Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Proposal atau...


__ADS_3

Eps. 20 – Proposal atau...


“Siapa sich?


Perasaan gak janji sama siapa-siapa dech. Kalo gini kan jadi takut.”kata Dita


pada dirinya sendiri.


Dita membalas


pesan itu, ‘Tunggu aja sampe pagi. Aku dah pulang. Wek.’ Ditambah emoji


menjulurkan lidah.


Dita baru ingat


kalau ia memarkir mobilnya di parkir atas tadi. Seharusnya jam segini ada


penjaga yang berkeliaran di sekitar sana. Dita mengemasi barang-barangnya, ia


segera turun ke lobby dan melihat seseorang berdiri di samping mobilnya.


“Tuan Charlie? Masa


dia yang lagi nunggu aku?”kata Dita lagi.


Merasa tidak


melakukan kesalahan, Dita mendekati Charlie.


“Selamat malam,


tuan Charlie. Anda belum pulang?”tanya Dita.


“Malam.


Bukannya ada sesuatu yang harus kita bicarakan?”tanya Charlie balik.


“Tuan mau


membahas apa? Masalah proposal atau apa yang kita lakukan kemarin malam.”bisik


Dita agar tidak ada yang bisa mendengarnya.


Dita melihat


ekspresi wajah Charlie yang merona lagi. Jelas sekali kelihatan karena tempat


mereka berdiri sangat terang.


”Manis banget


kamu, sayang. Boleh kubawa pulang gak ya?”


“Aku...”kata


Charlie gugup.


“Oh, tuan mau


membahas proposal itu lagi! Ayo, kita bahas sambil makan. Saya sudah lapar,


tuan! Anda bisa menyetir?”tanya Dita cepat.


Charlie


mengambil kunci mobil Dita dan mereka segera pergi dari sana.


“Kenapa kau


bilang gitu tadi?”tanya Charlie.


“Penjaga itu


salah satu biang gosip yang paling parah dikantor. Apa kau tahu? Aku gak mau ada


skandal di kantor cuma gara-gara melihat kita pergi berduaan.”jelas Dita dengan


tegas.


“Kamu mau makan


dimana?”tanya Charlie.


“Ayo ke


apartmentku. Kita ngobrol disana. Kamu mau makan apa?”tanya Dita.


“Kamu mau


masak?”


“Aku? Masak?


Aku gak bisa masak, okey. Lagian lebih gampang pesan makanan.”kata Dita lagi.


Mereka sampai


di apartment Dita dengan cepat. Dita mempersilakan Charlie masuk. Charlie


melotot lagi untuk yang kesekian kalinya hari ini. Dita dengan tenangnya


melepas sepatu dan pakaian kerjanya tepat di depan mata Charlie.


Ia membuka


kulkas dan mengambil dua kaleng minuman dingin. Dita mendekati Charlie yang


tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Dita yang hanya berbalut pakaian


dalam.


“Kau mau minum?


Aku cuma punya ini. Duduklah. Sebentar lagi makanannya datang.”kata Dita.


Dita duduk


bersandar di tempat tidurnya, ia memejamkan matanya yang terasa penat. Charlie


pindah duduk ke depan Dita.


“Apa kau capek?


Aku bisa pergi sekarang.”kata Charlie.

__ADS_1


“Kita gak jadi


bicara? Sebenarnya kamu mau apa sich? Aku kan gak nuntut apa-apa.”


“Aku yang harus


nuntut kamu. Rasanya itu kayak habis manis sepah dibuang tau.”


“Jangan bilang


yang semalem itu saat pertamamu. Oh, tuan kemana saja kau selama ini?


Jangan-jangan kau dan tuan Nanda...”goda Dita sambil mengerdipkan matanya.


“Sembarangan


bicara. Kami terlalu sibuk sampai tidak sempat bermain dengan wanita. Kau tetap


harus bertanggung jawab, nona Dita.”


”Sekarang


mirip anak kucing yang minta dipungut. Apa dia sudah gila memintaku bertanggung


jawab. Dimana-mana yang dirugikan pasti pihak perempuan.”


“Dan aku harus


bertanggung jawab seperti apa? Kau juga menikmatinya semalam. Atau sebenarnya


ini hanya alasanmu agar bisa melakukannya lagi. Tuan, kau sangat nakal.”kejar


Dita.


Charlie hampir


membalas ucapan Dita saat pintu apartment Dita diketuk seseorang.


“Ach, kurirnya


sudah datang!”seru Dita sambil bangkit tapi dihalangi Charlie.


“Biar aku saja


yang buka. Sekalian aku yang bayar.”


“Terima kasih


kalau gitu.”kata Dita sambil masuk ke kamar mandi.


Dita


menghabiskan waktunya di kamar mandi dan keluar begitu saja tanpa memakai


apa-apa. Ia membuka lemarinya, mengambil lingerie dan memakainya dengan cepat. Dita


membuka bungkusan makanan. Ia juga menyiapkan piring dan mengambil gelas air


minum.


“Ayo, kita


makan. Atau kau mau mandi dulu?”tanya Dita.


“Kita makan


”Mau bicara


atau tidak. Lihat saja apa yang akan kulakukan nanti, tuan tampan.”


Mereka


menghabiskan makanan itu dengan cepat. Dita mengeluarkan sebotol minuman keras dari


dalam kulkas setelah ia mencuci piring dan gelas kotor.


“Cepat bicara.


Aku harus apa?”tanya Dita.


“Apa kita bisa


menikah?”


“Kau pasti


bercanda. Menikah itu terlalu merepotkan. Tuan tampan, kau bisa mencari wanita


lain yang mau menikah denganmu. Kita tidak akan berhasil.”Dita menegak satu


gelas minuman sampai habis.


Charlie


mengambil gelas di meja dan malahan ikut minum juga. Ketika keduanya sama-sama


hampir mabuk, Dita mendekati Charlie.


“Tuan, jangan


terlalu banyak berpikir, nikmati saja. Okey.”kata Dita.


Lagi-lagi malam


itu Charlie menghabiskan malam bersama Dita.


Saat Charlie


datang ke villa Nanda, keesokan harinya, ia masih memakai kemeja yang kemarin. Nanda


bukan tidak memperhatikannya,


“Charlie, kamu


gak pulang semalam?”tanya Nanda membuat semua orang di meja makan menatap


Charlie.


“Saya pulang,


tuan muda pertama. Baju ini mirip dengan yang saya pakai semalam.”jelas Charlie


sedikit gugup.


“Oh ya. Noda

__ADS_1


kopinya bisa kebetulan sama ya.”kata Nanda lagi.


Charlie


menunduk karena ketahuan bohong. Ia lupa kalau pengamatan mata Nanda seperti


elang. Tidak akan luput setitik kecil sekalipun.


“Kamu mau


bilang kemana semalam atau aku bongkar sendiri.”kata Nanda sambil mengambil ponselnya.


“Saya pulang ke


rumah seorang teman, tuan muda. Maafkan saya.”aku Charlie akhirnya.


“Apa kau punya


pacar?”tanya Ana sambil menyuapi Nadia makan sosis.


Nando dan Carol


juga jadi kepo dengan Charlie.


“Bukan pacar,


nyonya muda pertama. Hanya teman dekat.”


“Teman dekat,


eh. Dia terlalu malu untuk cerita. Apa kau juga ingin menikah bersamaan dengan


kami?”tanya Nanda terus menekan Charlie.


“Belum secepat


itu, tuan muda. Apa kita bisa berangkat sekarang? Nona muda akan terlambat ke


sekolah nanti.”kata Charlie mengalihkan perhatian.


“Kau sudah


mulai berbohong padaku. Hukum dirimu sendiri. Ayo, kita pergi.”kata Nanda


sambil mengulurkan tangannya pada Ana dan Nadia.


Nando dan Carol


juga berangkat naik mobil Nando. Di dalam mobil, Nanda tidak bicara apa-apa.


Charlie juga membisu. Ana jadi bingung melihat keduanya.


“Tante, nanti


jemput Nadia, kan? Nadia pulang jam 3.”kata Nadia pada Ana.


“Iya, sayang.


Tapi ikut ke kantor tante ya. Nanti kita pulang sama-sama ke rumah.”


“Apa kau perlu


sopir, Ana? Charlie bisa mengatur mobil dan sopir untukmu.”tanya Nanda.


“Tidak,


suamiku. Aku akan pakai mobil Nando untuk menjemput Nadia nanti. Tolong jangan


mengirimkan mobil mewah ke kantorku, ok.”pinta Ana.


“Kenapa? Kau


istriku, kau berhak memakai semua fasilitas milikku, Ana.”


“Aku tahu. Tapi


untuk saat ini orang-orang di kantorku belum tahu kalau kau suamiku.


Bersabarlah sampai aku memberitahu mereka.”kata Ana lagi.


“Aku tidak


mengerti jalan pikiranmu. Nanti sore sopirku akan mengantarmu menjemput Nadia.


Kau harus memakai mobilku untuk bisa menjemput Nadia atau securitynya tidak


akan mengijinkan kau masuk.”alasan Nanda.


Charlie


tersenyum mendengar kebohongan Nanda. Semua mobil bisa dipakai menjemput Nadia,


tapi hanya yang membawa kartu penjemput yang bisa masuk ke dalam sekolah itu.


Ana tidak bisa membantah lagi dan hanya mengangguk patuh.


Mereka sampai


di sekolah Nadia, Charlie turun lebih dulu dan menuntun Nadia masuk ke


sekolahnya.


“Suamiku...”panggil


Ana manja.


*****


“Suamiku, apa


kau lupa sesuatu?”tanya Ana.


“Apa?”


“Apa kau sudah


vote novel ini? Like juga?”tanya Ana.


“Ach, aku lupa.


Sekarang ya.”


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa

__ADS_1


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2