
Eps. 20 – Penakluk
hati
Nando
mengatakan kalau kakaknya jomblo sejak lahir. Ana mengatakan pantas saja
tangannya gak bisa diem. Tapi saat Nando mengusulkan bagaimana kalau Ana yang
menikah dengan Nanda, Ana langsung menolaknya dan mengatakan tentang statusnya.
Nanda masih
bisa mencari perempuan single yang belum pernah menikah, Ana tidak tahu kalau
siapapun perempuan yang bisa menarik perhatian Nadia, akan bisa menarik
perhatiannya juga.
Nadia
menarik-narik tangan Ana, memintanya segera memasak. Ana berjalan masuk ke
dapur Nanda dan menanyakan bahan makanan apa yang mereka miliki pada koki. Ia
juga meminta ijin dengan sopan untuk meminjam dapurnya sebentar.
Nadia
memperhatikan Ana yang sibuk memasak beberapa gorengan dari sayur dan juga
salad buah dingin. Ana menghidangkan masakannya di depan Nadia yang tidak
sabaran ingin mencicipinya.
Ana : “Tiup
dulu. Makannya sama saus ini. Coba dech.”
Nadia mengambil
satu gorengan daun bayam, ia mengendusnya sebentar, lalu mencoleknya dengan saus.
Kres. Suara gorengan bayam renyah digigit Nadia.
Nadia : “Wah,
enak!!”
Ana tersenyum
melihat Ana mengambil terus gorengan dari sayuran itu sampai habis tak tersisa.
Bahkan Nando gak boleh minta. Nadia menjulurkan lidahnya pada Nando dan memukul
tangan kakaknya yang ingin merebut makanannya.
Ana : “Sekarang
Nadia mau coba salad buahnya?”
Nadia terlihat
ragu-ragu, tapi mau juga membuka mulutnya ketika Ana menyuapinya sedikit buah.
Nadia : “Lagi,
tante.”
Nando kembali
menjahili adiknya itu. Ia menarik-narik mangkuk berisi salad buah kearahnya,
membuat Nadia melempar sendok pada Nando.
Ana : “Nadia,
gak boleh melempar barang seperti itu. Minta maaf sama kakak.”
Nadia : “Maaf, kak.”
Ana : “Nando,
jangan usilin adikmu lagi.”
Nando : “Iya,
bu Ana.”
Nanda tidak
berada jauh dari mereka, ia duduk di kursi santai sambil memperhatikan semua
kejadian yang terjadi di depannya. Nanda mengirimkan chat pada Charlie agar
menyelidiki Ana sampai tuntas. Ia ingin segera menikahi janda cantik itu karena
adik-adiknya sangat menurut padanya.
Nadia : “Tante,
mau lagi.”
Ana : “Nanti
__ADS_1
lagi ya. Sekarang Nadia mandi dulu. Ini sudah hampir magrib. Tante juga mau
mandi. Eh, tante boleh pinjem kamar mandi Nadia?”
Nanda : “Pakai
saja kamar mandi saya, nona Ana. Saya mau pergi.”
Nando : “Kakak
gak makan malam di sini?”
Nanda : “Aku pergi
bentar. Mau ketemu Charlie.”
Nando dan Carol
saling tatap sambil senyum-senyum. Di villa itu ada lebih dari 20 kamar yang
bisa dipakai Ana untuk mandi dan ganti baju. Tapi Nanda meminjamkan kamarnya
sendiri. Nando merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan Nanda.
Nadia dan Ana
masuk ke lorong yang menuju kamar Nadia dan kamar Nanda. Nadia yang sudah bisa
mandi sendiri, menunjukkan kamar Nanda pada Ana.
Ana : “Nadia,
tante mandi dulu ya. Nanti kalau Nadia sudah selesai mandi, cari tante kesini
ya.”
Nadia : “Kenapa,
tante?”
Ana : “Tante
takut tersesat. Rumah Nadia kan gede banget.”
Nadia
mengiyakan Ana, ia berlari kecil masuk ke kamarnya. Ana menutup pintu kamar
Nanda, ia meletakkan tasnya di atas sofa dan mengeluarkan pakaian ganti. Ana
masuk ke kamar mandi, melihat ada handuk atau tidak.
Ia malah
silakan dipakai untuk dinner malam ini.’ Ana merentangkan gaun malam yang indah
itu. Ia bisa menebak gaun itu berleher rendah dan ada belahan tinggi di
pahanya.
Ana : “Niat
sekali tuan Nanda menyiapkan gaun ini. Tapi ini seksi sekali. Kapan dia menaruhnya
disini?”
Ana memutuskan mandi
dulu. Ia beneran memakai gaun itu karena penasaran bagaimana penampilannya
memakai pakaian seperti itu. Dengan suaminya dulu, ia tidak pernah memakai
pakaian yang terlalu seksi.
Habis mandi,
Ana memakai gaun itu. Ia ingin melihat seluruh penampilannya dan ingat ada
cermin besar di walk in closet Nanda. Ana keluar dari kamar mandi, ia berjalan
ke walk in closet Nanda dan melihat penampilannya di depan cermin.
Ana melepas
ikatan rambutnya dan mengatur sedikit rambut menutupi sebagian dadanya.
Ana : “Wow,
gaun ini bagus sekali. Pas banget di badan.”
Nanda : “Cantik.”
Ana melotot
kaget melihat Nanda sudah masuk ke walk in closet itu. Nanda menatapnya dari
atas sampai bawah. Kulit putih Ana sangat kontras dengan warna gelap gaun itu.
Nanda menelan salivanya melihat bagian tubuh Ana yang terlihat jelas.
Ana : “Tuan
Nanda! Saya permisi dulu.”
Ana tidak bisa
__ADS_1
pergi semudah itu. Nanda menarik tangannya dan menyudutkan Ana ke pintu
lemarinya.
Ana : “Tuan
Nanda! Saya harus keluar.”
Entah darimana
Nanda belajar cara mencium leher seperti itu. Ana berusaha menendang Nanda,
tapi Nanda semakin menempel pada tubuh Ana.
Ana : “Brengsek!
Lepaskan aku!”
Nanda : “Menikah
denganku, baru aku lepaskan.”
Ana : “Kamu
gila! Jangan digigit! Ach!”
Nanda menyukai
aroma tubuh Ana yang baru selesai mandi, ia sampai menggigit pundak Ana karena
hasratnya mulai terpancing. Tiba-tiba...
Nadia : “Tante!
Buka pintunya!”
Ana : “Nad...
mmmppp...!”
Nanda dengan
cepat membekap mulut Ana dengan tangannya. Nanda mendorong pintu walk in closet
tertutup dan menguncinya. Bruk! Mereka terjatuh diatas karpet tebal di bawah
mereka.
Nanda : “Diam
atau kurobek bajumu.”
Ana mengangguk.
Gedoran Nadia di pintu sudah berakhir. Sepertinya ia sudah pergi dari depan
pintu kamar Nanda. Nanda melepaskan tangannya dari mulut Ana, ia meletakkan
tangannya sembarangan sampai Ana kesal dibuatnya.
Ana : “Sampai
kapan tangan anda megang dada saya!”
Nanda : “Sampai
kamu setuju menikah denganku.”
Ana : “Iihhh!!
Mesum!!”
Nanda
mendekatkan wajahnya ke wajah Ana. Mereka hampir ciuman kalau Nanda tidak
menahan dirinya. Ana berusaha bicara baik-baik dengan Nanda dan memintanya menyingkir
dari atas tubuhnya. Tapi Nanda tidak mau menyingkir kecuali Ana berjanji akan
menikah dengannya.
Ana : “Kenapa
tuan sangat ingin menikah dengan saya?”
Nanda : “Karena
Nadia menyukaimu. Nando juga menurut padamu. Dan aku...”
Ana : “Saya kan
bisa jadi pengasuh. Bukan istri tuan.”
Nanda : “Dan
aku ingin menua bersamamu.”
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.
__ADS_1