
Eps. 20 – Proposal atau...
“Siapa sich?
Perasaan gak janji sama siapa-siapa dech. Kalo gini kan jadi takut.”kata Dita
pada dirinya sendiri.
Dita membalas
pesan itu, ‘Tunggu aja sampe pagi. Aku dah pulang. Wek.’ Ditambah emoji
menjulurkan lidah.
Dita baru ingat
kalau ia memarkir mobilnya di parkir atas tadi. Seharusnya jam segini ada
penjaga yang berkeliaran di sekitar sana. Dita mengemasi barang-barangnya, ia
segera turun ke lobby dan melihat seseorang berdiri di samping mobilnya.
“Tuan Charlie? Masa
dia yang lagi nunggu aku?”kata Dita lagi.
Merasa tidak
melakukan kesalahan, Dita mendekati Charlie.
“Selamat malam,
tuan Charlie. Anda belum pulang?”tanya Dita.
“Malam.
Bukannya ada sesuatu yang harus kita bicarakan?”tanya Charlie balik.
“Tuan mau
membahas apa? Masalah proposal atau apa yang kita lakukan kemarin malam.”bisik
Dita agar tidak ada yang bisa mendengarnya.
Dita melihat
ekspresi wajah Charlie yang merona lagi. Jelas sekali kelihatan karena tempat
mereka berdiri sangat terang.
”Manis banget
kamu, sayang. Boleh kubawa pulang gak ya?”
“Aku...”kata
Charlie gugup.
“Oh, tuan mau
membahas proposal itu lagi! Ayo, kita bahas sambil makan. Saya sudah lapar,
tuan! Anda bisa menyetir?”tanya Dita cepat.
Charlie
mengambil kunci mobil Dita dan mereka segera pergi dari sana.
“Kenapa kau
bilang gitu tadi?”tanya Charlie.
“Penjaga itu
salah satu biang gosip yang paling parah dikantor. Apa kau tahu? Aku gak mau ada
skandal di kantor cuma gara-gara melihat kita pergi berduaan.”jelas Dita dengan
tegas.
“Kamu mau makan
dimana?”tanya Charlie.
“Ayo ke
apartmentku. Kita ngobrol disana. Kamu mau makan apa?”tanya Dita.
“Kamu mau
masak?”
“Aku? Masak?
Aku gak bisa masak, okey. Lagian lebih gampang pesan makanan.”kata Dita lagi.
Mereka sampai
di apartment Dita dengan cepat. Dita mempersilakan Charlie masuk. Charlie
melotot lagi untuk yang kesekian kalinya hari ini. Dita dengan tenangnya
melepas sepatu dan pakaian kerjanya tepat di depan mata Charlie.
Ia membuka
kulkas dan mengambil dua kaleng minuman dingin. Dita mendekati Charlie yang
tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Dita yang hanya berbalut pakaian
dalam.
“Kau mau minum?
Aku cuma punya ini. Duduklah. Sebentar lagi makanannya datang.”kata Dita.
Dita duduk
bersandar di tempat tidurnya, ia memejamkan matanya yang terasa penat. Charlie
pindah duduk ke depan Dita.
“Apa kau capek?
Aku bisa pergi sekarang.”kata Charlie.
__ADS_1
“Kita gak jadi
bicara? Sebenarnya kamu mau apa sich? Aku kan gak nuntut apa-apa.”
“Aku yang harus
nuntut kamu. Rasanya itu kayak habis manis sepah dibuang tau.”
“Jangan bilang
yang semalem itu saat pertamamu. Oh, tuan kemana saja kau selama ini?
Jangan-jangan kau dan tuan Nanda...”goda Dita sambil mengerdipkan matanya.
“Sembarangan
bicara. Kami terlalu sibuk sampai tidak sempat bermain dengan wanita. Kau tetap
harus bertanggung jawab, nona Dita.”
”Sekarang
mirip anak kucing yang minta dipungut. Apa dia sudah gila memintaku bertanggung
jawab. Dimana-mana yang dirugikan pasti pihak perempuan.”
“Dan aku harus
bertanggung jawab seperti apa? Kau juga menikmatinya semalam. Atau sebenarnya
ini hanya alasanmu agar bisa melakukannya lagi. Tuan, kau sangat nakal.”kejar
Dita.
Charlie hampir
membalas ucapan Dita saat pintu apartment Dita diketuk seseorang.
“Ach, kurirnya
sudah datang!”seru Dita sambil bangkit tapi dihalangi Charlie.
“Biar aku saja
yang buka. Sekalian aku yang bayar.”
“Terima kasih
kalau gitu.”kata Dita sambil masuk ke kamar mandi.
Dita
menghabiskan waktunya di kamar mandi dan keluar begitu saja tanpa memakai
apa-apa. Ia membuka lemarinya, mengambil lingerie dan memakainya dengan cepat. Dita
membuka bungkusan makanan. Ia juga menyiapkan piring dan mengambil gelas air
minum.
“Ayo, kita
makan. Atau kau mau mandi dulu?”tanya Dita.
“Kita makan
”Mau bicara
atau tidak. Lihat saja apa yang akan kulakukan nanti, tuan tampan.”
Mereka
menghabiskan makanan itu dengan cepat. Dita mengeluarkan sebotol minuman keras dari
dalam kulkas setelah ia mencuci piring dan gelas kotor.
“Cepat bicara.
Aku harus apa?”tanya Dita.
“Apa kita bisa
menikah?”
“Kau pasti
bercanda. Menikah itu terlalu merepotkan. Tuan tampan, kau bisa mencari wanita
lain yang mau menikah denganmu. Kita tidak akan berhasil.”Dita menegak satu
gelas minuman sampai habis.
Charlie
mengambil gelas di meja dan malahan ikut minum juga. Ketika keduanya sama-sama
hampir mabuk, Dita mendekati Charlie.
“Tuan, jangan
terlalu banyak berpikir, nikmati saja. Okey.”kata Dita.
Lagi-lagi malam
itu Charlie menghabiskan malam bersama Dita.
Saat Charlie
datang ke villa Nanda, keesokan harinya, ia masih memakai kemeja yang kemarin. Nanda
bukan tidak memperhatikannya,
“Charlie, kamu
gak pulang semalam?”tanya Nanda membuat semua orang di meja makan menatap
Charlie.
“Saya pulang,
tuan muda pertama. Baju ini mirip dengan yang saya pakai semalam.”jelas Charlie
sedikit gugup.
“Oh ya. Noda
__ADS_1
kopinya bisa kebetulan sama ya.”kata Nanda lagi.
Charlie
menunduk karena ketahuan bohong. Ia lupa kalau pengamatan mata Nanda seperti
elang. Tidak akan luput setitik kecil sekalipun.
“Kamu mau
bilang kemana semalam atau aku bongkar sendiri.”kata Nanda sambil mengambil ponselnya.
“Saya pulang ke
rumah seorang teman, tuan muda. Maafkan saya.”aku Charlie akhirnya.
“Apa kau punya
pacar?”tanya Ana sambil menyuapi Nadia makan sosis.
Nando dan Carol
juga jadi kepo dengan Charlie.
“Bukan pacar,
nyonya muda pertama. Hanya teman dekat.”
“Teman dekat,
eh. Dia terlalu malu untuk cerita. Apa kau juga ingin menikah bersamaan dengan
kami?”tanya Nanda terus menekan Charlie.
“Belum secepat
itu, tuan muda. Apa kita bisa berangkat sekarang? Nona muda akan terlambat ke
sekolah nanti.”kata Charlie mengalihkan perhatian.
“Kau sudah
mulai berbohong padaku. Hukum dirimu sendiri. Ayo, kita pergi.”kata Nanda
sambil mengulurkan tangannya pada Ana dan Nadia.
Nando dan Carol
juga berangkat naik mobil Nando. Di dalam mobil, Nanda tidak bicara apa-apa.
Charlie juga membisu. Ana jadi bingung melihat keduanya.
“Tante, nanti
jemput Nadia, kan? Nadia pulang jam 3.”kata Nadia pada Ana.
“Iya, sayang.
Tapi ikut ke kantor tante ya. Nanti kita pulang sama-sama ke rumah.”
“Apa kau perlu
sopir, Ana? Charlie bisa mengatur mobil dan sopir untukmu.”tanya Nanda.
“Tidak,
suamiku. Aku akan pakai mobil Nando untuk menjemput Nadia nanti. Tolong jangan
mengirimkan mobil mewah ke kantorku, ok.”pinta Ana.
“Kenapa? Kau
istriku, kau berhak memakai semua fasilitas milikku, Ana.”
“Aku tahu. Tapi
untuk saat ini orang-orang di kantorku belum tahu kalau kau suamiku.
Bersabarlah sampai aku memberitahu mereka.”kata Ana lagi.
“Aku tidak
mengerti jalan pikiranmu. Nanti sore sopirku akan mengantarmu menjemput Nadia.
Kau harus memakai mobilku untuk bisa menjemput Nadia atau securitynya tidak
akan mengijinkan kau masuk.”alasan Nanda.
Charlie
tersenyum mendengar kebohongan Nanda. Semua mobil bisa dipakai menjemput Nadia,
tapi hanya yang membawa kartu penjemput yang bisa masuk ke dalam sekolah itu.
Ana tidak bisa membantah lagi dan hanya mengangguk patuh.
Mereka sampai
di sekolah Nadia, Charlie turun lebih dulu dan menuntun Nadia masuk ke
sekolahnya.
“Suamiku...”panggil
Ana manja.
*****
“Suamiku, apa
kau lupa sesuatu?”tanya Ana.
“Apa?”
“Apa kau sudah
vote novel ini? Like juga?”tanya Ana.
“Ach, aku lupa.
Sekarang ya.”
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.