelahnya ia berkata, "Mas Alva tadi ke sini, baru saja dia pergi, Bu."
Sambil mengangguk, Ibu Santi mengajak Safira pulang bersamanya.
πΈπΈπΈ
Pembukaan toko kue akhirnya tiba. Bu Santi berpesan agar dirinya memakai baju yang ia beli waktu itu. Perempuan tegas itu juga menginginkan agar dirinya menggunakan makeup yang tersedia di kamar. Sudah satu jam Safira tercenung di depan cermin. Ia tak tahu cara menggunakan semua alat kecantikan di hadapannya. Ia hanya tahu cara memakai lipstik, saat itu dia pernah mengikuti karnaval. Itu saja yang dia bisa.
"Alva, tolong panggil Safira suruh turun. Kita semua harus datang lebih awal!" Pak Yuda memerintah putranya yang baru saja hendak turun. Terlihat Alva membuang napas kasar. Ia lalu mengetuk pintu.
"Cepetan! Ditungguin tuh, nyusahin!" ujarnya terus mengetuk. Pintu di buka, wajah tirus itu muncul dengan dress hijau lembut dan polesan lipstik berwarna pink menghias bibir. Matanya menatap Alva yang berdiri tepat di depannya. Pria itu menatap intens dari ujung kaki hingga kepala. Seringai kecil tercetak di bibirnya. Sambil memberi isyarat dengan dagu ia mengajak gadis itu segera turun.
"Mas Al!" panggilnya ragu.
Alva melirik kesal.
"Apalagi sih?"
"Saya nggak bisa jalan pakai sepatu ini," ungkapnya seraya menjinjing high heels berwarna putih.
"Ck! Kalau nggak bisa ya nggak usah dipaksa. Udah pakai apa aja lah! Buruan, jangan sampai bikin malu dan menyusahkan orang banyak! Paham?" Alva memberi isyarat agar Safira turun.
__ADS_1
Gadis ituΒ mengangguk tanpa menatap mengikuti langkah pria di depannya.
πΈ