
Kamu adalah alasan dari setiap rindu yang tak tersampaikan
❤️❤️
"Video call biasa aja kok, Mas. Tapi memang ibu akan mengajak ke kota untuk ...." Safira menggantung kalimatnya.
"Untuk apa?"
"Untuk menikah ...."
"Menikah?"
Alva terperanjat mendengar penuturan gadis itu barusan. Lidahnya mendadak kelu. Pria itu merasa detak jantung tak lagi beraturan.
"Kenapa, Mas?" Safira menatap Alva heran.
"Nggak apa-apa! Aku pulang sekarang, kamu baik-baik ya." Ia segera bangkit menuju kamar untuk berkemas.
"Sial! Ibu mau menikahkan dia dengan siapa?" gumamnya.
Alva mondar-mandir di kamar. Tangannya berkali-kali hendak mengubungi Bu Santi tapi berkali-kali pula ia urungkan. Akhirnya pria itu menghempaskan tubuh ke ranjang. Mata tajamnya menerawang. Hati Alva mulai bimbang. Pelan ia coba menyingkirkan ego untuk mengakui bahwa diam-diam ia telah mencintai Safira.
"Aku harus telepon ibu!"
Cepat ia menghubungi sang ibu. Wajahnya terlihat gelisah.
"Halo, Ibu," sapanya saat suara ibunya terdengar.
"___"
"Sebentar lagi, Al balik."
"___"
"Kapan?"
"___"
"Ibu tunggu, ibu akan menikahkan dia dengan siapa?"
Pembicaraan berakhir tanpa ada jawaban dari sang ibu. Pikirannya berkecamuk, lelaki itu merasa bahwa sang kakak lah yang akan menikahi Safira. Seperti yang ia pernah dengar dari beberapa teman, termasuk Deva. Bahwa jangan terlalu membenci siapa pun atau apa pun. Karena itu semua kan berbalik menjadi perasaan cinta tanpa kita sadari.
Perlahan rasa itu memang menjelma padanya. Kerinduan mencekam seolah memberontak menginginkan dekat dengan gadis itu.
[Kak, apa benar kakak akan segera menikah dengan Safira?]
Alva mengirimkan pesan kepada Tyo. Ia menunggu sang kakak membalas, tapi rupanya Tyo tidak sedang online.
"Sial! Aku harus pulang sekarang!" gerutunya. Bergegas ia menyambar tas ransel, kunci mobil lalu pergi. Ia melihat Safira tengah menjemur pakaian di samping rumah. Sejenak Alva menatap kemudian mendekat.
"Aku balik," pamitnya.
Mata gadis itu menyipit heran.
"Serius Mas pulang sekarang?"
Ia mengangguk.
"Ibu mungkin sore tiba di sini. Aku harus kerja," tuturnya.
"Hati-hati, Mas," pesan Safira.
Tampak keraguan terlihat di wajah pria itu.
"Safira."
__ADS_1
"Ya?"
"Apa kamu tahu akan dinikahkan dengan siapa?"
Dengan senyum dikulum ia mengangguk. Melihat itu Alva semakin frustrasi.
"Apa aku boleh tahu?"
"Tentu saja," sahutnya.
"Apa dia juga mencintaimu?"
"Iya! Sangat mencintaiku!" jawab gadis itu lugas.
"Apa aku mengenalnya?"
"Tentu saja!"
"Mas Tyo?"
Safira tersenyum kemudian melangkah ke teras rumah. Pria itu terlihat mencoba membasahi tenggorokan dengan salivanya.
"Apa kamu juga mencintainya?" Pertanyaan Alva membuat langkahnya berhenti. Kilas pertemuan dengan pria itu kembali hadir di memorinya. Angkuh! Hanya itu yang tergambar di sana.
Meski sebenarnya ia mengagumi sosok Alva. Bukan ia tak tahu, pria itu kini tengah mendekatinya, tapi bukankah dia pernah menolak mentah-mentah dirinya? Sedang Tyo, pria itu hangat dan penuh perhatian. Ia merasa nyaman berada di sisinya.
"Safira jawab! Apa kamu mencintai kakakku?" Masih posisi membelakangi Alva ia mengangguk.
Pria itu mengeratkan rahang dengan tangan mengepal.
"Oke, aku pulang!"
Ia bahkan tak menunggu jawaban dari Safira. Cepat ia menuju mobil membanting pintu kemudian melajukan menuju kota.
***
Tyo, pria dewasa berpostur jangkung, berkaca mata dengan sedikit cambang di dagunya telah membuat Safira nyaman. Pada diri lelaki itu, ia menemukan kasih sayang dan perlindungan seorang pria yang ia idamkan. Perhatian yang ia dapat dari sosok Tyo mampu menyembuhkan sakit hati yang pernah ditorehkan Alva.
Meski awalnya ia berharap Alva menerimanya. Namun, ketidakpedulian sikap yang ia tunjukkan, membuatnya cepat menyadari bahwa pria itu jelas telah menunjukkan penolakan.
Kini pria berhidung mancung itu berada tepat di sampingnya. Senja yang indah mengantarkan mereka pada satu ikatan pertunangan. Disaksikan beberapa petinggi desa, Prasetyo dan Safira telah resmi bertunangan.
"Ibu bahagia, Tyo! Buat ibu, Safira adalah menantu yang baik, yang kelak akan memberikan kebahagiaan bagimu sebagai suami dan tentunya akan melahirkan anak-anak yang lucu!" Bu Santi menepuk pundak putranya. Tyo melirik Safira yang selalu cantik meski tanpa banyak polesan di wajahnya.
"Aku percaya itu, Bu. Safira gadis yang baik dan ... aku mengaguminya."
Mendengar pujian itu, ia tersenyum dengan wajah merona.
"Mas Tyo terlalu memuji," ucapnya pelan.
"Aku tidak memuji, aku bicara apa adanya," balas Tyo diiringi tawa Bu Santi dan yang lainnya.
"Safira, ibu tahu kamu sangat mencintai desa ini, demikian juga dengan rumah ini. Jika nanti kalian berdua menikah, apa kamu keberatan kalau harus meninggalkan tempat ini?"
Safira menatap Tyo sejenak lalu menggeleng.
"Ibu, jika Mas Tyo menginginkan saya berada di sampingnya dan harus pergi dari desa ini, saya akan mengikuti keinginan Mas Tyo," tuturnya sopan. Ada senyum lega tampak di bibir Bu Santi.
"Ibu tidak salah pilih kan, Tyo?"
Tyo tersenyum meraih bahu Safira. Pria itu terlihat bahagia.
"Aku harap, Alva tidak marah ya, Bu. Kita terlalu membuat dia terkejut," cetus Tyo yang tiba-tiba saja teringat akan adiknya.
Pak Yuda yang dari tadi diam menggeleng.
__ADS_1
"Dia sudah papa kabari kemarin. Kalau hari ini dia tidak datang mungkin harus menyelesaikan beberapa urusan kerjaan ... papa rasa dia sudah cukup dewasa untuk menyikapi hal ini, kita doakan saja dia bisa merubah gaya hidupnya."
Mereka semua mengangguk, hanya Safira saja yang tiba-tiba berubah air muka. Kembali kilas peristiwa saat adik Tyo itu mengecup bibirnya membuat dirinya sedikit gelisah. Meski ia yakin dengan pilihannya, tetapi isyarat yang diberikan Alva sedikit membuatnya serba salah.
"Kenapa, Fira?" tanya Tyo melihat perubahan di wajah calon istrinya itu.
"Nggak, Mas. Nggak apa-apa," jawabnya tersenyum.
Bu Santi mengajak mereka menemui para tamu seusai dijamu oleh tuan rumah.
***
Alva baru saja menghabiskan empat botol terakhirnya. Ia benar-benar tampak menyedihkan. Matanya menerawang kosong dengan wajah penuh kemarahan. Deva yang sedari tadi mencegah tak bisa berbuat banyak. Ia hanya menjaga agar Alva tidak berbuat yang membahayakan.
"Gue pulang, Dev!"
"Gue antar!"
Alva bangkit menggeleng, tapi badan pria itu limbung. Berkali- kali terdengar ia mengumpat. Terlebih saat beberapa wanita malam mencoba merayunya. Pria itu hampir saja tak bisa menahan amarah saat bersenggolan dengan pengunjung lain di club itu. Beruntung ada Deva, sehingga keributan bisa dihindari.
"Gue nggak mau tahu, loe harus pulang dan gue antar!" Pria itu menarik Alva agar segera meninggalkan tempat itu.
Dengan memaksa, akhirnya Deva berhasil membawa pria mabuk itu pulang. Rumah masih sepi, sebab seluruh keluarganya tengah berada di desa.
Alva tak membantah saat Deva meletakkan tubuhnya di sofa.
"Mbok, tolong air putih untuk Alva," pinta Deva pada Mbok Mirah. Bergegas perempuan itu menuju dapur.
"Al! Loe nggak bakalan bisa seperti ini terus. Lagipula itu juga salah elo!" Deva menyerahkan segelas air putih pada pria itu.
"Loe nyalahin gue juga?" ucapnya menahan pening di kepala.
"Bukan nyalahin, Bro! Tapi coba koreksi diri loe, seberapa jauh loe nyakitin hati dia? Sekarang aja loe baru ngerasa hancur kan? Kemarin? Apa kabar perasaan dia?"
Alva diam, ia memejamkan mata seolah tak.ingin mendengar penuturan sahabatnya. Tak lama pria itu benar-benar tertidur.
"Dasar tukang mabuk! Ya udah, gue cabut dulu! Besok pagi gue samperin loe!"
Deva pergi setelah berpamitan pada Mbok Mirah.
***
Setelah empat hari di desa, Bu Santi dan rombongan kembali bertolak ke kota. Demikian pula dengan Tyo tentunya.
"Kamu baik-baik di sini ya," pesannya pada Safira. Gadis itu mengangguk.
"Safira, ibu akan atur pernikahanmu. Insya Allah sebulan lagi, kamu sah menjadi istri Tyo."
Tyo menatap hangat pada gadis di sampingnya.
"Dan setelah itu ... mas yang akan menemanimu melihat petir di ujung langit," bisiknya mencubit pipi merona Safira.
Melihat pemandangan itu, Bu Santi dan Pak Yuda ikut tertawa.
"Mas akan sering telepon, atau nanti kalau ada senggang, mas ke sini," tuturnya saat melihat ada mendung di manik gadis itu.
Safira merasa beruntung telah dipertemukan oleh orang-orang baik. Terlebih kini tinggal selangkah lagi bersanding mengarungi hidup bersama pria yang akan menjadi pelindung hingga saat Tuhan memanggil satu dari mereka.
Sepeninggal keluar Pak Yuda, Safira masih duduk di beranda depan seraya memandang cincin indah yang disematkan Tyo saat senja beberapa hari yang lalu.
Bayangan pria itu begitu enggan ia hilangkan, tapi sejenak angannya melayang pada sosok Alva. Sedang apa lelaki itu? Marahkah dia padanya?
Safira cepat menggeleng, ia merasa berdosa jika masih memikirkan nama itu. Bagaimanapun dia akan menjadi istri dari Tyo, itu artinya Alva adalah adik iparnya.
Telepon genggam miliknya bergetar, mata indah Safira melirik kemudian cepat meraih benda pipih itu. Membaca identitas pemanggil kemudian ia kembali meletakkan ke meja tanpa menerimanya. Telepon itu terus bergetar tanpa jeda. Hingga akhirnya ia menyentuh warna hijau di layar.
__ADS_1
"Halo, Mas Alva."
***