
Tak terasa sudah seminggu Boy dan Joya berkeliling pulau Bali. Mereka terakhir menginap di
wilayah Sanur dan sedang bersiap ke bandara. Joya mengatur oleh-oleh yang
mereka beli agar muat di dalam koper mereka berdua.
Boy : “Gak ada yang ketinggalan, kan?”
Joya : “Udah masuk semua, mas. Tinggal dua dus itu aja yang harus kita bawa.”
Joya menunjuk dua dus tanggung di dekat koper Boy. Boy mencoba mengangkat dus yang cukup
ringan itu.
Boy : “Apa isinya?”
Joya : “Ayam betutu, bumbu rujak, dan pie susu.”
Boy memeriksa sekeliling kamar untuk memastikan mereka tidak meninggalkan sesuatu. Setelah
Joya mengunci kopernya, ia duduk di atas tempat tidur dan mulai memakai
pakaiannya menutupi lingerie yang dipakainya.
Boy : “Tunggu bentar. Masih ada waktu. Boleh gak?” tanya Boy sambil menurunkan tali lingerie
Joya.
Joya : “Dokter bilang gak boleh, mas.”
Boy : “Kalo kamu? Boleh gak?”
Joya : “Mas, kamu nakal banget dech.”
Boy : “Uda seminggu nich puasa.”
Joya : “Apanya yang puasa? Kan uda kubantu, mas.”
Boy : “Tetep aja ada yang kurang.”
Boy terus merayu Joya sampai istrinya luluh dan terjadilah apa yang Boy inginkan di dalam
kamar hotel itu. Mereka sempat tertidur sebentar dan bangun tepat waktu untuk
pergi ke bandara.
*****
Setelah melewati perjalanan panjang yang cukup melelahkan, keduanya tiba kembali di
depan rumah Ny. Besar. Ny. Besar yang sudah menunggu mereka datang, tampak
bahagia melihat kedatangan Joya dan Boy.
Joya berlari menghampiri Ny. Besar dan langsung memeluk ibu mertuanya itu.
Joya : “Ibu, kangen banget.”
Ny. Besar : “Akhirnya kalian pulang juga. Hampir ibu susul kesana.”
Joya : “Joya bawa oleh-oleh untuk ibu dan semuanya.”
Joya sibuk membongkar oleh-oleh untuk mereka semua di ruang tengah itu. Sementara Boy
memeriksa foto-foto yang ia kumpulkan untuk Melinda. Bi Ijah ikut membantu Joya
membagikan oleh-oleh untuk keluarga besar Ny. Besar. Ponsel Boy berdering saat
itu,
__ADS_1
Boy : “Halo? Melinda.”
Boy sengaja menyebut nama Melinda agar Joya tidak bertanya siapa yang menelpon Boy setelah
mereka kembali dari liburan.
Melinda : “Boy, kau sudah sampai di rumah? Bisa kita ketemu sekarang?
Boy : “Ya, kami baru sampai. Ada apa?”
Melinda : “Suamiku sangat marah, Boy. Dia ingin menutup semua restauran di Bali. Tolong
bantu aku, Boy. Aku yakin ini hanya ulah segelintir orang.”
Boy : “Kita bisa ketemu dimana?”
Joya sudah menoleh menatap Boy yang juga menatapnya.
Melinda : “Kita ketemu di apartmentku ya. Suamiku juga ada disini. Akan kukirim alamatnya.”
Boy : “Aku akan datang dengan Joya.”
Boy menatap ponselnya melihat share loc yang dikirim Melinda. Joya duduk di samping Boy,
Joya : “Kenapa, mas?”
Boy : “Kita harus ke apartment Melinda. Suaminya mau menutup restauran karena kecurangan yang
kita temukan. Melinda minta tolong kita bicara dengan suaminya.”
Joya : “Kita pergi sekarang?”
Boy : “Semakin cepat semakin baik, kan.”
Joya : “Bu, Joya boleh pergi sama mas Boy?”
Ny. Besar melihat ada masalah serius yang harus mereka tangani berdua dan menganggukkan
Ny. Besar : “Kita bisa ngobrol besok. Jangan pulang terlalu malam ya. Kalian kan baru
datang.”
Boy : “Ya, bu. Kami pergi dulu ya.
Boy dan Joya segera berangkat ke apartment Melinda bersama sopir Boy.
*****
Ketika mereka sampai di alamat yang dikirimkan Melinda, Melinda sudah siap menyambut mereka
berdua dengan makanan dan minuman yang terlihat lezat.
Melinda : “Silakan dinikmati. Ini masakan yang ada di restauranku loh.”
Joya mencicipi semua makanan yang terhidang diatas meja.
Joya : “Beneran enak, loh. Jadi semua menu di restauran itu, dari kamu resepnya?”
Melinda : “Iya. Soalnya aku harus selalu cek kualitas makanan disana, jadi wajib banget
resepnya dari aku. Lagian aku kan jadi tahu berapa habisnya bahan makanan untuk
satu porsi makanan ini semua.”
Boy : “Mana suamimu?”
Melinda : “Masih ngambek, tuch di kamar.”
Boy : “Trus gimana caranya aku bantuin kamu jelasin ke dia?”
__ADS_1
Melinda : “Ntar, aku uda nemu caranya.”
Melinda masuk ke kamar apartment itu dan gak keluar-keluar cukup lama. Sampai Boy dan Joya
akhirnya menghabiskan makanan di atas meja.
Joya : “Ngambeknya sama kayak kamu, mas. Harus dielus-elus dulu baru berhenti.
Hihi...”
Boy : “Ngambeknya suami tuch, emang buat modusin istrinya. Cari perhatian.”
Joya : “Jadi mas gitu...”
Boy : “Ya iyalah. Gitu caranya biar diperhatiin istri dengan cara yang positif.”
Joya : “Kalo cara negatif?”
Boy : “Jalan sama cewek lain?”
Boy harus meringis ketika Joya mencubit pinggangnya karena mendengar kata-kata Boy
barusan.
Joya : “Itu suami yang genit. Mas mau gitu? Hem?!”
Boy : “Kalau aku gitu, kamu mau apa?”
Joya : “Aku aduin ke ibu. Biar mas di jewer.”
Boy : “Bisanya ngadu ke ibu.”
Joya memeletkan lidahnya, membuat Boy gemas dan menangkap tangan Joya. Sedikit menekan tubuh
Joya, Boy mencium bibir Joya sampai wanita itu gelagapan diserang tanpa jeda.
Tangan Joya merangkul leher Boy, ia menikmati ciuman mereka sampai tidak sadar
dimana mereka berada saat itu.
Melinda dan Azriel, suaminya melongo melihat pemandangan hot di depan mereka. Baru saja
keluar dari kamar, mereka langsung disuguhkan pertunjukan oleh Boy dan Joya.
Melinda : “Ehem...”
Melinda bertatapan dengan Azriel yang tersenyum mesum menatapnya.
Melinda : “Apa?”
Azriel : “Masuk lagi yuk.”
Melinda : “Nggak! Perutku sakit, mas. Ntar aja lagi. Ini si Boy juga gak lihat sikon sich.”
Melinda kembali berdehem, kali ini sambil melempar remasan tisu ke arah mereka. Untung saja
Joya cepat sadar, ia mendorong Boy dan tersenyum malu pada Melinda.
Melinda : “Aku tahu kalian baru balik dari honeymoon dan lagi puasa. Tapi gak gitu juga kali.
Ciuman gak tau tempat. Boy, Joya, ini Azriel, suamiku.”
Ketiganya bersalaman dan saling menyebut nama.
Melinda : “Boy, coba lihat semua bukti yang kamu temukan.”
*****
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.