
ps. 20 – Kesayangan Nanda
Nadia : “Maunya pulang sama kakak. Tapi tante Ana?”
Nanda : “Charlie, kita pulang. Pastikan tante Ana sudah di villa saat kita sampai.”
Charlie : “Baik, tuan muda.”
Nadia : “Yeeeyyy... Kakak memang terbaik.”
Nadia menggandeng tangan Nanda yang berjalan santai di sampingnya. Sementara Charlie
sibuk memberi instruksi pada sekretaris Nanda untuk mengawasi jalannya meeting
dan melaporkan hasilnya nanti padanya.
*****
Sementara itu di villa, Boy, Joya, Nando dan Carol melongo melihat dua bodyguard berbadan
besar masuk ke dalam villa sambil menggendong seorang wanita yang sibuk
berteriak.
Ana : “Aacchh...!! Turunkan aku!! Lepas!!”
Boy : “Ana?”
Joya : “Dia Ana?”
Carol : “Bu Ana, ngapain disini?”
Ana : “Tuan Boy? Tolong!”
Ana merasa sedikit lega ketika melihat orang-orang yang dikenalnya. Nando memberi tanda
dengan tangannya untuk menurunkan Ana. Carol dan Joya langsung mendekatinya dan
membantu merapikan penampilannya yang acak-acakan.
Ana : “Carol, aku dimana? Oh, Ny.Joya, saya dimana?”
Nando : “Kenapa kalian bawa Bu Ana kesini?”
Bodyguard : “Perintah tuan muda pertama, tuan muda kedua.”
Nando : “Kakak? Tapi gimana kakak bisa kenal Bu Ana?”
Bodyguard itu mendengar sesuatu di telinganya dan pergi begitu saja. Mereka berlima tidak
perlu merasa penasaran lama-lama karena Nanda sudah datang bersama Nadia dan
Charlie.
Nadia : “Tante Ana!!”
Ana : “Oh, astaga. Nadia? Kamu ngapain disini?”
Nanda terpana melihat Nadia berlari memeluk Ana yang langsung meringis karena lukanya ditimpa
Nadia.
Ana : “Aow...”
Nadia : “Masih sakit ya, tante? Tante sich.”
Ana : “Ini anak kenapa nyalahin tante terus sich? Siapa suruh nyebrang gak liat kanan kiri.”
Nadia tertawa keras saat Ana menggelitiki pinggangnya. Nadia kembali memeluk Ana dengan erat.
__ADS_1
Ana : “Kamu ngapain disini? Ini rumah kamu?”
Nadia : “Iya, tante. Tante tinggal disini ya?”
Ana : “Apa? Nggak mau. Tante kan punya rumah sendiri, eh, kontrakan sich. Ngapain tante
tinggal disini?”
Nadia : “Temenin Nadia, tante.”
Ana : “Kamu kan punya saudara, eh, punya gak? Pokoknya tante gak bisa tinggal disini.”
Nadia mulai cemberut bersiap-siap nangis karena permintaannya gak diturutin. Nanda yang
sudah hafal, langsung mengambil alih dengan memerintahkan Ana tinggal divilla itu.
Ana : “Anda siapa? Seenaknya saja ngomong begitu!”
Nando : “Bu Ana, sabar dulu. Kak, aku perlu bicara.”
Nando menyeret kakaknya yang tidak mau pergi dari samping Nadia yang merajuk pada Ana. Mereka
bicara di dekat jendela besar. Carol melihat keduanya sepertinya bertengkar
disana. Ia menyusul dan ikut bicara juga.
Ana : “Tuan Boy, Ny. Joya, sedang apa kalian disini?”
Boy : “Kami menerima undangan makan siang dari Nando. Ini villa keluarga Nando.”
Joya : “Bu Ana, kenapa bisa kesini?”
Joya memperhatikan Nadia yang masih betah nemplok di samping Ana, tidak mau
melepaskannya.
saya ijin pulang lebih cepat karena ada urusan pribadi.”
Boy : “Kau managernya, terserah saja, Ana.”
Ana : “Ada yang ketuk pintu rumah. Waktu saya buka, tau-tau saya langsung di gendong sama dua
orang tadi. Mana lagi mereka, itu. Gak sopan banget. Bilang gitu baik-baik saya
mau diajak kesini.”
Joya : “Memangnya kalau mereka ngomong baik-baik, Bu Ana mau kesini?”
Ana : “Nggak sich. Ny. panggil saya Ana saja.”
Joya : “Mbak Ana, kenal Nadia dimana?”
Nadia yang dipanggil Joya semakin membenamkan dirinya pada Ana.
Ana : “Nadia, tante gak bisa nafas, kenceng banget meluknya. Kamu kenapa sich?”
Nadia malah naik ke pangkuan Ana dan memeluk tubuh Ana sambil melihat ke belakang mereka.
Ana : “Leher tante jangan dicekek dong. Nadia duduk yang sopan ya. Tante lagi bicara dengan
tante Joya. Gak baik kamu duduk gini.”
Nadia gak mau melepaskan pelukannya. Ia hanya mengendurkan pelukan lengannya di leher Ana.
Joya : “Kalian akrab sekali ya. Seperti ibu dan anak.”
Ana : “Nggak seperti itu, Ny. Kami baru ketemu tadi waktu saya mau pulang.”
Ana menceritakan awal pertemuannya dengan Nadia sambil mengusap-usap punggung dan
__ADS_1
rambut gadis cilik di pangkuannya itu. Joya memperhatikan luka di lutut dan
siku Ana masih mengeluarkan darah.
Joya : “Oh, apa disini ada obat merah?”
Charlie yang masih berdiri di dekat mereka, mengambil kotak P3K dari dalam laci di dekat televisi
besar. Joya mengambil kotak itu dan mulai mengobati Ana.
Ana : “Ach, Ny. biar saya saja. Nadia, turun dulu ya. Nadia?”
Charlie : “Nona muda sudah tidur, nona Ana.”
Ana : “Oh, bagaimana sekarang? Siapa namamu?”
Charlie : “Saya Charlie, nona.”
Ana : “Charlie, bisa tolong bawa Nadia ke kamarnya dulu?”
Ana berusaha melepas pelukan Nadia, tapi sepertinya ia baru saja tertidur dan pelukannya
masih sangat erat. Ana menyerah mendorong Nadia dari tubuhnya.
Ana : “Ya sudah biarkan saja dulu. Nanti saja.”
Charlie tersenyum dan membungkuk pada Ana. Ana terpaksa membiarkan Joya mengobati
lukanya.
*****
Sementara itu Nanda dan Nando masih berkutat dengan kedatangan Ana.
Nanda : “Wanita itu menolong Nadia waktu hampir ketabrak mobil. Dan Nadia minta wanita itu
dibawa kemari.”
Nando : “Iya, tapi kenapa caranya begitu? Gak bisa ngomong baik-baik. Bu Ana itu manager HRD
di kantor tuan Boy. Aku bisa kena masalah nanti, kak?”
Nanda : “Nadia yang mau ketemu dia lagi. Sebentar lagi Nadia akan bosan dan aku akan
mengembalikan wanita itu ke rumahnya.”
Carol : “Kakak ipar, Bu Ana bukan barang, habis di pinjam trus bisa dikembalikan lagi. Kakak
ipar harus minta maaf pada Bu Ana.”
Nanda : “Apa katamu?!”
Nanda mendelik pada Carol, Nando langsung menarik Carol ke belakangnya.
Nando : “Kakak jangan melotot sama istriku. Dia takut nich.”
Nanda : “Iya, iya, aku akan minta maaf sama dia. Jangan cemberut, adik ipar. Mau es krim?”
Carol : “Es krim?”
Nando : “Emangnya Carol itu Nadia, disogok ek krim biar gak ngambek.”
Carol : “Mana, kak?”
*****
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.
__ADS_1