Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Mulai berpaling


__ADS_3

Hari ulang tahun mama Alvin tiba juga, Rara menekan bel rumah Alvin dan menunggu seseorang membukakan pintu.


Joya : “Rara? Ayo masuk.”


Rara : “Selamat ulang tahun, tante. Semoga panjang umur dan bahagia selalu.”


Rara mencium tangan dan pipi Joya kiri dan kanan, ia membawakan 2 kotak pudding, dan meletakkannya di meja tamu.


Joya : “Duduk dulu ya, Alvinnya belum bangun atau Rara mau bangunkan Alvin?”


Joya mencoba membujuk Rara, ia sangat senang ketika mengetahui Alvin bisa dekat dengan gadis lain selain Lia. Selama ini Joya takut kalau putranya akan terus terpuruk karena cintanya tidak berbalas. Rara mencoba menolak


permintaan Joya,


Rara : “Takutnya Alvin marah, tante.”


Tapi Joya tidak menyerah, ia memaksa Rara berjalan ke lantai 2 rumah itu.


Joya : “Rara naik aja, kamar Alvin ada di paling ujung lantai 2 ya.”


Rara sampai di depan pintu kamar Alvin, ragu-ragu ia mengetuk pintu kamar itu. Tok, tok, tok… Sepi tidak ada jawaban. Akhirnya Rara memberanikan diri membuka pintu kamar Alvin.


Rara : “Kak Alvin? Aku masuk ya.”


Rara membuka pintu lebih lebar, ia masuk ke kamar Alvin yang bernuansa gelap sama seperti kamar Boy dulu. Ia melihat sekeliling kamar sebelum mendekati tempat tidur Alvin.


Rara : “Kak Alvin? Aduch, gimana cara banguninnya?”


Rara mengambil HP-nya, menyetel alarm. Krriinngg!!! Alvin terlonjak bangun karena kaget, dan cuma pake boxer!!


Rara : “Ya ampun!!” Rara balik badan sambil menutup matanya.


Alvin : “Rara! Ngapain kamu kesini?”


Rara menahan tawanya sambil tetap memejamkan mata.


Rara : “Aku mampir untuk bilang selamat ulang tahun dan mengantar pudding untuk tante. Tante minta aku bangunkan kakak, katanya kakak ada pemotretan pagi ini.”


Rara tidak mendengar apa-apa di belakangnya.


Rara : “Kak Alvin? Jangan tidur lagi dong, ayo bangun.”


Rara mengintip lewat sudut matanya, tampak Alvin sedang memeriksa HP-nya. Alvin menatapnya yang berbalik lagi.


Rara : “Aku permisi pulang ya, kak.”


Rara cepat-cepat keluar dari kamar Alvin, turun ke lantai 1, ia hampir menabrak Joya yang baru keluar dari kamarnya.


Joya : “Rara? Kenapa buru-buru? Alvin mana?”


Rara : “Rara permisi, tante. Kak Alvin sudah bangun. Tadi…”

__ADS_1


Wajah Rara tampak merona. Ia ingat saat melihat Alvin hanya pakai boxer, tubuh Alvin yang atletis membuat jantung Rara berdebar kencang. Joya jadi curiga kalau telah terjadi sesuatu diantara mereka di kamar Alvin. Apa mungkin?


Joya : “Tadi apa? Hayo…”


Alvin melongok dari lantai 2, menatap Rara dan Joya.


Alvin : “Rara, nanti malam kujemput jam 7 ya.”


Rara menengok ke atas dan langsung menutup wajahnya dengan tangan.


Joya : “Ya ampun, Alvin!. Pakai baju dulu sana, kasian Rara sampai kaget gini.” Rara tersenyum malu.


Joya : “Nah, malam nanti datang ya, cuma acara kecil kok.” Rara mengangguk dan berpamitan.


-------


Jam 7 malam, Alvin sudah sampai di depan pintu rumah Rara, ia memutuskan mengetuk pintu rumah Rara. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, membukakan pintu.


Alvin : “Selamat malam, tante. Saya Alvin, temannya Rara, bisa ketemu Rara?”


Mama Rara : “Oh, nak Alvin ya. Saya mamanya Rara, ayo masuk dulu, tunggu sebentar ya. Raranya masih dikamar, sebentar lagi juga turun. Alvin mau minum apa?”


Alvin : “Gak usah repot-repot, tante, makasih. Saya ijin mau ajak Rara ke rumah saya, ada pesta ulang tahun mama saya.”


Mama Rara : “Iya, boleh kok. Rara udah cerita sama tante.”


Saat Alvin dan Mama Rara berbincang akrab, Rara sudah turun dari kamarnya, ia menghentikan langkahnya di depan cermin besar di depan tangga, memeriksa dandanannya, sebelum menoleh ke ruang tamu.


Mama Rara : “Rara, Alvin sudah datang nich.”


Alvin : “Gila, dia bisa secantik ini ya, eh, kenapa aku jadi memikirkannya”, gumam Alvin dalam hati.


Rara : “Hai, kak. Sudah siap? Bagaimana penampilanku?”


Rara tersenyum menghampiri Alvin yang hanya bengong menatap Rara. Rara dan mamanya saling pandang, sebelum mama Rara menyadarkan Alvin yang terpana.


Mama Rara : “Eheemm!”


Alvin : “Eh, kenapa? Mmm… Ayo berangkat… Tante, Alvin permisi dulu ya.”


Rara mencium pipi mamanya dan mengucapkan terima kasih sambil berbisik,


Rara : “Makasih uda dandanin Rara ya, mah.”


Alvin dan Rara berjalan ke rumah Alvin yang terletak di tengah blok perumahan mereka. Disana sudah ramai dengan teman-teman mama Alvin, bahkan Lia dan Dipta juga ada. Semua orang menatap Alvin dan Rara yang tiba di tempat pesta. Rara tersenyum ramah pada semua orang membuatnya semakin terlihat cantik. Rara berdiri disamping Lia,


Lia : “Rara cantik sekali malam ini.”


Rara : “Kak Lia lebih cantik.”


Kedua gadis itu terkikik, setelah saling memuji satu sama lain.

__ADS_1


Pesta di mulai, mama dan papa Alvin memotong kue setelah mereka menyanyi bersama. Rara mengambil minuman di atas meja dan meminumnya sambil melihat sekeliling. Semua orang sedang menikmati santap malam sambil ngobrol. Rara melihat Alvin dan Lia mengobrol dengan sangat akrab, sementara Dipta menghilang entah kemana. Ines terlihat curiga karena Alvin tidak sedikit pun mendekati Rara setelah mereka datang ke pesta. Ia mendekati Rara sambil berpura-pura mengambil minuman, dengan lihai Ines menyenggol gelas berisi soft drink hingga jatuh dan membasahi dress Rara.


Ines : “Aduch, maaf ya Rara. Aku gak sengaja.”


Rara tersenyum masam melihat noda merah mengenai dress pink-nya, ia harus segera ke kamar mandi untuk membersihkannya, tapi dimana? Alvin yang melihat kejadian itu, segera meninggalkan Lia, dan menarik tangan Rara menuju kamarnya. Alvin membuka pintu kamarnya, menuntun Rara masuk ke kamar mandi.


Alvin : “Coba bersihkan dulu ya. Sebentar.”


Rara mencoba membersihkan noda itu di kamar mandi, sementara Alvin membawakan handuk dan selembar kain. Alvin berjongkok di depan Rara, memeriksa keparahan noda di dress Rara.


Alvin : “Coba kulihat, nodanya sulit hilang ya.”


Rara melihat Alvin memasangkan kain menutupi noda dan mengaturnya agar terlihat cantik. Ia kembali bangkit setelah memastikan kalau noda soft drinknya sudah tertutup semua.


Alvin : “Nah, cantik lagi kan?”


Rara : “Makasih, kak.”


Rara tersenyum manis, Alvin mulai terhipnotis kecantikan Rara, ia mengatur rambut Rara dan memandangnya sangat dalam. Atmosfer dalam kamar mandi Alvin membuatnya mulai mengatakan hal-hal yang tidak bisa ia kontrol lagi.


Alvin : “Ra, coba panggil namaku tanpa kakak. Aku mau dengar.”


Rara : “Alvin…”


Tiba-tiba Alvin memeluk Rara dari belakang, mata mereka bertemu lewat cermin di depan mereka. Alvin bisa mencium harum rambut Rara yang aromanya benar-benar membuat Alvin mabuk. Hormon laki-laki dalam tubuhnya mulai bergejolak, hal yang sama sekali tidak pernah ia rasakan pada Lia. Alvin benar-benar tidak ingin melepaskan Rara sekarang, pikirannya sedang melayang kemana-mana.


Rara : “Kak? Apa ada orang?” Rara berbisik sambil melirik ke pintu kamar mandi.


Alvin : “Ines. Kita pura-pura lagi ciuman ya, biar dia pergi.”


Kepala Alvin bergerak menyamping bersamaan dengan Rara, mereka mendekatkan bibir seolah sedang berciuman. Ketika Alvin mempererat pelukannya, Rara tertarik dan tidak sengaja mereka berciuman. Mata Rara terbelalak ketika menyadari kalau sentuhan bibir mereka sudah berubah menjadi lumatan. Alvin melumat bibir Rara, lidahnya menerobos memasuki mulut Rara yang sedikit terbuka dengan bibir beroleskan lip gloss rasa strawberry. Alvin membalik tubuh Rara menghadap padanya, ia menakupkan kedua tangannya dipipi Rara dan melanjutkan mencium gadis manis itu.


Rara yang merasa sesak karena kurang oksigen, mulai mendorong tubuh Alvin yang semakin menekannya ke wastafel di kamar mandi. Alvin menyadari tindakannya sudah kelewat batas, pelan-pelan ia melepaskan ciumannya dari Rara. Perasaan Rara benar-benar tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata saking bahagianya, ia mengusap sudut bibirnya yang basah karena ciuman Alvin. Meskipun ia tahu kalau Alvin tidak akan suka padanya, tapi ciuman ini sudah lebih dari cukup untuk memberinya mimpi indah malam ini.


Mereka saling bertatapan lagi, Alvin menunggu agar nafas Rara kembali normal, sebelum berjalan ke luar dari kamar mandi.


Alvin : “Ra, kita balik ke pesta ya. Abis nich aku antar pulang.”


Rara : “Iya, kak.”


Alvin berjalan di samping Rara, ia tidak mengerti kenapa dia tidak mengucapkan maaf setelah ciuman panas mereka. Hubungan mereka hanya sebatas teman, Alvin hanya menyukai Lia, apa yang salah dengan dirinya. Alvin melirik Rara yang tetap tersenyum manis, wajahnya sedikit merona, membuat Alvin ingin mencium gadis itu lagi.


Alvin : “Aku pasti sudah gila!” Alvin berteriak dalam hatinya.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, kritik dan saran sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak

__ADS_1


kalah seru.


-------


__ADS_2